PAK DOSEN

PAK DOSEN
Prolog


__ADS_3

Dua Bulan lalu...


Menarik napas sedalam mungkin lalu mengembuskannya dengan perlahan. Tanganku terangkat ingin mengetuk pintu dihadapanku namun yang ada tanganku diam, mengambang di udara. Sial. Mau berapa kali pun aku mengsugestikan diri untuk tak gemetar tapi tubuhku sendiri terlalu sulit aku kendalikan.


YA GIMANA YA, SEKARANG NASIB MASA DEPANKU AKAN SEGERA DI PERTARUHKAN.


Aku mendecak. Sekali lagi memantapkan diri untuk tak gentar dan segera mengetuk pintu sialan di depan ini.


Klak.


Pintu terbuka padahal aku belum mengetuk apa lagi memutar engsel pintu. Seketika aku langsung membeku. Berdiri kaku dengan senyum yang dipaksakan terulas.


Seorang pria awal tiga puluhan berdiri, salah satu tangannya memegang daun pintu dan menatap datar nan dingin padaku. Pa-da-ku.


Aku meneguk ludah dan refleks mundur ketika pria itu membuka lebih lebar pintunya.


"Masuk." suara berat khas seorang kaum Adam. Ia memerintah dengan nada dingin namun tetap tegas membuatku tak bisa untuk tak patuh.


Aku melangkah lebih dulu. Dengan ragu aku duduk dikursi namun belum saja pantatku mendarat di kursi kulit, suara pria itu sukses membuatku kembali mematung dengan posisi... ugh, memalukan.


"Siapa bilang kamu boleh duduk?"


Aku merapatkan bibir dengan gerakan kaku memperbaiki posisi dan memberanikan diri untuk berbalik agar bisa menghadap pria itu.


Oh, aku lupa memberitahu kalau pria yang membuatku sebegini kaku adalah dosenku. Hm. Dosen yang kata banyak Mahasiswi love-able. Tapi memiliki aura tajam dan menyeramkan, makanya masih jomlo. Tapi karna itu pula banyak Mahasiswi yang rela mengaktifkan jiwa cabe mereka untuk tak gentar mengejar dosen ini. Aku sih... cuih! Nggak sudi!


Mau jadi apa kalau punya pacar galak kaya dia? Bisa-bisa aku khilaf ngulek satu kilo cabai ke mulutnya.


He He. Tapi untungnya aku bukan pacarnya. Mana berani aku ngulek cabai di mulut pacar yang galak. Oke, kembali ke situasi mencekam.


"Lim Yoona." ucap pria itu, menyebut namaku dengan suara berat, tegas dan jelas. Membuatku langsung menegak seolah yang menyebut namaku adalah seorang Jenderal Kopassus.


Aku meneguk ludah. "Y-ya-"


"Jangan potong kalimat saya kalau saya sedang bicara!" potongnya dengan tajam membuatku semakin menciut. "Kamu paham?"


Aku mengangguh patuh saja. Terlalu takut untuk menjawab.


"Kalau ditanya itu jawab!"


Hampir. Hampir saja aku mengumpat kalau tidak ingat manusia yang tadi bersuara itu adalah dosenku.


"Pa-paham, sir."

__ADS_1


Pria itu berjalan lalu duduk dikursinya. Ia membuka laptop. Malirikku beberapa saat dan kembali ke laptopnya.


Keringat dingin menetes. Pendingin ruangan disini mungkin diatur terlalu rendah, ya.


"Mau sampai kapan kamu berdiri? Duduk!"


"E-eh, saya boleh duduk, sir?"


Dia jadi mendongak, langsung menghunuskan tatapan tajam bin dinginnya. Dengan cepat aku segera duduk sebelum mendapatkan yang lebih dari tatapan itu.


Hening panjang.


Ini sebenarnya aku ngapain sih?


Dalam hati aku kembali mengingat kesalahan apa yang membuat Dosen ini memanggilku menghadap. Aku menggeleng samar. Tidak ada. Semua tugas yang diberikan Dosen ini selalu aku kumpulkan tepat waktu, walau otak aku yang berfungsi hanya sepojokan sendok nyam-nyam tapi aku terbilang salah satu Mahasiswi rajin dan jarang absen.


