Para Penakluk Bima Sakti

Para Penakluk Bima Sakti
Sukhoi Untuk Queen


__ADS_3

“Getting better Queen, kayaknya lo tinggal terbangin pesawat tempurnya deh ini” Ujar Nakula, saat melihat persentase kepiawaian Queen menerbangkan pesawat simulasi semakin naik.


“Menurut lo dimana kita bisa nemuin pesawat tempur yang bisa kita pinjem?” Kekeh Queen, yang niatnya hanya bercanda saja.


“Kayaknya gue punya ide bagus buat ini, tapi gue bakal butuh bantuan uncle G kuadrat” Jawab Sadewa, sambil memainkan kedua alisnya.


“Lo gila! Gue cuma becanda lagi!” Sanggah Queen.


“Lah, buat apa lo belajar terbangin pesawat tempur kalo lo gak pernak terbangin pesawat benerannya?” Nakula meraih ponselnya, dia benar-benar akan meminta bantuan kepada kedua paman kembar Aurora dan Laluna itu.


“Kalo pesawat CN kan lo udah mahir Queen”Balas Sadewa, saudara kembar Nakula ini seperti sedang mencari-cari sesuatu di atas rak penyimpanannya.


“Lo nyari apaan sih Wa?” Tanya Queen penasaran, gadis itupun mengikuti Sadewa mencari-cari sesuatu diantara tumpukan barang-barang ciptaan kedua ilmuwan gila itu.


“Hadiah buat uncle G kuadrat lah, apalagi…?” Jawab Sadewa, lalu mengambil satu kotak berukuran sedang yang entah apa isinya.


“Nah ini dia…!” Lanjutnya, lalu menaruh kotak tersebut di atas meja dan mengeluarkan isinya.


Ternyata didalamnya ada dua kotak kecil berisi binokular canggih ciptaan Nakula dan Sadewa, alat ini pasti sangat dibutuhkan oleh kedua paman G untuk melakukan pengintaian jarak jauh.


Pasalnya selain fitur infra red yang sudah biasa terdapat pada alat itu, keduanya menambahkan fitur Deep X-Ray atau tembus pandang berkekuatan ekstra. Dengan kata lain dapat menembus pandang meski itu mengandung unsur metal tebal sekalipun.


“Lo yakin kalo itu bisa bikin mereka mau bantuin kita?” Tanya Nakula, dia melipat kedua tangannya di dada.


“ Engga lah…Satunya lagi kejutan” Kekeh Sadewa.


Sementara ditempat lain dimana Aurora dan Laluna berada saat ini.


Kedua gadis itu tengah berusaha untuk menarik seorang anggota kepolisian wanita dibantu dengan rekan-rekannya yang lain, dari sasaran kekerasan yang dilakukan oleh pemuda setempat yang sedang melakukan pembakaran ban mobil ditengah jalan.


“Pegang tanganku!” Pinta Laluna, sementara Aurora dan teman-temannya tengah menghalangi pukulan dari para pemuda tersebut dengan menggunakan tameng.


“Aku tidak bisa! Jari-jari tanganku patah!” Seru polisi wanita tersebut sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di jemari tangannya.


Dua orang dari para pemuda itu telah berhasil menghantam jemari petugas wanita itu dengan menggunakan tongkat baseball, saat wanita itu mencoba untuk membubarkan mereka.


“Luncurkan gas air mata!” Titah Aurora.

__ADS_1


Seperti buah simalakama saat ini bagi mereka. Jika mereka melakukan perlawanan, maka para pemuda itu bisa menuntut mereka dengan tuduhan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Tetapi jika mereka tidak melakukan tindakan, lama-lama nyawa mereka sendiri bisa terancam. Apalagi jumlah mereka saat ini semakin bertambah.


Tak lama bukan hanya gas air mata yang mereka luncurkan, tetapi mobil tiga unit mobil pemadam kebakaran langsung datang dan menyirami kerumunan para pemuda tersebut hingga mereka berlari tunggang langgang.


Petugas wanita tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan pada jari-jari tangannya.


“Ini tidak bisa dibiarkan terus, sepertinya ada orang yang menunggangi peristiwa buruk ini” Ucap salah satu petugas polisi.


Sementara Aurora dan Laluna hanya terdiam sambil bertatapan mata, sesuai dengan perintah dari sang ayah untuk tidak mengeluarkan pernyataan apapun saat menjalankan tugas itulah yang mereka lakukan saat ini.


