PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 08. Rasa Vanila


__ADS_3

Chapter 08 — Rasa Vanila


-


“Sesekali, kita memang harus jadi orang cuek. Biar nggak boros perasaan.”


-


Yoona menyesap mocktail yang dipesan oleh Jaehyun untuknya. Pemuda itu mengancam tak ingin mengantar Yoona kalau sampai Yoona mabuk lagi karna minum alkohol. Kali ini Yoona tak keras kepala, ingat kalau ia juga harus menjaga berat badannya.


Selepas selesai berlatih, Jaehyun dan beberapa anggota panjat tebing lainnya pergi ke kelab, tak lupa menyeret Ketua mereka, Kim Taehyung. Yoona yang ada di sana dengan senang hati menerima tawaran dari salah satu anggota—yang tidak Yoona tahu namanya— Komunitas ini. Yang ternyata satu angkatan dengan Taehyung.


Mata bening Yoona mengedar, menjelajah setiap sudut Beerclub. Diskotik elit, kelas tinggi. Beerclub lumayan luas tanpa adanya dinding pembatas untuk setiap ruangan. Di sebelah kanan, Yoona bisa langsung melihat beberapa meja hijau billyard dan area bermain. Sementara di sebelah kiri, ada meja bar besar yang di jaga oleh dua bartender berparas ala-ala hot daddy. Dan, lurus dari pintu masuk adalah dance floor. Berbeda dengan tempat bermain billyard dan meja bar, dance floor di atur memiliki lantai yang cekung ke bawah dengan beberapa sofa berwarna merah di beberapa titik pinggiran area dance floor.


Dindingnya terdapat mural besar dan beberapa poster band indie yang tak Yoona tahu namanya. Tak lupa dengan hiasan lampu kecil berwarna beragam yang mampu membuat mata pening. Di ujung dance floor ada tempat seperti mimbar besar dan tinggi, tempat diskjoki memainkan piringan yang mampu membuat atmosfer semakin melonjak panas. Seolah menjadi kiblat bagi mereka yang meliyukkan tubuh di dance floor.


Beberapa meter dari meja bartender, ada tangga besi yang memutar, menuju lantai dua. Ini pertama kalinya Yoona pergi ke kelab ini karna biasanya ia hanya pergi ke bar pinggir jalan atau ke Kelab yang ada di gedung milik Ayahnya. Itu pun tak semewah ini.


Yoona merogoh ponselnya, ingin melihat jam namun sialnya benda pergi panjang itu mati. Matanya sudah berat karna mengantuk. Wanita muda itu menoleh ke samping.


"Jung, jam berapa sekarang?"


Jaehyun menoleh, sedikit mengernyit namun tak melihat jam. "Kenapa? Kau ingin pulang?" tanya Jaehyun yang dibalas dengan anggukan kecil dari Yoona. Jaehyun menipiskan bibir sesaat, matanya mengedar mencari keberadaan Taehyung, ingin meminta izin untuk mengantar Yoona pulang.


Namun saat Jaehyun menemukan pemuda yang Jaehyun cari, Jaehyun malah di panggil dan diminta untuk mendekat. Jaehyun kembali menoleh lagi pada Yoona. "Sebentar," bisiknya dengan suara tegas yang memerintah. Kemudian berlalu menghampiri Taehyung dan teman-temannya yang sedang bermain billyard.


Yoona melengos memandang kepergian Jaehyun. Wanita muda itu kembali menyesap mocktail miliknya yang masih tersisa.


"Tertarik untuk turun?"


Yoona tersentak saat suara berat khas pria terdengar jelas di telinganya membuat tengkuknya merinding. Ia menoleh saat merasakan seseorang duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Jaehyun.


"Senior?!" Yoona mengela napas lega, melihat pemuda yang kini terkekeh geli, berhasil menjahilinya. "Tidak terimakasih, aku tidak bisa menari," ujarnya menambahkan dengan penolakan halus.


