Para Penakluk Bima Sakti

Para Penakluk Bima Sakti
Gugurnya Sang Singa Asia


__ADS_3

#indonesiaberkabung, #gugurnyasingaasia, telah mendominasi laman pencarian berita di platfrom pencarian terbesar dunia. Hari ini 1 oktober 2025 bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila sang pemimpin dengan julukan Singa Asia telah berpulang, menyusul kepergian belahan jiwanya yang telah lebih dulu meninggalkan beliau menuju keharibaanNya.


Jendral besar Cakrawala Bima Sakti telah berpulang diusianya yang ke 75 tahun karena penyakit jantung yang dideritanya semenjak kematian Siska sang istri tercinta, kesehatannya semakin menurun tepat di hari perayaan pernikahan mereka yang ke 50 tahun. Seminggu sebelum beliau dikabarkan meninggal dunia.


Ribuan pasukan TNI dari tiga angkatan inti memenuhi lapangan dimana sang Jendral menjalani proses upacara pemakamannya yang dipimpin langsung oleh Persiden Republik Indonesia, Bacharrudin Latief.


Beliau menyerahkan secara langsung penghargaan tertinggi untuk sang Singa Asia kepada anak sulungnya Jendral Galaxy Bima Sakti, juga mengucapkan bela sungkawa terdalamnya kepada pihak keluarga serta kepada seluruh rakyat Indonesia.


“Engkau adalah salah satu insan kebanggaan negeri, Kecintaan mu terhadap Ibu Pertiwi sama besarnya dengan kecintaan Ibu Pertiwi terhadapmu. Kami tidak akan pernah melupakan jasa-jasa besar mu wahai Cakrawala Bima Sakti…” Bacharrudin Latief tidak bisa menahan air matanya, begitupun dengan semua orang yang hadir memenuhi Gelora Bung Karno pagi ini.


Tepat pada pukul 9.00 pagi waktu Indonesia barat, pasukan pengangkut peti jenazah membawa jasad yang telah terbujur kaku tersebut keluar dari lapangan menuju mobil ambulance yang akan membawa jasad tersebut ke tempat pemakaman keluarga di Cijantung.


Enam bulan kemudian.


“Langit, bagaimana perkembangan situasi di Bandung?” Galaxy menghubungi sang anak melalui jalur rahasia.


Tiga bulan semenjak meninggalnya sang ayah situasi negara mengalami masa reformasi pemerintahan, dimana tiga partai besar memperebutkan kursi kepemimpinan saat Pemilu berlangsung.


“Bandung aman dan terkendali pak!” Jawab Langit, meski saat ini dirinya tengah berkomunikasi dengan sang ayah, tetapi protokol harus tetap dipatuhi disaat jam kerja tengah berlangsung.


“Satu jam dari sekarang, kembali ke Mako pusat” Titah Galaxy yang langsung disanggupi oleh Langit.


Langit meraih ponselnya untuk menghubungi permata hatinya Queen, gadis yang sudah sangat dirindukannya ini pasti tengah menunggu kabar darinya.


“Hallo sayang...” Ucap Langit ketika layar ponselnya menampilkan wajah cantik gadis itu.


“Hallo bang…, loh abang udah mau pergi?” Queen melihat Langit yang sedang berjalan keluar dari ruangannya.


“Iya sayang, papi meminta abang untuk kembali…” Jawab Langit tanpa melihat ke arah Queen.


“Yeeeesss!!!” Ucap Queen kegirangan. Pasalnya sudah tiga bulan ini Langit berada dikirim ke Bandung untuk memantau situasi yang terjadi disana, dan selama itu pula Queen hanya bisa berkomunikasi dengan kekasihnya itu melalui panggilan video. Itupun jika pemuda tampan itu tidak sedang berada di lapangan.


“Seneng banget kayaknya” Ucap Langit, lalu terlihat membalas penghormatan dari seseorang.

__ADS_1


“Iya lah…” Queen terkekeh malu.


“Oke sayang, abang harus naik sekarang…Sampai bertemu nanti malam”


Langit mengakhiri panggilan teleponnya, lalu bergegas menuju helikopter yang sudah menunggunya.


“Yaaahh…dia pasti ke kantor dulu” Keluh Queen lalu menjatuhkan kembali tubuhnya di ranjang.


Kerusuhan yang terjadi di Ibukota membuat dirinya terpenjara di rumahnya sendiri, karena Antoni sang ayah meminta dirinya dan ibunya Gielang untuk tetap berada di dalam rumah.


