PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 25. Wanita Pilihan


__ADS_3

Sebuah keberuntungan untuk Sehun. Suji kembali bahkan sebelum Sehun menyampaikan rencananya. Awalnya Sehun sedikit khawatir, takut Suji tidak bisa buru-buru pulang seperti keinginannya tapi wanita itu di sini, sibuk menonton acara televisi di apartemennya.


Langkah Sehun tertata, mendekat pada wanita itu. Duduk di samping Suji dengan salah satu tangannya merangkul Suji membuat wanita itu menoleh dan tersenyum.


"Bagaimana Provence?" tanya Sehun.


Kening Suji menciptakan gelombang halus, wanita itu mengesah napas pelan lalu memeluk perut Sehun. "Menyebalkan, indah tapi menyebalkan."


Sehun terkekeh ringan, mengusap punggung Suji dengan satu tangannya sementara satu tangannya lagi menggenggam jemari Suji. Sehun diam hingga suasana hening mengambil alih. Benaknya memerintah untuk segera mengatakan rencananya tapi entah kenapa Sehun meragu, lagi. Karna Sehun tahu, Suji itu ... "Apa kau ingin berhenti bekerja dan menikah denganku?" ... Sangat mencintai pekerjaannya.


Tubuh Suji kaku dalam pelukan Sehun. Bahkan wanita itu secara naluri menahan napasnya dan secara perlahan melepaskan diri dari pelukan Sehun. "Hm?"


Sehun mengulum bibir sejenak. Menatap Suji dengan tatapan teduhnya, tangan yang semula menggenggam jemari Suji beralih mengusap pipi wanita itu. "Kau ingin menikah dengan ku?" tanya Sehun, suaranya rendah dan terdengar tulus, tak main-main.


Suji mengerjap. Wanita itu diam untuk waktu yang lama. Memainkan kuku jemarinya dengan gelisah, Suji melirik Sehun yang masih setia menunggu. "... Ya," jawab Suji, suaranya hampir menyerupai sebuah bisikan.


Senyum Sehun tercipta kemudian. Menunggu jawaban singkat ini kenapa rasanya sangat membuat sesak dan gusar tapi Sehun tak pernah menyangka saat akhirnya bisa mendengar jawabannya. Rasanya ... sulit digambarkan dengan kata-kata yang jelas semuanya begitu melegakan seperti sebuah beban berat itu terangkat dari dirinya. Singkatnya Sehun bahagia.


Suji pasrah saar tubuhnya tertarik dan jatuh ke dada bidang Sehun. Sehun memeluk erat tubuhnya seakan ingin membagikan perasaan bahagia yang membucah itu. Suji bersandar pada dada tegap Sehun sementara siempu sibuk mengusap rambutnya. "Tapi ... bagaimana dengan wanita itu?" pertanyaan Suji membuat gerakan Sehun berhenti. Suji mengesah napas pelan, berusaha menguasai diri. "Sehun! Aku tidak ingin bersembunyi!" sengut Suji seraya melepaskan diri dari Sehun.


"Karna itu, aku ingin kamu datang bersamaku untuk menemui Dad," kata Sehun, menjeda beberapa saat, "Dad harus mengenalmu, agar dia tahu kalau pilihanku selama ini tidak salah," sambung Sehun.


Suji tak bisa menyembunyikan senyumnya, ia kembali memeluk Sehun dan menjatuhkan kembali kepalanya pada dada tegap Sehun. Ia tak pernah membayangkan ini akan terjadi dalam hidupnya.


Sejak tahu Sehun akan menikah karna perjodohan. Suji menyerah. Menurutnya tidak akan ada gunanya untuk bertahan bahkan mengemis pada seseorang yang jalan hidupnya sudah ditentukan. Suji tidak ingin menjadi seorang yang rendah, rela melakukan apapun hanya untuk satu orang atas nama cinta. Baginya itu hanyalah hal klise yang memuakan.