"Aku punya satu permainan api."


"Ha?"


Pria itu menyeringai kecil. "Permainannya sederhana, tapi kita harus patuhi rules dan ingat kalau api bisa membakar segala sesuatu. Permainan ini mungkin sedikit kotor tapi ada sensasi lain yang takkan bisa kau tolak."


Yoona mengerjap tak paham.


Pria itu tersenyum kecil, kini salah satu tangannya bergerak memainkan rambut Yoona, memutar-mutar sejumput rambut wanita muda itu dengan jari telunjuknya, membuat Yoona diam-diam meneguk ludah mulai merasakan sesuatu yang aneh dengan pria di sampingnya.


"Semua membutuhkan pelajaran. Untuk melakukan sesuatu manusia butuh belajar," kata pria itu dengan suara serak dan dalamnya.


Yoona menggigit bibir, merinding sendiri mendengar suara Senior-nya yang tiba-tiba terdengar begitu dalam. Detik berikutnya tubuh Yoona menegak kaku, saat tangan yang semula memainkan rambutnya kini berhenti dan beralih menyentuh pipi dan mengusapnya yang kemudian turun ke rahang dan tak berhenti di sana, tangan itu mengusap tengkuk Yoona membuatnya benar-benar tak bisa berkutik saat pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona. Netranya bergerak melirik pada bibir tebal pria itu, Yoona meneguk ludah sadar betul apa yang akan terjadi selanjutnya. Tubuhnya mulai tremor dan saat satu tangan pria itu jatuh ke atas pahanya,


Yoona berdiri tiba-tiba dengan tubuh yang masih kaku, membuat kedua tangan pria itu jatuh dan kembali ke sisi tubuh pria itu.


"S-s-s-s ... Jaehyun!!!!!" Yoona berlalu dan memilih tak mengatakan apapun karna terlalu gemetar. Ia berlalu menghampiri Jaehyun yang masih berbicara dengan temannya.


o0o


Sehun bangun. Cahaya matahari sudah menembus masuk ke kamarnya tanda sang raja siang sudah mulai meninggi. Pria itu mengubah posisinya jadi duduk di sisi ranjang yang kemudian memungut kaos oblongnya yang tergeletak di atas lantai. Memakainya dan beranjak keluar kamar.


Kakinya melangkah menuju satu kamar lain. Namun saat ia membuka kamar itu, tak ada seorang pun di sana. Sehun melengos dan memilih untuk menata langkah ke pantry, untuk menyiapkan sarapan atau mungkin sekarang bisa di sebut makan siang?


Pandangan pria itu menangkap benda yang di tempel pada lemari esnya.

__ADS_1


Sticky note.


“Morn babe. Aku harus mengejar penerbangan pagi-pagi, ada hal yang harus aku selesaikan di provence. Akan aku kabari lagi, see you babe<3”


Sehun tersenyum membacanya. Ini adalah salah satu alasan kenapa Sehun tidak bisa menolak permintaan Ayahnya untuk menikah dengan putri dari Presiden Direktur Allerie Enterprises Inc. Orlando tidak yakin pada Suji, terlebih pekerjaan wanita itu yang tak bisa diam di tempat yang sama dalam waktu lama. Karna apa yang dilihat oleh Ayahnya mengenai Suji adalah, “Suji tidak bisa serius dan tak bisa mendapatkan kepercayaannya.”


Padahal Sehun tahu, kalau Ayahnya memang sudah sedari lama menyiapkan perjodohan ini. Dan, alasan tentang Suji hanyalah sebuah alibi agar Sehun semakin tak bisa menolaknya.


Ngomong-ngomong perjodohan, Yoona bagaimana? Sudah, kah wanita muda itu pulang?


o0o


"


Kamu benar baik-baik saja? Tak masalah kalau aku tinggal?" pertanyaan itu keluar entah sudah berapa kali dari orang yang sama.


