
*FLASHBACK
Salah satu kamar tamu diisi oleh sepasang manusia sebaya. Di luar kamar tersebut berdiri seorang wanita muda yang terlihat gelisah dan ragu-ragu ingin mengetuk pintu tersebut.
Yoona, wanita muda tersebut. Dengan sekali tarikan napas akhirnya ia memantapkan diri mengetuk pintu tersebut. Ah, tapi, tangannya tiba-tiba berhenti, menggantung di udara. Keraguan itu datang lagi. Ini terasa de javu. Dua bulan lalu Yoona juga merasakan seperti ini, rasa takut dan gelisah hanya untuk mengetuk sebuah pintu kecil di hadapannya.
Yoona menarik lagi tangannya hingga kembali jatuh ke sisi tubuhnya. Wanita muda itu mengerang pelan dengan tertahan, rasanya sangat frustasi.
Tiba-tiba pintu di depannya terbuka dan menampakan seorang wanita di sana, berdiri dan terkejut melihat Yoona yang tak kalah kagetnya.
"Yoona?" kening wanitu itu bergelombang, memandang anaknya yang jadi salah tingkah seolah tergap mencuri barangnya. "Kau butuh sesuatu?" sambungnya bertanya setelah berhasil menguasai air wajahnya.
Yoona manarik napas dalam dan mengembuskannya. Ia mengangguk sendiri dengan senyum yang mengembang, yakin dengan keputusannya. "Berbicara."
"Hm?"
Yoona merundukan kepalanya, dalam. Matanya terpejam dengan perasaan takut menunggu respon dari kedua orang tuanya.
Beberapa saat yang lalu Yoona berhasil mengutarakan keinginannya untuk bercerai dengan Sehun, walau sampai saat ini kedua orang tuanya masih belum memberikan respon atas keinginannya itu.
Tak tahan. Yoona berdeham pelan, melirik takut pada Ayahnya yang masih memasang wajah keras dan tegasnya.
"Yoona."
Yoona meneguk ludah. Mengangkat wajah dan menatap Ibunya.
"Ibu tidak ingin mengatakan ini, tapi... bisa, kah, kau tahu diri sedikit?" kata Mrs. Lim yang jelas langsung menohok Yoona.
Yoona tahu apa maksud dari ucapan Ibunya, Yoona juga sadar bahwa keinginan Yoona kali ini akan sukar mendapatkan restu. Tapi jika Yoona diam saja, pada akhirnya Yoona juga akan dikalahkan oleh perasaannya sendiri. Yoona tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan menunggu seseorang yang tak ingin ditunggu olehnya yang pada akhirnya Yoona yang tersakiti, itu saja.
"Kau menolak untuk menjadi penerus tapi Ibu paham, kau yang bodoh ini takan bisa menanggung beban Allerie karna semua yang kau tahu hanyalah bersenang-senang dan menghabiskan uang," Mrs. Lim kembali bersuara, wanita setangah abad itu melengos keras lalu menatap putrinya. "Dan hanya ini yang bisa kau lakukan! jadi berhentilah manja dan lakukan dengan baik!" tambah Mrs. Lim.
Yoona menggigit bibir bawahnya dengan kuat, berusaha untuk tetap bungkam bahkan setelah mendengar kalimat menohok Ibunya.
"Apa yang Ibumu bilang itu benar, Yoona." kali ini Mr. Lim angkat suara. Pria yang hampir menginjak usia lansia itu beranjak mendekat pada Yoona yang kemudian menepuk pelan bahu putrinya. "Kami sudah memberikan hidup yang sangat layak untukmu, jadi kau bisa berterima kasih dengan cara ini," sambung Mr. Lim.
Sementara Yoona mati-matian menahan bulir hangatnya untuk tak luruh. Wanita muda itu menguatkan diri dan menatap Ayahnya. "Ta–tapi, Mister Sehun sudah memiliki kekasih, aku—"
__ADS_1
"Laki-laki lajang takan bisa bertahan dengan satu wanita yang sama, Yoona." potong Mr. Lim. Kali ini pria tua itu mengambil alih dan duduk di sebelah putrinya.
"Ta–tapi—"
"Baiklah, Ayah akan mengizinkan kamu cerai dengan Sehun—"
"Sayang!"
Mr. Lim tersenyum meminta istrinya untuk tenang. "Tapi, kau harus melahirkan anak dari Sehun," sambung Mr. Lim kali ini senyum liciknya benar-benar bisa Yoona rasakan meskipun tanpa memandang wajah Ayahnya.
Yoona membulatkan kedua matanya, menatap tak percaya pada Ayahnya yang hanya tersenyum.
"Bagaimana? kau hanya harus melahirkan satu anak yang akan membawa sebagian harta Boneit dan setelah itu kau bisa bercerai dengan Sehun," kata Mr. Lim dengan enteng.
Yoona hampir saja mengumpat. Ayahnya pikir proses untuk menciptakan satu manusia itu hanya dengan meludah satu kali lalu terlahir seorang anak?!
"Ayah!"
"Sudah cukup Yoona, kau membuang waktu kami," suara Mrs. Lim kembali terdengar. Wanita itu mengela napas panjang, "keluar," usirnya.
Kedua orangtua Yoona kompak terdiam memandang putrinya dengan tak percaya namun beberapa detik kemudian tawa Mr. Lim menggelegar mengisi ruangan tersebut.
