
Nakula dan Sadewa secara bergantian menceritakan tentang kejadian malam itu, saat setelah dia dan Aurora belum lama mengakhiri sambungan telponnya dan tiba-tiba mendapatkan pesan singkat dari Farah.
Dia tidak sengaja merespon panggilan Farah saat dia bermaksud akan menonaktifkan layar handphone nya dan kembali tertidur. Dan pada akhirnya dia terpaksa meminta bantuan kepada temannya Indra dan Boril untuk menggantikan dia memperbaiki mesin mobilnya, padahal hari sudah larut malam.
" Waaahh....Kak Kula ngasih uang Kak Indra sama Kak Boril sebanyak itu?"
" Iya...Itu gak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan waktu mereka, itu malem-malem loh Boo "
" Lagian kenapa si kak Kula sama Kak Dewa gak bilang aja gitu sama dia kalo kakak udah punya calon istri?" Laluna penasaran.
" Jangan ditanya kalo itu Bee, kita udah dengan sangat senang hati memberitahu Farah dan Bella "
" Tetep aja dia ngejar terus " Lanjut Dewa.
" Oke kalo gitu, tetep kak Kula kena hukuman dari aku "
" Kak Dewa juga " Sambung Aurora
" Yaaaahh ...Kok masih kena hukuman sih sayang ...Kan kakak gak salah..." Nakula memajukan bibirnya beberapa senti
" Hukumannya mesti ngajak kita jalan-jalan, tapi di udara " Aurora mengembangkan senyumannya.
Senyuman yang tadinya hampir hilang dari wajah-wajah ganteng Nakula dan Sadewa mengembang seketika.
" Hehe...Gimana kalo besok kita terbang layang lagi? Udah lama banget kan kita gak main bareng ke puncak ?" Kekeh Nakula.
" Tapi kali ini tandem yah, kak Dewa sama kak Kula pengen terbang bareng sama kalian " Sambung Sadewa.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Nakula dan Sadewa sudah menjemput Aurora dan Laluna dikediaman nya, jika dulu Galaxy selalu membekali mereka dengan wejangan kali ini tidak lagi. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu sudah percaya jika mereka akan bisa saling menjaga disana.
Tidak ingin berlama-lama lagi, mereka langsung melesat menuju Puncak Bogor dimana tim terbang layang yang terdiri dari beberapa instruktur dan para asistennya sudah menunggu kedatangan mereka disana.
Setelah beristirahat sejenak sambil mendengarkan kembali instruksi yang diberikan, akhirnya mereka pun sudah bersiap dipuncak gunung untuk meluncur dan melayang di udara.
" Udah siap Boo?" Nakula sudah bersiap untuk meluncur, begitu juga dengan Sadewa dan Laluna.
" Oke ka..!" Aurora mengacungkan jempol nya.
Lalu pasangan Nakula dan Sadewa pun meluncur saling bergantian.
" Love you kak Kula....!!!" Teriak Aurora, sontak Nakula terkejut dengan teriakan kekasihnya itu. Seketika senyumannya mengembang sempurna.
" Love you too Boo...!!" Balasnya.
Tak berbeda jauh, pasangan Laluna dan Sadewa pun sama. Mereka saling meneriakkan isi hati mereka.
" Love you so much Bee !!"
Cukup lama mereka melayang di angkasa, melihat mentari pagi yang begitu indahnya seindah perasaan mereka saat ini. Hingga tiba saatnya mereka untuk mendarat, dengan hati-hati dan sesuai dengan instruksi yang diberikan dan hasil latihan Nakula dan Sadewa mereka pun mendarat dengan mulus di titik yang sudah ditentukan.
__ADS_1
Bahagia karena telah terbang bersama dan mendarat dengan sempurna, Nakula memeluk erat Aurora begitu pula dengan Sadewa dia memeluk erat Laluna.
" Terimakasih sayang..." Bisik Laluna ditelinga Sadewa.
" Love you Bee..." Balas Sadewa, lalu mencium kening gadis itu.
Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di puncak sebelum mereka kembali ke ibu kota, para gadis mengajak para pria untuk berburu oleh-oleh untuk para orang tua mereka.
Sedang asiknya mereka berbincang-bincang memilih dimana mereka akan berburu oleh-oleh tiba-tiba mobil yang dikenakan oleh Sadewa ditabrak oleh mobil yang ada dibelakangnya.
BRAK!!
" Brengsek !!" Pekik Sadewa
" Wa...! Mobil dibelakang kayaknya sengaja deh " Teriak Nakula.
" Cek plat nomor nya La! " Pinta Sadewa sementara dia tetap fokus pada setir mobil nya.