Kedua gadis kembar itu memilih untuk membuka ransum nya dan mulai menyantapnya, seharian mereka bertugas di lapangan membuat perutnya menari-nari. Keduanya hanya bisa memakan roti yang mereka beli dari warung saat sedang berpatroli tadi siang.


“Kangen masakan mami gak sih Ra?” Tanya Laluna sambil menyantap makanan kalengan nya.


“Banget lah…Abis ini gue mau minta dimasakin rendang padang lengkap dengan sambal plus lalapan dan paru goreng juga gulai kepala kakap!” Jawab Aurora, sambil membayangkan semua makanan tersebut sudah tertata rapi di meja makan di rumahnya.


“Itu mah maruk namanya!” Gelak Laluna.


DUAR!!!!


“Ya Tuhan! Dimana lagi itu?!!” Pekik Aurora, sontak gadis itu melempar ransum makanan yang baru beberapa suap saja dia masukan ke dalam mulutnya. Begitu juga dengan Laluna, gadis itu langsung meraih perlengkapan senjatanya dan berlari menuju arah suara.


“Amankan lokasi!” Pekik seorang komandan dari kepolisian.


.


.


“Wa! Ada bom meledak di dekat lokasi Aurora dan Laluna!’ Ucap Nakula, pria itu langsung terbangun saat ponselnya berdering dan seseorang memberitahukan kabar tersebut kepadanya.


“Anjir! Bangsadd! Siapa lagi yang bikin ulah!” Seru Sadewa, lalu bergegas menuju laboratoriumnya.


Keduanya bisa sedikit bernafas lega setelah melihat kedua titik hijau tersebut masih menyala dilayar monitornya, ingin rasanya Nakula dan Sadewa menghubungi kedua gadisnya. Tetapi itu sangatlah tidak mungkin, karena mereka tahu saat ini Aurora dan Laluna pasti sedang sibuk mengamankan lokasi.


“Kita gak bisa tinggal diam Wa!” Nakula mengusap wajahnya kasar.


Tak lama setelah keduanya berada di dalam laboratoriumnya, tiba-tiba saja ponsel khusus mereka bergetar. Ponsel yang hanya diketahui nomornya oleh Galaxy dan Antoni.

__ADS_1


Dan pagi ini disinilah keduanya, kembali ke ruangan dimana dulu Galaxy pernah meminta bantuan kepada keduanya untuk memecahkan sebuah kasus penting.


“Om itu susah kalo ngomong sama papi kalian, jawabannya cuma dimengerti sama mahluk dari planet Mars” Ucap Galaxy, lalu mengingat peristiwa semalam dimana dirinya meminta kepada Arjuna untuk dibuatkan sebuah alat khusus untuk dipakai para anggotanya dalam membubarkan masa.


“Jadi om mau dibuatkan alat seperti apa?” Nakula langsung berasumsi jika kedatangannya ke sana bersama dengan Sadewa adalah untuk membuatkan sebuah alat yang dimaksud oleh calon papi mertuanya itu.


“Om ada tugas khusus untuk kalian, tapi ini rahasia” Ucap Galaxy dengan gaya yang sama seperti dulu.


“Tapi pertama-tama om ingin tahu apa maksud dan tujuan kalian meminta bantuan kepada paman kembar kalian hhmmm??? Kenapa om harus menandatangani surat ini?” Galaxy menyodorkan sebuah kertas kepada keduanya. Disana tertera surat ijin penggunaan satu unit pesawat Sukhoi selama tiga hari.


GLEK!


Nakula dan Sadewa menggaruk tengkuk lehernya sambil nyengir.


“Om janji dulu deh, ntar kita kasih tahu” Ucap Nakula.


“Janji tapi yah om, beneran” Sambung Sadewa.


“Tergantung, kalian bisa ngasih alat canggih itu sama kedua paman kalian, lalu buat om apa?” Galaxy tersenyum tipis.


“Ada deh pokoknya buat om…Ini sebenarnya buat Queen om” Nakula memberanikan dirinya untuk berbicara.


“Queen??” Galaxy mengerutkan keningnya. Apa hubungannya pesawat Sukhoi dengan calon menantunya itu pikir Galaxy.


“Queen mau menerbangkan pesawat itu” Kali ini Sadewa yang berbicara.


“Apa?!!!”


.


.


.


To be continue


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2