PAK DOSEN

PAK DOSEN
Chapter 30. Am I Need You?


__ADS_3

Sekretaris Cho : Nona, Tuan menolak untuk makan lagi.


Yoona mengesah napas berat. Ia sudah tak bisa menghitung lagi berapa kali Kakaknya itu menolak untuk makan dan terus menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor. Lama-lama Yoona muak juga, ia tak bisa terus mengejar Seungwoo kapan pun saat pria itu menolak untuk makan. Lagi pula, kenapa Seungwoo bersikap semelo ini hanya karna putus dengan kekasihnya? Lagi pula, Seola bukan wanita satu-satunya di galaksi


ini dan masih banyak wanita cantik di luar sana. Jadi, kenapa Seungwoo begitu terobsesi dengan wanita itu?


Akhirnya Yoona memilih acuh. Ia menyimpan lagi ponselnya ke tempat semula lalu kembali ikut berbincang dengan teman-teman sejurusannya dan beberapa seniornya.


Beberapa minggu terakhir, Yoona selalu di samping Seungwoo guna menghibur dan mengatur jam makan meski pun ada atau tidak adanya Yoona, Seungwoo selalu menolak untuk makan tapi setidaknya saat ada Yoona, Seungwoo akan makan meski hanya satu suap. Setidaknya perut pria itu tak benar-benar kosong. Tapi, sekarang Yoona merasa muak.


Mala mitu, Yoona benar-benar melupakan Seungwoo. Beberapa gelas ia habiskan saat itu sampai hampir subuh, Yoona baru pamit untuk pulang.


"Kau akan pulang?"


Yoona menoleh lalu mengangguk. Teringat sesuatu, akhirnya ia mengambil ponselnya. Di sana terdapat beberapa pesan dari orang yang sama yang bahkan isinya hampir sama semua. Yoona mendecah, jengkel. "Hm, kenapa?"


"Kalau gitu, aku antar—"


"Tidak, aku pulang sendiri."


"Ta, tapi —"


Yoona menghentikan langkahnya. "Ah, kau harus bersikap baik dan menjaga pacarmu dengan baik, Jung Jaehyun!" ujarnya. "Aku pergi."


Sebelum sempat menjawab, Yoona sudah lebih dulu melangkah pergi.


Ponselnya berdering nyaring. Yoona bisa menebak siapa yang berani menghubunginya pada waktu subuh. Ya, siapa lagi kalau bukan Sekretaris Cho Seungyoun.


"Ya—"


"Nona, Tuan Seungwoo—"


Yoona mendecak, kesal. "Baiklah-baiklah, aku datang!" Terdengar suara helaan napas di seberang membuat Yoona diam-diam merasa bersalah. "Bagaimana keadaan Seungwoo?" tanya Yoona, akhirnya.


"Tuan masih di ruang kerjanya. Beliau belum keluar sejak sore dan menolak semua makanan dan orang masuk, Nona."


Yoona mengangguk sendiri. Ia menatap sekitar, mencoba mencari taksi. "Siapkan makanan kesukaanku, dia takkan bisa menolak untuk makan makanan itu bersamaku."


"Baik, Nona."


"Kalian di mana?"


"Kami di Allerie's—"


tut!


Sambungan diputus sepihak oleh Yoona. Tanpa penjelasan lagi, Yoona harusnya tahu Seungwoo akan memilih pergi ke mana.

__ADS_1


Allerie's Residence.


***


Kedatangan Yoona langsung disabut meski bukan penyambutan penuh kebahagiaan melainkan penyambutan dengan wajah penuh harap dan memelas yang penuh akan kekhawatiran.


Yoona merotasikan bola matanya, menyerahkan tas dan jaketnya ke asisten rumah tangga yang kemudian berlalu dengan Seungyoun.


Keduanya berhenti di depan ruang kerja Seungwoo.


"Kau boleh pergi."


Seungyoun mengangguk. "Saya akan kembali dengan makanan yang anda pesan, Nona."


Yoona mengangguk seraya mengibaskan tangan meminta untuk pria itu segera pergi. Dan setelah Seungyoun berlalu, barulah Yoona berlalu masuk ke ruang kerja Kakaknya.


Senyum Yoona terulas lebar, rasa kantuk dan sedikit mabuknya berhasil ia tutupi dengan sempurna. "Seungwoo, ayo kita makan malam! Ah, sarapan!" ujar Yoona dengan riang menata langkah mendekat. "Ah, aku sang—" kalimat Yoona menggantung bersamaan dengan senyum yang langsung surut melihat Seungwoo yang terkulai di balik meja kerja pria itu.


