Para Penakluk Bima Sakti

Para Penakluk Bima Sakti
Misi Kedua Berhasil!


__ADS_3

Masih Flashback


" Nona! Jangan berlari kearah sana..!" Salah seorang pengawal meneriaki Laluna saat gadis itu tiba-tiba berlari keluar dari dalam tenda.


Menyadari hal berbahaya tersebut pria itu berlari mengejar Laluna sambil berusaha menghubungi rekan-rekannya melalui alat komunikasi sambungan jarak pendek.


" Hentikan percobaan! Saya ulangi hentikan percobaan! "


" Wa..! Code red! " Nakula memberikan kode dengan tangannya untuk menghentikan aksinya sementara dan meminta nya untuk melepaskan peredam suara ditelinga nya dengan gerakan tangannya.


" Apa yang terjadi? " Aurora bertanya sambil melepaskan alat ditelinga nya mengikuti arahan dari Nakula.


" Laluna Wa, dia kayaknya kaget pas bangun tidur..."


Tanpa mendengarkan perkataan saudara kembarnya lebih lanjut, Sadewa sudah berlari menyusul pengawal nya mengejar Laluna diikuti oleh Aurora dan Nakula.


" Luna...!! " Pekik Aurora


"Luna dimana kamu?!" Sadewa menimpali


" Pak, tadi mereka berlari kearah mana?" Nakula mencoba mencari tahu dengan bertanya kepada salah satu pengawal yang sama-sama sedang mencari keberadaan Laluna dan pengawal yang mengejarnya.


" Sepertinya ke arah hutan tuan "


" Memangnya rekan bapak gak hafal dengan kondisi pulau ini?" Lanjutnya


" Maaf tuan, dia baru dua minggu bergabung bersama kami dulu dia bertugas di kantor cabang "


" Wa...Gimana ini?" Nakula menghentikan langkahnya sejenak diikuti oleh Sadewa dan Aurora serta para pengawal.


" Pak...kita bagi tugas yah " Aurora meminta para petugas untuk berkumpul sejenak


" Dua orang tolong jaga tenda, khawatir saudariku kembali nanti, kak Dewa dengan tiga orang pengawal ke arah sana dan aku sama kak Kula dan dua orang pengawal ke arah sini "


" Kalo ada apa-apa tunggu info, siapapun yang menemukan keberadaan mereka langsung hubungi yang lainnya dan bawa mereka segera ke tenda "


Sementara Laluna di suatu tempat menghentikan langkahnya saat dia baru menyadari pakaian yang dikenakan nya serta atribut lain yang ada ditubuhnya.


" Nona..! Nona...!" Pengawal itu menepuk pundak Laluna lalu secepat kilat gadis itu menarik tangan nya dan membanting tubuhnya ke tanah.


Gedebuk !!


" Nona... pelindung telinga anda !" Dengan suara sesak dan menahan rasa sakit ditubuhnya sang pengawal mencoba memberikan tanda kepada gadis itu untuk membuka pelindung telinga yang masih dikenakan oleh nya.


" Ya Tuhan! Maafkan saya pak! Saya kira bapak penjahat..." Luna menarik pelindung telinga nya.


" Bapak gak apa-apa kan?" Luna mencoba menolong pria itu untuk dapat terduduk.


" Gak apa-apa Nona, yang penting nona selamat sekarang "


" Selamat? Maksud bapak?" Luna mengerutkan keningnya


" Tadi kita sedang mencoba alat baru nona, sepertinya nona terkejut setelah merasakan getaran nya "


" Ya ampun..! Aku pikir ada gempa bumi pak..! Maafkan saya sudah merepotkan bapak " Luna mengusap tengkuknya, dia baru menyadari tingkah konyolnya.

__ADS_1


Samar-samar dia mulai mendengar suara orang-orang sedang memanggil namanya.


" Kita disini!!" Pekiknya.


" Lah...Kenapa dia Na?" Sadewa mengerutkan keningnya ketika melihat pengawal itu dalam keadaan terduduk seperti sedang merasakan sakit ditubuhnya.


" Maafkan aku kak, tadi aku pikir dia adalah seorang penjahat jadi aku banting tubuhnya pas bapaknya nepuk pundak aku "


" Owh my God!" Sadewa membulat kan matanya lalu mengusap wajahnya.


.


.


.


" Ayo kak kita terusin percobaan nya " Pinta Laluna dengan memperlihatkan puppy eyes dan mengembangkan senyumannya dihadapan Sadewa.


