
Seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan setengah lari menghampiri tuannya, pria itu terlihat panik! Sesekali dia menyeka keringatnya lalu menghela nafasnya kasar, ada apa lagi sekarang pikirnya.
" Selamat pagi Bu! Ijin menghadap!"
" Menghadap diijinkan! Istirahat ditempat!"
" Ibu memanggil saya ?"
" Ya...Aku memanggilmu, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu..."
Wanita paruh baya seumuran dengan Axel itu mulai berbicara dengan sang pengawal, dia mengatakan beberapa poin penting yang harus diingat oleh laki-laki yang sedang mendengarkannya dengan seksama itu.
" Apa kamu mengerti?"
" Siap Bu! Mengerti!"
" Baiklah...Lakukan perintahku!"
Di markas kecil Nakula dan Sadewa.
" Jadi menurut temuan kakak, orang ini yang terlihat mencurigakan?" Aurora bertanya sambil melihat data yang telah dikumpulkan oleh Nakula dan Sadewa.
" Iya Boo, coba cek perputaran uang nya di beberapa bank..."
" Ada uang yang masuk dengan jumlah yang jika di kalkulasikan itu besar banget, dan lihat jumlah uang yang ditarik selama beberapa hari ini " Lanjut Nakula
" Ini berbanding terbalik dengan sumber pemasukan nya " Sambung Sadewa.
" Hei...Hei...Lihat ada penarikan uang lagi, ini barusan kejadiannya " Sadewa menekan tombol-tombol keyboard nya dengan cepat.
" Oke gue cek CCTV nya " Nakula pun mulai menekan tombol-tombol keyboard dengan jemarinya.
" Loh....itu pengawal temannya papi kan?" Aurora menatap wajah Laluna.
" Sepertinya iya..." Laluna memerhatikan dengan seksama aktivitas pria yang ada dilayar monitor. Penampilannya cukup mencurigakan dengan topi sengaja dibuat menutupi wajahnya, gerak-geriknya pun sama.
" Kayaknya dugaan gue bener La, orang ini yang patut dicurigai "
" Tapi kita belum punya cukup bukti untuk kita sodorkan ke om Antoni Wa..."
" Kayaknya kita musti ngawasin rumah itu " Sambung Sadewa.
Seperti yang mereka rencanakan, mereka memang benar-benar mengawasi rumah itu, tetapi dengan cara mereka sendiri. Jika dulu Galaxy memerintahkan Guruh dan Guntur untuk mengintai dari jauh pergerakan musuhnya, sekarang pun mereka melakukan hal yang sama, hanya yang mereka lakukan adalah meng-hack sistem keamanan rumah itu.
.
.
" Pergerakan di arah jam 2 Ra " Bisik Laluna melalui alat komunikasi nya
" Copy that..." Jawab Aurora.
" Wait...Ini..." Lanjutnya
__ADS_1
" Sepertinya perkiraan kita salah Na " Bisik Aurora melalui alat komunikasi yang ada ditelinga nya. Gadis itu pun mulai menekan tombol pada alat yang ada ditangannya sebanyak mungkin.
Sementara di markas kecil Nakula dan Sadewa, Sadewa terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
" Kula..Lo liat drone pengintai yang bulan lalu gue buat gak ?"
" Yang mana? " Nakula menghampiri Dewa yang tengah berdiri di salah satu gondola penyimpanan.
" Itu yang model viper XXI warna item " Dewa menggaruk kepalanya, bingung karena tidak mendapat barang yang sedang dia perlukan saat ini.
Seketika kedua saudara kembar itu saling bertatapan dan membulatkan bola matanya.
" Boo!"
" Bee!"
" Owh shoot! Cek lokasi mereka sekarang !" Keduanya berlari menuju meja kerja dimana mereka meninggalkan handphone nya disana.
Tiba-tiba
" Telaat .!" Aurora berjalan kearah mereka diikuti oleh Laluna dengan menenteng koper berukuran cukup besar ditangannya, sementara Laluna menenteng koper berukuran besar sebesar koper untuk menaruh senjata sniper.
" Kalian dari mana? Kenapa koper-koper itu ada ditangan kalian?" Dewa mengerutkan keningnya.
" Nanti aja ceritanya kak, tolong cek ini " Aurora menaruh koper yang dia bawa keatas meja dan membukanya, lalu mengambil sebuah benda kecil untuk diserahkan kepada Nakula.
