PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 06. Pria Jahanam


__ADS_3

Chapter 06 — Pria Jahanam


-


“Kamu tahu? Apa yang sering menyusahkan bagi perempuan?


Perasaannya sendiri.”


-


Yoona menatap sekitar. Kampusnya sangat sepih, lapang utama kampus hanya di terangi oleh lampu dengan cahaya temaram. Yoona tak gentar, kaki pendeknya terus melangkah menuju lobi utama di mana cahaya yang lebih terang berpancar. Memang ia sedikit takut, tapi ia sudah cukup terbiasa dengan ini. Lagi pula, Yoona percaya kalau beberapa hal kalau memang harus di perjuangkan, maka perjuangkan sampai hal itu ia dapatkan. Contohnya, mendapatkan cinta Mr Siwon.


Yoona terkekeh, membayangkan dirinya dan Mr Siwon candle light dinner. Ah, atau Yoona harus menelepon salah satu bawahan Ayahnya untuk menyiapkan satu meja VVIP untuk ia dan Mr Siwon?


"Hihi, lucunya ..."


"Kenapa kamu ada di sini?"


"YA TUHAN, YA—" ucapan Yoona terhenti saat melihat sosok pria yang entah sejak kapan berdiri beberapa meter dari tempatnya. "Mr Sehun!" Yoona mendengus, wanita muda itu membuang pandangan, tak ingin menatap Dosen di depannya.


Yoona meringis pelan saat sadar Sehun di depannya itu menatap lekat padanya. Bayang-bayang kejadian kemarin berputar lagi dalam pikirannya, membuat pipinya merona sendiri.


"Eh, sir ... selamat malam, saya permis—"


"Saya tidak tahu kamu mengambil kelas malam," kata Sehun dengan sedikit nada sindiran, "kelas siapa?" tambahnya.


Yoona merotasikan bola matanya, ia lalu memandang malas pada Sehun. Dalam hati ia meruntuki dirinya sendiri, kenapa ia terlalu memikirkan itu? Padahal pria jahanam ini bahkan mungkin sudah melupakan itu. Berciuman bagi seorang pria dewasa bukan hal baru lagi.


Netra Yoona memandang kebelakang Sehun, menyadari ada seseorang yang baru saja keluar dari gedung di sana. Bibirnya merekah lebar, mengetahui siapa yang baru saja keluar.


"Jung Jaehyun!!" teriak Yoona seraya melambai semangat pada pemuda di sana.


Sementara Jaehyun di tempatnya, terkesiap mendengar seseorang meneriaki namanya. Matanya kian membulat saat menemukan sosok Yoona dengan seorang pria yang Jaehyun sendiri langsung yakin kalau pria itu Mr Sehun, Dosen mereka. Niatnya ia ingin kabur saja, dari pada harus berurusan dengan Dosen killer itu, namun saat netranya bertubrukan dengan netra Yoona di sana, ia mengurungkan niatnya. Jadi diam, menunggu wanita muda itu menghampirinya.


Yoona melirik takut pada Sehun. "Maaf, sir. Saya ada janji, saya permisi." kata Yoona, melangkahkan kakinya, namun baru selangkah, kakinya berhenti karna kini tangan seseorang menyambar cepat gelangan tangannya.


"Mau kemana kamu? Ini sudah malam," ucap Sehun, matanya menyorot dingin pada Yoona.

__ADS_1


"Sudah saya bilang, saya ada janji."


"Pulang, ini sudah malam."


"Apa, sih! Memangnya Mister siapa berani memerintahkan saya?!"


"Saya suami kamu."


Sekakmat. Mulut Yoona terbuka namun tak ada suara yang ia keluarkan, bola matanya bergerak tak tentu arah.


"Pulang."


Yoona mencuatkan bibir kecil. "No way! Besok saya tidak ada kelas, jadi saya ingin—"


"Ada, besok saya akan kasih kelas privat khusus untuk kamu," potong Sehun, masih tak ingin mengalah. "Sekarang kita pulang," tambah Sehun seraya menarik tangan Yoona yang masih ia pegang.


Yoona berontak dan dengan sekali hentakan, tangan Sehun melepaskan lengannya. "Pulang, sana! Mister sudah di tunggu wanita cantik di rumah, saya permisi, BYE!!" Yoona buru-buru berlari meninggalkan Sehun yang jadi diam di tempat.


-


"Tengkar, ya?" tanya Jaehyun yang membuat Yoona mengernyit. "Kemarin Mister Sehun bilang, kok." kata Jaehyun, menambahkan. "Hubungan kalian," menjelaskan kenapa tadi ia bertanya.


" ... Ha?" Yoona cengo, tentu saja. Dari awal yang mengusulkan untuk merasahasiakan hubungan mereka adalah Sehun sendiri. Kalau Yoona sih oke-oke saja karna kalau tidak begitu Mr Siwon pasti akan semakin jauh tak tergapai olehnya.


"Wah ... jadi ini alasannya kenapa kamu suka membuat ulah? Supaya bisa di hukum oleh suami sendiri?" ejek Jaehyun dengan dengkusan sinisnya. Sejurus kemudian ekspresi Jaehyun jadi tengil. "Gimana? Kamu suka hukuman kasar atau slowly?" tanya Jaehyun, memainkan kedua alisnya.