" Engga ahh...Kita pulang aja yah " Bujuk Sadewa. Luna mencoba untuk meminta kepay dirinya untuk melanjutkan percobaan nya dalam perjalanan mereka menuju tenda


" Yaah kakak...Aku kan belum nyobain " Laluna memajukan bibirnya beberapa senti dan sedikit menundukan wajah nya.


Iisshh...Siapa coba yang tega kalo liat mukanya yang ngegemesin kayak gitu...


" Iya udah...Iya kita lanjutin percobaan nya, tapi satu kali aja yah "


" Oke kak, makasih banyak " Gadis itu memeluk tubuh Sadewa tanpa dia sadari saking bahagianya.


" Ehh... Maafkan aku kak " Laluna melepaskan pelukannya seketika.


"Luna!! Kamu darimana?" Teriak Aurora saat dia melihat Laluna berjalan disamping Sadewa.


" Sorry Ra, tadi gue pikir ada gempa bumi pas lagi tidur abisnya getarannya berasa banget " Luna menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tak selang berapa lama kemudian.


Sreeeetttt...


BUMMM!!!


Sreeeetttt...


BUMMM!!!


" Yeaaay! Gue berhasil Ra! " Seperti yang dilakukan Aurora tadi, Laluna pun meloncat-loncat kegirangan setelah berhasil meluncurkan bazoka meski nyaris mengenai sasaran nya.


Kedua pria tinggi berwajah blasteran itu hanya bisa saling memandang melihat adegan menggemaskan dihadapannya.


*Bener-bener unik cewek gue... Sadewa


Next kejutan apa lagi yah... Nakula*


Flashback off


" Waaahhh....Bagus banget jam nya kak! "

__ADS_1


Aurora dan Laluna terlihat begitu bahagia mendapatkan hadiah berupa jam tangan canggih dari Nakula dan Sadewa, bahkan kedua pria itu telah memakai kan jam tangan itu di masing-masing pergelangan tangan gadis pujaannya.


Tak habis kekaguman keduanya saat Nakula dan Sadewa menjelaskan fitur-fitur apa saja yang ada pada jam tersebut.


" Whoaaa...Ini kak Kula sama kak Dewa yang buat??" Laluna membulat kan bibirnya


" Hebat banget kak! " Sambung Aurora


" Nah ini nanti nge link kesini " Nakula memperlihatkan layar handphone nya.


" Tuh kan keliatan ada empat titik disini " Sambung Sadewa yang juga memperlihatkan layar handphone nya.


" Wahh...Samaan yah kak kita jam nya " Laluna terlihat takjub


" Iya...Yaa beda dikit lah "


Sadewa mendekatkan jam tangan yang dipakainya hingga terlihat dengan jelas perbedaan antara jam yang dikenakan para gadis. Bentuk jam tangan Nakula dan Sadewa terlihat lebih besar dan lebih macho meski jam tangan Aurora dan Laluna juga sama-sama terlihat keren, hanya bentuknya saja dibuat lebih pas dengan ukuran pergelangan tangan keduanya.


" Ini anti air, jadi kalian bisa tetap aman digunakan meski terkena air " Nakula menambahkan.


" Sepertinya waktu jam istirahat kalian bentar lagi abis, habiskan dulu makanan kalian " Pinta Nakula. Sudut matanya menangkap sesosok gadis yang memerhatikan aktivitas mereka dengan pandangan tidak suka diantara teman-temannya.


" Oia...Bentar " Sadewa menekan sebuah tombol kecil ditali jam tangan Laluna begitu pula dengan Nakula di jam tangan milik Aurora. Sadewa menyadari tatapan sudut mata saudara kembarnya.


" Oke...Aman " Lanjutnya.


" Kalian dijemput siapa nanti?" Nakula memastikan hal terakhir sebelum mereka berpamitan.


" Kita bawa mobil sendiri kak, aku yang nyopir " Jawab Aurora


" Oke... Hati-hati dijalan nanti yah "


" Kami pamit pulang, selamat melanjutkan kuliah hari ini yah..." Lanjut Nakula.


" Lo liat gadis tadi kan Wa " Nakula menghidupkan mesin mobilnya.


" Ya...Dan seorang pria dibelakangnya, mereka sama-sama terlihat tidak suka kearah kita tadi " Nakula mengatakan apa yang dilihatnya tadi.


" Apa mereka berbahaya ?"


" Sepertinya para gadis bisa menyelesaikannya sendiri, kita hanya cukup memperhatikan mereka dari jauh seperti biasa " Sadewa mengedipkan sebelah matanya.


" Oke misi kedua kita berhasil !" Nakula melakukan tos bersama dengan Sadewa.


.


.


.


To be continued 😉


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Happy reading 🤗

__ADS_1


__ADS_2