Para Penakluk Bima Sakti

Para Penakluk Bima Sakti
Seorang Pria Berambut Putih


__ADS_3

Jauh di tengah laut, di sebuah pulau kecil diantara gugusan pulau-pulau tak berpenghuni, seorang paruh baya tergopoh-gopoh memasuki sebuah ruangan dengan membawa sebuah nampan penuh dengan obat-obatan. Didalam sana seorang wanita cantik berkacamata dengan jubah putihnya tengah memainkan stetoskop di atas tubuh tak berdaya seorang pria.


Jika dilihat dari penampilan nya wanita tersebut berusia tak kurang dari 40 tahunan. Hanya saja karena wajah dan tubuhnya yang sangat terawat, dia tak terlihat seperti seorang wanita pada usianya.


Suara mesin penopang kehidupan serta suara alat bantu pernapasan lebih mendominasi ruangan tersebut. Sementara pria paruh baya tersebut menaruh nampan dengan obat-obatan sesuai permintaan sang dokter, wanita cantik berkacamata dengan tahi lalat dibawah mata kanannya terlihat menghembuskan napas nya berat setelah dia selesai memeriksa kondisi pasiennya tersebut.


"Bagaimana kondisinya dok?" Ucapnya seraya mendekati keduanya.


"Tanpa alat-alat medis yang saya minta tempo hari, rasanya sulit bagi bapak untuk bisa tetap stabil mang" Jessica kembali menghembuskan napas nya berat, lalu mengambil jarum suntik dan satu unit obat.


"Apa sudah ada kabar dari tuan Rico mang?" Dia menyuntikkan obat cair berwarna bening tersebut melalui selang infus yang terpasang di tangan kanan pria yang biasa disebut bapak oleh keduanya.


"Belum dok" Jawaban dengan berat hati.


Jessica tak habis pikir, dulu pria yang kini terbaring di depannya itu begitu sangat menyayangi anak semata wayangnya. Apapun akan dia lakukan untuk Rico, agar sang anak terjamin kehidupan nya. Tetapi apa balasannya? Rico seakan tak peduli dengan kondisi sang ayah saat ini.


"Sungguh tak sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh bapak kepada Rico semasa hidupnya" Ucap Jessica seraya membuang jarum suntik yang telah selesai dia gunakan ke tempat sampah tak jauh dari tempat tidur sang tuan.


Mang Jaki hanya bisa diam seperti biasanya, ingin rasanya dia bicara tentang apa yang telah terjadi kepada kedua majikannya. Tetapi dia khawatir bapak yang tengah terbaring dihadapannya itu mendengar seluruh perkataannya.


Bukankah orang yang sedang dalam keadaan koma tetap bisa mendengarkan pembicaraan orang-orang disekitarnya?


"Bapak lekas sembuh ya pak... Jessi udah gak tahan tinggal disini pak... " Jessi tersenyum kecut, lalu meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh mang Jaki.


Brak!!


" Apa dia masih hidup?! " Lantang seorang pria berpakaian jas lengkap berwarna abu-abu tua, seraya menjatuhkan bokongnya diatas kursi kebesaran nya.


" Masih tuan " Jawab seorang pria bertubuh tegap dengan rambut cepak, setelah dia menutup pintu kayu jati ukiran Jepara lalu bergegas menyusul dan berdiri dihadapan pria tersebut.

__ADS_1


" Tua bangka menyebalkan!! Bahkan di sisa hidupnya dia tetap membuat hidupku tak tenang! " Ucapnya, lalu mengambil ponsel yang tengah bergetar di hadapan nya.


" Saya tidak mau tahu! buat semuanya lebih chaos! Dan singkirkan semua penghalang! Buat seakan-akan partai kebangsaan yang melakukan nya! " Pria berambut putih itu hampir saja melemparkan ponselnya ke arah pria yang masih setia berdiri tegap di hadapannya.


" Ingat! Jangan pernah menyebut namaku! Mengerti??! " Dan dia benar-benar melemparkan ponselnya ke arah sang ajudan kali ini.


Tap!


Dengan sigap sang ajudan menangkap ponsel paling canggih yang pernah dia lihat itu. Sebuah benda pipih yang mungkin seumur hidupnya tak akan pernah bisa ia miliki dikarenakan harganya yang selangit dan kecanggihan nya yang belum ada tandingan nya.


