
Galaxy sempat meragukan jawaban dari kedua pemuda kembar anak dari sahabatnya Arjuna tersebut, bagaimana mungkin calon menantunya itu mempunyai kepiawaian untuk menerbangkan pesawat tempur? Pikirnya.
Tetapi setelah Nakula dan Sadewa memperlihatkan rekaman video dimana Queen sedang menerbangkan pesawat simulasi tersebut, baru lah Galaxy yakin dengan ucapan keduanya.
“Sejak kapan kalian mengajarinya?” Galaxy bertanya dengan mata yang tetap fokus menonton rekaman video Queen.
“Sudah lama om, Queen sendiri sudah mahir menerbangkan pesawat CN” Jawab Nakula.
“Awalnya kami sempat ragu, tetapi karena Queen selalu memaksa akhirnya kami buatkan pesawat simulasi itu” Sambung Sadewa.
“Apa om Antoni tahu?” Galaxy menatap keduanya secara bergantian.
“Bisa dipenggal kepala kita kalau om Toni sampai tahu om” Nakula menggaruk tengkuk lehernya.
“Om akan menandatangani surat ini, tetapi dengan syarat om sendiri yang akan melihat gadis itu menerbangkan pesawat didampingi oleh kapten pilot Mahandhika” Galaxy mengacungkan surat yang telah ditandatanganinya ke hadapan Nakula dan Sadewa.
“Yes!! Makasih om..” Seru Nakula.
“Tapi jangan kasih tahu om Antoni dulu yah om” Sambung Sadewa.
Selesai dengan drama pesawat Sukhoi, Galaxy pun mengutarakan maksudnya mengundang kedua pemuda jenius itu ke kantornya. Selain karena aksi peledakan bom pada malam sebelumnya, sang Jendral pun meminta kepada keduanya untuk mengaktifkan kembali projek kujang.
Setelah pertemuannya dengan rekan-rekan sejawatnya sehari sebelumnya, Galaxy memutuskan untuk menjalankan kembali projek rahasia tersebut karena disinyalir dia telah mencurigai adanya penunggang dari kerusuhan yang sedang terjadi saat ini.
Bukan tanpa alasan Galaxy mencurigai salah satu rekannya tersebut, karena setelah beberapa lama Guruh dan Guntur melakukan pengintaian keduanya pun menemukan bukti-bukti adanya keterkaitan peristiwa reformasi pemerintahan tersebut dengan salah seorang rekan sejawatnya.
“Negara ini milik masyarakat Indonesia, bukan milik seseorang yang mempunyai kepentingan” Ucap Galaxy, lalu mengeluarkan alat yang dulu dibuat oleh Nakula dan Sadewa dari dalam laci meja kerjanya.
“Aku yakin kalian tahu apa yang harus kalian lakukan dengan benda ini” Lanjutnya.
“Operasi kujang telah diketahui oleh beberapa jendral, aku akan mengganti nama operasi ini menjadi operasi Petir” Galaxy menghela nafasnya sejenak, dia menatap lekat kedua pemuda yang tengah duduk dihadapannya.
“Ingat, hanya aku, Antoni, Langit serta kedua pamannya dan kalian berdua yang mengetahui operasi rahasia ini”
“Baik om, beri kami waktu satu minggu untuk memperbaharui alat-alat ini” Ucap Nakula.
Nakula dan Sadewa kembali ke laboratoriumnya setelah pertemuan rahasianya dengan sang calon mertua selesai dilaksanakan, mereka tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk menambahkan berbagai jenis fitur yang lebih canggih kedalam alat-alat tersebut.
__ADS_1
Sementara ditempat yang lain Langit tengah menerima perintah dari sang ayah untuk menemui kedua sahabatnya tersebut melalui sambungan teleponnya, saat ini anaknya tersebut tengah berada di lokasi kerusuhan bersama dengan pasukan pengamanan dari kepolisian.
“Baik! Laksanakan!” Jawab Langit, lalu meminta ijin kepada sang komandan dari kepolisian untuk pergi meninggalkan lokasi.
Tak lupa Langit membeli beberapa jenis makanan dari sebuah restoran cepat saji yang masih buka untuk dirinya dan kedua sahabatnya tersebut.
“Jadi gak ada yang nyambut kedatangan gue nih?!” Ucap Langit ketika dirinya memasuki sarang kedua ilmuwan gila itu, dan mendapati keduanya tengah asik dengan alat-alat ditangannya.
