
" Lo udah cek plat nomor mereka La?" Sadewa mengarahkan mobil yang dia kendarai menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Antoni atas permintaan Galaxy.
" Udah...Disini tertera atas nama Gunawan Santoso tapi gue gak yakin ini dalang dari aksi tadi " Sadewa menekan tombol-tombol iPad nya.
" Apa ini ada hubungannya dengan alat yang lagi kita uji coba yah? Kalo iya berarti informasi tentang alat itu bocor Wa " Lanjutnya.
" Gila kalo sampe bocor La, artinya salah satu dari tim kita yang bocorin " Ujar Nakula.
" Kita liat aja nanti apa yang dikatakan sama Om Toni dan Papi dari hasil interogasi orang-orang tadi ka " Laluna menimpali.
Sampai ditempat tujuan, mereka langsung menuju ke sebuah ruangan dimana sudah terdapat enam orang yang tadi mencoba menghadang mereka dan Antoni serta dua orang anak buahnya.
" Papi mana om?" Aurora mengedarkan pandangannya
" Untuk hal sekecil ini papi kalian gak usah tau sayang "
Aurora dan Laluna mengangguk bersamaan.
" Dia cukup menerima hasil laporan nya saja " Lanjutnya.
" Siapa mereka om ?" Tanya Sadewa, dia sudah tidak sabar mengetahui siapa yang ingin menculik kekasihnya.
" Itu yang akan kita bicarakan " Antoni memperlihatkan keseriusannya. Dia mengajak dua pasang kembar itu ke ruangan yang berbeda.
" Sepertinya ada kebocoran di projek rahasia kita " Antoni menghela nafasnya sejenak
" Kalian tau kan projek ini hanya beberapa orang saja yang mengetahui nya?" Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu menatap ke arah Nakula dan Sadewa
" Aku udah curiga dari tadi om, cuma aku masih bingung siapa yang berani membocorkan rahasia besar ini.." Sadewa berujar.
" Masalahnya semua orang didalam tim ini adalah orang-orang pilihan om dan om Axy, mereka gak mungkin berani berbuat hal seperti ini kan?" Sambung Nakula
" Kamu meragukan integritas mereka ?" Tanya Antoni menajamkan tatapan matanya
" Bukan om, maksud Kula mungkin salah seorang dari mereka mendapatkan tekanan dari pihak lain om..." Nakula berusaha untuk menjelaskan kembali.
" Nah iya...Tadi salah satu dari mereka bilang kalo kita gak mungkin bisa ngelawan orang itu pas kita tanya siapa yang nyuruh mereka " Sambung Sadewa.
Antoni memejamkan matanya, otaknya berputar sempurna mencari tahu segala kemungkinan dari rekan-rekan yang mengetahui projek ini.
" Ada tugas tambahan untuk kalian " Ucap Antoni setelah dia membuka matanya kembali.
__ADS_1
.
.
" Huh...Gimana caranya coba nyelidikin orang-orang itu?" Nakula menghela nafasnya kasar, saat ini dia menggantikan saudara kembarnya Sadewa untuk mengemudikan mobilnya.
" Kita ke markas kita dulu aja La, nanti kita pikirin disana "
" Kalian kita anterin pulang dulu aja yah, udah sore nanti mami sama papi kalian khawatir " Lanjut Sadewa.
" Engga ka, kita ikut " Ucap Laluna singkat, diikuti oleh anggukan kepala Aurora, imutnya hilang separuh nya pikir Sadewa.
" Oke kalo gitu Bee.. " Sadewa tidak bisa membantah jika kekasihnya ini sudah menyalakan mode perangnya.
" Gimana menurut kalian?" Sadewa mengakhiri kalimatnya.
Sesampainya mereka di markas kecil mereka, Nakula dan Sadewa mulai menceritakan rencana-rencana mereka.
" Apa itu gak terlalu beresiko kak? Lagian kita harus meminta persetujuan om Tony dulu kan ?" Tanya Aurora.
" Justru rencana kita ini jangan sampai satu orangpun diantara mereka yang tahu, anggap saja ini misi didalam misi " Jawab Nakula.
" Itu bisa membahayakan posisi papi kalian dan om Antoni, mereka bisa langsung curiga " Sambung Sadewa.
" Oke kalo gitu, kapan rencana ini kita mulai ?" Laluna bertanya.
" Malam ini aku sama Nakula akan mulai meluncurkan alatnya "
" Yakin aman ?"
" Aman Bee...Sangat aman " Sadewa bertatapan dengan Nakula dan mengembangkan senyumannya bersama.
" Oke kalo gitu, aku percaya sama kalian " Ujar Aurora.
Aurora dan Laluna sangat mirip dengan ayahnya Galaxy jika sudah menyangkut urusan negara, kecerdasan dan ketelitian juga keterampilan mereka dalam memecahkan masalah tidak bisa dianggap enteng meski mereka adalah wanita.
" Udah dong Boo, mode perangnya di off-in dulu " Rayu Nakula, menarik Aurora masuk kedalam pelukannya lalu mencium puncak kepala gadis itu. Gadis itu mengelus punggung pria jangkung dihadapannya.
Kejadian yang sama dialami oleh Laluna, Sadewa pun meraih dirinya masuk kedalam pelukannya dan mencium puncak kepala nya.
" Just becareful " Bisik Laluna
__ADS_1
" We will Bee..." Sadewa mengurai pelukannya, dia menatap intens wajah cantik wanitanya lalu memberanikan diri untuk mendekat kan wajahnya untuk menautkan benda kenyal miliknya.
Cup !
Jantung nya berpacu tiba-tiba, apalagi saat Laluna meraih tengkuknya dan tidak melepaskan tautan bibirnya.
Melihat adegan itu Nakula memindahkan posisi membelakangi mereka, menghalangi pandangan mata Aurora. Dia pun melakukan hal yang sama terhadap gadis yang ada dihadapannya.
Nakula melepaskan tautan bibirnya dan menyatukan kening mereka bersama sambil menghela nafasnya, dia bisa mencium aroma peach dari mulut Aurora sementara gadis itu bisa mencium wangi mint dari kekasihnya.
" I Love you so much Boo.."
Gadis itu hanya mengangguk pelan menjawab pernyataan cinta kekasihnya, dia pun sama merasakan cinta yang semakin dalam kepada pria yang ada dihadapannya ini.
" Kok pulangnya malem sayang ?" Tanya Axel, wanita itu menyambut kepulangan putri kembar nya.
" Maaf Tan, kita sampe lupa waktu " Nakula menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nakula masih mengingat momen ciuman mereka tadi, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meski mereka masih kaku karena hal itu adalah pertama kalinya bagi mereka masing-masing, tapi rasanya sungguh indah.
" Dasar kalian ini..." Kekeh Axel.
" Mau masuk dulu?" Lanjutnya
" Engga Tan, kita masih ada urusan " Jawab Sadewa.
" Kita pamit yah Tan....Bee "
" Bye Tan...Boo.."
" Oke kita balik ke markas " Pinta Sadewa sesaat setelah mobil yang dikendarai oleh Nakula meninggalkan halaman rumah besar itu.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1