Aku melirik jam. Sebentar lagi Mister Siwon pulang, hari ini aku belum ada menyapa beliau. Tidak bisa terus seperti ini, aku butuh vitamin Mister Siwon.


"Sir..." suaraku hilang saat Dosen didepanku langsung mendongak, menatapku tepat.


"Kenapa?"


"Eh? A... anu, sir. Sebenarnya kenapa Mister manggil saya, ya?"


Dia mengangkat salah satu alisnya lalu duduk menyandar ke sandaran kursi dengan tangan bersedekap dengan tatapan yang mengarah padaku, tepat.


"Oh... jadi kamu belum tahu ya kesalahan yang kamu buat?" tanyanya membuatku menautkan alis.


"Ha?"


Dia mendecih membuatku membulatkan mata. Eh, ini aku salah apa, Ya Tuhan...?


Beliau lalu menarik laci mejanya, mengeluarkan satu makalah dari sana dan memberikan itu padaku.


EH?!!!


"Kamu yakin, kamu lulus dari sekolahmu dulu benar-benar murni tanpa suap banyak guru?" ujarnya dengan nada arogan yang hampir saja membuatku ingin loncat ke atas meja lalu menerjangnya.


"Sir-"


"Tugas kamu hancur, acak-acakan, lebih buruk dari makalah anak SMA!" tukasnya, tajam.


"Ha? sir-"

__ADS_1


"Dengan modal ini kamu bisa ngulang kelas saya tahun depan. Saya pernah tekankan ini pada semua manusia yang mengikuti kelas saya," lagi-lagi Beliau memotong kalimatku. "Kalau penjelasan saya dikelas kurang jelas, kalian bisa mendatangi saya ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan apa yang tidak dimengerti."


Apa yang salah dengan tugasku? Sejauh yang aku ingat, aku mengerjakan tugas dari Dosen ini dengan sungguh-sungguh. Penasaran, aku membuka lembar makalah tugasku.


Mataku membulat. Ketikan disana... bukan tugasku melainkan ketikan iseng tentang Mister Siwon. Aku membuka lembar selnjutnya, ketikan yang sama dan masih sama hingga lembar terakhir.


Sial. Bagaimana ini bisa terjadi?!


Aku meringis. Rasanya ingin masuk ke lubang bumi sekarang juga dan menyembunyikan diri disana. Malu, Ya Tuhan.


"Sir-"


"Kamu pikir tugas yang saya berikan bisa kamu kerjakan seperti itu?"


"Maaf, sir."


Beliau melengos keras. "Saya enggak mau tahu, lusa kamu harus memperbaiki tugas ini dan mengerjakan tugas tambahan tentang materi minggu depan."


"Yaaaahh.... sir, 'kan Mister belum ada jelasin materi minggu depan kok-"


"Saya. Enggak. Mau. Tahu." ujarnya penuh penekanan membuatku mengatupkan bibir dan pasrah. "Harus siap lusa, jangan ngaret!"


"Setidaknya kasih saya waktu lebih-"


"Kamu paham Lim Yoona?" potongnya dengan nada yang tak ingin dibantah.


Aku mengangguk. "Paham, sir." jawabku lemas.


Pasrah. Padahal sih....


ENGGAK. AKU ENGGAK PAHAM DAN ENGGAK MAU PAHAM!!!


Aku menunduk, memeluk makalah tugasku. Aku benar-benar tak bisa melakukan apapun, nih?


"Kenapa kamu masih disini?" tanyanya dengan nada dingin dan ekspresi datar yang sangat menyebalkan. "Keluar." sambungnya.


Ha elaaah....


SABAR DONG!!!


"Kenapa wajah kamu kayak yang lagi meneriaki saya?" katanya.


Tahu saja, nih.

__ADS_1


Aku mengela napas panjang. Mengulas senyum lebar. "Baik, sir. Saya akan memperbaiki tugas saya dan mengerjakan tugas tambahan juga." ucapku dengan intonasi super ramah. "Kalau begitu saya permisi. Selamat siang, Mister Sehun." Sambungku segera berdiri dan berlalu keluar.


****


__ADS_2