
Langit menatap nanar keadaan di luar kantornya. Melalui jendela besar itu dia dapat melihat dengan sangat jelas keadaan dihalaman yang kini dipenuhi dengan barikade berlapis yang dibuat oleh para prajurit atas perintah nya. Beberapa tahun yang lalu di depan sana cukup dijaga oleh dua orang prajurit saja, kini rasanya tak mungkin itu dilakukan mengingat terakhir kalinya markas komando baret merah itu diterobos oleh sekelompok orang dengan cara yang anarkis.
Rasanya baru kemarin Langit menerima laporan tentang kejadian yang tiba-tiba tersebut, dimana dua orang prajurit yang sedang berjaga terluka parah karena berusaha untuk menghalau orang-orang yang entah dari mana mereka mendapat alat-alat berat untuk memasuki markas komandonya. Beruntung 5 orang prajurit baret merah datang dengan cekatan menolong kedua orang temannya tersebut, hingga kedua lolos dari maut.
Dalam benaknya andai saja dirinya masih seusia Langit anak sulungnya, mungkin dia akan berada di antara 5 orang prajurit tersebut. Menghalau kelompok orang anarkis tersebut keluar dari halaman markas komando dengan sekuat tenaga. Masih ada pertanyaan besar dalam benaknya akan kejadian hari itu, pria yang kini tak muda lagi itu hingga saat ini masih mencari tahu bagaimana mereka bisa sampai disana lengkap dengan peralatan berat untuk merobohkan pagar setinggi dan sekuat itu.
Apakah dirinya teledor? Mengapa mereka tidak mengetahui pergerakan sehebat itu? Mereka terkenal dengan pasukan elit yang bergerak dalam diam, yang selalu sepuluh langkah lebih waspada hingga sebelum musuh berpikir untuk bertindak, mereka telah terlebih dahulu mengetahui nya. Lalu mengapa hari itu semua itu bisa terjadi? Harga diri Langit telah tercoreng! Bahkan hingga saat ini informasi mengenai siapa dalang dibalik pergerakan tersebut masih simpang siur, meski sebenarnya pasukan rahasianya telah mengantongi beberapa nama.
" Huffhhh... Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi " Langit bergumam.
"Bukankah begitu nak? " Lanjutnya, lalu memutar tubuhnya. Menyadari seorang prajurit tampan tengah berdiri dibelakang nya sejak tadi.
Joshua, prajurit tangguh yang telah lama berdiri dibelakang Langit tanpa sepengetahuan pria yang dianggap nya sebagai seorang pemimpin hebat itu tersenyum, ternyata sang Jendral masih sehebat itu pikirnya. Diapun berjalan mendekati pria tersebut, lalu penghormatan kepadanya.
"Bagaimana perkembangan terbaru di lapangan? " Langit mempersilahkan sang anak untuk menduduki kursi di hadapan nya dengan gerakan tangannya.
Jika biasanya seorang prajurit menyerahkan sebuah map sebagai bentuk laporan, tetapi dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan saat ini, maka Joshua menyampaikan informasi tersebut secara langsung.
" Siap Pak! " Langit pun menjatuhkan bokongnya dikursi di hadapan sang Jendral dan memaparkan hasil temuan yang telah ia dapatkan dari anggota tim nya.
" Apa kamu dan tim mu yakin dengan hasil temuan ini nak? Rasanya mustahil... " Langit menghembuskan napasnya berat, setelah sang anak selesai menyampaikan laporan yang dimaksud.
" Siap pak, yakin! " Jawab pemuda tampan tersebut tanpa adanya keraguan sedikitpun.
Memang tak salah selama ini kecurigaan Langit tentang peristiwa yang selama beberapa tahun ini terjadi, dari awal mula krisis ekonomi melanda negeri ini hingga berakibat pada anarkisme masyarakat di hampir seluruh negeri. Sulit nya mendapatkan informasi tentang siapa dalang kerusuhan-kerusuhan yang sebenarnya, dan akses-akses untuk mendapatkan hal tersebut pun hampir membuat semua pihak kewalahan.
__ADS_1
Orang-orang yang diduga adalah dalang dari peristiwa luar biasa ini hanyalah pion-pion catur yang digunakan sebagai kambing hitam oleh dalang yang sebenarnya! Siapa yang tidak tergiur dengan setumpuk rupiah saat situasi genting seperti ini? Mereka rela mendekam dipenjara selama beberapa tahun, tetapi kehidupan keluarga nya terjamin selama nya! Setidaknya itu yang mereka kira.
Ini gila! pikirnya.
"Kita harus lebih hati-hati lagi Jo" Langit beranjak dari kursinya, diikuti oleh prajurit kepercayaan nya itu.
