PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 26. (Bukan) Kesalahan, kan?


__ADS_3

Dua minggu bukan waktu yang lama untuk menunggu keputusan itu. Sebuah hal yang pada awalnya sangat Yoona inginkan, juga. Kini malah berakhir membuatnya sakit hati.


Mala mini, entah sudah berapa gelas bir yang Yoona habiskan. Wajah Yoona sudah memerah dengan mata yang menyayu hampir kehilangan kesadaran karna terlalu banyak minum. Yoona meneguk habis bir yang tersisa di gelasnya. Suara ceguk keluar setelahnya.


Matanya mulai berat dengan kepala pening yang semakin memberatkan kepalanya. Yoona tak bisa terus di sini, ia harus segera keluar untuk menyadarkan diri.


Yoona turun dari kursi bar. Tubuhnya sedikit limbung, sukar untuk menahan berat badan sendiri kalau saja tangan Yoona tak cepat bertumpu pada meja bar di dekatnya. Yang kemudian Yoona menggelengkan kepala seraya mengerjakan kelopak matanya seolah hal itu bisa mengusir pening di kepalanya.


Yoona keluar bar. Langkahnya terhuyung-huyung dengan salah satu tangan memegangi kepala. Mulut Yoona meracau tak jelas tak menghiraukan pandangan pejalan kaki lainnya.


Langkah Yoona berhenti. Kepala wanita muda itu menunduk lalu suara isak terdengar setelahnya.


Kenapa akhir cerita ini justru membuatnya terlihat menyedihkan? Yoona tidak ingin ... Bukan ini yang Yoona inginkan. Isak Yoona semakin menjadi bahkan membuat beberapa orang menanyakan keadaannya tapi yang hanya Yoona lakukan terus menangis tanpa menjawab satu pertanyaan pun.


---


Lengan kekar Jaehyun merengkuh pinggang tak bertenaga Seola. Yang kemudian dengan gerakan lembut tubuh Seola beralih ke punggung lebar Jaehyun.


Mata Seola yang semula tertutup mengerjap lemah. "Jaehyun..." panggilnya. Bibir Seola mengulas senyum tipis, kedua tangannya semakin memeluk erat leher Jaehyun. "... Yoona. Jaehyun ... jaga dia," kalimat dari Seola yang setengah sadar itu mampu membuat langkah Jaehyun terhenti.


"Tanpa kau minta, aku akan menjaganya!"


Seola terkekeh ringan.


"Jadi, aku harap ini pertemuan terakhir kita."


Seola diam beberapa saat. Matanya kembali terpejam walau begitu Seola akhirnya membalas, "as you wish."

__ADS_1


Tanpa sadar Jaehyun mengeraskan rahangnya. Pemuda itu menipiskan bibir yang kemudian mendengkus keras dan kembali melanjutkan langkah.


Hening panjang.


Seola yang sudah tak bisa mempertahankan kesadarannya dan Jaehyun dengan pikirannya yang berkelana entah ke mana. Sampai akhirnya Jaehyun berdiri di depan pintu apartemen. Jarinya menekan tombol dengan sandi yang benar tak lama setelahnya, pintu terbuka. Jaehyun kembali melangkah ke kamar Seola. Menidurkan wanita itu di atas kasur dengan perlahan.


Jaehyun diam beberapa saat. Memperhatikan wajah merah Seola. Napas wanita itu teratur sepertinya Seola sudah masuk ke dalam alam mimpi. Jaehyun mengesah napas, ia berbalik ingin segera keluar dari tempat ini.


o0o


Sehun melengos keras. Ekspresi kesalnya semakin mengeruh saat kembali mendengar suara sensor pintu apartemennya mengeluarkan suara yang sama.


Sepertinya ada seseorang yang berusaha untuk memasuki apartemennya dengan paksa. Entah sudah percobaan keberapa kali sampai akhirnya Sehun menyerah dan memilih berlalu untuk membuka pintu.


Tubuh ramping limbung dan jatuh ke tubuhnya. Sehun tersentak saat mencium bau yang menyengat dari wanita muda dalam dekapnya.


Mata Yoona mengerjap tepat saat Sehun akan mengangkat tubuh rampingnya. Kakinya mundur, menciptakan jarak tipis.


"Ini buruk. Aku bahkan harus melihatnya saat di mimpi sekali pun?" gumam Yoona.


Sehun melengos. "Saya antar kamu pulang—"


Yoona berlalu, masuk ke apartemen Sehun dengan langkah terhuyung. Tubuhnya ia jatuhkan pada sofa panjang yang ada di ruang tengah.


