Pangeran Vampire

Pangeran Vampire
Bab 1 - Chapter 19


__ADS_3

~"Gw juga punya firasat buruk bang untuk ke depannya tapi gw gak mau membeban pikiranmu lagi bang" gumam Rin karena tidak ingin abangnya membantu masalah saat ini.~


...****************...


Keesokan harinya


Seperti biasanya di pagi Rin yang dimana Rin sarapan bersama dengan keluarganya. Tetapi pagi ini Rin mempunyai firasat buruk untuk dirinya sehingga yang biasanya ia ceria saat sarapan bersama dengan keluarga sekarang dia menjadi murung.


Papa yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Rin pun bertanya "Adek kenapa hari ini? Ada yang salah? Apa adek lagi sakit?".


Saat itu juga Rin langsung merubah sikapnya menjadi ceria seperti biasanya dan langsung menjawab "Ah nggak kok pah, Rin sehat kok cuma sekarang Rin lagi banyak pikiran kok pah hehe" sambil tertawa sedikit.


"Ahh memangnya mikirin apaan sih sampe bilang lagi banyak pikiran?" tanya papa.


"Ah etto... hmmm... gimana ya" jawab Rin yang kebingungan mencari alasan dan Akihito pun langsung menyambar.


"Dia lagi banyak pikiran gimana caranya mendapatkan pacar pah" jawab Akihito.


Rin yang mendengar itu langsung memukul punggung belakang Akihito karena itu tidak benar sama sekali.


"Apaan sih bang! Siapa yang bilang kalau gw mau cari pacar?!" teriak Rin ke Akihito.


"Wahh anak mama yang kecil dan besar pah" Mama yang senang karena Rin sudah mulai tumbuh menjadi dewasa.


"Ehh nggak mah Rin gak mau cari pacar" jawab Rin yang menyangkal perkataan mamanya.


"Iya mah papa sudah gak sabar mau gendong cucu" jawab papa yang juga senang Rin sudah lebih dewasa.


"Papa, nikah aja belum gimana Rin punya anak. Pa ayolah jangan bercanda tentang ini" Rin yang tidak menyangka kalau papa nya ingin mempunyai cucu.


Akihito yang tidak sanggup lagi menahan ketawa "Pfttt papa ingin adek punya anak".


"Jangan ketawa lu bang!! Ini semua salah lu bang!" teriak Rin yang tidak suka diketawai oleh Akihito.


"Yah abang gak nyangka kalau papa mama bilang begitu dek, hahaha" Akihito yang masih menertawai Rin.

__ADS_1


"Yuk berangkat kali ini abang anterin adek ke sekolah. Tenang aja abang dah bilang kok kalau abang yang nganterin, abang tunggu depan ya" sambil memakai jaketnya dan berpamitan dengan orang tuanya.


.


.


.


.


.


Selama di perjalanan, Rin masih agak ragu apakah ia akan memberi tau dengan firasatnya atau menyembunyikannya.


"Akhhh apa gw kasih tau abang tentang firasat gw" batin Rin.


"Mending kamu tidak membocorkan firasat mu ini dari dia karena takut akan mencelakai dia nanti" jawab Eden.


"Ehh gak papah ini Eden?" tanya Rin yang tidak percaya dengan perkataan Eden.


"Enggak kok gak aneh, tapi gw heran aja gak biasa kayaknya lu" jawab Rin.


Lalu Rin mengingat kembali saat dia memanggil alter ego menjadi Eden.


Flashback On


Saat itu Rin sedang bersantai dengan menonton film di kamarnya. Entah kenapa Rin merasa sangat bosan saat sedangkan menonton film lalu ia pun menyudahi menontonnya itu dan berbaring di atas kasur.


Saat Rin sedang berbaring di atas kasur, ia baru sadar kalau dia belum mengetahui nama asli dari alter ego. Dia pun segera bertanya ke alter ego lewat pikirannya.


"Alter ego?" tanya Rin lewat pikirannya.


"Apa?".


"Gw mau nanya donk, nama lu sebenarnya siapa? Saat gw bertemu dengan lu gw belum tau nama lu?".

__ADS_1


"Memang harus ku beritahu namaku ke kamu?!".


"Yah kalau gak mau sih gak papah, cuma gw penasaran aja ama nama lu. Masa nama lu beneran alter ego doank"


"Aku punya nama sih, tapi entah kenapa aku merasa sangat akrab dengan panggilan itu".


"Hehh beneran punya nama toh. Namanya siapa kalo boleh gw tau?".


"Memangnya aku benda kah sampai gak punya nama sendiri".


"Namaku Eden. Iya namaku Eden mulai detik ini kamu harus memanggilku dengan nama Eden".


"Hehhh gw dah terlalu nyaman manggil lu Alter ego, masa mulai sekarang gw manggil lu Eden?" Rin yang kecewa karena mulai saat ini harus memanggilnya Eden.


"Yah aku gak mau tau, kalau kamu masih memanggil ku Alter ego, aku tidak akan meladenimu".


Flashback Off


"Rin, kenapa kamu melamun?" tanya Eden lewat pikiran Rin.


"Ehh, nggak kok gw gak kenapa sumpah suwer" dengan penuh kepanikan.


"Aku tanya kamu kenapa melamun bukan nanya kamu kenapa-napa" jawab Eden yang tidak senang dengan jawaban Rin.


"Ahh nggak ada kok mending lu diam aja" jawab Rin yang tidak mau memberi tau apa yang dia lamunin tadi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Yoo maaf kalau baru Up karena emang lagi sibuknya di real life ╥﹏╥ maaf juga kalau chapter ini pendek sebenarnya mau gw bikin panjang, tapi gak sempat2 dan ini nganggur selama 2 hari kmrn dan gw kerjain dikit2 saking gak ada waktu buat nih tulis. Makasih juga yang udah membaca karya gw oke see you next time👋🏻👋🏻


__ADS_2