"Pastikan mereka melakukan apa yang aku perintahkan Jhon! Saya tidak menerima kesalahan sedikitpun! Kau mengerti?! " Lanjutnya dengan tatapan tajam mengarah kepada sang ajudan seraya menerima kembali ponsel miliknya.


"Siap pak! Laksanakan! "


Sementara Jhon berkoordinasi dengan timnya, beberapa kota besar di Indonesia semakin berkecamuk. Penjarahan terjadi di mana-mana, kejahatan semakin meningkat sementara seluruh lapisan aparat hukum bahu membahu menjalin kerjasama untuk mengamankan situasi.


" Pemerintah sudah tidak pro rakyat! Dimana mereka saat rakyat sedang membutuhkan?? ! " Ucap seorang pemuda yang tengah asik menyantap makanannya di sebuah warung makan kecil yang ramai pengunjung.


" Iya... Harga pangan makin naik, mana langka lagi barangnya " keluh ibu paruh baya bertubuh tambun sambil melayani permintaan pembeli, mengambil nasi dan beberapa macam lauk sayur.


"Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin" Lanjut pemuda disamping pemuda tadi, lalu menyeruput kopi susu yang baru saja dipesan olehnya.


"Belum lagi kerusuhan dimana-mana" Imbuhnya.


"Lari...! Lari...! Cepat selamat kan diri! "


Seorang wanita muda dengan ikat kepala berwarna merah berlari tunggang langgang seraya berteriak lantang diikuti oleh puluhan hingga ratusan anak muda lainnya melewati warung makan yang tengah dipenuhi para pembeli.


Sontak seisi warung berlari berhamburan. Mereka tak lagi ingat dengan makanan serta minuman yang tengah disantap nya, bahkan ibu pemilik warung serta karyawannya memilih untuk menyelamatkan diri dengan berlari keluar dari warung mencari tempat aman.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


Seeeeettttt... Duar!!


Bom asap pecah di beberapa lokasi hingga membuat orang-orang lari berhamburan ke segala arah, banyak dari mereka yang terjatuh bahkan terluka karena terinjak.


" Hindari drone! " Teriak seorang pemuda dengan ikat kepala merah persis yang dikenakan oleh gadis tadi, sambil mengarahkan orang-orang agar mereka mencari tempat persembunyian yang aman dari puluhan drone yang diluncurkan oleh pihak yang mengaku pihak keamanan negara yang tengah mengincar mereka.


Drone tersebut sengaja diluncurkan guna mencari orang-orang yang dicurigai sebagai provokator serta dalang kerusuhan yang terjadi di kota-kota besar saat ini.


"Ini gak bisa dibiarkan Sat! Kita sudah mengantongi ijin dari aparat kepolisian untuk berdemo hari ini!" Ujar seorang gadis dengan kemeja lapangan berwarna khaki serta celana taktikal berwarna hitam dan ikat kepala berwarna merah, setelah dia dan teman-temannya berhasil memasuki sebuah ruangan kosong di gedung yang sudah hancur separuh nya tersebut.


"Sepertinya ada orang yang sengaja membuat kerusuhan waktu Ryan sedang berorasi tadi Mar, gue sempet denger ada orang treak robohin pagar sama bakar... bakar... tadi" Pemuda bernama Satria berusaha untuk meyakinkan teman-temannya dengan apa yang sempat dia lihat dan dengar satu jam sebelum mereka akhirnya dikejar-kejar oleh aparat keamanan khusus tadi.


Maryam berdecak kesal, sebagai ketua himpunan mahasiswa di kampusnya dia benar-benar telah mempersiapkan secara matang untuk kegiatan hari ini. Dia dan teman-temannya memiliki sebuah misi, yakni meminta keadilan kepada dewan perwakilan rakyat atas krisis yang melanda negara tercintanya.


Sudah terlalu banyak korban-korban yang berjatuhan selama krisis berlangsungberlangsung! Mau dibawa kemana negeri ini jika krisis dibiarkan seperti ini!


.


.


.


Happy reading man teman tercintah!


Besok kita lanjutkan lagi yah cerita nya 😘😘😘


Happy weekend dan salam cinta untuk keluarga dirumah dari othor...

__ADS_1


__ADS_2