PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 28. Not My Home


__ADS_3

Langkah kaki Jaehyun terhenti saat ia melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemen-nya. Pemuda itu diam beberapa saat yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku pikir malam itu adalah pertemuan terakhir."


Seola mengulum senyum getir saat menangkap intonasi dingin dari pemuda di hadapannya. Ia menarik napas lalu mengembuskannya, "Ah, maaf."


Jaehyun diam. Pandangannya tak tertuju pada wanita di hadapannya meski begitu, Jaehyun ingin tahu kedatangan Seola di sini, sepagi ini.


"Aku ingin memberikan ini," Seola mengulurkan tangannya yang memegang kotak berukuran sedang. "Ah! Sebentar," sambung Seola seraya mendorong kotak di tangannya ke Jaehyun, membuat Jaehyun mau tak mau menerima kotak tersebut. Sementara Seola sibuk menggeledah tas kecilnya dan setelahnya ia mengeluarkan sebuah lipbalm. "Aku membelinya saat di perjalanan," ujar Seola kemudian bibirnya mengulas senyum tipis, "daun sudah turun," tambah Seola.


Sementara Jaehyun lagi-lagi hanya bisa diam, memandangi lipbalm tersebut. Untuk kali ini ia merasa ada sesuatu yang sangat mengusiknya saat melihat senyum itu.


Seola diam. Suasana sunyi yang canggung seperti ini justru masih -selalu- terasa nyaman untuknya saat bersama Jaehyun. Seola jelas sadar saat itu, Jaehyun hanya menerima pernyataannya bukan perasaannya jadi meskipun Jaehyun selalu berlaku dingin padanya Seola harus terima, karna sebelumnya Seola sudah siap untuk patah hati. Tapi saat patah itu datang sedikit pun, Seola tak bisa membenci Jaehyun.


Jaehyun mengerjap seraya mengela napas, ia meraih lipbalm tersebut. "Hm, terimakasih."


Senyum Seola mengembang lebar. Hatinya melambung tinggi mendengar ketulusan dari Jaehyun. "Hmn," balas Seola masih dengan senyumnya. Ia kembali diam beberapa saat yang kemudian tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Seola menggigit bibir bawahnya, "ng ... apa kau tahu Yoona menghilang?" tanya Seola.


Jaehyun hanya mengangguk.


"Apa kau bersama Yoona?"


"Kenapa?"


"Karna Yoona tak mungkin pergi jauh dari tempatnya."


Jaehyun merapatkan bibir yang kemudian mengangguk, merasa setuju dengan kalimat itu. "Hm, dia bersamaku."


Seola tersenyum. "Terimakasih."


"Kenapa kau berterima kasih?"


"Karna kau benar-benar menjaga Yoona."

__ADS_1


Jaehyun mencibir. "Tentu saja. Dia-"


"Kau harus selalu menjaga Yoona, Jaehyun. Kau harus selalu menempatkan Yoona dalam tempat aman, Jaehyun. Dulu ada aku dan Seungwoo yang menghargai Yoona lebih dari diri sendiri, tapi sekarang aku tak bisa melakukan itu lagi. Jadi, aku harap kau bisa melakukan itu juga." Seola menelan salivanya, dadanya tiba-tiba terasa sesak seperti tertekan sesuatu yang berat. "Berbeda dengan aku dan Seungwoo, orangtua Yoona adalah orang yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan keinginan mereka bahkan kalau bayarannya adalah nyawa Yoona yang anaknya sendiri. Aku-"


"Kalau kau sekhawatir itu, maka jangan pergi." Seola tersentak mendengarnya. "Teruslah-"


"Aku harus pergi." Seola menekam garis bibirnya. "Mungkin kau lupa, ada seseorang yang lebih berharga untukku. Aku bisa saja di pihaknya walau itu akan membuat Seungwoo kecewa bahkan aku akan dibenci olehmu."


Jaehyun tak lagi menanggapi. Pemuda itu seperti memikirkan sesuatu dalam kepalanya.


Seola tersenyum seraya menarik napas. "Jaga dirimu, Jung Jaehyun." setelah mengatakan itu Seola berbalik dan melangkah pergi.


Untuk kali ini, Seola akan mengikhlaskan Jaehyun bukan hanya melepaskan tapi mengikhlaskan pemuda itu. Kalau itu akan membuat semua pihak bahagia maka itu akan menjadi pilihan terbaik dalam hidup Seola.


"Kau juga."


Langkah Seola terhenti.


"Jaga dirimu, Seola."


Tak ada yang menyukai perpisahan, tak seorang pun. Tapi siapa pun harus merasakan perpisahan untuk bertemu dengan orang dan hal-hal baru lainnya karna begitulah caranya hidup.


