
Kata orang, bahagia akan datang pada waktu yang tepat. Tapi waktu yang tepat itu kapan akan terjadi?
Kata orang, bahagia tak selalu diukur dengan seberapa senang kita mendapat dan memiliki sesuatu. Tapi bukankah manusia adalah makhluk yang tak pernah merasa cukup?
Happiness is bullshit.
Yoona beranggapan bahwa bahagia hanya sebuah omong kosong.
Bahagia itu sederhana?
Tidak benar. Karna bahagia adalah delusi akan suatu pemuasan harapan dan keinginan. Ya delusi, karna ingin itu, berharap begini, akan bahagia jika sudah terpenuhi dan tercapai. Tapi, apakah setelah itu akan menjamin kalau sudah tak ada keinginan untuk mendapatkan lagi?
Bahagia hanya sebuah kata.
Penuh daya tarik dan penuh rahasia. Saat bahagia dikejar dia semakin menjauh begitu pun saat dicari, dia akan bersembunyi dan semakin dibutuhkan dia semakin manja. Bahagia tak benar-benar nyata.
Jika itu benar-benar ada, mungkin Yoona adalah seorang pengkhianat bangsa di kehidupan terdahulu hingga semesta selalu menekan dirinya pada titik terendah. Saat senyumnya terulas senang, gravitasi itu kembali menjatuhkan dirinya. Saat tawanya mengisi sebuah ruang, rotasi bumi kembali memutar balik keadaannya. Saat keinginan untuk memiliki satu hal itu, takdir menghalangi. Seisi semesta seolah alergi melihat Yoona sedikit merasa senang. Tapi itu sangat jahat, itu keterlaluan, itu terlalu keras untuk Yoona.
Yoona menggigit bibir bawahnya. Mendengarkan nasehat dari dokter yang meminta Yoona untuk tak melakukan ini dan itu hanya untuk kesehatan calon manusia di perut Yoona.
Setelah pertengkaran kecil dengan Jaehyun, Yoona memilih untuk keluar dari rumah pemuda itu. Niat awalnya Yoona hanya ingin keluar untuk mencari udara segar dan menjernihkan pikirannya tapi Yoona justru semakin mangambil hati ucapan Jaehyun dan semua cukup rasional. Yoona tak seharusnya terus menghindar, sekejam apapun suatu hal itu menunggu Yoona, Yoona harus tetap menghadapi itu. Tapi Yoona justru terperangkap di Rumah Sakit karna tiba-tiba perutnya keram.
"Nah, Nona Lim, ini resep dan catatan untuk anda." Dokter itu memberikan dua carik kertas, "lain kali ajaklah suami Nona, agar beliau tahu dan selalu mengingatkan anda," tambah Dokter itu seraya tersenyum hangat.
Yoona hanya tersenyum kikuk dan tanpa menjawab lagi, Yoona keluar. Ia memegang perutnya, sekarang apa yang harus ia lakukan?
-
__ADS_1
"Lewat sini, Nyonya."
Wanita akhir lima puluhan tersentak. Ia segera menata langkah ke arah yang ditunjuk oleh seorang perawat.
o0o
Sehun menekan bibirnya membuat sebuah garis lurus. Pria itu turun dari mobil dan berlalu ke arah di mana beberapa pemuda berkumpul. Kedatangan Sehun tentu membuat kumpulan pemuda itu saling bertukar tatap, mempertanyakan Dosen menghampiri mereka. Tatapan Sehun mengarah pada Jung Jaehyun yang juga berada di sana.
Jaehyun mengesah napas. Sadar dirinya yang mendapat tatapan dari Sehun membuat Jaehyun mengerti dan langsung berlalu, menjauhi teman-temannya.
"Mister—"
"Kau tahu di mana Yoona, kan?"
Jaehyun terkesiap untuk beberapa saat ia tercenung memikirkan sesuatu. "Ha?"
Sehun menguasai diri, menarik napas dan mengembuskannya perlahan meski begitu ia tak bisa menguasi air wajahnya yang sudah mengeruh. "Saya peringatkan untuk tak ikut campur dalam urusan kami."
Kedua tangan Sehun terkepal kuat di sisi tubuhnya. Pria itu mengetatkan rahang, mencoba menahan umpatan kasar untuk pemuda di hadapannya. "Kau—"
"Yoona—Yoona?" kedua bola mata Jaehyun membola melihat seorang wanita muda berjalan dengan seorang pria dewasa ditambah wanita muda itu tersenyum malu-malu seperti biasanya.
Yoona tak kembali ke rumahnya tapi Yoona juga tak pulang ke apartemen-nya. Pergi ke mana wanita muda itu sebenarnya?
Hari ini, hari pertama Yoona kembali menekuni kehidupannya seperti sediakala. Wanita muda itu tak ingin menunda waktu lagi, masalah akan selesai jika dihadapi. Yoona hanya harus yakin dengan apa yang ia pilih, hidupnya adalah kehendaknya bukan kehendak orang lain.
Tawa Yoona surut saat netranya menangkap keberadaan dua orang pria yang dikenalnya. Saat salah satu pasang mata di sana bertemu dengan maniknya, Yoona langsung mengalihkan pandangan dan kembali menatap Mr Siwon yang masih tertawa karna mendengar lelucon Yoona tadi.
__ADS_1
Yoona meneguk ludah saat sadar kalau arah langkahnya sebentar lagi akan melewati kedua pria di sana. Yoona menipiskan bibir yang kemudian berujar, "Kita makan di mana, sir? Mister suka makanan seperti apa?" Yoona mati-matian untuk tak melirik di mana kedua pria itu berdiri, benar-benar bersusah payah memusatkan perhatiannya pada Dosen yang pernah ia incar ini.
Mr Siwon diam beberapa saat, berpikir sejanak. "Saya suka sesuatu yang manis."
"Saya, sir?" respon Yoona sangat cepat bahkan terlalu cepat. Yoona menepuk bibirnya sendiri, malu dengan responnya tadi.
Dan saat Yoona dan Mr Siwon berhasil melewati kedua pria itu, Yoona mengembuskan napas lega. Entah sejak kapan Yoona menahan napasnya.
Mr Sehun terkekeh ringan. "A—"
"Lim Yoona."
Alih-alih Yoona berhenti justru Mr Siwon yang menghentikan langkahnya. Dosen itu menoleh yang kemudian menyapa salah satu teman seperdosenannya dan sesaat membalas sapaan Jaehyun. Sementara Yoona berdiri selangkah di depan Mr Siwon, mau tak mau ikut menghentikan langkahnya terlebih Dosen Jahanam itu memanggil namanya.
Tapi demi apapun, Yoona rasanya ingin berteriak pada Mr Siwon untuk kembali melangkah dan menghiraukan Dosen Jahanam itu.
"Yoona?"
"Ya, sir?" sahut Yoona manis seraya menatap Mr Siwon yang tadi memanggilnya.
"Mr Sehun memanggil kamu."
Kali ini Yoona tak langsung merespon. Ia mengulum bibir seraya mengalihkan pandangan ke arah Sehun yang menatapnya lekat dengan sorot yang tak bisa Yoona tebak. Senyumnya terulas dengan paksa, "ya, sir? Maaf tadi saya tak dengar—"
"Ke ruangan saya."
Yoona diam beberapa saat. Ia menggigit bibir lalu menipiskan bibir setelahnya Yoona mengesah napas pelan dan akhirnya Yoona mengangguk. "Baik."
__ADS_1
Yoona akan menyelesaikan semuanya.
---