Air menetes dari jumput-jumput rambut panjangnya. Mendecak karna tak bisa menemukan alat pengering untuk rambutnya. Wanita muda itu kini menoleh, menatap pemuda yang memandangnya dengan sorot khawatir.


"Kamu benar baik-baik sa—"


"Jung Jaehyun, pergi. Sebentar lagi kelas Mr Suho di mulai, kau bisa terlambat."


Alih-alih beranjak, Jaehyun kini diam, memandangi Yoona yang masih dengan kesibukannya. Pemuda itu akhirnya mendekat, perasaannya merasakan ada sesuatu yang aneh dengan wanita muda ini.


"Semalam kau bicarakan apa dengan Senior Taehyung?"


Tubuh Yoona menegak, tak siap dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Tubuhnya seolah terkunci, bahkan gerakan tangannya yang ingin membuka laci bawah terhenti begitu saja. Wanita muda itu meneguk ludah, tak berani menoleh untuk menatap Jaehyun.


Jaehyun yang sadar dengan itu jadi menaikkan satu alisnya tinggi. Semakin dibuat penasaran juga khawatir, karna semalam Yoona berteriak memanggilnya dan merengek ingin pulang ditambah tubuh gemetar wanita muda itu yang semakin membuat Jaehyun khawatir.


"Senior Taehyung bilang apa?" tanya Jaehyun, kini dengan intonasi seolah menyudutkan.


Yoona mengerjap, tersadar. Ia meneguk ludah yang kemudian memberanikan diri untuk membalas tatapan Jaehyun. "Oh ... itu, Taehyung hanya menawarkan padaku untuk menjadi anggota juga, tapi dia malah bercerita kalau ada anggotanya dulu yang meninggal karna pinggang dan badannya terpisah karna terlalu sering dan lama dibelit oleh alat keselamatan, jadi putus deh, tubuhnya pisah, kan aku ngeri, takut," katanya bersungut dengan gaya dibuat-buat.


"Ha?"


Jaehyun melengos pelan. Mau tak mau mengalah dan memilih untuk segera ke Kampus. Saat ia keluar dari Apartemen Yoona, pintu Apartemen di sebelah Yoona juga terbuka, tak lama seorang pria keluar.


Mata Jaehyun membulat walau dengan cepat ia menguasai ekspresinya saat pria di sana balas menatapnya.


Keduanya menata langkah. Wajah yang sama-sama dengan garis wajah kaku kini saling beradu pandang dengan sorot yang sama-sama dingin.


Jaehyun melengos pelan, mengalihkan pandangan lebih dulu. Sementara Sehun kini mengela napas tenang. Pria itu masih mempertahankan ekspresi datarnya walau jelas sekali tatapannya menyorot tajam pada Jaehyun.


"Jung Jaehyun."


Suara tenang Sehun entah mengapa sudah cukup mengintimidasi Jaehyun. Pemuda itu menoleh kembali menatap Sehun.


Sehun menipiskan bibir sesaat, "kamu tahu apa kesalahan yang telah kamu perbuat?"


Jaehyun meneguk ludah diam-diam. Netranya menciptakan sobjek semu di sekitar Dosen di hadapannya, kabut hitam yang mencekam.


Jaehyun tak gentar.


Pemuda itu mendecih sinis, melirik pada Sehun tak minat. "Oh? Tapi seingat saya, saya tak melakukan kesalahan apapun, sir."


Rahang Sehun mengeras mendengar kalimat itu. Dengan cepat ia kembali menguasai ekspresinya. "Kamu tahu hubungan saya dengan Yoona—"


"Maaf sir, tapi itu bukan berarti saya berhenti mengharapkan Yoona," potong Jaehyun, menjeda. "Terlebih, Yoona membuka pintu untuk saya dan memberikan harapan yang saya inginkan," lanjut pemuda itu.

