PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 09. Karna Handuk Jadi Berantakan, sir!


__ADS_3

Chapter 09 - Karna Handuk Jadi Berantakan, sir!


-


"Duh, kamu, tuh, boleh dilemparin sendal nggak, sih?"


-


Yoona melompat turun membuat tubuhnya kini merapat pada Sehun. Wanita muda itu sedikit berjinjit. "Bagaimana kalau kita praktekkan adegannya?"


Sehun termundur, menciptakan jarak namun wanita muda di depannya maju, kembali menghapus jarak. Senyum penuh arti disunggingkan oleh Yoona, dengan mata yang menyorot penuh arti ke arah Sehun yang menegakkan tubuh.


"Lim Yoona-"


"Sir, jangan malu-malu. Terlepas dari semua yang terjadi selama ini, bagaimana pun juga aku ini istri Mister," kata Yoona, kakinya tetap berjalan maju dengan Sehun yang terus mundur, menghindarinya. "Aku tidak ingin dicap sebagai istri durjana karna tidak bisa melayani suami, jadi ... ayo!" sambungnya kini tangannya bergerak memiringkan kerah kaosnya, membiarkan bahu dan tulang selangka Yoona terekspos jelas.


Sehun menahan napas, berusaha mengalihkan pandangan dengan susah payah. Demi Tuhan, Sehun adalah seorang pria dewasa normal dan apa yang dilakukan oleh Yoona benar-benar mengundang sesuatu dalam dirinya. Sehun melirik, yang kemudian meneguk ludah. Tubuhnya terasa panas.


"Sir-"


"Yoona, saya sudah pernah mengatakannya. Saya tidak bisa menyentuh kamu."


Senyum Yoona tercipta kala mendengar suara serak dan rendah dari pria yang kini sudah terpojok di dinding. Yoona semakin maju, mengunci tubuh tinggi Sehun tanpa rasa takut.


"Atau saya yang akan memulai start?" tanya Yoona dan tanpa menunggu, tubuh Yoona merosot kebawah membuat Sehun membelalak, menahan tubuh Yoona agar kembali berdiri tegak.


Dan saat itu, tawa Yoona langsung pecah. Membuat Sehun mengernyit yang lantas tersadar kalau wanita muda ini sudah berhasil mempermainkannya. Pria itu mengatupkan rahang, mencoba untuk tak terpancing.


Yoona masih terpingkal. Momen seperti adalah momen yang sangat membahagiakan untuk dirinya, terlebih melihat wajah panik Sehun benar-benar sangat menghiburnya. Tawa Yoona terhenti seketika, wajah yang sudah memerah karna tawa tadi kini mengerjap beberapa kali dengan bibir yang terbuka semakin lebar setiap detiknya.

__ADS_1


Lima detik berikutnya.


"HAAAACCCHOHH!!!"


Sehun terpenjarat kagen tubuhnya bahan sedikit terlompat yang kemudian langsung mendecak karna sebagian dirinya terkena hujan made in human.


"Hasyim!! Hachohh!! Hachim!! Ha ... haaa ... haaaaaa, ck!" decak Yoona saat tak jadi bersin. Wanita muda itu kini mengusap hidungnya yang memerah seraya mendengkus sebal.


Sementara Sehun sudah menahan geram. Ia mendorong pelan Yoona agar menjauh darinya yang lantas pria itu berlalu kembali ke meja bar. Menyiapkan air hangat setelah selesai diberikan air itu pada Yoona yang sudah bergabung, duduk di kursi pantry.


Sehun mendecak. "Minum," titah Sehun melirik pada segelas air hangat yang tadi ia siapkan.


Yoona menengguk air itu tanpa mengucapkan apapun. Kini hidungnya sudah terasa berat karna kandungan air yang tiba-tiba sudah di dalam. "Sir, tisu," Yoona menunjuk kotak tisu di atas kulkas, belakang Sehun.


Sehun menipiskan bibir lalu menurut mengambil tisu. Diletakkan kontak tisu itu di depan Yoona. Sementara Yoona kini sibuk dengan hidung dan kembali bersin-bersin.


Yoona balas mendecih sinis. Tak menggapi lagi karna kini ia kembali bersin.


Melihat itu, Sehun merotasikan bola matanya, jengah sendiri. Pria itu berlalu dari pantry dengan di ikuti tatapan sinis Yoona.


"Ini istrinya sakit, he!" gerutu Yoona pelan. "Suami macam apa yang acuh saja melihat istrinya sakit? Ya! hanya kamu dasar suami durjana!" tambah Yoona seraya melemparkan tisu bekasnya ke arah bayangan Sehun.


"Hachohh!!" Yoona cepat-cepat menarik tisu baru lagi.


Sial. Hanya karna pulang subuh Yoona masuk angin?!


Yoona masih bersungut-sungut, memaki Sehun yang tidak mempedulikannya yang sakit. Detik berikutnya tubuh Yoona menegak, menegang kaku bak sebuah kanebo kering. Wanita muda itu menoleh perlahan, melihat manusia yang mengusapkan handuk ke rambut basahnya.


Wajah datar Sehun membalas tatapan Yoona yang membelalak.

__ADS_1


Yoona meneguk ludah. Dadanya berdesir seperti ada makhluk mikroskopik berjalan, menyebarkan sensasi asing.


"Apa?"


Yoona mengerjap. Wajahnya terasa panas. Buru-buru ia mengalihkan pandangan, menyembunyikan wajahnya yang memerah karna alasan konyol.


"Kamu punya obat flu?" tanya Sehun yang hanya dijawab dengan anggukan singkat.


Sehun menaikkan kedua alisnya, bingung dengan perubahan Yoona yang kini jauh lebih tenang padahal belum ada lima menit yang lalu wanita muda ini masih mengumpat-umpatinya.


Sementara Yoona.


Dalam hatinya sudah heboh sendiri. meneriaki dirinya berulang kali dengan umpatan agar menyadarkan dirinya dari perasaan aneh yang sedang dirasakan olehnya.


Rambut yang di acak-acak, hati aku yang berantakan.


o0o


Ia tak tenang. Melihat bagaimana Yoona menutupi sesuatu darinya membuat Jaehyun tak tenang, apalagi ini berhubungan dengan Taehyung. Memang, sih, Taehyung itu seperti kiblat sempurna bagi sebagian banyak anggota Komunitas Panjat Tebing. Tapi tetap saja, Jaehyun tak bisa menutup matanya saat sadar tubuh tremor Yoona setelah berbicara dengan Taehyung.


Seseorang yang terlihat sempurna bukan berarti benar-benar sempurna, bukan?


Benar atau tidaknya, setidaknya Jaehyun ingin memastikannya langsung. Jika Yoona tak ingin jujur padanya, Jaehyun akan langsung bertanya pada Taehyung.


Jaehyun kini sudah menginjak gedung fakultas Ketua Komunitasnya. Pemuda itu menghentikan langkahnya saat netranya menemukan orang yang sedang dicarinya. Tak menunggu lama, ia menata langkah mendekat.


"Senior!" sapa Jaehyun seperti biasa. Ia menyapa singkat beberapa teman Taehyung yang dikenalnya.


-

__ADS_1


__ADS_2