
-
Yoona menggerutu kesal sepanjang jalan menuju kelasnya. Wanita itu bahkan tak mengindahkan sapaan-sapaan dari junior atau dari teman satu angkatannya. Kini fokusnya hanya tertuju pada satu manusia yang sudah membuat dirinya ingin membumi hanguskan manusia itu, saat ini juga!
Yoona berbelok, masuk ke kelasnya. Tak sadar kalau sudah ada asisten dosen yang tengah mengisi kelas.
Seisi kelas mengikuti langkah Yoona yang berjalan ke kursi kosong yang ada di barisan paling belakang. Wanita itu mengela napas, namun saat menyadari atmosfer yang aneh di sekitarnya, ia mengangkat wajah dan baru tersadar kalau semua mata menatap padanya. Bukan hanya mahasiswa atau mahasiswi tapi juga Asisten Dosen di depan yang kini menghunuskan tatapan tajam, menahan emosi.
"E—eh?" Yoona tergagap, tangannya bergerak menggaruk tengkuknya yang gatal, salah tingkah. "Kenapa, ya?" tanya Yoona belum menyadari kesalahannya.
Beberapa dari mereka terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepala. Membuat Yoona semakin tak ingin menyadari kesalahannya.
Asisten Dosen di depan, mengela napas panjang. Mencoba untuk tetap bersabar. "Yoona, kamu temui saya di ruangan setelah ini," kata Senior Hansol yang merangkap sebagai Asisten Dosen itu. "Kerjakan perkelompok seperti minggu lalu. Dan Jaehyun! Kumpulkan di meja Mr Jongin." lanjutnya memberi penjelasan yang tadi sempat terputus.
Hansol melirik pada Yoona yang nampak belum paham dengan penjelasannya. Ia terkekeh samar yang kemudian langsung berlalu keluar.
Yoona menggigiti kuku jarinya, bingung melihat teman-temannya yang sudah siap mengeluarkan laptop dan setumpuk kertas di atas meja. Wanita itu mengerjap sampai seorang menepuk pundaknya dengan tak santai alias dengan cara kasar.
"Bangssssss—Apa sih?!" sengut Yoona yang hampir mengumpat kasar. Wanita itu jadi menatap kesal pada pemuda yang malah tertawa melihatnya emosi.
"Kerjain inilah, ege!" Jaehyun mengambil duduk di depan Yoona. Ia mengeluarkan laptop dan laporan yang beberapa hari lalu ia kerjakan sebagai tugas kelompok bersama Yoona. Tapi Yoona ini tipe-tipe manusia tidak berguna jadilah ia hanya mengerjakannya sendiri.
Yoona mencuatkan bibir, jadi teringat bagaimana Mr Jongin yang membentaki dirinya karna tidak ikut serta mengerjakan tugas kelompok bersama Jaehyun. Kalau saja Dosen itu tidak memiliki wajah yang rupawan, mungkin Yoona akan meminta pada Ayahnya untuk mendepak Dosen sawo matang itu.
Huh! untung ganteng.
o0o
Seperti apa yang di perintahkan oleh Senior Hansol. Setelah kelas selesai, wanita muda itu pergi ke ruangan Asisten Dosen. Sepanjang perjalanan, benak Yoona tak henti-hentinya merapalkan doa.
"Sumpah, kalau di sana ada Mr Jongin, langsung puter balik!"
Masih trauma. Ingatan tentang bagaimana dirinya yang tremor karna di bentaki oleh Dosen sawo matang itu membuatnya jadi takut untuk bertemu lagi dengan Mr Jongin.
__ADS_1
"Huhuhu ... Mau tukar kelas ..."
"Kamu kenapa?"
Yoona tersentak kaget. Tiba-tiba mendengar suara dan bertanya padanya.
Garis wajah Yoona menurun saat menemukan Dosen yang tadi ia rencanakan akan ia bumi hanguskan. Siapa lagi kalau bukan Mr Sehun, si Dosen killer tapi loveable.
Aneh, kalau killer ya killer saja! Kenapa pula harus di buntuti dengan kata loveable?!
Yoona mendengus. Jadi keki sendiri.
"Di panggil Senior Hansol."
Sehun menaikan salah satu alisnya. "Asisten Dosen itu?"
"Ck, iya!"
Sehun mengembuskan napas langsung dari mulutnya, tatapannya merangah jengah pada salah satu mahasiswinya. "Kamu membuat masalah apa lagi, sih?"
Yoona mendengkus tajam, tatapannya ia tujukan pada Dosen yang merangkap sebagai suami diam-diamnya. "Sir, tatap wajah saya!" titah Yoona yang dengan gamblangnya langsung di turuti oleh Sehun.
Beradu tatap dengan tiba-tiba membuat Yoona tergagap dan menegak tak siap. Wanita muda itu kini merasa wajahnya memanas tanpa alasan yang jelas. Batinnya berteriak lantang agar menyadarkan Yoona dari keterpanaan pada tatapan tajam milik Sehun.
Tajam, tapi kok tetap menawan?