__ADS_1


Mata Sehun mendelik kecil.


"Saya tahu, Mister ada wanita lain selain Yoona, jadi menurut saya tak adil kalau Yoona melawan Mister sendirian," senyum miring Jaehyun tercipta seolah sudah menang telak.


"Saya mengerti kalian hanya dua manusia yang terperangkap dalam satu perangkap yang sama. Tapi bukan berarti perangkap itu akan bertahan selamanya, kan?" Jaehyun menyeringai saat melihat wajah Sehun yang mati kutu di depannya.


Pemuda itu berlalu tanpa membiarkan Sehun untuk membalas kalimatnya. Jaehyun sudah tak kuat. Benar saja, tubuhnya langsung merosot saat dirinya sudah belok. Tubuhnya keringat dingin dengan lutut yang gemetar dan jantungnya yang dangdutan di dalam.


Ya Tuhan, Jaehyun baru saja mempercepat hari kematiannya.


o0o


Suara sensor pintu berbunyi. Sehun masuk. Pria itu menatap luasnya apartemen di depannya namun satu-satunya manusia yang menempati apartemen ini tak memperlihatkan batang hidungnya.


Suara benda jatuh dari arah pantry membuat Sehun langsung menata langkah. Benar saja, seorang wanita muda di sana.


Yoona duduk di atas meja bar dengan kedua kaki bersila, rambutnya masih basah bahkan masih meneteskan air. Wanita muda itu tersenyum saat melihat Sehun.


"Halo, Mister!" sapanya dengan senyum lebar. Yang kemudian tak menghiraukan lagi dan memilih untuk menikmati es krim vanilanya.


Sehun melengos pelan. Menata langkah, mendekat. Ia mendecak saat melihat lantai dan meja bar yang basah karna air yang menetes dari rambut Yoona.


"Mahasiswa itu nginap di sini?" tanya Sehun tanpa basa-basi.


"Siapa?"


"Pemuda yang sering bersamamu."


"Mr Siwon?"


Sehun mendecak, merotasikan bola matanya, jengah. "Si Jung itu."


"Oh ..." Yoona mengangguk, tak memberi respon lebih. Terlalu sibuk dengan es krim vanilanya.


Sehun memainkan rahangnya. Tak tahan ia merebut es krim vanila di tangan Yoona membuat wanita muda itu berteriak tak terima.


"Ini bukan waktunya makan es krim!"


"Ck, aku tak peduli!" sungut Yoona merebut kembali es krimnya.


Sehun menggeram tapi tetap membiarkan Yoona menikmati es krimnya. "Sudah makan?" tanya Sehun yang di jawab dengan gelengan singkat dari Yoona.


Sehun mendecak, berbalik dan berniat berlalu untuk menyiapkan sesuatu yang bisa di makan. Namun tangan kecil meraih lengannya membuat Sehun menghentikannya langkahnya. Kembali menatap Yoona.


"Sir, tiba-tiba aku memikirkan sesuatu," kata Yoona.


"Apa?"


"Mister tahu ini?" tanya Yoona seraya mengangkat tinggi cup es krim vanilanya.


"Sebuah obor?"


Yoona mendengkus walau dengan cepat ekspresinya kembali seperti semula. "Vanila, rasa yang di sukai oleh Christian Grey," Yoona menjawab pertanyaannya sendiri dengan suara berbisik.


"Kebetulan kita ada di dapur dan aku sedang menikmati es krim vanila. Salah satu adegan dalam filmnya juga Christian menemukan Anna di dapur duduk di atas meja makan. Wow, kebetulan yang luar biasa, kan?!"


Sehun mengernyit tak paham dengan arah pembicaraan yang Yoona bahasa.


Yoona melompat turun membuat tubuhnya kini merapat pada Sehun. Wanita muda itu sedikit berjinjit. "Bagaimana kalau kita praktekkan adegannya?" []

__ADS_1


-



__ADS_2