Para Penakluk Bima Sakti

Para Penakluk Bima Sakti
Siapakah Joshua?


__ADS_3

"Ayolah Ngit, ayahmu loh yang merekomendasikan anak ini langsung" Anthoni kembali meyakinkan anak sahabatnya itu untuk setidaknya mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menolak calon anggota tim nya.


"Lagi kenapa gak ayah langsung sih yang bilang sama aku om, tadi pagi dirumah beliau gak bicara apa-apa tentang hal ini" Langit mengambil kembali map berisikan data calon anggota yang bersangkutan, dan memeriksanya untuk kedua kalinya.


"Sengaja...Om yang minta sama beliau " Anthoni tersenyum penuh arti, sudah seminggu ini dia berencana untuk membicarakan tentang Queen kepada Langit. Sebagai seorang ayah dirinya ingin sekali menikahkan anak sulungnya tersebut dengan pemuda tampan yang ada dihadapannya, toh mereka telah lama menjalin hubungan. Tidak ada salahnya jika Anthoni membicarakan hal tersebut lebih serius lagi dengan Langit.


Sementara itu, setahun sebelum pertemuan Anthoni dengan seorang pemuda yang begitu menarik perhatiannya, sebelum dirinya memutuskan untuk merekomendasikan pemuda tersebut kepada Galaxy secara langsung.


Seorang pemuda dengan penuh luka hampir disekujur tubuhnya, tenga berlari dengan sisa tenaganya mengejar orang yang keadaanya tak jauh berbeda darinya. Sepertinya mereka telah mengalami pergumulan hebat sebelumnya, terlihat dari luka lebam di wajah serta tubuh juga luka tembak di masing-masing lengan mereka.


"Aku harus menghabisinya, dia tidak boleh lolos kali ini..." Dalam hatinya berkata. Meski kondisi tubuhnya sudah hancur berantakan, tetapi berkat tempaan dikesatuan selama ini yang mengharuskan dirinya untuk tetap fokus dalam keadaan seberat apapun, pemuda tersebut masih bisa bertahan hingga dititik ini.


Sudah satu bulan ini dirinya mengikuti gerak-gerik musuh secara diam-diam, dia mendapatkan perintah langsung untuk menghabisinya. Kejahatan manusia yang masih berlari dihadapannya kini bukanlah kejahatan yang bisa diampuni. Satu desa kecil dia bakar habis! dia telah memerintahkan seluruh anak buahnya untuk membunuh para wanita dan anak-anak serta menyiksa para pria dengan begitu sadisnya sebelum peristiwa nahas itu terjadi.


Brug! Bugh..Bughh!!


"Aaaakhhhh! Sialan!" Pekik seorang pria berperawakan sedang itu, setelah dirinya diterjang seorang pemuda yang sebelumnya telah berhasil dia tembak dibagian bahunya hingga terkapar.


Posisi pemuda dengan tatapan mengerikan itu sekarang berada diatasnya, melancarkan bogem mentahnya diwajahnya. Dengan sisa tenaganya dia berhasil meraih sebilah pisau kecil yang dia sematkan di saku celananya lalu menusuk paha pemuda tersebut hingga dia terjatuh.


"Hahahahaha....Hanya itu yang bisa kau lakukan bocah tengik!" Meski sekujur tubuhnya telah terluka, bahkan dia sendiri tidak bisa beranjak dari posisinya saat ini, tetapi setidaknya pemuda sialan itu tidak lagi menghajarnya.


"Sialan!" Umpat Jo, nama panggilan pemuda tersebut. Tak mungkin dirinya menarik bilah pisau itu dari posisinya, itu sama saja dengan bunuh diri. Karena jika pisau tersebut dia tarik, maka dirinya akan mengalami pemdarahan hebat. Pisau tersebut memang telah melukainya, tetapi sekaligus menahan laju darah agar tidak keluar deras.

__ADS_1


Jo merobek bajunya, lalu membuat simpul dikakinya untuk menghentikan pendarahan tanpa mencabut pisaunya dengan cepat. Dia tahu penjahat genosida ini sudah tak mungkin lagi berlari, laki-laki itu hanya tinggal menunggu waktu kematiannya saja. Dirinya telah berhasil melayangkan sebuah tembakan di bahu dan perutnya ketika mereka berkelahi tadi, ditambah dengan pukulan-pukulan telah yang telah berhasil mendarat diwajahnya.