“Ngapain lo kesini? Gak ada kerjaan apa?!” Cibir Nakula, yang dihadiahi pukulan pelan Langit di lengannya.
“Sakit anjir!” Nakula mengelus lengannya.
“Makanya jaga tuh mulut, gue disuruh bokap buat ngawasin kalian” Balas Langit, lalu berjalan mengelilingi keduanya.
“Bawa apaan lo Ngit? Kebetulan gue laperrr” Sadewa mencium wangi makanan dari bungkusan yang diletakan oleh Langit diatas mejanya.
“Ya udah kita makan dulu deh, mumpung masih panas tuh makanan”
Sementara di lokasi yang berbeda, tepatnya di gedung Majelis Perwakilan Rakyat.
Pada anggota majelis tengah mengadakan rapat penting berkaitan dengan Pemilu yang sebulan lagi akan diselenggarakan, mereka harus memutuskan untuk mempercepat proses pemilihan tersebut atas desakan rakyat.
Selesai pembacaan putusan ketua majelis langsung mengetuk palunya, dia atas pertimbangan dan atas mufakat dari musyawarah yang telah selesai dilaksanakan memutuskan untuk mempercepat proses pemilu tersebut hingga dua minggu yang akan datang.
Pertimbangan tersebut karena belum merata nya surat suara tersebar ke seluruh pelosok negeri, dia meminta kepada pihak yang terkait untuk bekerjasama dengan tim dari kepolisian dan TNI untuk mempercepat pengiriman surat suara tersebut.
Drrrtttt….Drrrrttt…
Langit merogoh saku kemejanya untuk mengambil ponsel yang dia taruh didalamnya, dia membaca pesan singkat yang masuk lalu menghela nafasnya kasar.
“Kenapa lo?” Sadewa mengerutkan keningnya.
“Pemilu dipercepat, gue harus mengawal pengiriman surat suara” Jawab Langit, lalu meneruskan kembali santapan siangnya.
“Segitu parahnya…” Ucap Nakula.
“Berapa lama lagi kalian bisa menyelesaikan alat itu?” langit menatap kedua sahabatnya lekat, dia berharap kepergiannya kali ini sudah dalam keadaan memakai alat yang diciptakan oleh Nakula dan Sadewa.
__ADS_1
“Punya lo kita selesein besok Ngit, kita kebut malam ini” Jawab Sadewa.
“Itu bagus, lusa gue udah harus ada di lapangan”
.
.
Sementara Langit berada bersama dengan Nakula dan Sadewa, Galaxy saat ini tengah berada di kantor milik Arjuna, ayah dari kedua pemuda kembar yang menemuinya pagi ini.
“Semua sudah saya siapkan bapak Galaxy yang terhormat, dalam waktu kurang dari dua jam seluruh pasukan anda beserta pasukan kepolisian sudah bisa menggunakan alat tersebut untuk menghalau masa dan melindungi diri” Ucap Arjuna sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Kita tidak ada waktu lagi Juna, anggota kami sudah mulai kewalahan” Balas Galaxy.
“Masa sudah mulai berkumpul kembali di areal gedung DPR dan MPR” Lanjut Galaxy setelah dia mematikan layar ponselnya.
Galaxy menerima kabar dari Guruh dan Guntur mengenai kondisi terbaru yang sedang terjadi di lapangan saat ini.
Tidak hanya Galaxy serta Langit yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka, Aurora dan Laluna pun sama, terlebih saat ini mereka telah kembali ke lapangan. Bekerja sama dengan tim dari kepolisian untuk mengamankan kerumunan di wilayah kedua gedung tersebut.
Mahasiswa bergabung dengan para pemuda dan masyarakat telah berkumpul dan melakukan orasi untuk mendukung dipercepatnya pemilu, keadaan aman dan terkendali hingga tiba-tiba sekumpulan orang datang sambil meneriakkan dukungan mereka terhadap presiden Bacharudin dan mereka menginginkan beliau untuk tetap memerintah.
Dan bentrokan pun tidak lagi terelakkan.
“Semprotkan air!” Pekik Aurora, diikuti oleh teriakan para petugas kepolisian untuk meminta kepada para pemuda untuk tidak melakukan tindakan anarkis.
Keadaan semakin memanas ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah yang tidak diketahui, Laluna yang mencurigai sasaran tembak segera melindungi pemuda tersebut hingga dirinya lah yang terkena tembakan itu.
“Luna! Luna!”
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini
Happy reading