"Perintahkan semuanya untuk segera berkumpul di tempat biasa, seperti biasanya"
Sejujurnya ada rasa enggan baik dibenak Langit tentang pertemuan rahasia yang akan mereka selenggarakan segera itu, masih segar dalam ingatan keduanya tentang dua adik kembarnya Aurora dan Laluna yang terluka akibat menghalau kerusuhan beberapa waktu yang lalu yang menyisakan trauma mendalam apalagi pada Axel sang mama. Hampir sebulan Axel mengalami insomnia gara-gara peristiwa tersebut, tapi anehnya nyaris tidak berdampak pada kedua anak gadisnya yang dikenal tangguh tersebut.
Kedua gadis cantik yang miripnya bak pinang tak terbelah itu malah membanggakan bekas luka di tubuhnya yang kini tidak mulus lagi itu. Disisi lain Nakula dan Sadewa yang hingga saat ini belum juga berhasil mengajak keduanya ke pelaminan, tampak sedikit frustasi dengan tingkah absurd Aurora dan Laluna. Kedua pemuda tampan nan jenius tersebut terpaksa memutar otaknya lebih keras lagi untuk menciptakan alat baru yang lebih canggih untuk memantau pergerakan dua gadis pujaan hati mereka masing-masing, agar kejadian serupa tak pernah mereka alami lagi.
Bayangkan saja, belum kering luka-luka di tubuh mereka, bahkan dokter belum mengeluarkan ijin untuk keduanya keluar dari kamar mereka, Aurora dan Laluna diam-diam menyelinap keluar rumah melewati ketatnya penjagaan! Bukan hanya Langit yang dibuat pusing mencari keberadaan keduanya, Nakula dan Sadewa bahkan lebih frustasi lagi dibuatnya. Pemuda kembar itu menemukan alat-alat yang seharusnya dikenakan Aurora dan Laluna tergeletak begitu saja diatas tempat tidur! Belum lagi sang ibu yang menangis histeris di kamar nya dan itu membuat Langit ketar ketir dibuat nya.
"Tenang La, mereka gak bakalan jauh-jauh perginya" Sadewa berusaha menenangkan sang kakak yang hanya terpaut setengah menit tersebut.
" Lu pikir mereka lagi jajan cilok hah?! Liat di luar sana Wa! Keadaan lagi genting gini! " Nakula kembali mengacak rambutnya.
"Ini lagi..! " Lanjut Nakula sambil melemparkan jam tangan milik Aurora dan Laluna keatas tempat tidur.
" Gua udah wanti-wanti biar jam tangan ini jangan sampe lepas dari tangan mereka, itu biar kita mudah nyari keberadaan mereka " Lanjutnya, kali ini suara Nakula terdengar parau.
Kekhawatiran terhadap Aurora dan Laluna mengalahkan kemarahan nya, saat itu justru dia ingin sekali menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Begitu pula Sadewa.
Dan disaat semua orang sibuk melakukan pencarian, tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah berusaha memasuki kamar melalui jendela. Nakula dan Sadewa bergegas mendekati asal suara, keduanya pun mengulurkan tanganya untuk membantu kedua gadis tersebut memasuki kamar setelah mengetahui bahwa Aurora dan Laluna lah yang tengah berusaha menaiki penyangga tanaman hias yang kebetulan berada dekat dengan jendela kamar tersebut.
__ADS_1
"Eehh... " Cicit Aurora bersamaan dengan Laluna dengan senyuman tengilnya.
" Darimana kalian hah! " Suara menggelegar Langit tiba-tiba terdengar setelah sang kakak membanting pintu ketika memasuki kamar pribadi adik kembarnya.
Aurora dan Laluna hanya bisa tertunduk dan terdiam, keduanya tahu jika sang kakak tengah dilanda emosi jiwa bahkan sang mama pun tidak bisa meredam nya. Nakula dan Sadewa kali ini mendukung Langit, keduanya berdiri menatap gadis kembar tersebut dibelakang sang sahabat.
" Jawab! " Kali ini tatapan tajam Langit bak pedang yang menghujam Aurora dan Laluna.
" Maafin kita kak.. " Cicit Aurora pelan
" Jawab pertanyaan ku! " Kembali Langit meninggikan suaranya.
" Kita tadinya mau ke Mako ka, cuma di perjalanan banyak mahasiswa yang lagi demo, jadi kita pulang lagi" Kali ini giliran Laluna yang bersuara.
" Gak sekalian beli cilok? " Gumam Nakula
BUGH!
.
.
.
Happy sunday everyone 😘😘
__ADS_1