PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 01. Bride Style


__ADS_3

Yoona tersenyum. Ia baru saja melemparkan diri ke atas kasur tanpa mandi atau pun mengganti pakaiannya. Matanya sudah tidak kuat untuk lebih lama menahan rasa kantuk.


Napas wanita muda itu teratur dengan mata memejam dan wajah damai. Namun baru beberapa detik, matanya membelalak teringat sesuatu.


Tugas!


Yoona bangkit. Ia langsung kesetanan mencari tas yang tadi ia lembar sembarangan. Gadis itu menepuk kening, ia kembali berlari ke kamarnya, mengambil laptop lengkap dengan kabel dan charger plus ponsel pintarnya.


Gadis itu duduk setelah memasang charger yang di sambung ke laptopnya. Kini beralih ke benda pipih yang tadi ia simpan di samping laptop. Ia mengetik pesan.


Room Chat — Hetyu


Yoona: Aku nggak paham :(


Yoona: bantuin dulu, ih :(


Yoona: oke, aku tak perlu wisuda!!


Hetyu: kalau saya yang ngerjain percuma saya kasih kamu hukuman.


Yoona: suruh siapa ngasih aku hukuman!


Yoona: Jelasin sebentar, nanti aku kerjain sendiri.....!!!


Yoona mendengus saat tak ada lagi balasan dari pria itu. Ia mencebik yang kemudian jadi mengumpat sendiri. Kalau saja ia punya keberanian melawan itu Dosen, mungkin sudah lama Yoona membumi hanguskan Dosen itu.


Yoona menggerutu penuh dendam walaupun tetap saja ia membuka internet dan mencari bahan yang ia butuhkan. Buku yang ia pinjam dari perpustakaan salah, ini versi kurang lengkap. Iya, sesial itu Yoona hari ini.


Suara sensor dari pintu apartemennya berbunyi. Yang kemudian seorang pria tinggi dengan kaos oblong putih dan celana panjang berwarna kusam, masuk.

__ADS_1


Sehun.


Pria itu mengacak rambutnya yang masih basah tanda kalau pria itu baru selesai mandi. Pria itu mengangkat alis saat melihat Yoona yang menatapnya seolah terpana.


Sehun melengos memandang itu, membuat Yoona tersadar yang langsung menguasai diri.


Gadis itu berdeham, kembali memandang layar laptop. Berpura-pura sibuk.


"Apa yang tidak kamu mengerti?" tanya Sehun. Pria itu duduk di sofa yang menjadi sandaran Yoona.


"Semuanya," ceplos gadis itu.


"Apa?" kata Sehun dengan intonasi datarnya.


Yoona mendecak kecil. "Ini, ih ... nggak paham," ucap gadis itu. "Maksudnya apa sih, ini metik? ih ... aku benci metik!" sambung gadis itu, meracau tak jelas.


Sehun menipiskan bibir, ia mengela napas berat mencoba bersabar. "Lalu kenapa kamu daftar ke kelas saya kalau benci metik?"


Sehun memijat pakal hidungnya. Ia mendesah berat lalu turun dari sofa dan duduk di samping Yoona. "Mana yang tak kau mengerti?"


Yoona menggeser duduknya, "ini," ia menunjuk pada coretan yang di maksud.


Sehun menjelaskan dengan sabar sampai gadis itu paham. Walau sebenarnya malas sekali, tapi Yoona itu berbeda. Yoona itu bukan hanya Mahasiswinya tapi juga wanita yang bisa di panggil sebagai istri sah–nya.


Sehun dan Yoona itu bagai gurun dan kutub. Mereka berbeda dan berlawanan tapi bisnis orangtua mampu menyatukan mereka.


Yoona menguap untuk ke sekian kalinya. Gadis itu merengek bak anak kecil. "Aku ngantuk, gendong anter aku ke kamar," ujarnya seraya merentangkan kedua tangan ke arah Sehun.


Sehun menarik dan mengembuskan napas dengan berat, mencoba untuk tetap sabar. Ia berdiri lalu jongkok di depan Yoona. Tapi, Yoona memang tetap Yoona. Di kasih jantung malah minta empela.

__ADS_1


"Ih ... aku, kan maunya bride style!" sungut gadis itu dengan tak tahu dirinya.


Sehun mendengus, pemuda itu nampak sudah tak bisa menahan diri. "Jalan sendiri!"


Yoona jadi merengut dan menciut. Gadis itu mengembungkan pipinya seraya melemparkan tatapan tajam nan sinis pada Sehun yang tetap tak peduli.


"Mister pilih! bride style atau buat aku hamil?!"


Mendengar itu, mata Sehun melebar. Menatap gadis yang memandangnya dengan tatapan menantang seolah apa yang baru saja di katakannya tidak berarti apa-apa. Pemuda itu mengembuskan napas keras-keras. Yang kemudian menggerakkan salah satu tangannya ke belakang lutut Yoona sedangkan satu tangannya di punggung Yoona. Mengangkat tubuh kecil itu ke kamar gadis itu.


Yoona tak bisa menahan senyum lebarnya. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Sehun. Memandang wajah dengan garis wajah yang tegas namun tetap menawan. Tak heran kalau banyak mahasiswi yang tergila-gila dengan Dosen ini, walau terkenal killer, Mr Sehun juga tidak segan memberi penjelasan pada muridnya walau bukan di jam mengajarnya. Apalagi di kampus, Mr Sehun masih di kenal sebagai Dosen muda yang masih melajang. Ho, pernikahan mereka tidak di publikasikan sesuai dengan perjanjian keduanya.


Sehun menurunkan tubuh Yoona di atas ranjang gadis itu. Tak lupa menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuh kecil gadis itu.


"Sir," panggil Yoona yang hanya di jawab dengan gumaman singkat. "Mister belum pernah nyium aku kecuali saat kita nikah dulu, itu pun udah sebulan yang lalu—"


"just sleep!"


"Ih ... sebentar. Aku, kan mau curhat," sungut Yoona. "Aku ngomong ini bukan berarti aku mau di cium ya! tapi sir, serius deh. Nyium aku nggak akan buat aku hamil, kok!" sambungnya.


Sehun menatap Yoona sejenak yang kemudian tangannya bergerak mengusap rambut gadis itu. "Kalau kamu hamil, saya tidak bisa tanggung jawab." sahut pemuda itu.


Yoona melengos keras. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. "Just go! aku ngantuk!" usir gadis itu.


Sehun menipiskan bibir namun ia tetap pergi dari apartemen istrinya. Walau Orlando, Ayahanda Sehun menghadiahkan satu apartemen untuk putra dan menantunya itu, tapi Sehun malah membeli apartemen lain untuk dirinya sendiri yang tepat di sebelah apartemen mereka. Sementara Yoona tetap tinggal di apartemen yang di hadiahi oleh Orlando.


Wanita itu sih, senang-senang saja. katanya lumayan dapat apartemen mewah.


Tapi saat orangtua mereka datang berkunjung, mereka akan kembali beradu ekting bak sepasang aktor dan aktris yang handal yang memerankan sepasang suami istri yang bahagia dan memiliki keluarga yang harmonis.

__ADS_1


Padahal sih ... CUIH!!!


__ADS_2