
Chapter 13 - Hai, sir!
Tepat pukul empat sore, pria itu menyelesaikan kelas terakhirnya untuk hari ini. Seperti temannya yang lain, ia berlalu keluar kelas. Pandangan fokus pada benda pipih di tangannya. Layar ponsel pintarnya itu menyala, menampilkan sebuah pesan surel yang beberapa saat sebelumnya sangat ia tunggu. Salah satu ujung bibirnya tertarik, membentuk sebuah lekungan seringai kecil yang samar.
"Ah," gumamnya kala melihat foto yang dikirim melalui surel itu.
Jarinya bergerak beberapa saat membalas pesan yang kemudian netranya kembali memandang foto tadi. Lekungan seringai samarnya kembali terlukis.
"Gotcha!" serunya tiba-tiba pada diri sendiri.
Foto berhasil disimpan!
Taehyung berdeham. Ia menyimpan ponselnya dan segera berlalu.
o0o
Taehyung melengos pelan. Pria itu mengentak-entakan kakinya pelan, mengadu alas sepatu yang ia pakai dengan permukaan beton sementara kepalanya mendongak, memperhatikan anggotanya yang sedang berlatih. Beberapa kali ia berseru keras, meminta si anggota untuk mempercepat rayapannya sampai akhirnya konsentrasinya pecah.
"WAAAH CICAAK!!"
Pria itu mendecak keras. Kepalanya menoleh ke sumber suara yang mana tepat di sampingnya.
Seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang, poni tipisnya tersibak karna angin membuat rambut yang terlihat halus itu agak berantakan.
"YEAY!! CICAAK BERHASIL!!"
Taehyung tersentak kaget. Bagaimana bisa wajah tampak samping wanita muda ini terlihat anggun dan kalem tapi nyatanya memiliki jiwa yang berapi-api. Detik berikutnya kedua bola mata Taehyung melebar saat wanita muda di sampingnya ini menoleh ke arahnya.
Yoona tersenyum cerah tak menyadari ekspresi terkejut dari pria di sampingnya.
Sementara Taehyung. Pria itu tak menyangka akan bertemu dengan wanita muda ini secepat ini.
Pertanda baik atau buruk?
o0o
__ADS_1
Jaehyun menatap Yoona yang sedari tadi tak membuka mulut. Wanita muda itu tetap diam bahkan setelah membuat tanda tanya besar pada banyak murid lain yang mungkin saja murid-murid itu sudah menyebar luaskan ke sepenjuru kampus.
"Yoona," panggil Jaehyun, pelan. Pemuda itu nampak ragu saat melihat Yoona yang mengela napas panjang. "Yoona, kamu-"
"ARGH!! KENAPA AKU NGOMONG GITU??!!!"
Jaehyun terpenjarat kaget. Pemuda itu lantas menatap horor Yoona yang tiba-tiba mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Yang kemudian Yoona jadi merengek sendiri. Menyesali apa yang sudah ia katakan di depan kelas tadi. Kenapa bisa-bisanya Yoona menuruti apa yang dikatakan oleh Senior sialan itu, sih?! Tidak benar! Yoona pasti dihipnotis!
Yoona mengerang frustrasi. Mengundang atensi banyak murid dalam radar yang dekat dengannya. "Taehyung sialan! Aku harus menemui dia!" Yoona berdiri tiba-tiba membuat Jaehyun di sampingnya sedikit terkejut.
"Diam." tegas Jaehyun.
Yoona mencebikan bibir, kesal.
"Jangan memperumit semuanya, Yoona. Berpikir panjang sebelum mengambil tindakan," ujar Jaehyun, pemuda itu menatap Yoona yang perlahan mengubah ekspresinya. "Lihat, kau menyesalkan atas apa yang sudah kau katakan di depan kelas tadi? Itu karna kau tidak berpikir panjang dan tidak memikirkan dampak apa yang kau terima setelah itu," sambung Jaehyun.
Yoona bungkam. Kenapa kalimat yang dikatakan oleh Jaehyun sedikit familier? Seperti Yoona pernah mendengarnya dari orang lain.
