
Nakula dan Sadewa sama-sama memandangi makannya dengan tatapan kosong, tubuh keduanya memang berada di ruang makan bersama dengan kedua orang tuanya yang sejak tadi diam-diam mengamati kedua anak kembarnya yang tampan itu, tetapi nyawa baik Nakula maupun Sadewa berada di suatu tempat entah dimana.
"Ekhm... " Arjuna berpura-pura berdeham, mencoba untuk mengembalikan ingatan kedua anak kesayangan ke dimensi bumi ini.
Lagi-lagi upaya Arjuna sang ayah tidak membuahkan hasil, ini ketiga kalinya sang ayah mencoba untuk mendapatkan perhatian Nakula dan Sadewa.
"Sepertinya hanya para gadis milik Galaxy yang bisa menyadarkan mereka Hunny" bisik sang istri, setelah menyadari upaya suami tercinta nya yang sia-sia.
Bagaimana cara dirinya mendatangkan kedua gadis cantik itu saat ini juga pikir Arjuna, tidak mungkin dia memaksa Jendral mengerikan itu untuk membawa putri-putri kesayangan kemari. Apalagi disaat seperti sekarang ini, dimana penjagaan terhadap keduanya semakin diperketat! Bak kue lapis pandan coklat favoritnya!
Arjuna sempat mengangkat telunjuknya pertanda dia memiliki sebuah ide brilian, tetapi secepat mungkin dia urungkan karena rancangan mesin waktunya masih jauh dari sempurna! Boleh dibilang, masih dalam bentuk kertas dengan deretan angka serta garis-garis.
" Owh... Selamat pagi nak Aurora dan Laluna sayang "
Sontak suara merdu sang ibu membangunkan kedua anak kembarnya dari tidurnya yang panjang, atau setidaknya seperti itu karena keduanya sejak tadi memang mirip orang tidur dengan mata terbuka. Nakula dan Sadewa langsung berhamburan dari duduknya mencoba mencari keberadaan kedua gadis pujaan hari mereka masing-masing.
" Bee... " Panggil Nakula kepada Aurora
" Boo... " Panggil Sadewa kepada Laluna
" Aw.... aw... aw.... " Tiba-tiba rasa pedas dan perih melanda kedua telinga kanan dan kiri Nakula dan Sadewa ketika sang bunda menarik telinga keduanya.
"Rasain yaa... dari tadi itu makanan buatan bunda dianggurin" Keluh nya.
"Maaf bun.... Sorry bun.. " Nakula dan Sadewa memohon dengan kedua tangannya yang menangkup, sementara Arjuna tertawa terbahak-bahak.
"Rasain!"
.
.
__ADS_1
Mood Nakula dan Sadewa pagi ini memang kurang begitu baik, semalam keduanya berbincang-bincang mengenai Aurora dan Laluna. Baik Nakula maupun Sadewa sama-sama masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu saat kedua gadisnya mengalami cedera. Kedua pemuda tampan tersebut memutar otaknya, bagaimana caranya agar kejadian tersebut tidak pernah terulang kembali.
Mustahil jika Nakula dan Sadewa meminta Aurora dan Laluna untuk berhenti di kesatuan, itu sama saja tidak menghargai prinsip kedua gadisnya yang memang bercita-cita untuk mengabdi pada negara. Toh jika keduanya diminta untuk berhenti menjadi scientist hanya karena resiko yang sebenarnya besar itupun pastinya enggan.
"Kita harus bicara dengan mereka Wa... Gue gak tau apa yang bakalan terjadi kalo Aurora terluka lagi pas lagi tugas"
Dan disinilah kedua pasang muda mudi kembar yang sedang dimabuk cinta itu sekarang, mencoba meyakinkan pasangannya masing-masing agar mereka mengerti dan mau menerima resiko yang memang akan selalu mereka terima.
"Please Bee, dengerin aku dulu... " Pinta Nakula dengan penuh harap. Sudah berkali-kali dirinya mencoba untuk membuat Aurora mengerti jika dirinya begitu sangat mengkhawatirkan gadis itu.
Permintaan Nakula sebenarnya simpel menurut nya, pemuda itu hanya ingin hubungan mereka segera di sahkan baik dimata agama maupun hukum. Tetapi itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan sekarang ini menurut Aurora, mengingat masa pendidikan yang belum berakhir.