Nakula memulai aksinya, dia menyematkan benda kecil itu kesebuah songket yang ada di laptopnya. Tak lama layar di monitornya menampilkan puluhan gambar.
" Dan sepertinya sudah saatnya om Toni tau tentang ini " Sambung Laluna.
" Iya...Bukti yang kita butuhkan pun sudah cukup " Ujar Sadewa.
.
.
" Hhmmm...Cukup mengejutkan juga..." Antoni memeriksa lembar demi lembar hasil penemuan dua pasang manusia kembar yang sedang duduk dihadapannya.
" Apa kalian tau motifnya apa? "
" Di halaman terakhir ada sebuah foto yang berkaitan dengan motifnya om " Jawab Aurora.
Antoni langsung mencari halaman terakhir yang dimaksud oleh Aurora, Seketika dia menggelengkan kepalanya.
" Beliau sedang ada dikantor papi kalian, sebaiknya kita kesana sekarang " Antoni beranjak dari duduknya, diikuti oleh Nakula dan Sadewa juga Aurora dan Laluna.
" Selamat siang pak! Ijin melapor!" Ujar seorang pengawal pria dengan sikap tegapnya.
" Diijinkan, istirahat ditempat sersan!"
" Mayjen TNI Antoni meminta ijin untuk menghadap pak, beliau sudah ada di depan dengan putri-putri bapak juga putra-putra bapak "
" Persilakan mereka untuk masuk sersan, dan minta bagian umum untuk membawakan makanan dan minuman untuk kami "
__ADS_1
" Baik pak! Ijin untuk meninggalkan tempat " Kembali bersikap tegap lalu memberikan penghormatan, setelah itu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu.
" Selamat siang Jendral Galaxy, Jendral Permadhi..Ijin untuk menghadap dan memberikan laporan " Kali ini Antoni harus mengikuti aturan demi menjaga kehormatannya dihadapan Jendral Permadhi, begitu juga dengan Aurora dan Laluna. Ketiganya memberikan penghormatan kepada Galaxy sebelum mereka memberikan laporan hasil temuan mereka.
" Siang Mayjen Antoni, Silahkan duduk "
" Anda sudah mengenal putri-putri saja kan pak Permadhi? Ini Aurora dan ini Laluna "
Kedua gadis itu mencium punggung tangan sang jenderal angkatan udara.
" Wah...Saya tidak bisa membedakan mereka pak, mereka terlihat sama " Permadhi tergelak.
" Kalau mereka sudah sering bertemu kan dengan bapak " Kekeh Galaxy saat Nakula dan Sadewa menjabat tangan Permadhi.
" Anak-anak muda harapan bangsa " Ujarnya dengan bangga.
" Bagaimana Ton? " Galaxy mulai terlihat serius.
Antoni menyerahkan sebuah amplop coklat berisikan hasil temuan putra-putri mereka.
" Mohon maaf sebelumnya pak Permadhi, tapi ini ada hubungannya dengan anda pak " Ujar Toni. Permadhi mengerutkan keningnya, sementara Galaxy terlihat begitu terkejut setelah memeriksa lembar demi lembar kertas laporan yang ada ditangannya.
" Sebaiknya anda melihat sendiri hasil temuan mereka " Galaxy memberikan kertas-kertas yang ada ditangannya.
" Astaga!!! Apa ini??!!" Permadhi menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Dia benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat.
" Darimana kalian mendapatkan semua ini ?!" Memandang kearah Antoni dan Galaxy.
" Tenang dulu pak, biarkan mereka menjelaskan nya langsung kepada bapak " Jawab Antoni.
Lalu Nakula dan Sadewa serta Aurora dan Laluna secara bergantian menceritakan semuanya dari awal mereka mencari kemungkinan dan alibi serta motif dari semua anggota tim Kujang Emas, saat mereka mulai mencurigai kebocoran misi rahasia mereka.
" Maafkan kami pak, tapi kami tidak bisa membiarkan misi ini bocor ke pihak manapun " Ujar Nakula
" Ini menyangkut keselamatan anda semua dan yang paling penting adalah RI 1 dan RI 2 jika alat ini sampai jatuh ke tangan yang salah pak " Sambung Sadewa.
Permadhi menghela nafasnya kasar.
" Tetapi kenapa istri saya ?" Ucapnya lirih.
" Untuk yang ini sebaiknya anda tanyakan langsung kepada sopir bapak sendiri " Jawab Aurora.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1