
Chapter 14 — Tawaran
Taehyung menyeringai samar. Pria itu memasukan tangan ke dalam saku celananya. Wajahnya masih tersenyum ramah dengan sorot mata yang menyorot dengan main-main.
Sementara Sehun menatap dengan sorot dingin dan garis wajah yang mulai mengeruh, seakan merasa terganggu dengan keberadaan Taehyung.
Taehyung berdeham. Pria itu kembali menatap muda-mudi yang terlihat sedang kembali berbincang. "Baru pertama kali aku mengenal wanita yang meledak-ledak seperti Yoona," ujar Taehyung. Ujung matanya melirik Sehun yang balas melirik tajam. Taehyung tersenyum kecil, "menarik—"
"Jangan pernah libatkan dia dalam nasib keluargamu!" potong Sehun dengan intonasi tajam. Rahangnya mengeras kini pandangannya benar-benar di arahkan pada Taehyung yang balas menatap dengan sebelah alis terangkat seolah mempertanyakan maksud dari kalimat Sehun.
Taehyung lagi-lagi tersenyum, menanggapi kalimat tajam dari Sehun. "Hm? Saya tidak mengerti maksud Mister," ucap Taehyung.
Sehun mengatupkan bibir, rapat. Pria itu masih berusaha untuk menguasai diri walau tatapannya masih menyorot tajam nan dingin pada Taehyung. Beberapa detik selanjutnya, Sehun memutuskan untuk berlalu tanpa mengucapkan apapun.
Taehyung melihat itu yang kemudian seringai kecil tercipta bersamaan dengan sorot mata yang berubah dingin.
o0o

Yoona mendengkus sebal. Ingin rasanya ia menyumpal mulut Taehyung yang sedang terbahak lebar itu dengan nuklir lalu meledekan nuklir itu di dalam tenggorokan pria itu agar berhenti mengeluarkan suara sumbang dari suara tawa yang kini membuat telinga Yoona panas.
"HAHAHAHAHAHAHA..."
"Diam atau mati?" ancam Yoona yang malah membuat tawa Taehyung semakin meledak.
__ADS_1
Ini sudah beberapa hari setelah kejadian baku hantam Yoona dengan Eunji di kelas Profesor Taeil, tapi Taehyung seolah tak ingin membuat semua itu berlalu dan terlupakan sampai kini masih terus membahasnya disetiap kesempatan saat bertemu dengan Yoona. Pria itu seolah menemukan hiburan baru.
"Kau tertawa lebar seperti itu apa tak menyadari sesuatu kalau mulutmu itu bau busuk?" sarkas Yoona yang kali ini berhasil membuat Taehyung mengatupkan bibir.
Taehyung berdeham kecil. Seolah teringat sesuatu yang membuatnya mengubah ekspresi jadi serius. Menatap Yoona.
"Apa?" tanya Yoona dengan intonasi ketus. Diam-diam tak nyaman juga ditatap selekat itu oleh Taehyung. Yoona mengangkat dagu, seolah menantang. "Apa? ha? kau mau apa?"
Taehyung mengerjap. Bibirnya bergetar karna menahan tawa geli karna tingkah Yoona yang berusaha tetap tegas di depannya.
"Aku masih terharu karna kau memperjuangka naku di depan Eunji—"
"Ck, ka—"
"Aku ingin jawabanmu atas tawara naku hari itu," potong Taehyung. Pria muda itu kembali serius.
Yoona diam. Menatap lekat Taehyung yang tak ragu membalas tatapannya. Yang kemudian mengela napas lelah. "Aku sudah bilang kalau hubungan aku dengan Dosen Jahanam itu tidak seperti—"
"Aku tak mengerti dan tak punya alasan kenapa aku harus menerima tawaranmu itu?"
"Kau akan melihat Dosen Jahanam—mu itu hancur."
Sejenak Yoona merasa merinding mendengar jawaban tanpa beban dari Taehyung. Walau dengan cepat Yoona mengenyahkam perasaan itu.
"Kalau kau menerima tawaranku, kita bisa membuat Dosen Jahanam—mu itu menderita dan hancur perlahan-lahan," Taehyung tersenyum bengis. Pria muda itu menyeringai kala memandang ekspresi Yoona yang perlahan berubah. "Kau membencinya, kan?" tanya Taehyung.
Yoona diam beberapa saat yang kemudian mengangguk, membenarkan tebakan Taehyung. "Iya," jawab Yoona. "Tapi aku tidak ingin menghancurkan Dosen Jahanam itu dengan bantuan orang lain, aku ingin membumi hanguskan Dosen Jahanam itu sendirian!" sambung Yoona.
"H—"
__ADS_1
"Sial, gara-gara Senior sial seperti kau, aku tidak bisa bertemu dengan vitamin berjalanku!" umpat Yoona.
"Membuang-buang waktu saja!" ketus Yoona seraya beranjak dari tempat meninggalkan Taehyung dengan kening bergelombang atas perkataan Yoona.
Vitamin berjalan?
o0o
Langkah yang diserat-seret karna malas juga lelah itu menggema di salah satu koridor gedung apartemen.
Yoona si oknum itu merengek kecil. Wanita muda itu masih menyesali keputusannya yang lebih memilih menemui Taehyung ketimbang mengintip Mister Siwon di kelas sebelah. Apalagi menurut pengamatan Yoona, Mister Siwon beberapa hari terakhir tidak bercukur hingga membuat bulu-bulu halus mulai tumbuh disekitar dagu dan rahang tegas Dosen yang selalu terlihat menawan di mata Yoona.
Ya Tuhan, membayangkan dirinya yang ndusel-ndusel manja ke bulu-bulu itu membuat Yoona hampir berteriak saking tingginya khayalan yang kini mengisi pikirannya.
Langkah Yoona berbelok ke arah apartemennya. Masih dengan khayalan di pikirannya Yoona tersenyum geli sendiri. Namun ketika pandangannya lurus ke depan, senyum itu langsung surut begitu netranya menemukan sepasang manusia tengah berpelukan tak jauh dari apartemennya. Bersamaan dengan itu, Yoona menghentikan langkahnya. Menatap jijik pada sepasang manusia di sana.
Sial, kenapa Yoona jadi sangat kesal?
Yoona mendecak yang kemudian merogoh ponselnya. Menelepon salah satu nomor di sana.
Dering pertama, panggilannya langsung dijawab.
"Ha—"
"Hei, Senior sial, aku berubah pikiran," ujar Yoona mengiraukan sapaan orang di seberang.
"Aku menerima tawaranmu."
Sumpah, sir! aku bertanya-tanya kenapa kau hidup kalau hanya untuk menghabiskan udara di bumi? tolong berhenti bernapas sekarang!
__ADS_1
[]