Buru-buru, Yoona mendekat dan mengubah posisi Seungwoo untuk bersandar pada kursi. "Seungwoo? Hei! Seungwoo! Lim Seungwoo!!" intonasi suara Yoona semakin naik dan kedua matanya basah, entah sejak kapan genangan air menumpuk pada pelupuk matanya, membuat Yoona merasa berat. "SEUNGWOO OPPA¹!!" pekik Yoona, semakin menguncang tubuh Seungwoo.


"Nona—" Seungyoun menggantung kalimatnya saat melihat Seungwoo yang duduk bersandar dengan kedua mata tertutup. Pria itu langsung bergegas mendekat.


"Sekretaris Cho! Seungwoo, Seungwoo ... Seungwoo baik-baik saja, kan? Hn?"


Seungyoun diam. Ia menatap penuh iba pada Yoona, tak tega melihat wanita muda itu yang begitu ketakutan. Kemudian Seungyoun mengangguk dengan seulas senyum tipis. "Hm, Tuan baik-baik saja, Nona. Beliau hanya pingsan."


Kalau saja Yoona langsung datang saat Seungyoun memintanya, Seungwoo takkan seperti ini. Kalau saja Yoona tak merasa muak, Seungwoo pasti sudah makan dan baik-baik saja. Kalau saja Yoona tak egois, semua pasti akan baik-baik saja. Semua karnanya. Andai Yoona bisa lebih mengerti perasaan dan keadaan Seungwoo semuanya takkan pernah terjadi.


Kenapa Yoona sangat egois? Bagaimana bisa Yoona melupakan kebaikan Seungwoo? Hanya pria itu yang selalu memberikan yang terbaik untuknya dan hanya menemani makan saja Yoona sudah merasa muak?!


Yoona memeluk lututnya. Duduk di samping pintu kamar Seungwoo selagi pria itu mendapat penanganan dari Dokter. Tapi seakan semuanya tak cukup, Yoona malah tambah khawatir. Justru berbagai pikiran berseliweran di kepalanya.


Bagaimana jika Seungwoo pergi? Yoona tak memiliki siapapun yang peduli dengannya selain Seungwoo. Kalau Seungwoo pergi, Yoona benar-benar akan sendirian. Memikirkan itu membuat isak dan air mata Yoona semakin deras, dadanya terasa sesak.


Pintu kamar Seungwoo dibuka. Buru-buru, Yoona langsung berdiri. "Dokter, Seungwoo, bagaimana keadaan Kakak saya?"


"Beliau akan pulih dalam beberapa hari. Dan, saya sarankan agar Beliau tidak kembali kerja setelah masa pemulihan." Dokter itu tersenyum yang kemudian menepuk pelan bahu Yoona yang bergetar karna tangisnya. "Saya akan mengecek setiap perkembangan Beliau, anda tak perlu cemas."


Bukannya merasa tenang, Yoona justru semakin terisak. "Dokter ... Seungwoo tidak ... akan ... mati, kan?" Yoona sesenggukan. Hidungnya merah dengan suara serak akibat terlalu lama menangis.


Dokter Byun yang sudah lama menangani Seungwoo hanya bisa tersenyum. Ia menepuk pelan puncak kepala Yoona seolah memintanya untuk tetap tabah. "Saya permisi, Nona." pamit Dokter tersebut yang kemudian berlalu dengan diantar oleh Sekretaris Cho.


Seharian itu, Yoona sama sekali tak tidur. Bahkan Yoona tak pernah meninggalkan Seungwoo, wanita muda itu tetap berada di samping Kakaknya, rapalan doa tak pernah berhenti ia suarakan. Yoona mengabaikan semua kegiatannya hari ini, bahkan Yoona tak hadir di kelas Mr Siwon yang selalu ia kagumi itu. Hari ini pusatnya adalah Seungwoo.


Cho Seungyoun masuk. Pria itu membawa nampan berisi makan siang untuk Yoona dan beberapa buah tak lupa dengan air mineral seperti biasanya. Wanita muda itu belum juga menyentuh makanan yang Seungyoun bawa.


Seungyoun menatap Yoona. Wanita muda itu bergerak hati-hati, mengarahkan salah satu telinganya ke arah dada Seungwoo yang kemudian menyentuh denyut nadi Seungwoo di leher dan gelangan tangan. Itu adalah pemandangan ke sekian Seungyoun saksikan hingga ia lupa sudah berapa kali adik dari atasannya seperti itu. "... Nona?"

