
Nakula dan Sadewa memutuskan untuk mengantarkan sang pujaan hati ke tempat markas pendidikan KOWAD di Bandung, hampir empat jam untuk mereka bisa sampai di kota yang terkenal karena kesejukannya itu.
Dalam perjalanan mereka menikmati pemandangan berbagai objek wisata yang berada di sisi kanan dan kirinya.
" Kayaknya liburan disini asik juga yah Wa " Nakula melihat banyak hotel-hotel bagus disepanjang jalan.
" Mirip Puncak tapi lebih menantang " Sadewa tergelak.
" Menantang gimana maksud loh?"
" Lo gak liat deretan gunung-gunung dihadapan Lo? " Sadewa menghela nafasnya
" Di puncak aja kita gak kuat pas hiking, apalagi disini " Lanjutnya.
Yang dimaksud oleh Sadewa adalah bagaimana jika kedua gadis itu mengajak mereka untuk menjelajahi hutan-hutan disana?
" Kayaknya kita musti start olahraga deh La, mereka bakal lebih kuat lagi ntar " Sadewa kembali melanjutkan kata-katanya.
" Olahraga apaan?"
" Ya banyak lah, nge gym kali atau ikut beladiri gitu kan....Tinggal pilih "
"Bener juga sih, itung-itung ngisi waktu pas mereka gak ada "
Dua mobil sampai di lokasi. Satu mobil berisikan Nakula dan Sadewa dan satu mobil lagi berisikan Aurora dan Laluna beserta kedua orangtuanya dan seorang sopir pribadi.
Sebelum acara serah terima anak-anak mereka disana, Aurora dan Laluna menyempatkan diri mereka untuk berbincang dengan Nakula dan Sadewa sementara Galaxy dan Axel tengah sibuk menyalami rekan-rekan sejawat Galaxy tak jauh dari posisi mereka berada.
Kedatangan sang Jenderal tentu saja disambut dengan sangat bangga disana.
" Kita ada sesuatu buat kalian " Nakula mengeluarkan satu kotak mungil kehadapan mereka.
" Nanti pasti kalian tidak diperbolehkan untuk memakai kalung dan jam tangan kalian " Sadewa meneruskan.
" Dan nanti kalian pasti diberikan jam tangan baru yang harus kalian pakai dari sini " Lanjutnya.
" Nah.. Sebelum kalian memakai jam tangan barunya, kalian bisa menaruh ini didalamnya terlebih dulu " Nakula membuka kotak mungil itu, didalamnya terdapat dua microchip seukuran tahi lalat kecil. Bahkan akan sulit membedakannya menurut kedua gadis itu.
" Kalian harus bongkar jam tangan kalian untuk menaruh ini didalamnya " Lanjut Sadewa.
"Ini apa kak?" Laluna bertanya
Lalu Nakula dan Sadewa secara bergantian menjelaskan fungsi alat tersebut. Katakan lah itu adalah prototipe dari penemuan mereka yang sedang mereka teliti dan kembangkan, tidak hanya untuk dunia militer nantinya tapi akan lebih luas lagi kegunaannya.
Senyuman terukir diwajah kedua gadis kembar itu seketika, mereka selalu dengan senang hati menerima pemberian kedua pria kembar dihadapannya itu. Apalagi jika judulnya prototipe, itu artinya mereka akan ikut andil dalam pengobatan sebuah penciptaan baru dari alat-alat yang mereka ciptakan.
__ADS_1
" Siap kak !" Aurora dan Laluna memberikan hormat secara bersamaan kepada Nakula dan Sadewa.
" Eeeittt....Inget jangan sampe ketauan, ini akan sangat berbahaya buat kalian kalo sampe ketauan " Pinta Sadewa.
" Sepertinya udah waktunya kita masuk kak " Aurora melihat para senior sudah memanggil para calon tarunanya
" Oke Bee...Take care ya " Nakula menggenggam erat kedua tangan Aurora dan mencium nya.
" Love you Bee..." Lanjutnya.
" Love you kak " Aurora melepaskan genggaman tangannya dan pergi menuju pintu masuk aula, setelah sebelumnya dia memeluk kedua orangtuanya terlebih dahulu.
Sama hal nya dengan Sadewa dan Laluna.
" Ingat kata-kata aku kak " Laluna mengingatkan kekasihnya akan semua aturan yang dia buat untuk dirinya.
