
Tak ada yang Yoona takutkan dari seorang Oh Sehun. Setelah pernikahan itu, tatapan tajam Oh Sehun seolah menjadi tumpul di netranya, bahkan membuat pria itu terbakar emosi adalah salah satu yang Yoona gemari, melihat wajah putih Dosen itu yang perlahan merah karna menahan emosi adalah pemandangan yang menyenangkan baginya.
Ya ... setidaknya itu ... dulu?
Hm, beberapa saat, waktu dan hari lalu?
Tapi, sekarang. Yoona merasakan lagi ketajaman dari tatapan Dosen itu, betapa ngeri dan merindingnya saat Dosen itu diselimuti amarah.
Yoona ingin menuliskan kalimat terakhir untuk orang-orang tercintanya lalu menenggelamkan diri ke Laut Merah.
Yoona merapatkan duduknya pada lengan sofa. Kepalanya menunduk dengan kedua kaki yang dirapatkan dan kedua tangan yang disimpan di atas paha, sikap duduk siap yang selalu ia lakukan ketika Dosen itu memberinya wejangan yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Matanya bahkan tak berani melirik pada Sehun yang berdiri di hadapannya seraya menatapnya, tajam?
Jaehyun sudah pergi. Diusir—bukan, diseret Sehun keluar secara paksa tanpa ingin mendengar pembelaan dari pemuda malang itu.
"Lim Yoona."
__ADS_1
Yoona menahan napasnya. Bulu halusnya meremang mendengar suara dengan intonasi dingin itu menyebut namanya dengan jelas. Seperti memberitahu kalau saat ini Dosen itu benar-benar marah.
Harusnya Yoona jadi butiran debu saja.
Selanjutnya Yoona tersentak saat sebuah tangan memegangi dagunya, membuat kepala Yoona mendongak, menatap Dosen itu yang ternyata sudah mendekatkan wajahnya.
Sehun setengah jongkok di depan Yoona. Salah satu tangannya memegang dagu Yoona, meminta wanita muda itu untuk menatapnya. Bibirnya mendesis saat netranya bertemu dengan netra Yoona lalu tangannya menjauh dari dagu Yoona. Sehun akhirnya mengambil duduk di sebalah Yoona.
Sementara Yoona sendiri bingung. Tak mengerti dengan Sehun yang seperti ini. Ekor matanya melirik Sehun yang membuang pandangan darinya.
Dengkusan tajam keluar dari hidung Sehun. "Kau tidak berpikir untuk tidur dengan anak itu lalu hamil dan memintaku untuk mengakui anak yang bukan dari—ternyata kau lebih murah dari yang aku pikirkan."
"Menyedihkan."
"Mulut Mister jadi bau," sarkas Yoona akhirnya memiliki keberanian untuk menatap tepat Sehun. "Tanpa melakukan apapun dan hanya bisa mengatakan hal yang sudah jelas. Aku murahan, menyedihkan dan menjijikan, lalu kenapa? itu adalah masalahku jadi jangan berani masuk dan ikut campur ke dalam masalahku!" tambah Yoona. Emosi terpancar jelas pada kedua netra Yoona yang mengarah pada Sehun yang hanya diam menerima sindiran Yoona tanpa pembelaan. "Kita menginginkan satu perpisahan yang sama, jika Mister lupa. Dan, harusnya bukan hal besar saat aku memilih untuk tidur dengan siapapun karna bukankah ini adil untuk kita? Mister dengan wanita sialan itu dan aku—" Yoona menghentikan kalimatnya. Tubuhnya tertarik dan merapat pada Sehun yang menarik lengannya kuat. Jarak wajahnya dengan wajah Sehun hanya sejengkal telapak tangan.
__ADS_1
Aroma mint tercium oleh indera Yoona. Yoona tak pernah menyangka pria ini memiliki wangi yang menyegarkan.
Rahang Sehun mengeras dengan netra yang mengunci pandangan Yoona. "Kau mengatakan itu, seolah-olah kau ingin tidur denganku."
Kedua bola mata Yoona membulat tapi tak bisa mengalihkan pandangan dari netra tajan Dosen itu. Yoona mengumpat dalam hati saat matanya hanya bisa melirik kecil pada bibir Sehun yang mengulas seringai, merasa menang karna berpikir tebakannya benar.
"As you wish." Tanpa menunggu respon Yoona, Sehun langsung menempelkan bibirnya ke bibir Yoona. Awalnya hanya menempelkan bibir tapi saat Yoona yang hanya diam tak melawan, Sehun perlahan mulai ******* bibir itu, mengecap rasa dari bibir Yoona.
Tubuh Yoona kaku, terlalu terkejut sampai bingung seperti remaja tanggung yang baru pertama kali dicium oleh seorang pria. Padahal Yoona pernah mencium Sehun sebelumnya tapi ciuman saat ini berbeda. Ciuman ini lebih intens walau tak terlalu menuntut.
Sehun pernah mencium Yoona saat itu, tapi ia tak pernah sadar kalau bibir wanita muda ini begitu manis rasanya. Rasa penasarannya membuat Sehun memperdalam ciumannya, lengan kekarnya kini berpindah ke pinggang Yoona, menarik wanita itu lebih merapat padanya. Lidahnya menelusup memaksa ingin masuk lebih dalam ke rongga mulut Yoona, mecari lidah Yoona yang kaku di dalam tak tahu harus melakukan apa.
******* bibir Sehun berhenti. Kelopak mata Sehun perlahan terbuka, menatap kelopak mata Yoona yang masih terpejam. Wanita muda ini memang tak mengelak ciumannya tapi wanita muda ini juga tak membalas ciumannya seakan Yoona tak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya. Perlahan Sehun melepaskan bibir Yoona dan menjauhkan diri, membuat kelopak mata Yoona perlahan terbuka.
Napas keduanya tersenggal karna ciuman tadi. Sehun mendengkuskan bibir yang kemudian berdiri seraya merapihkan kemejanya lalu Sehun kembali menatap Yoona yang masih diam.
__ADS_1
Sehun mengulum bibir sesaat, melihat wajah Yoona yang merah entah karna emosi atau karna ciuman tadi. Ia berdeham pelan, sejujurnya merasa canggung juga. "Dua minggu lagi pengacaraku akan datang," kata Sehun. Dan, tanpa menjelaskan lebih lagi Sehun berlalu pergi meninggalkan Yoona yang masih terpaku.