Yoona berdeham singkat. "Lihat baik-baik, apakah Mister melihat suatu tulisan 'bocah kriminal' di jidat saya?"
"Tertulis dan terbaca dengan jelas," Sehun berkedip sekali, lalu melanjutkan, "iya."
Yoona terkesiap mendengar jawaban itu. Wajahnya kian memerah dengan napasnya sudah memberat dan asap yang seolah keluar dari kedua lubang hidung dan atas kepalanya. Wanita muda itu menggulung lengan kemejanya hingga ke batas siku, membuat acang-acang sebelum akhirnya menerjang tubuh tinggi di hadapannya.
"Yoona?"
__ADS_1
Gerakan Yoona langsung terhenti, tepat sebelum kedua tangannya menyentuh leher Sehun. Yoona menggeram, menggerakkan kepala ke sumber suara hanya untuk mencari tahu, siapa yang berani menganggunya. Namun saat netranya menemukan Siwon, Dosen yang sudah lama Yoona incar. Yoona langsung menurunkan kedua tangannya dan memperbaiki kemejanya. Kembali bersikap Yoona yang lugu dan murah senyum.
"Mister Siwon ... belum pulang?" tanya Yoona dengan nada yang berubah drastis. Kali ini jurus cabenya keluar.
Sehun melirik pada Yoona yang jadi mengkerut bak putri raja yang tersipu-sipu malu saat bertemu dengan pangeran dari negeri seberang. Lidahnya mendecih tak suka dengan perubahan sikap wanita muda yang kerap berlaku semena-mena terhadapnya.
Cih, caper!
Siwon melangkah mendekat, tatapannya beralih pada Sehun yang berdiri di dekat Yoona. "Mister Sehun," sapa pria itu singkat yang hanya di balas dengan senyum tipis nan singkat dari Sehun. Fokusnya kembali pada wanita muda yang masih melukiskan senyum manis di bibirnya. "Tadi saya mencari kamu di kelas terakhir kamu," kata Siwon tak mempedulikan keberadaan Sehun.
"Eh?"
Siwon terkekeh, tangannya bergerak mengacak poni tipis wanita muda itu. "Saya ingin menepati janji saya, kalau kamu berhasil mendapatkan nilai A di kelas saya, saya akan mentraktir kamu."
Yoona nyaris menjerit. Bukan. Bukan karna nilai tinggi yang ia dapatkan tapi lebih karna ajakan dari Dosen idamannya. Mungkin ini rasanya berhasil meraih cita-cita, ya? Yoona rasanya ingin jumpalitan dan salto ke belakang saat ini juga untuk mengekspresikan isi hatinya yang tiba-tiba terasa spring.
"Tidak bisa." suara Sehun mengambil atensi kedua manusia di dekatnya. Pria itu terkejut detik berikutnya tidak paham kenapa ia bersuara.
Sehun melirik pada dua manusia di dekatnya, tiba-tiba merasa canggung. Ia berdeham singkat, berusaha untuk mendapatkan kembali wibawanya. "Yoona kamu lupa? kalau nilai kamu tidak memiliki peningkatan kamu akan membereskan meja saya," ujar Sehun dengan suara tenang tak menunjukkan sedikit pun kalau pria itu tengah menahan salah tingkah.
"Ayo, kamu kenapa diam saja?" Sehun memainkan alisnya, menatap Yoona yang jelas enggan pergi bersamanya. "Atau kamu pengin mengulang kelas saya tahun depan?" tambahnya, mengancam.
Yoona tahu tak ada cara lain selain menuruti kemauan Sehun. Dengan berat hati ia menoleh pada Siwon yang masih menunggu. "Maaf, sir. Mungkin lain kali, nanti aku akan pergi ke Mister kalau aku ada waktu," kata Yoona lalu segera melangkah saat Sehun sudah meneriaki namanya dari ujung koridor.
Dalam hati Yoona sudah meneriakan sumpah serapah untuk Sehun. Hatinya tidak ikhlas karena kesempatan emasnya hilang di sebabkan oleh SU-WA-MI-NYA. Yoona mencak-mencak, mengekori langkah Sehun. Tangannya terangkat ke udara dan membuat gerakan seperti seorang yang tengah mengadon adonan kue menggunakan tangan.
Demi Tuhan, Yoona tidak ikhlas dan tidak akan pernah mengikhlaskan itu!
Sehun menghentikan langkahnya, badannya berbalik memandang Yoona yang berjalan di belakangnya. Samar, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas melihat apa yang Yoona bayangkan padanya. Jelas ia sangat sadar sudah membuat wanita muda itu sangat keki terhadapnya. Dan bodohnya, Sehun tidak tahu jelas kenapa ia melakukan itu.
Di tempatnya, Yoona menghentikan langkahnya. Keningnya bergelombang saat netranya menangkap senyum samar dari Sehun. Senyum yang sangat langka. Dan, untuk apa senyum itu?
Yoona mengernyit, benaknya tiba-tiba tak tenang seolah sudah melupakan sesuatu.
__ADS_1
Kelupaan apa, ya? []
—————