Selamat tinggal, Jung Jaehyun.


o0o


Yoona keluar dari kamar mandi. Tangannya mengusap pelan perut dengan bibir yang menggerutu pelan. Saat netranya menangkap keberadaan Jaehyun yang baru mendudukan diri ke sofa dan memangku sebuah kotak, Yoona mengernyit lalu berjalan mendekat dan duduk di sebalahnya.


Jaehyun mengerjap dan secara naluri menjauhkan kotak itu. "Hn ... kau sudah sarapan?" tanya Jaehyun, kedua bola matanya bergerak tak tentu menghindari tatapan Yoona.


Yoona mengangguk. Diam-diam salah satu tangannya bergerak ke belakang, mencoba meraih kotak tersebut namun Jaehyun lebih cepat mencekal tangan Yoona membuat Yoona mencebik, merasa kecewa.


Keduanya sama-sama diam dan tak lama kemudian Jaehyun lebih dulu bersua, "bukan, kah, kau sudah waktunya kembali?" tanya Jaehyun berusaha untuk tak menyinggung Yoona. "Kau—"

__ADS_1


"Adakah alasan untuk itu?"


"Yoona, kau masih berstatus—"


"Status itu tak berguna lagi jika aku kembali."


Jaehyun diam. Matanya menatap lekat pada Yoona. "Kau tak ingin kembali?" Yoona tak menjawab. "Kau juga menginginkan perceraian itu, jika kau lupa, Yoona." Jaehyun menambahkan dan itu sukses menohok Yoona. Jaehyun mendecih kini merasa jengah, "sekarang kau menyesal?" sinis Jaehyun.


Yoona menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Untuk pertama kalinya Yoona merasakan perasaan tak bersahabat dari Jaehyun dan itu begitu tak menyenangkan.


"Aku salah karna menawarkan kau ke sini." Jaehyun beranjak dari duduknya. Mood-nya kacau entah karna apa.


Yoona diam. Masih dengan posisinya ia menatap punggung Jaehyun sampai akhirnya punggung itu hilang setelah masuk ke kamar mandi. Ia berusaha menarik kaca hangat yang sudah melapisi kedua bola matanya, jujur perkataan Jaehyun tadi benar-benar menohoknya. Dan ...


Apakah Yoona menyesal?


Tidak. Ia tak menyesal. Ia hanya ingin mengulur waktu sampai ia siap. Benar, tak ada sedikit pun penyesalan untuk itu, meski Yoona akhirnya membenarkan perasannya pada Dosen itu tapi itu tak cukup untuk membuat Yoona menyesal.


Karna sejak awal Yoona tak pernah menganggap pria itu sebagai rumahnya. Karna itu tidak ada alasan untuk menyesal apalagi untuk kembali karna Sehun sama sekali bukan rumahnya.


Tapi itu semua pemikiran Yoona dulu, sebelum Yoona akhirnya mengetahui sesuatu,


-


Jaehyun mengesah napas kasar lalu mengacak frustrasi rambutnya sendiri. Ia memandang pantulan wajahnya seolah mencari sesuatu yang salah dengan dirinya. Ia pun tak mengerti kenapa rasa kesal yang entah datang dari mana dan karna apa itu justru ia lampiaskan pada Yoona?


Kemudian tatapannya terarah pada kotak dan lipbalm yang ia simpan di rak handuk. Jaehyun meraih itu, menatap beberapa saat kotak tersebut. Logikanya enggan untuk membenarkan penyebab kekacauan dirinya hari ini. Dan setelah itu, Jaehyun menjatuhkan kotak dan lipbalm itu ke tempat sampah tapi meleset membuat isi tempat sampah tumpah. Jaehyun mendengkus dan berlalu untuk membersihkan sampah tersebut.


"A—" suara Jaehyun menggantung di udara kala netranya menangkap sebuah tongkat kecil yang keluar dari tempat sampah kamar mandinya. Matanya mengerjap, memastikan apa yang dilihatnya tak salah dan itu benar.


Jaehyun meneguk ludah. Meraih tongkat kecil itu dan bagai terkena sihir, tubuh Jaehyun langsung mematung melihat dua garis di tongkat kecil tersebut. Dan saat ia berhasil menguasai diri, Jaehyun langsung melesat keluar di mana Yoona berada.


"YOONA!"

__ADS_1


Tapi, Yoona tak ada di mana pun. Wanita muda itu entah pergi ke mana saat Jaehyun di kamar mandi. Dan kini yang tersisa adalah penyesalan Jaehyun yang sudah berlaku dingin pada wanita muda itu.


---


__ADS_2