
mohon maaf kalau d chapter sebelumnya ada yg bikin bingung dengan alurnya karena lagi pusing2nya dengan tugas π π . Harap dimaklumin y dan eps ini pendek dari biasanya π£π£
.
.
.
.
.
.
.
.
~Saat susah sampai dirumah, ia pun langsung berganti baju dan tidur supaya tidak ketauan dengan keluarganya kalau dia sudah membunuh manusia dan menghisap darahnya.~
...****************...
Di pagi hari, Rin sangat terkejut melihat jaketnya berlumuran darah di lemarinya saat ia mau mengambil seragam sekolahnya.
"Kenapa jaket gw berlumuran darah? Bisa gawat ini jika ketauan dengan mama, nanti yang ada gw diceramahin seharian tanpa henti ini" gumam Rin yang tidak mengetahui kenapa jaketnya berlumuran darah dan kejadian semalam.
"Mending gw bungkus pake kantong plastik hitam dulu dan pulang sekolah nanti gw cuci sendiri nih jaket" lalu ia memasukkan jaket itu ke dalam kantong plastik hitam dan menaruhnya disamping meja belajar dekat dengan tong sampah.
Setelah itu, Rin langsung keluar kamarnya dan turun ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarga.
"Selamat pagi mah. Selamat pagi pah" sapa Rin kepada orangtuanya yang sudah menunggu dia daritadi.
"Selamat pagi dek. Dek kok kamu masih pucat juga? walaupun ini sudah mendingan daripada kemarin, tapi adek beristirahat kan semalam?" tanya mama yang masih khawatir dengan kondisi anaknya.
"Sudah kok mah, semalam Rin langsung tidur dikamar" lalu langsung mengambil segelas susu didekatnya.
__ADS_1
"Coba mama cek apa kamu demam" sambil memegang jidatnya Rin dan tiba-tiba....
"Dek badan kamu dingin sekali? adek gak masuk angin atau kedinginan sekarang?" tanya mamanya yang kaget karena tubuh Rin yang sekarang sangat dingin.
"Tidak mah Rin sehat-sehat saja kok. Gak kedinginan apalagi masuk angin. Mama gak usah khawatir sekarang" Rin yang tidak peduli dengan suhu tubuhnya dingin.
"Tapi dek, mama sangat khawatir dengan keadaan mu. Apa benar adek sudah sehat?" papa yang ikutan khawatir dengan kondisi Rin.
" Gak kok pah Rin gak berbohong, Rin benar sudah merasa sehat sekarang" Rin yang mengulang sekali lagi kalau sekarang dia sudah sehat.
"Mungkin Rin sekarang jadi mayat hidup pah mah, makanya suhu tubuhnya dingin" Akihito yang baru datang dan langsung meledeki adeknya yang sedang sarapan.
"Apaan sih lu bang!!! masa adeknya sendiri dibilang mayat hidup!!" jawab Rin yang kesal dengan abangnya.
"Yah mungkin aja, buktinya suhu tubuh adek dingin berarti adek ini mayat hidup" sambil menyubit pipinya Rin yang keliatan lucu saat sedang marah.
"Jangan cubit-cubit pipi gw, gw dah gede bukan anak kecil lagi dan juga gw bukan mayat hidup!!!" teriak Rin yang sudah kesal sekali dengan kelakuan abangnya.
"Udah udah sekarang jangan ada yang bercanda dan teriak lagi, Akihito cepat sarapan dan antar adek kamu ke sekelohnya" papa yang sudah mulai kesal dengan kelakuan anaknya.
"Rasain tuh bang senjata makan tuan juga akhirnya" pikiran Rin yang merasa senang karena melihat abangnya dimarahin oleh papanya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Setelah Rin dan Akihito sarapan, mereka segera berpamitan dengan orang tuanya dan menuju ke mobil Akihito untuk pergi ke sekolah masing-masing.
Selama di perjalanan, Akihito pun mulai membuka mulut supaya suasana di mobil tidak menjadi canggung.
"Dek, adek beneran kan semalam tidur? gak bergadang buat main game online kan?"
"Tumben banget lu bang nanya gw, biasanya cuma bisa ledekin gw aja" jawab Rin dengan ketus.
"Tuh kan abang bingung, diledek gak mau di perhatiin juga gak mau. Mau apa adek sih" yang sudah mulai kesal dengan jawaban Rin.
"Gw tidur kok dikamar semalam dan gak bergadang sama sekali. Udah puas sekarang lu bang?!" Rin yang tidak peduli dengan kekesalan abangnya.
"Hahhh.... Kenapa kamu begini sih dek ama abang. Padahal waktu kamu kecil itu suka manja ama abang sekarang malah malu malu kucing. Abang masih ingat saat kamu jatuh suka menangis sampai abang gendong kerumah pun adek masih menangis" Akihito yang ingin sikap Rin manja seperti dulu ke dia.
"Gw sekarang sudah remaja, bukan anak kecil lagi. Jadi percuma nyuruh gw manja ke lu lagi bang kayak dulu" Rin yang menjawab dengan halus karena tau semenjak dia sudah memasuki fase remaja, dia sudah jarang sekali manja dengan abangnya pasti sekarang abangnya kangen dengan sikap manjanya dulu.
"Yah mau bagaimana lagi, abang sudah kangen dengan sikapmu itu" yang sudah pasrah dan sedih dengan jawaban adeknya.
Karena Rin tidak ingin melihat abangnya bersedih karena dia, dia pun menyandarkan kepalanya ke pundak Akihito dan berkata "Apa ini sudah cukup".
Akihito pun kaget dengan kelakuan Rin yang tiba-tiba kepalanya bersender di pundaknya.
"Iya ini sudah cukup" sambil mengelus rambut Rin dengan halus dan merasa senang dengan kelakuan Rin yang manja ke dia.
Kejadian itu berlanjut hingga sampai didepan gerbang sekolah Rin.
"Makasih bang udah anterin gw" dengan segera membuka pintu mobilnya dan hendak keluar.
"Gak mau peluk abang dulu sebelum pergi" sambil membuka tangannya untuk berpelukan dengan adeknya.
"Ogah, najis banget gw pelukan ama lu bang" sambil membanting pintu mobil dan pergi.
"Dasar tsundere, tapi sudah cukup bagiku" gumam Akihito yang senang dan tidak percaya dengan sikap adeknya tadi.
__ADS_1