Jo sebenarnya tak mau mengindahkan ucapan-ucapan yang memang ditujukan untuk menciutkan hatinya, memancing emosinya agar dia lengah seperti sebelumnya. Tujuannya saat ini adalah menanti kematian Gerda dengan mata kepalanya sendiri sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh atasannya langsung. Tetapi karena mulut pria sialan itu tak juga berhenti mengoceh, akhirnya dirinya melayangkan sebuah pukulan telak di leher penjahat itu hingga patah.


"Sudah aku bilang jangan terlalu banyak bicara, nanti aku patahkan lehermu.."


.


.


"Dia itu psikopat om, aku gak bisa menerimanya di tim ku" Langit berusaha meyakinkan sang calon mertua yang sejak tadi terkesan memaksanya untuk menerima Josua untuk masuk kedalam jajaran timnya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.


"Tapi psikopat yang bagus" Jawab Anthoni yakin. Selama ini belum ada catatan buruk tentang Joshua yang dia terima dari rekan-rekannya yang lain. Jo memang seorang pendiam, tatapan matanya yang tajam dan bicaranya yang irit itu yang disukai oleh dirinya maupun Galaxy. Anthoni pikir mungkin Langit hanya belum mengenalnya saja makanya calon menantunya itu belum bisa menerima Joshua.


Akhirnya Anthoni harus mengeluarkan jurus ampuhnya.


"Misi petir akan lebih lengkap dengan adanya dia di tim kita" Lanjutnya.


Kini, meski sudah hampir enam bulan Joshua berada di bawah kepemimpinan Langit, dan setelah memberikan ujian-ujian terhadap nya, pemuda tampan itu masih saja belum yakin 100% kepada Joshua.Tetapi meski demikian Langit tahu bahwa Jo seorang anggota yang baik. Dia begitu taat pada perintah, dan hampir tidak pernah menanyakan kembali perintah yang dia berikan kepadanya. Joshua cukup cerdas, dia cepat belajar dan beradaptasi. Yang langit belum bisa terima sepenuhnya adalah ekspresi wajahnya yang dingin dan tanpa penyesalan ketika dia menghabisi lawan.


Langit pernah bertanya apakah pernah ada rasa penyesalan didalam hatinya selama ini karena telah banyak menghabisi musuh? Jawabannya cukup membuat anak sang Jendral itu terkejut.


"Tidak pak! Pilihannya hanya saya atau dia yang mati"

__ADS_1


Dan itu pernah Langit buktikan sendiri ketika dirinya bersama dengan Joshua menghabisi para penjahat yang disinyalir telah berusaha untuk menjual rahasia negara, ditengah situasi yang genting saat ini.


Saat itu Langit tengah di sandera, ujung pistol itu berada tepat di pelipis kanan nya. Joshua menodong kan pistol nya kearah penjahat yang menahan tubuh Langit, sementara penjahat itu meminta pemuda dingin itu untuk menurunkan senjatanya.


Tanpa ada rasa takut Joshua menarik pelatuk pistol ditangannya, setelah dia memberikan aba-aba kepada sang atasan untuk memiringkan wajahnya sedikit saja dengan gerakan kepalanya.


DOR!!


Satu peluru melesat tepat di kening sang penjahat, dan itu telah membuat telinga Langit berdenging cukup lama, belum lagi darah musuh yang mengenal wajah Langit. Pemuda tampan itu menghembuskan napas lega setelah nya.


"Dia atau saya kan? " Langit bertanya setelah dirinya membersihkan darah musuh yang ada diwajahnya, meski jantung nya masih berdegup cukup kencang. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Joshua tembakan Joshua meleset sedikit saja.


Joshua hanya melebarkan bibirnya lalu berkata...


"Maaf.. Wajah anda jadi kotor.. "


.


.


.


Happy reading semuanya!

__ADS_1


Makasih ya atas dukungannya selama ini, othor doakan sehat, bahagia dan sejahtera untuk para pecinta novel othor.


Love sekebon sawit!


__ADS_2