"Apa?" Mr. Lim bertanya seraya terkekeh ringan dengan kepala menggeleng-geleng seakan tak ingin percaya dengan pengakuan Yoona.
Yoona merapatkan bibir sesaat kembali mengumpulkan keberanian. "Aku juga memiliki kekasih dan aku—"
"Siapa?" potong Mr. Lim kali ini suaranya menyiratkan ketidak sukaan yang jelas. "Ayah akan setuju kalau dia sekelas dengan Tuan Chandriel," tambah Mr. Lim yang membuat Yoona sedikit menganga.
Apakah keluarganya segila uang ini?
Yoona mengentakan kakinya dan tak memiliki pilihan lain akhirnya memilih mengalah dan berlalu keluar.
Perasaannya hancur, harga dirinya pun. Dan oknum itu tak lain adalah orangtuanya sendiri. Bagaimana bisa mereka memperlakukan anaknya seperti alat yang bisa dilempar ke sana-sini, siapa pun mereka yang memiliki jabatan tinggi akan mendapat lemparan itu.
Tanpa sadar bulir hangat yang sedari tadi Yoona tahan meleleh. Wajahnya menunduk, menyembunyikan air matanya dengan bahu bergetar menahan isak agar tak lolos.
Selalu seperti ini jika Yoona berhadapan dengan orangtuanya.
__ADS_1
"Sudah aku duga kau akan seperti ini," ejek seorang membuat Yoona yang mengenali suara itu langsung menghapus jejak air matanya dan memperbaiki tampilannya.
Tatapan dingin itu terarah pada Yoona disertai dengan pandangan yang merendahkan seolah Yoona adalah sesuatu yang tak bernilai.
"Apakah kau tak bisa belajar dari Kyungsoo?" cibir Taeyeon yang tak lain adalah kakak tertua Yoona. "Dia melepaskan mimpinya dan memutuskan untuk belajar bisnis. Harusnya kau malu karna diinjak-injak oleh adikmu sendiri," tambah Taeyeon.
Taeyeon tersenyum, merasa menang. Wanita itu bersedekap, menatap Yoona dengan dagu yang sedikit terangkat saat menyadari raut wajah Yoona mengeruh menatapnya. "Kenapa? Apakah sampai sini kau paham semenyedihkan apa kau?" tanya Taeyeon dengan tenang tanpa menurunkan intonasi bicaranya. "Kau itu tak ada bendanya dengan Seungwoo yang gila itu," sambungnya ringan.
Yoona berusaha menguasai diri. Ia juga ikut mengangkat dagu. "Dan kalian orang-orang egois yang hanya memikirkan uang, apapun kalian lakukan asalkan itu menghasilkan uang bahkan sampai merampas mimpi anggota keluarga sendiri," sahut Yoona menyindir, tak kalah tajam. "Kau bilang aku sangat menyedihkan, tapi kau salah—"
"Apa yang kau —"
"Karna yang sebenarnya sangat menyedihkan itu adalah kau! kau, KAU TAEYEON!!"
Taeyeon langsung mendelik, tak terima. "Apa?"
Yoona mengangkat sebelah alis. "Apakah aku harus memperjelasnya lagi?" balas Yoona dengan tenang.
Taeyeon menarik napas dalam, dengan ekspresi yang seakan mulai terganggu. "Huh, benar kata Ibu, anak tak berguna seperti kau lebih baik dibuang ke orang yang bisa menjanjikan kesuksesan untuk Allerie," ujar Taeyeon seakan pada dirinya sendiri. Wanita itu tersenyum menatap Yoona. "Kau tahu Yoona? itulah guna kau ada di keluarga ini!" sambungnya.
Garis wajah Yoona semakin dingin. Wanita muda itu berusaha mencari kalimat untuk membalas kalimat Taeyeon, namun saat menyadari semua yang dikatakan oleh Taeyeon tak salah, Yoona merasa kalah. Sialnya memang seperti itulah hidup Yoona.
Taeyeon terkekeh merasa menang, lagi.
"Benar, karna aku menikahi Putra Mahkota Boneit, Allerie bisa semakin bergerak ke puncak," ujar Yoona akhirnya.
Taeyeon melebarkan mata, tak menyangka Yoona akan berkata demikian. Dengan tangan yang terlipat depan dada, Taeyeon maju selangkah. "Apa yang ingin kau coba katakan?" tanya Taeyeon dengan intonasi dingin.
Yoona menarik napas pelan, berusaha tetap tenang. "Aku penasaran, akan seperti apa Allerie jika aku mencampakkan Putra Mahkota Boneit itu?" lanjut Yoona dengan nada santai.
Rahang Taeyeon mulai mengeras dengan tatapan makin menusuk dan wajah yang putih beningnya itu terlihat memerah menahan emosi yang sudah membara siap meledak.
Yoona melengos dengan ekspresi lelah yang dibuat-buat. Matanya mengerjap dan kini memberi tatapan merendah yang tajam. "Kau harus belajar cara memperlakuan seorang calon permaisuri, jika kau tidak ingin ditendang ke jalanan!" ancam Yoona dengan serius, membuat Taeyeon terdiam merasa tersudut.
Yoona tersenyum lebar melihat Taeyeon yang diam seribu bahasa. Wanita muda itu melengks yang akhirnya memilih untuk berlalu.
o0o*
__ADS_1