Beberapa kali mobil dibelakang mereka sengaja menabrak mobil mereka, jalanan yang sempit membuat Sadewa tidak leluasa mengendalikan mobil nya hingga dia pun memutuskan untuk membawanya mobil yang dikendarai nya masuk ke jalan tol.
Terjadilah aksi kejar-kejaran antara mobil yang mereka kendarai.
" Bawa mereka ke tempat sepi ka !" Pinta Laluna
Tak berselang lama Sadewa mengarah kan laju mobilnya keluar dari jalan tol memasuki areal bangunan kosong bekas rest area yang ditutup sementara karena sedang di renovasi.
Salah seorang dari mereka mengacungkan senjata apinya, bermaksud untuk menakut-nakuti pasangan Nakula dan Sadewa. Ke enam pria itu pun berjalan mendekati mereka lalu mengepung nya.
" Siapa kalian ?!" Nakula menatap tajam kearah orang yang mengacungkan senjata apinya.
" Anda tidak perlu tahu siapa kami bocah ingusan, tapi kami tahu siapa kalian "
" Serahkan kedua gadis itu maka kalian akan selamat " Lanjutnya.
" Bodoh! Kalian cari mati " Sadewa terkekeh
" Kalian mau kami?" Laluna menghampiri pria yang dari tadi terus berbicara mewakili teman-temannya.
" Buat apa pake repot-repot nabrak segala, tinggal minta baik-baik kan bisa " Lanjut Laluna terkekeh.
" Nih .." Aurora dan Laluna mengulurkan tangannya masing-masing.
" Ambil kalo bisa om " Sambung Aurora.
Meski Nakula dan Sadewa sudah tahu kemampuan kedua gadis kembar pujaan hati mereka, tetapi mereka pun tidak bisa lengah begitu saja. Kedua pria kembar itu tetap dalam mode waspada.
Tak!
Satu sentilan tangan keras mendarat di kening pria yang mencoba untuk meraih paksa tangan Laluna
__ADS_1
" Brengsek!" Pekik pria itu sambil mengelus keningnya.
" Jangan-jangan macam-macam " Ancam pria yang membawa senjata, pria itu menodongkan senjata ke kening Aurora.
" Bergerak atau mati " Lanjutnya.
Secepat kilat Aurora menangkis ujung senapan itu lalu dengan gerakan yang lebih cepat lagi mengambilnya dari tangan pria itu dan menodong balik senjata itu ke kening laki-laki besar itu.
" Siapa yang akan mati sekarang ?" Suara Aurora berubah menjadi dingin, tatapan matanya sangat tajam. Gadis itu menarik salah satu sudut bibirnya.
" Serang mereka!" Pekik pria yang berdiri didepan Nakula.
Satu persatu dari mereka pun mulai menyerang kedua pasang kembar yang telah mereka kepung.
Aurora bukan tidak mau menembakkan senjata itu kepada orang-orang yang telah mengepung nya, dia hanya tidak ingin mengotori tangannya untuk hal diluar tanggung jawab dan tugasnya sebagai abdi negara.
Secepat kilat gadis itu menekan tombol untuk mengeluarkan wadah peluru yang ada didalam senapan lalu memasukkan nya kedalam saku, dia menggunakan senapan kosong itu sebagai alat untuk memukul para pria yang menyerangnya.
Tak memakan waktu lama untuk mereka mengalahkan ke enam pria itu hingga mereka roboh tak bersisa.
" Siapa yang menyuruh kalian??!" Sadewa menginjak dada salah seorang pria yang terkapar.
" Kau tak akan bisa melawannya " Kekeh salah satu pria yang sudah dalam keadaan terikat tangan dan kakinya.
" Kau tahu siapa kedua gadis yang menghabisi kalian dengan mudah ?" Bisik Nakula
Nakula mendekatkan bibirnya ditelinga pria itu lalu membisikkan sesuatu yang membuat kedua bola matanya membulat sempurna.
" Sudah ku bilang...Kau cari mati bodoh !" Nakula mendorong kepala orang itu dengan telunjuknya.
" Tinggalkan mereka disini kak !" Titah Laluna setelah dia dan Aurora serta Sadewa selesai mengikat tubuh mereka satu persatu.
" Om Toni lagi on the way kesini " Sambung Aurora.
Nakula kembali mendekatkan wajahnya kehadapan pria yang masih dalam keadaan terkejut mendengar bisikan darinya.
" Owh ya pak tua, orang yang akan menjemput mu nanti adalah tangan kanannya " Kekeh Nakula sambil menepuk-nepuk bahu pria itu.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1