Saat itu juga, Suji memutuskan untuk hidup bebas seperti burung. Terbang dari satu Negara ke Negara lain, mengitari satu Samudera ke Samudera lain dan menjelajah satu Benua ke Benua lain. Sampai perasaan bosan itu datang.


Tapi hari itu, Sehun datang. Wajah Sehun pucat dengan napas terengah Sehun berdiri diambang pintu apartemen Suji, menatap Suji yang sudah siap dengan satu koper kecil di sampingnya, menatap kaget pada Sehun yang nampak tak mengganti pakaiannya. Ya. Hari itu adalah hari pernikahan Sehun bersama wanita yang sudah disiapkan oleh Orlando.


Sehun mendekap tubuhnya erat. Suji masih bisa merasakan tubuh gemetar itu memeluknya erat. Lalu sebuah suara rendah tertangkap oleh indera pendengarnya.


“Jangan pergi, Suji. Jangan menyerah karna kau masih memilikinya. Hatiku, perasaanku adalah, Kau.”


Bahagia? Tentu saja. Suji mencintai Sehun. Suji juga patah hati saat Sehun menikah dengan wanita lain. Suji sudah ingin menyerah tapi Sehun justru datang dan memintanya untuk tidak menyerah, itu sebuah kesempatan yang tentu tidak akan Suji sia-siakan.


Dan, Suji tidak akan menyerah. Ia takan melepaskan Sehun bahkan jika Sehun ingin melepaskan diri darinya. Ia takan membiarkan Sehun lepas.


Suji tersenyum. Tangannya masih melingkar di perut Sehun dengan wajah yang mendongak, berusaha menatap Sehun. "Terimakasih," ucap Suji, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke dada tegap Sehun, lagi.


"Hm?"


"Hehe..."


Terimakasih karna aku takan pergi darimu, jadi kau juga. Harus!


Sambung Suji dalam hati. Ia mengeratkan pelukannya pada perut Sehun membuat pria itu terkekeh geli dan mengecup singkat puncak kepala Suji.

__ADS_1


Pelukan mereka lepas. Suji berdiri membuat Sehun mendongak, menatapnya. Penasaran saat tiba-tiba Suji membenahi diri dan memakai mantelnya.


"Kau ingin pergi?" tanya Sehun, menata lengkah mendekat ke wanita itu.


Suji mengangguk tanpa harus menatap Sehun. "Hm, aku janji akan makan malam dengan adikku."


"Aku?" tanya Sehun seraya menunjuk dirinya sendiri.


Suji melihat itu dan tawanya tercipta. Ia mengacak rambut Sehun gemas. "Lain kali, ya?" Suji tersenyum saat Sehun di depannya justru mencebik seperti anak kecil. "Seola ingin berbicara denganku, mungkin dia akan mempertimbangkan ucapanku." Suji mengela napas, ia maju dan kembali memeluk Sehun.


Sehun membalas pelukan itu. Ia mengusap rambut dan punggung Suji dengan lembut. "Hm, itu pasti berat juga untuknya," ujar Sehun.


Suji mengangguk lalu menjauhkan diri. "Aku pergi," ujarnya, pamit.


Sehun mengangguk. Menatap punggung wanita itu dengan senyum yang masih terulas sampai akhirnya Suji benar-benar meninggalkan apartemennya.


Apartemennya sunyi lagi. Sehun mengela napas, ia berbalik dan kembali duduk di sofa ruang tengah. Dalam hati, ia bertanya-tanya, Apakah semuanya akan berjalan seperti yang ia harapkan?


Tapi, kenapa tiba-tiba ia meragu seperti ini? Tidak, kan? Tidak mungkin itu benar.


***


Sehun mengetuk pintu di depannya. Pria itu melenggang masuk setelahnya.


"Ada apa?" Orlando langsung bertanya melihat Sehun yang tiba-tiba mendatanginya tanpa menghubungi sebelumnya.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Orlando, lagi.


Sehun menipiskan bibir. Pria itu berdiri dan terdiam di tempat, menatap Ayahnya. Yang kemudian Sehun mengangguk. "... Ya."