__ADS_1


Yoona menoleh. Wajahnya benar-benar berantakan. Tanpa riasan dan pucat. Ditambah tatapan kosong yang membuat Seungyoun merasa iba hanya dengan mendapat tatapan tersebut. Air mata Yoona luruh, ia menatap Seungwoo lalu kembali menatap Seungyoun. "Sekretaris Cho, Seungwoo ... Kakak, tidak akan mati, kan?"


-


Yoona mengerjap. Teringat lagi kenangan fatal yang pernah ia lakukan. Benar, dulu karna Yoona lari dari tanggung jawab, Seungwoo dalam bahaya. Dan, kalau sekarang Yoona terus menghindar entah apa yang akan menimpanya kelak.


Yoona dan Sehun memasuki ruangan. Sehun yang lebih dulu masuk, menatap sekitar ruangan memastikan tidak ada orang lain di dalamnya. Lalu barulah Yoona masuk dan duduk tanpa menunggu perintah.


"Yoo—" "Mister!"


Yoona meneguk ludah. Tatapannya beberapa saat hampir terbuai sesuatu, namun dengan cepat ia menguasai diri yang kemudian mengesah napas, penuh keyakinan. "Sebelum Mister bertanya, ada sesuatu yang ingin saya beritahu," ujar Yoona.


Yoona diam beberapa saat. Kedua tangannya tertaut dan meremas sendiri, seolah itu bisa mengurangi perasaan gelisah yang ia rasa. Dan dalam satu tarikan napas, Yoona berkata: "Aku hamil."


Entah Sehun yang terlalu lama diam atau memang Yoona tak ingin memberikan kesempatan untuk pria itu merespon karna Yoona kembali lebih dulu bersua, "aku tidak meminta pengakuan atau tanggung jawab, jadi jangan khawatir." Yoona mengulum bibir, menahan diri untuk tak gemetar. "Aku mengatakan ini hanya ingin mempertegas! Mister, meskipun aku murahan tapi kau adalah yang pertama untukku dan setelah mengingat bagaimana sakitnya mala mitu saat bersama kau, aku gila kalau mencobanya dengan pria lain." Yoona menjelaskan. Netranya menatap tepat pada manik Sehun, mencoba menerka bagaimana pria itu bereaksi setelah ini.


Tapi, Sehun rupanya terlalu terkejut membuatnya hanya diam membisu dengan pandangan yang terus mengarah pada Yoona, entah apa yang ia pikirkan.


"Setelah itu, jangan hiraukan tentang aku dan ..." Yoona menjeda, ia meneguk ludah susah payah. "... Dan, bayiku."


" 'Setelah itu'?" Sehun mengernyit, tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan oleh Yoona.


Yoona mengalihkan pandangan begitu saja. Jujur, sampai titik ini ia tak sanggup lagi tapi kalau ia berhenti semuanya akan sia-sia. Yoona meneguk ludah. Wanita muda itu mengepalkan tangan, berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas, kemudian kembali menoleh menatap Sehun. "Kita akan tetap cerai."


Kalimat itu seakan menjadi ultimatum, membuat Sehun tersentak. Pria itu tertegun. Kembali dibuat membisu oleh penuturan Yoona.


Dan tanpa menunggu respon dari Sehun, Yoona beranjak dari duduknya. Berbalik dan menata langkah. Ketika tubuhnya membelakangi Sehun, air matanya menetes. Wanita muda itu berjalan cepat, meninggalkan Sehun yang seakan kalah telak tak berkutik.


o0o


Jaehyun yang sejak tadi menunggu Yoona keluar dari ruangan Sehun, langsung berlalu saat melihat Yoona keluar. Kedua bola mata Jaehyun melebar saat melihat Yoona keluar dalam keadaan menangis.


"Yoona?!"


Yoona mendongak. Menatap Jaehyun dengan mata basahnya. "Jung ..."


Jaehyun mengeraskan rahang. Pemuda itu menatap tajam daun pintu milik ruangan Sehun tapi melihat Yoona seperti ini tanpa bertanya pun Jaehyun bisa menebaknya.


Pria sialan itu tetap menolak Yoona meski tahu keadaan Yoona.


Jaehyun menarik tubuh Yoona. Mendekap tubuh ramping itu, membiarkan Yoona menumpahkan semuanya. Dengan kedua tangan yang mengusap lembut punggung dan rambut Yoona, bibir Jaehyun pun tak henti membisikan kalimat penenang untuk Yoona.


---


Tamat.


__ADS_1


Untuk Squel, mohon ditunggu-tunggu ya^^~


__ADS_2