
*Jaehyun kini menggendong Yoona, berbalik akan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Atlantis Paradise beberapa meter di depan mereka.
"Kamu mau kemana?"
Jaehyun hampir jatuh ke depan mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Sehun. Ia kembali membalikkan badan, menatap Sehun yang menata langkah mendekat.
"Apartemen-"
"Saya akan mengantar wanita ini."
"Eh, tapi sir, Mister tidak perlu-"
Sehun semakin mendekat yang kemudian mengambil alih tubuh Yoona dari gendongan Jaehyun ke dalam pelukannya, membut Jaehyun membelalak menatap aksi Dosen di hadapannya. Ia ingin meraih lagi tangan Yoona tapi gerakannya terhenti, tangannya yang terangkat berhenti di udara saat mendengar Dosen di hadapannya kembali bersuara."Terimakasih sudah mengantar Istri saya."
Sejenak Jaehyun ingin tertawa, berpikir kalau Sehun bercanda tapi tidak mungkin seorang Sehun bercanda dengannya, apalagi suara Sehun tadi tak menunjukkan kalau dia sedang bercanda. Jaehyun memberanikan diri menatap langsung pada manik hitam Sehun, tak ada sorot gurau di sana. Perlahan, Jaehyun menurunkan tangannya, tubuhnya sedikit bergerak mundur, ia menelan ludah susah payah dan bibirnya membuat sunggingan aneh karna ia paksakan.
"Uhm, sir ... kalau begitu saya permisi," Jaehyun menunduk hormat yang kemudian buru-buru melangkah pergi.
__ADS_1
"Jung Jaehyun."
Langkah Jaehyun refleks berhenti. Hampir saja ia jatuh dengan wajah yang pertama kali mencium aspal.
Jaehyun berbalik, memandang punggung Sehun. "Y-ya, sir?"
"Kamu adalah orang pertama yang akan saya cari kalau berita tentang saya dan Yoona tersebar," kata Sehun memberi peringatan.
Jaehyun meneguk ludah, ia mengangguk. "S-sa-saya paham, sir." jawab Jaehyun*.
-
Pintu lift terbuka.
Sehun menurunkan Yoona dan mendudukan wanita muda itu di pojokan, sementara ia menekan passcode untuk langsung mengakses apartemen wanita muda itu. Setelah selesai, ia jongkok di depan Yoona yang masih menutup mata. Saat Sehun akan mengangkat tubuh langsing Yoona, wanita muda itu mengerjapkan mata. Mata sayu itu membalas tatapan Sehun.
"Sudah bangun?" sindir Sehun.
__ADS_1
Namun sindiran itu tak mendapat balasan. Yang ada kini, tatapan Yoona tak beralih membuat Sehun melengos keras.
"Berdiri!"
Yoona menegakkan tubuhnya, tapi bukan untuk berdiri seperti yang di perintahkan oleh Sehun. Tangannya terangkat, mengusap rahang Sehun yang membuat siempu membelalak dan memundurkan diri. Namun tangan bebas Yoona menarik ujung kaos Sehun, menahan pria itu agar tak menghindar.
Yoona mendongak, membuat Sehun dengan jelas melihat wajah merah padam dan mata sayu yang menyorot kosong. Secara perlahan Yoona mendekatkan wajahnya, tanpa izin Yoona menempelkan bibirnya di permukaan bibir Sehun yang terasa dingin.
Sehun membeku. Tidak ada yang bisa Sehun lakukan selain diam, tapi dua detik berikutnya, Sehun ikut membuka bibir. Otot yang semula tegang seperti ada kekang, perlahan mulai rileks. Sehun memejamkan mata seraya membalas ciuman Yoona. Lidahnya mengecap rasa manis bercampur pahit dari bibir Yoona yang berpadu dengan perasaan hangat yang menyusup masuk ke dalam dirinya. Dadanya berdesir menimbulkan sensasi asing tersendiri bagi Sehun.
Lift terbuka. Apartemen luas milik Yoona sudah di depan mata. Yoona menjauhkan bibir, namun tak menjauhkan diri. Ia menunduk, merasa wajahnya panas dengan warna merah yang sudah di level tertinggi.
"Sir ..." suara serak Yoona menyadarkan Sehun dari keterpanaan yang tadi sempat hanyut dalam sensasi aneh dalam dirinya.
Sehun menunduk menatap Yoona yang tak membalas tatapannya.
"Kapan kita cerai?"
__ADS_1
Sehun mengerjap, tubuhnya menegak tak siap mendapat pertanyaan seperti itu. " ... hm?"
-