" Please kak, aku sudah bilang saat ini belum bisa ka...keadaan tidak memungkinkan kita untuk itu, aku pun ingin melanjutkan kuliah buat menunjang karir aku di TNI ka " Aurora memohon pengertian dari kekasih nya, ini pun bukan kali pertama gadis itu mencoba untuk membuat Nakula mengerti akan situasi yang saat ini sedang terjadi.
"Bee! Aku tau banget itu dan aku paham betul dengan cita-citamu yang setinggi langit itu! Tapi aku juga mau kamu mengerti tentang kekhawatiran aku ini Bee...Setidaknya kita bisa tunangan dulu!"
"Lalu setelah itu apa hah! Kamu akan mengatur hidupku?! Begitu?!! "
Aurora menatap Nakula dengan tatapan nanar, air mata yang sekuat tenaga ditahannya mengalir begitu saja dari sudut matanya. Kekasih hati yang selama ini dia kenal sebagai pemuda yang lembut, pengertian serta penuh dengan canda tawa kini hilang dimatanya.
"Bee... Maafkan aku.... aku... " Nakula mencoba untuk memeluk Aurora, tetapi ditepis nya.
"Jangan sentuh aku ka... " Ucapnya lirih. Setangguh apapun dirinya jika pria yang dicintainya meninggikan suara didepannya, itu akan menoreh luka di hatinya.
Mana janji Nakula untuk selalu mengerti dirinya? Mana janji Nakula yang tidak akan pernah menyakiti hatinya dan akan selalu melindungi dirinya? Bahkan sang ayah serta kakak tidak pernah meninggikan suaranya, terkecuali memang dirinya berbuat kesalahan yang benar-benar fatal!
"Bee... aku mohon, maaf kan kakak... kakak gak bermaksud untuk... Bee..!
Belum rampung ucapan Nakula, tetapi gadis itu sudah berlalu dari hadapannya. Bukan hanya hati Aurora yang terluka, tetapi hatinya pun ikut terluka. Terluka karena penyesalan yang teramat sangat.
Kondisi yang sama terjadi kepada Sadewa, pria yang memiliki kemiripan 99% dengan sang kakak itu pun tidak berhasil membujuk sang kekasih. Alih-alih mendapatkan persetujuan dari Aurora, dirinya malah bertengkar dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Boo!!... Tunggu...! Dengarkan aku...!" Teriakan Sadewa bahkan tidak diindahkan oleh gadis itu, dia bersama dengan Aurora meninggalkan keduanya di tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu luang bersama, di lab belakang rumah Nakula dan Sadewa.
"Biarin mereka Wa, mereka butuh waktu sendiri... Sebaiknya kita juga" Nakula menahan tubuh sang adik dengan tangannya, lalu memutar tubuhnya meninggal laboratorium menuju ke kamarnya.
Kejadian tersebut tak lepas dari perhatian sang bunda, diam-diam wanita itu mencuri dengar percakapan anak-anaknya sejak mereka bersama diruangan tersebut.
"Huh... Dasar anak-anak Arjuna, apa susahnya sih merayu gadis?? Mana mungkin mereka mau dengerin, lah di laboratorium... gak romantis banget.. " sang bunda menggerutu dengan bibir yang maju lima senti, dia menarik membuang napasnya kasar lalu pelan-pelan meninggalkan tempat persembunyian nya.
Sementara itu didalam mobil, kali ini Aurora yang berada dibelakang kemudi, sementara Laluna duduk di sampingnya.
"Gue gak nyangka, kak Kula bisa sejahat itu! " Isak Aurora, lantas menyapu air matanya dengan punggung tangannya.
"Kayaknya kita musti putusin mereka Ra, bisa ribet urusannya kalo kayak gini... " Laluna geram, dia memijat keningnya sendiri.
"Gak nyadar apa situasi lagi genting gini?! Sempet-sempetnya mikir nikah...! Apaan sih... " Lanjutnya.
Tanpa menyadari bahwa sejak tadi mereka tengah diikuti oleh mobil sedan hitam dibelakangnya.
.
.
.
Sunday is Money day!
Happy reading yaaaa...
Sorry, othor baru bisa up sehari satu episode...
Love you all sekebon sawit!
__ADS_1