
〰️〰️〰️
Chapter 18 — Ah, Ternyata Kamu?
*Yoona menatap sendu seorang pria yang duduk tepat di depannya. Pria itu menyesap minuman alkohol langsung dari botolnya. Yoona yang menatap itu hanya diam dengan perasaan iba melihat tampilan Kakak Laki-lakinya yang sangat ingin dikasihani.
Wanita muda itu itu menuangkan cairan bening dari botol berwarna hijau ke dalam shotglass yang kemudian ia menenggaknya dalam sekali tenggakan.
Seungwoo, nama Kakak Laki-laki Yoona itu mendengkus miris. Dia kembali meneguk minumannya. "Dia bilang tak pernah mencintaiku ... semuanya, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan dia?" Seungwoo berujar lirih. Netranya perlahan mengeluarkan kaca bening tipis. Teringat kembali pengakuan wanita yang selama ini dianggapnya memiliki perasaan yang sama sepertinya. "Semuanya, akan aku beri dan lakukan untuk dia ... jika itu memang bisa membuatnya kembali, Yoona ..." lirih Seungwoo, lagi.
Yoona meneguk lagi minumannya. Wajar, kan, kalau Yoona juga merasa sakit hati melihat Kakak Laki-lakinya sakit hati seperti saat ini*?
*Wanita muda itu menepuk pelan bahu Seungwoo yang perlahan mulai bergetar. Tak ada yang bisa Yoona katakan, bahkan untuk sekadar kalimat penyemangat Yoona tak menemukannya. Yang ada kini, otaknya berpikir tentang wanita sialan itu.
Kim Seola. Wanita yang sebelumnya Yoona kenal dengan baik karna wanita itu hampir menjadi tunangan Seungwoo. Wanita yang dulu Yoona percaya bisa menjaga dan merawat Kakaknya, tapi kini semua sirna saat melihat betapa hancurnya Seungwoo karna Kim Seola.
Wanita sialan itu, berani-beraninya menyakiti Seungwoo!
"Dia bilang, dia mencintai pria lain ... dia meninggalka naku saat pria itu menerima pernyataan cintanya."
Tangan Yoona terkepal dengan rahang yang terkatup kuat, wanita muda itu menahan perasaan marah dan perasaan ingin membunuh Kim Seola sialan itu.
Di keluarganya, Yoona itu tidak pernah lebih dari sekedar anak manja yang hanya tahu meminta uang dengan jumlah besar. Kekayaan keluarganya tak pernah membuat Yoona kelaparan, tapi dari semua anggota keluarganya hanya Seungwoo yang bersedia datang saat dipanggil, merentangkan tangan saat Yoona berlari mendekat atau bahkan menyanyikan lagu saat ia sukar terlelap.
Lim Seungwoo itu satu-satunya keluarganya, yang lainnya hanya pelengkap Kartu Keluarga.
〰️〰️〰️
Yoona mengangguk. Wanita muda itu mendengarkan cerita temannya walau pun kini ia sibuk menyantap makan siangnya.
"Aku tidak tahu kalau kau mempunyai stalker," ujar Yoona setelah menelan makanannya. Wanita muda itu memandang wajah temannya, seakan menilai. Yang kemudian Yoona menggeleng dengan ekspresi miris.
"Hei, apa-apaan itu?" sengut temannya merasa tersinggung, "kau tidak percaya kalau selama ini aku mempunyai pengagum yang bahkan—"
"Ya, ya, terserah," potong Yoona seraya mengibaskan tangan membuat temannya itu langsung mengatupkan bibir. "Jadi, kau akhirnya menerimanya karna dia cantik?" Yoona bertanya sakartis disertai dengan decihan jengah.
Teman Yoona itu mendecak kesal. "Aku menerimanya tapi bukan karna dia cantik–"
"Kalau jelek kenapa kau terima?"
"Dia juga tidak jelek! Aku hanya berpikir tidak bisa diam pada satu tempat yang tak pasti."
Yoona mengernyit tak paham. Namun wanita muda itu tak berkata lebih*.
o0o
Yoona mengerjap, tersadar.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Kenapa dia jadi mengingat kejadian dua tahun yang lalu?
Wanita muda bernama lengkap Kim Seola itu menoleh, menatap Sehun beberapa saat yang kemudian kembali menatap Yoona yang masih menatapnya tajam.
Seola mengulas senyum, "Yoona, lama ti—"
"Aku sudah memperingatimu untuk tidak lagi muncul di hadapanku," Yoona berujar dengan suara penuh penekanan.
"Aku datang bukan untuk menemui kamu," kata Seola.
Yoona mengernyit.
Jaehyun berdeham membuat Yoona yang semula ingin kembali berujar jadi mengatupkan lagi bibirnya.
"Kalian saling kenal?" tanya Jaehyun seraya menatap ketiga manusia di dekatnya, bergantian.
Yoona seolah tersentak, wanita muda itu terdiam beberapa saat yang akhirnya Yoona terkekeh kecil. Bagaimana bisa Yoona selama ini tidak pernah sadar?
Sementara itu Kim Seola.
Wanita muda itu kembali mengulas senyumnya. Hampir saja ia lupa tujuannya datang ke sini. "Ah, Jaehyun—" Seola menata langkah ingin melewati Yoona dan mendekat pada Jaehyun.
"Hei, Wanita sialan berani kau melangkah dari tempatmu, aku benar-benar akan mematakan kedua kakimu!" ancam Yoona yang membuat Seola refleks menghentikan langkahnya.