Yoona mendelik lebar, mengumpat kasar dan menendang tulang kering pemuda itu. "Hubungan aku dan 'pria jahanam' itu tak seperti yang kau pikirkan!" kata Yoona dengan menekankan kata pria jahanam yang membuat Jaehyun diam-diam menahan tawa.


"Ha, apa? Memang apa?"


Yoona tak langsung menjawab, matanya tanpa sengaja melirik ke arah di mana masih ada Sehun berdiri di sana, mengamati dirinya dari sana. Netranya kembali fokus pada Jaehyun, ia mengela napas yang lalu berujar, "sebulan lalu kami memang menikah tapi bukan untuk menyenangkan diri sendiri, melainkan untuk menyenangkan orangtua kami," Yoona menjeda, nampak canggung membicarakan hubungannya dengan Dosen yang menjadi idaman banyak Mahasiswi di Kampus. "Perjodohan, um ... semacam itu, lah!"


Jaehyun masih diam, mencerna cerita dari Yoona. Terlahir dari keluarga kaya raya, apa selalu berakhir seperti ini? Tidak bisa menentukan dengan siapa akan menikah atau di mana kita akan melanjutkan pendidikan?


Memikirkan itu, Jaehyun jadi merasa kasihan pada Yoona. Wanita muda di depannya ini sangat manja tapi ada hal yang membuat dirinya bingung, Yoona memiliki saudari perempuan yang lebih tua dari Yoona, dan setahu Jaehyun Saudari Yoona itu masih melajang karna katanya sibuk mengurus anak perusahaan. Pertanyaannya, kenapa harus Yoona yang harus menerima perjodohan ini?


Jaehyun memandang Yoona. Apakah wanita muda ini tak menyadari hal ini? Atau apa karna memang saudari Yoona itu sudah ada calon lain?

__ADS_1


"Sederhananya adalah?"


Yoona menipiskan bibir, mengela napas berat mencoba tetap sabar. "Hanya sebatas status, kita tidak tinggal di satu ruang yang sama, kami tak melakukan semua hal yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri," jelas Yoona. "Lagi pula, sepertinya 'pria jahanam' itu akan segera menceraika naku," tambah Yoona yang membuat Jaehyun membulatkan kedua matanya.


"A-apa?!"


Yoona mencebik, entah mengapa sesuatu di balik dadanya terasa panas saat mengatakan ini. "Kemarin aku menanyakan itu, lalu hari ini aku menemukan map coklat di apartemen, lalu saat aku akan pergi, aku melihat wanita cantik, seksi ada di depan apartemen 'pria jahanam' itu! Dan lebih mengejutkannya lagi, wanita itu memiliki kartu aksesnya! Aku yang bahkan istrinya tak tahu passcode apartemen 'pria jahanam' itu!" Yoona kini benar-benar curhat colongan. Kini, kekesalannya semakin memuncak setelah mengingat wanita yang tadi sempat ia sapa itu.


"Mungkin dia saudari Mr Sehun, atau—"


"Jangan sok tahu, deh, Jung!" sentak Yoona galak. " ... 'pria jahanam' itu anak tunggal, begitu juga dengan orangtuanya, mana ada saudari?! Aku tahu, ya, rincian dari keluarga besar itu!"


Jaehyun merapatkan bibir, jadi memberengut sendiri karna sudah disentak dengan galaknya. Matanya melirik kecil, Dosen itu masih di sana. Ragu, namun akhirnya Jaehyun memberi penawaran pada Yoona. "Aku ada latihan, kamu ingin ikut atau aku antar pulang?"


"Ikut!" jawab Yoona, cepat.


"Oke, kita tunggu Eunwoo di mobilnya."


Jaehyun melangkah lebih dulu, memimpin. Sebenarnya sudah tak tahan di tatap tajam dari belakang, rasanya tulang punggungnya saja gemetar. Sementara Yoona masih diam, sejenak. Netranya saling beradu dengan Sehun yang menggerakkan bibir, memerintah Yoona agar pulang.


Yoona mendengkus, ia berbalik dan menyusul Jaehyun. Terserah Yoona tak peduli, apa yang akan Sehun dan wanita itu lakukan di apartemen pria itu, Yoona tak peduli dan tak ingin bertanggung jawab. Dan, Yoona juga tak peduli kalau Sehun benar-benar akan menceraikan dirinya.


Yoona tak peduli.


Yoona tak peduli, sungguh.


Tapi, kok, rasanya Yoona ingin membumi hanguskan Sehun dan mengarungi wanita itu lalu melemparnya ke laut lepas, biar di telan ikan paus sekalian!


Jaehyun menghentikan langkahnya yang lalu berbalik, menatap Yoona yang berjalan mendekat sambil misuh-misuh. Sejenak pemuda itu mengusap tengkuknya, hal yang biasa ia lakukan saat gugup.


"Uhm, Yoona ..."


"Hm, apa?"


Jaehyun **** bibirnya sejenak, lalu bersuara lagi, "masih ada kesempatan, kan, untukku?"


" ... Hm?" []

__ADS_1


__ADS_2