" Iya Boo...Kakak akan ingat selalu..."
Tak berselang lama Aurora dan Laluna sudah memasuki aula besar itu, dan sudah bisa dipastikan jika mereka tidak akan bisa keluar lagi dari sana hingga beberapa tahun kedepan. Kesempatan mereka untuk bertemu adalah jika mereka melakukan visit kembali ke tempat ini setiap satu bulan sekali.
" Apa yang kalian berikan kepada anak-anak om?"
Kedua pria jangkung ini sontak terkejut dengan pertanyaan sang jenderal.
*Darimana dia tahu???-Nakula
Pastilah dia langsung tahu, matanya banyak!-Sadewa*
" Coba kalian jelaskan sama om " Pintanya santai tapi merupakan sebuah perintah yang tidak bisa dibantah.
Sambil berjalan menuju parkiran Nakula dan Sadewa menjelaskan tentang alat yang mereka berikan kepada anak-anak gadis sang jenderal. Galaxy dan Axel terlihat menganggukkan kepalanya.
" Jadi nanti bukan cuma bisa dipake sama militer aja om, bisa lebih luas lagi kegunaannya " Ujar Sadewa.
" Kalau dipake buat spionase apa bagus? Gimana menurut kalian?"
" Bagus banget om, cuma kita harus perbanyak lagi fitur-fitur nya kalau untuk itu "
" Hhmmmm....Nanti sampai di Jakarta kalian perlihatkan sama om langsung bisa ?"
Lagi-lagi permintaan yang tidak bisa dibantah oleh Nakula dan Sadewa.
" Bisa om " Jawab keduanya serempak.
" Om akan rahasiakan ini, tenang saja "
__ADS_1
Kali ini Nakula dan Sadewa bisa sedikit bernafas lega.
Keluar dari markas pendidikan KOWAD yang isinya adalah Kartini - Kartini tangguh, dua mobil itu kembali menuju Jakarta tetapi sebelumnya mereka memutuskan untuk bersantap siang bersama di sebuah restoran yang cukup terkenal dikota itu.
Galaxy dan Axel sering bersantap siang atau malam di restoran khas Sunda bernuansa alam ini ketika Langit menjalani pendidikan militer nya di daerah Batujajar.
" Selamat datang di Kampung Daun, untuk berapa orang pak?" Seorang petugas penyambut tamu menyambut kedatangan mereka di pintu gerbang restoran tersebut.
Ini merupakan pengalaman baru bagi Nakula dan Sadewa, jadi mereka hanya bisa diam dan mengikuti kemana Galaxy dan Axel mengajaknya.
Ternyata didalam restoran itu sungguh sangat luas menurut Nakula dan Sadewa, ada banyak gazebo tempat mereka makan, ada banyak abang-abang berjualan camilan jadul dan yang paling berkesan bagi mereka adalah pemandangan yang sungguh indah yang disuguhkan oleh pihak restoran ini.
" Kita musti sering-sering kesini wa kalo lagi ke Bandung " Bisik Nakula
" Eehh...Pak Galaxy, Ibu Axel.." Seorang wanita berlogat Jawa menghampiri mereka.
" Kok ndak bilang-bilang kalo mau kesini ?"
" Kebetulan aja mba Madu " Jawab Axel ramah
" Ya siapin meja ditempat biasa yo bu " Wanita yang bernama Madu itu memerintahkan beberapa pelayan untuk menyiapkan tempat untuk mereka makan melalui sambungan intercom, sambil mereka berjalan menelusuri jembatan kecil menuju tempat itu.
" Kok makin nanjak yah..." Keluh Nakula
Sementara Sadewa berusaha untuk tetap berjalan dalam diam, dan berharap semoga tanjakan ini akan cepat berakhir.
" Byuhhhh..." Nakula dan Sadewa menjatuhkan diri mereka di bantal duduk yang tersedia didalam gazebo yang akan mereka tempati. Sementara Galaxy dan Axel terkekeh geli melihat tingkah mereka.
" Cerita nya mau dapetin anak-anak om, masa nanjak dikit gitu aja udah kecapean " Kekeh Galaxy
" Abis ini kita nge gym om..." Nakula mengacungkan dua jari tangannya
" Ikutan taekwondo juga " Sadewa menimpali.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1