Yoona diam. Sebenarnya ia masih berusaha untuk menguasai diri karna hanya melihat wajah Kim Seola sudah mampu membuat Yoona diselimuti amarah yang rasanya Yoona benar-benar ingin menghardik wanita muda itu hingga wanita muda itu memohon untuk dibunuh saja.
Juga Sehun. Pria yang sedari tadi diam dan berusaha membaca situasi itu memandang lekat Yoona yang masih terdiam setelah tadi mengucapkan kalimat ancaman untuk Seola.
"Ap—"
Satu tamparan keras melayang dan mendarat di pipi kiri Jung Jaehyun. Baik Seola atau pun Sehun bahkan mahasiswa yang sedang melihat kompak terkejut melihat Yoona yang tiba-tiba melayang tamparan di pipi Jaehyun yang notabene adalah manusia paling dekat dengan makhluk absurd seperti Yoona. Walaupun keduanya tidak jarang saling baku hantam, tapi kali ini jelas berbeda. Terlihat dari ekspresi Yoona yang mengeruh dengan netranya yang mengunus tajam.
"Sialan kau Jung Jaehyun!" kata Yoona sengit.
Sementara Jaehyun.
Pemuda itu terdiam. Masih terkejut mendapat tamparan keras dari Yoona hingga membuat telinganya berdengung.
"Yoona!!—"
Yoona berbalik, kembali berdiri di depan Seola. Mengabaikan Sehun yang tadi ingin menghentikannya. Jari telunjuk Yoona menuding, tepat di depan wajah Seola.
"Dan kau, aku benar-benar akan menghancurkan kamu kalau kau masih berani muncul di hadapanku!"
Sehun menipiskan bibir. Sudah tak tahan dengan kelakukan Yoona yang baginya tak mendasar hingga menampar teman sendiri.
"Cukup!" kata Sehun akhirnya. Dosen itu berdiri di antara Yoona dan Seola, memisahkan. "Seola, sebaiknya kau pulang," kata Sehun pada Seola.
__ADS_1
Seola mengangguk. Kedua matanya memerah dengan kaca bening yang membingkai tipis.
Ah, tertanya Yoona sebenci itu padanya?
Kini Sehun memusatkan pandangannya pada Yoona. Wanita muda itu tak balas menatapnya, dia terus mengawasi Seola yang berlalu setelah mengucapkan salam perpisahan.
Sehun mengela napas, netranya malirik Jaehyun yang masih diam di tempatnya. Seolah memberi kode agar Jaehyun meninggalkan mereka dan untungnya pemuda itu cukup peka hingga saat lirikan Sehun ditangkap olehnya, Jaehyun langsung paham dan langsung berlalu.
Sehun mengela napas, "Saya sudah bilang untuk tidak—"
"Bagaimana bisa Mister kenal dia?"
"Itu tidak penting, Yoona—"
"Apakah Mister tahu kalau dia memanfaatkan Kakak, ku, dan meninggalkannya setelah mendapatkan semuanya?"
"Yoona—"
"Wanita itu menipu Seungwoo, bersikap seolah dia memiliki perasaan yang besar tapi setelah dia sudah mendapatkan semuanya, dia mengatakan kalau dia tak pernah mencintai Seungwoo karna dia sudah lama mencintai pria lain?!"
Yoona menarik napas yang entah kenapa paru-parunya terasa sesak.
Sehun mengela napas, lagi. "Kau sendiri yang bilang kalau perasaan adalah hal yang tidak bisa dikendalikan, lalu mengapa kau begitu menyalahkan Seola padahal dia hanya ingin bersama pria yang dia cintai. Apakah kau lupa dengan ucapanmu sendiri?"
Yoona lagi-lagi terdiam, merasa tertembak tepat oleh kalimat yang dikatakan oleh Sehun. Wanita muda itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Yoona tidak suka dengan ucapan Sehun yang seolah memihak pada Seola dan menyalahkan amarahnya.
"Kalau begitu kenapa tak dia katakan sejak awal?" tuding Yoona. Wanita muda itu masih tak ingin disalahkan. Baginya ini hal yang wajar kalau ia sangat membenci Seola karna sudah menyakiti Seungwoo.
Seungwoo adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Dan kini pria itu pergi jauh.
Sangat jauh.
Dan itu karna wanita sialan bernama Kim Seola.
Yoona mendengkus tajam. Yang kemudian wanita muda itu berlalu meninggalkan Sehun. Ia berbelok dan tersentak saat mendapati seorang pria berdiri tepat di depannya kini.
Kim Taehyung tersenyum seraya mengangkat tangannya, menyapa.
Dan Yoona ... wanita muda itu diam untuk beberapa detik.
"Hai," sapa Taehyung bersamaan dengan luruhnya pertahanan Yoona.
Air mata yang Yoona pikir takkan lagi menetes saat ia mengingat tentang Seungwoo dan Seola kembali menetes. Dan sialnya, kenapa air matanya bagitu mudah menetes saat di hadapan senior ini?!
Yoona menundukan kepala saat sadar kalau air matanya tak bisa ia sembunyikan.
Taehyung mengela napas tajam. Pria itu mendengkus yang kemudian merangkul bahu Yoona yang gemetar lalu menarik tubuh kecil itu dalam dekapnya.
__ADS_1
"Cengeng," celetuk Taehyung tapi tetap menepuk-nepuk pelan punggung Yoona.
[]