Satu-satunya alasan sang ayah mengijinkan putrinya untuk keluar dari rumah adalah jika si kembar Nakula dan Sadewa menjemputnya, kedua ilmuwan gila itu selalu mengajak Queen untuk menghabiskan akhir pekan bersama.


“Kalian ini sudah seperti tiga orang anak ayam yang ditinggal induknya” Ucap Antoni pada satu hari dimana keduanya menjemput putri kesayangannya.


Pasalnya si kembar Aurora dan Laluna saat ini tengah sibuk membantu pihak keamanan terkait untuk mengamankan situasi yang tengah terjadi di ibukota, terkadang keduanya bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali jika keadaan semakin memanas.


“Dulu ketika kakek Cakra masih hidup, setiap pemilu kita baik-baik aja deh” Keluh Queen saat dalam perjalanan menuju kediaman Nakula dan Sadewa.


“Kebetulan aja kali Queen, mungkin kali ini situasinya berbeda karena presiden kita memang udah tiga periode ini memimpin negara” Jawab Nakula, pria jangkung ini memutar kemudinya saat memasuki pintu gerbang rumahnya.


“Kita lanjutkan simulasi kita?” Sadewa langsung menuntun Queen dan Nakula menuju tempat favoritnya, dimana lagi jika bukan di laboratorium yang terletak di halaman belakang rumahnya.


Tak lama berselang ponsel milik Queen bergetar, Langit memberitahunya bahwa dia akan pulang terlambat dan kemungkinan besar malam ini mereka tidak bisa bertemu karena dirinya baru saja mendapatkan perintah tugas.


Queen menghela nafasnya sejenak, karena ternyata sang mama pun memberitahu bahwa malam ini papanya tidak akan pulang. Bersamaan dengan itu ponsel Nakula dan Sadewa pun bergetar, mereka menerima oesan yang hampir sama dengan Queen.


“Jika situasi tidak berubah dalam waktu sebulan ke depan, maka konflik di negara kita ini akan semakin memburuk” Ucap Nakula, lalu memainkan jemarinya di atas keyboard.


“Ini lokasi mereka sekarang?” Tanya Queen,  saat melihat lima titik hijau pada layar besar di hadapannya.


“Ya, dan mereka semakin mendekati wilayah konflik” Jawan Nakula, pria jangkung itu menunjuk pada tiga titik di lokasi yang berbeda.


“Apa kita akan tinggal diam aja kayak gini?” Queen menatap Nakula dan Sadewa secara bergantian.

__ADS_1


“Engga lah nona manis, kita hanya sedang menunggu palu Thor di ketuk” Kekeh Sadewa.


“Dasar gila…” Kekeh Queen, lalu berjalan menjauhi keduanya, dan memasuki sebuah ruangan kecil mirip dengan kabin pesawat tempur.


“Lo tuh yah gila Queen, disaat para gadis lebih menyukai mobil imut buat di kendarain, lo lebih milih ngendarain pesawat tempur!” Balas Nakula, kali ini melalui alat komunikasi didalam kabin.


“Moga aja si Langit gak nembak kepala kita nanti pas tau” Kekeh Sadewa, pria jangkung tampan ini menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


“Well…Gue bukan cewek kebanyakan kan? Lagipula cewek-cewek kalian lebih parah lagi kan? Selain tank baja mainan mereka apa lagi coba…” Queen tertawa dan mulai mengaktifkan pesawatnya.


“Bazoka!” Jawab Nakula dan Sadewa bersamaan.


“Haaatciu!!” Tiba-tiba Aurora dan Laluna bersin di tempat yang berbeda.


“Ada yang ngomongin gue nih kayaknya” Gumam Aurora sambil mengusap hidungnya dengan tissue.


Sementara di tempat lain Langit merasa sedikit tidak nyaman dengan hatinya, ingatannya tertuju kepada Queen. Apa yang sedang dilakukan gadis itu pikirnya. Langit lalu merogoh ponselnya dan memeriksa keberadaan gadisnya itu, sebuah senyuman langsung mengembang diwajahnya tatkala dia melihat lokasi Queen di layar ponselnya.


“ Selamat tidur sayang…” Gumam Langit.


Bukan Nakula dan Sadewa namanya jika tidak bisa mengakali posisi Queen saat ini, tujuan kedua pria kembar itu bukan lain hanya ingin melindungi perasaan Langit. Mereka tidak bisa membayangkan jika sahabatnya itu tahu saat ini  Queen sedang melakukan apa, bisa-bisa mereka di coret dari daftar calon adik ipar!


.


.


.


To be continue


Hai kakak-kakak sesuai janji othor untuk melanjutkan kembali cerita ini, hari ini othor start lagi yah ceritanya.


Mohon dukungannya

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2