Alis Orlando terangkat. Ia mengela napas yang kemudian berdiri dan berjalan ke sisi ruangan, di mana sofa kulit terletak. Orlando duduk di sofa tunggal, sementara Sehun duduk di pinggir sofa panjang. Dengan kaki menyilang dan bersilang dada, Orlando kembali menanyakan tujuan Sehun.


Sehun menatap Orlando dengan kepercayaan penuh. Ia menarik napas dan mulai berujar, "aku akan menjatuhi gugatan cerai pada Yoona."


Hening panjang.


"Apa?"


Sehun mengela napas panjang. "Aku ingin bercerai dengan Yoona," ulang Sehun.


Orlando tak langsung menjawab. Pria tua itu menatap lekat putranya yang kemudian melengos tajam. "Katakan satu alasan saja."


"Aku mencintai—"


"Kecuali alasan itu."


Sehun langsung bungkam. Sesuai tebakannya, ini tak semudah yang ia inginkan. Tangannya sudah terkepal tanpa ia sadari, berusaha keras untuk menahan diri.

__ADS_1


"Sehun—"


"Dad, Suji adalah yang aku inginkan."


Mata Orlando terpejam beberapa detik. Yang kemudian kembali menatap Sehun. "Kenapa? Apa yang kurang dari Yoona?"


Bibir Sehun mengatup rapat. Apa yang kurang? Masalahnya ini bukan pada Yoona, masalahnya ada pada dirinya. Sehun hanya tak mencintai Yoona. Itu saja.


"Kembali, lah! Tak ada gunanya kau mengatakan itu padaku."


Alih-alih beranjak, Sehun justru tetap bergeming. Dalam benaknya seolah ada berdebatan panjang, membuat Sehun jadi terpikirkan tentang itu.


Haruskah ia mengatakan itu?


Orlando pasti akan setuju dan membiarkan Sehun mengambil langkah sesuai kehendak Sehun. Tapi, di sisi lain Sehun juga merasa berat, bagaimana pun itu adalah hal yang Sehun sukai.


"Aku akan berhenti dan masuk ke perusahaan," ujar Sehun akhirnya. Suara helaan napas terdengar setelahnya.


Sementara Orlando membulatkan bola mata. Tak percaya Sehun akan mengatakan itu. "Kau serius?" tanya Orlando masih belum percaya.


Sehun mengangguk yakin. "Ya."


Orlando hilang kata. Baginya sangat tidak mungkin Sehun mengajukan negoisasi itu secepat ini.


"Asalkan Dad membiarkan aku dengan Suji," kata Sehun.


"Kenapa?"


"Bukankah ini penawaran yang adil? Aku mendapatkan apa yang aku ingin, begitu pun dengan Dad."


Orlando diam. Ia benar-benar hilang kata, seakan menolak untuk percaya tapi saat menatap langsung Sehun, putranya itu seolah tak memiliki keraguan.


Sehun berdiri, ia mengucapkan pamit untuk pergi. Tapi baru dua langkah kakinya melangkah, suara Orlando mengintrupsi membuat langkahnya terhenti.


"Hanya karna wanita itu kau melakukan ini?" sarkas Orlando.


"Suji adalah wanita pilihanku," jawab Sehun tanpa menatap Orlando.


Di belakangnya, Orlando tertawa, membuat Sehun mengernyit. Apakah pengakuan Sehun adalah lelucon jenaka?


"Kau berkata seperti itu seolah-olah, Yoona adalah satu-satunya, ya?" ketus Orlando, sinis. Pria itu berdiri, mendekat ke putranya lalu menepuk bahu lebar Sehun. "Sejak awal aku membiarkan kau memilih wanita yang kau inginkan, asal bukan wanita itu. Sekarang kau berkata Suji adalah wanita pilihanmu?" Orlando mendesis sementara Sehun tercenung mendengar kalimat Orlando.


"Kau sendiri yang memilih Yoona. Yang bahkan dia tak ada dalam daftar."


---


__ADS_1


__ADS_2