"Kau-"
Yoona menipiskan bibir. "Tidak kau, tidak Dosen Jahanam itu, kalian sama!" potong Yoona. Wanita muda itu mengela napas panjang. "Iya, aku memang selalu bertindak tanpa pikir panjang dan berlaku sesuka hati ... lalu kenapa? Toh, akan sebaik apapun tindakanku itu tidak akan mengubah apapun, karna selamanya ... yang terburuk akan tetap yang terburuk!"
Kali ini, gantian Jaehyun terdiam.
Yoona tersenyum kecil, sorot matanya perlahan memandang nanar dan ketika bening itu mulai membingkai kedua matanya, Yoona mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Yoona-"
"Aku selalu sadar, aku bukan prioritas siapapun. Dan ketika aku mendapat hal buruk siapapun itu tidak akan pernah mempertanyakan keadaanku. Hm ... Sungguh, aku tak masalah dengan itu," Yoona meneguk ludah yang kemudian kepalanya tertunduk bersamaan dengan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
"Yoona, aku-bukan itu maksudku, tentu saja aku mengkhawatirkan keadaanmu," Jaehyun merasa bersalah. Pemuda itu terlihat kebingungan melihat Yoona yang menyembunyikan air matanya.
Yoona tersenyum, lagi. Wanita muda itu mengusap pipi basahnya dan kembali menatap Jaehyun. "Makasih," lirih Yoona.
Kedua lantas sama-sama bungkam, terlalu merasa serba salah untuk kembali bersua. Sampai akhirnya suara helaan napas Yoona mengambil atensi. "Dari dulu, aku selalu iri dengan Taeyeon, karna dia selalu berhasil dapat kepercayaan Ayah dan Ibu tanpa harus bersusah payah. Saat Ayah memberikan kepercayaan untuk memimpin Allure di cabang kedua, bagaimana saat Ibu memberikan kepercayaan untuknya memilih calon suami sendiri. Taeyeon adalah prioritas mereka, sementara aku ... adalah nomor sekian bagi mereka. Hm, aku tahu ini tidak baik karna aku merasa cemburu pada kebahagiaan yang Kakakku rasakan," Yoona bercerita dengan raut wajah berduka. Wanita muda itu mengalihkan pandangan tak berani balas menatap Jaehyun. "Aku berusaha untuk mendapatkan kepercayaan mereka dengan menerima perjodohan itu, tapi kenyataannya ... aku lagi-lagi jadi nomor sekian, lagi. Aku tak pernah menjadi prioritas siapapun ..." pertahanan Yoona luruh. Bahunya mulai gemetar dengan suara isak yang tak lagi bisa ia tahan.
Jaehyun yang melihat itu merasa ikut pedih sendiri. Yoona yang ia kenal sangat manja dan berlaku sesukanya ternyata menyimpan perasaan seberat ini?
"Sebenarnya apa salahku? Kenapa semesta begitu jahat hingga menghukum aku bertubi-tubi seperti ini?"
Air mata Yoona kian menderas. Jaehyun menarik tubuh Yoona mendekat, menarik tubuh mungil itu ke dadanya. Memeluk erat, memberikan Yoona ruang untuk Yoona bisa menumpahkan segalanya.
Tak jauh dari tempat mereka. Seorang pria melihat semua yang dilakukan oleh muda-mudi di sana. Ekspresinya datar namun sorotnya jelas nyalang pada dua muridnya.
Suara langkah mendekat disertai dengan suara kekehan ironis yang dibuat-buat.
"Sepertinya Yoona masih sakit hati karna wanita sialan itu," ujar seorang pria.
Sehun melirik sinis. Ekspresinya langsung dingin begitu tebakan dalam hatinya benar. Tanpa sadar rahang pria itu mengetat.
Taehyung menoleh menatap Sehun. Sebelah alisnya naik dengan bibir yang menyunggingkan senyum ramah. "Hai, sir!" sapa pria itu.
---
__ADS_1