Sehun memainkan rahangnya menatap Yoona yang rebahan di sofa ruang tengah yang ada di apartemen-nya. Pria itu meraih botol wiski yang tadi ia minum seorang diri, tapi tangan lain menghentikannya. Sehun menoleh, menatap Yoona.


"Ck. Manusia Jahanam!" telunjuk Yoona mengarah lurus pada wajah Sehun. Mata merahnya mengerjap lemah lalu bibirnya tersenyum jenaka. "Pria seperti Mister itu memang harus di bumi hanguskan!" kata Yoona dengan mata memincing. "Tahu kenapa? Karna kalau pria jahanam seperti Mister tetap di bumi, udara yang Mister hirup itu sia-sia! Sumpah, lebih baik Mister cepat mencari tanah lapang lalu kubur diri Mister!" Yoona terkekeh ringan. "Dengan begitu aku tidak akan mencintai Mister..." sambung Yoona lirih.

__ADS_1


Sementara Sehun yang melihatnya hanya melengos dan menepis tengan Yoona yang menunjuknya. Kepalanya sudah lumayan berat karna efek wiski yang ia minum, sekarang ia justru harus meladeni Yoona yang salah masuk ke apartemen-nya.


Yoona jadi merengut kesal. Tiba-tiba ia menarik kerah kemeja Sehun membuat Sehun kehilangan keseimbangan dan hampir menindih tubuh ramping Yoona.


Sehun jatuh terduduk di lantai samping Yoona yang rebahan di sofa. Sehun menatap kesal Yoona yang sedang menertawai Sehun. Kemudian Yoona mengubah posisi jadi menghadap Sehun, kedua tangannya tiba-tiba menangkup pipi Sehun. Menekannya membuat bibir Sehun mengerucut dan maju ke depan. Yoona tertawa lagi. "ehehe ... lucu! ehehe, imutnyaaa ..... suami siapa, sih?" alih-alih menjauhkan tangannya, Yoona justru semakin menakan pipi Sehun, membuat wajah tampan Dosen itu sudah tak berbentuk.


Sejurus kemudian, bibir Yoona sudah kehilangan jarak dengan bibir Sehun. Tangan yang semula menangkup pipi Sehun bergerak ke rambut hitam Sehun, mengusapnya pelan. Yoona ******* bibir atas Sehun, mengikuti insting untuk memulai dan memimpin ciumannya.


Pada awalnya Sehun bergeming. Masih terlalu kaget mendapat serangan tiba-tiba Yoona. Tapi lama kelamaan, akal sehat Sehun pamit.


Sehun membalas ciuman Yoona, mengambil alih kepemimpinan itu. Kali ini ia membimbing Yoona, melakukannya dengan lembut dan tak tergesa seperti yang tadi di lakukan Yoona. Sehun naik, duduk di atas sofa dan menarik Yoona ke pangkuannya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Sehun justru memperdalam ciumannya.


Yoona memejamkan matanya, hanyut dalam ciuman lembut yang Sehun mainkan. Wangi maskulin dari tubuh Sehun begitu menangkannya lalu bibir lembut Sehun yang mengulum bibirnya membuatnya tidak ingin lepas.


Sehun melepas tautan bibirnya walau detik berikutnya Sehun langsung menarik tengkuk Yoona dan mencium bibir ranum itu. Memberi kecupan-kecupan kecil hingga ******* lembut yang memabukan dan pada akhirnya Sehun menggigit bibir bawah Yoona. Membuat Yoona melenguh dan membuka bibirnya. Ciuman Sehun semakin dalam, Yoona dapat merasakan lidah Sehun yang menelusup masuk ke mulutnya. Membelit lidahnya hingga bertukar saliva.


Tangan Sehun turun, mengusap punggung Yoona lembut bersamaan dengan itu ciumannya turun ke tengkuk Yoona, bibirnya mengecup dan menghisap leher beraroma vanila yang manis.


Yoona melingkarkan lengannya ke leher Sehun. Memberi akses pada Sehun agar mempermudah Sehun untuk mencumbu lehernya.


Akal sehat Yoona wafat, bertemu dengan Sehun yang sudah melepaskan akal sehatnya.


Dibilang kesalahan, ya ... bukan.


Dibilang dosa, ya ... bukan.


Tapi keduanya, sama-sama menunda penyesalan untuk hari berikutnya.

__ADS_1


---


__ADS_2