PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 24. Do Not


__ADS_3

Yoona mengesah napas keras. Sengaja ia lakukan agar pemuda di sampingnya bertanya.


"Ada masalah?"


Senyum Yoona langsung terukir. Jung Jaehyun memang selalu berhasil memakan umpannya. Yoona mengesah napas lagi, kali ini dengan pelan. Bibirnya mencebik kemudian menjatuhkan kepalanya ke meja.


"Bolehkah aku memakai nama belakangmu, Jung?" tanya Yoona, ia kembali mengesah napas. "Aku pikir, aku akan dibuang oleh keluargaku."


Jaehyun mengernyit, mendengarnya. "Apakah karna masalah hari itu?" tanya Jaehyun dengan hati-hati, takut Yoona tersinggung atau mengubah suasana jadi canggung.


"Jung..."


Jaehyun kembali dibuat bingung oleh Yoona. "Hm?"

__ADS_1


"Sori, aku belum mengatakannya langsung, kan? Then, I'm sorry." Yoona diam beberapa saat begitu juga Jaehyun yang diam, masih tak paham dengan Yoona hari ini. "Tentang kau dan Seola, harusnya aku tak menyalahkanmu, bukan salahmu kalau kau menyukai dan menerima Seola, bukan salah Seola juga." Yoona tersenyum miris. Ini adalah topik yang Yoona hindari, ia tidak ingin menunjukan kelemahannya di depan orang lain, setiap kali membicarakan Seola ... hati Yoona merasa sakit seperti Seungwoo yang dikhianati oleh wanita itu. Ingatan tentang wajah Seungwoo dengan keputus asaan membuat napasnya sesak. Karna pada saat itu Yoona menyadari, sedekat apapun Yoona dengan Seungwoo, tetap saja Yoona bukan segalanya bagi Seungwoo karna dunia Seungwoo tetaplah Seola. Selama itu Yoona berharap terlalu banyak, dengan tak tahu diri Yoona membuka lebar mulutnya dan mengatakan kalau Seungwoo hanya peduli padanya. Yoona tak pernah berkaca kalau selama ini dirinya selalu sendiri, bayangan Seungwoo hanyalah delusi yang ia ciptakan sendiri.


Menyedihkan. Seperti kata Dosen itu.


"Aku tak menyukai bisnis tapi aku mencoba untuk menyukainya. Aku ingin dilihat oleh kedua orangtuaku, sekali saja aku ingin mereka mengatakan kalimat yang biasa mereka katakan pada Taeyeon. Tapi, itu tak pernah terjadi. Kata itu sangat mahal untuk diberikan untuk aku yang tak bernilai untuk mereka. Aku pikir jika aku bersikap seolah aku menyukai bisnis maka aku akan mengalihkan perhatian mereka dari Taeyeon, tapi tidak, itu tidak pernah berhasil. Tapi saat itu, Seungwoo datang padaku. Mengatakan ..." Yoona menarik napas, seperti merasakan paru-parunya yang melepaskan seluruh oksigen dalam tubuhnya. "‘Thank you so much for your hard work.’" Yoona tersenyum, kenangan itu kembali diputar oleh ingatannya.


Sejak kecil Yoona hanya dekat dengan Seungwoo. Dan setelah Seungwoo mengatakan kalimat itu, Yoona semakin menempel pada Seungwoo. Satu-satunya orang yang menghargai Yoona dan menghargai keinginan Yoona yang tak ingin terjun dalam bisnis keluarga. Hanya Seungwoo. Bahkan sebelum Yoona kenal Jaehyun dan menjadi dekat dengan pemuda itu, tempat Yoona menumpahkan semuanya itu adalah Seungwoo. Yoona sangat menghargai kehadiran Seungwoo dalam hidupnya dan bersyukur bahwa ia adalah adik kandung Seungwoo.


Yoona menyembunyikan wajahnya, menghadap langsung pada meja dengan tangan yang dilipat di atas meja menjadi tumpuan kepalanya. "Aku tak tahu dosa apa yang aku perbuat, sampai semua yang aku sukai perlahan meninggalkanku," suara Yoona terdengar pelan dan lirih, sementara Jaehyun masih setia mendengarkan. "Seungwoo yang aku pikir menganggap aku lebih berharga dari Seola, memilih gila kerja hingga melupakan semuanya dan yang terburuk dia tak bisa aku lihat selamanya. Seola yang selama ini aku anggap seperti pengganti Taeyeon justru melakukan pengkhianatan, Dan ..." Yoona meneguk ludah dengan pahit ia melanjutkan, "aku mencintai Dosen yang bahkan tak pernah melihatku dan memilih wanita sialan itu."


Pantaslah, Yoona menamparnya saat itu. Pantaslah, Yoona merasa Jaehyun mengkhianatinya. Jaehyun tak pernah benar-benar tahu seperti apa hidup Yoona selama ini.


"You are valuable, Yoona. Least for me. Seungwoo also definitely thinks you are very valuable," Jaehyun menjeda, menatap Yoona yang bergeming, ia mengulum bibir lalu melanjutkan, "Aku minta maaf karna saat itu tak ada untukmu, harusnya aku lebih cepat mengenalmu supaya kau tak merasa sedemikian sakit, aku minta maaf."

__ADS_1


Yoona tetap bergeming. Masih belum ingin mengangkat kepalanya dan diam dalam tangis tanpa suara isak sedikit pun. Tapi bukankah tangis seperti itulah yang sangat menyayat hati?


Jaehyun mengusap rambut Yoona, mencoba untuk memberi pengertian pada Yoona, membiarkan Yoona melepaskan isaknya. "Its okay, Yoona."


Perlahan bahu Yoona mulai bergetar, isaknya perlahan mulai lolos dari bibirnya, terdengar pelan dan tertahan. Membuat orang-orang dalam kelas menatap Jaehyun dan Yoona penuh tanda tanya, ingin tahu.


Yoona menarik isaknya. "I-I promised, I already learned my lesson. But, right now ... I want to be not okay ... I'm so tired because its always gonna stay the same," suara serak Yoona terdengar lirih dan parau kembali menyayat hati Jaehyun. 


Yoona mengubah posisi kepalanya jadi menghadap Jaehyun, memperlihatkan wajahnya yang basah dan berantakan. "I want to give up," kata Yoona seraya menatap Jaehyun.


"Yoona—"


"No, Jaehyun. I am so over all this bad luck."

__ADS_1


---



__ADS_2