Pedang Legenda Kutukan

Pedang Legenda Kutukan
Ketegangan


__ADS_3

Bab 25


Iblis roh juga kaget melihat raja iblis naga yang tiba tiba muncul membantunya mengalahkan Agung.


"Kenapa bos datang ke sini? bagaimana ini?" ucap iblis roh dalam hati.


Raja iblis balik badan dan berjalan mendekati iblis roh atau Ghost one.


"Bos kenapa datang kesini? aku bisa kok mengalahkan dia, tanpa bantuan mu!" ucap Ghost one Gugup sambil mundur, melihat raja Dika terus berjalan mendekatinya.


"Bos...Bos ..Bos.." Ghost one semakin panik melihat tatapan tajam dari Raja Dika kepadanya.


Raja Dika mengangkat tangannya lalu memukul keras perut Ghost one.


Ghost one terpental jauh kebelakang.


Tapi raja Dika tidak berhenti, dia kembali berjalan lagi mendekati Ghost one, yang kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Maaf kan aku bos!" ucap lirih Ghost one yang duduk selonjoran dan mundur.


Raja Dika tidak memperdulikan permohonan dari Ghost one.


Karena tidak mau terluka kembali, Ghost one memerintahkan zombie raja reptil yang tersisa untuk melindunginya dari Raja Dika.


Dua zombie raja reptil berbaris di depan Ghost one.


Lalu Raja Dika menembakkan dua tembakan seperti jarum yang mengenai masing masing zombie raja reptil.


Setelah jarum tertancap diperut zombie raja reptil, jarum langsung meledak dan meninggalkan bolongan pada perut zombie raja reptil.


Ghost one gelagapan melihat kedua zombie raja reptilnya, yang sudah di kalahkan raja iblis naga.


Raja reptil akan menyerang kembali Ghost one dengan pukulannya, tapi saat hendak memukul, dia melihat kilatan cahaya biru yang berasal dari dalam hutan larangan.


Sehingga dia tidak jadi memukul ghost one, dan pergi berdiri di pinggir bukit, untuk melihat sumber kekuatan lamanya, yang berada di mutiara biru di dalam Aidan.


"Indah sekali, Akhirnya aku bisa melihat mu kembali!" ucap raja Dika tersenyum sambil melihat Aidan yang berlari di dalam hutan larangan.


****


Juna yang sedang berada di dalam hutan larangan dan melihat sesuatu melesat jatuh kebawah, dari atas bukit.


Benda jatuh tersebut menghasilkan bunyi dentuman yang keras.


Juna pun berlari menuju ke tempat mendarat sesuatu objek yang melesat dari atas bukit itu.

__ADS_1


Tapi Sebelum menuju kesana, Juna harus melewati hutan larangan dulu.


Setelah hutan larangan sudah di lewati, Juna melihat lubang besar di Padang rumput yang diciptakan oleh ledakan benda jatuh itu.


Juna merasakan firasat yang buruk, saat hendak sampai di lubang, seperti kolam bekas galian itu.


Juna telah sampai di lubang tersebut dan melihat kedalam lubang besar itu.


Di dalam tidak ada siapa -siapa, tapi Juna melihat ada tangan yang muncul dari dalam tanah.


Tubuh Agung melesat sangat cepat sehingga membuat tubuhnya juga tertimbun sedikit di dalam tanah.


Juna langsung meluncur turun dari atas lubang.


Dan Juna menggali tanah yang menutupi sesorang malang yang telah jatuh tertimbun tanah.


Sedikit demi sedikit tubuh dari Agung ini sudah mulai keliatan.


Lalu Juna pindah ke bagian atas untuk menyelamatkan kepalanya dulu.


Setelah wajahnya terlihat sontak Juna kaget setelah melihat, ternyata sosok yang jatuh barusan, adalah teman yang telah menyelamatkan kawasan hutan larangannya dari raja reptil.


"Agung!" Juna menambah kecepatan menggalinya sehingga dalam sekejap semua tanah yang menutupi Agung sudah tidak ada.


Lalu Juna membawa Agung keluar dari lubang, dan membawanya masuk ke dalam hutan larangan untuk sembunyi dulu dari para iblis.


Juna berharap disana aman, karena sudah tidak ada lagi iblis yang menduduki wilayah itu.


Agung di letakkan berbaring oleh Juna, lalu Juna menekan dada Agung sambil mengalirkan sihir pengobatan milik bangsa macan putih.


Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...


Agung sadar dengan mengeluarkan darah dari mulut.


Teknik pengobatan milik bangsa macan putih memang tidak diragukan lagi, dalam sekejap saja Agung sudah sadarkan diri.


"Jun.." ucap lirih Agung dengan menyipitkan matanya.


"Gung, tahanĀ  sedikit Gung!" Juna menotok perut Agung dengan dua jarinya.


Darah yang keluar dari mulut Agung semakin banyak setelah di totok Juna. Dan Agung kembali kehilangan kesadarannya.


"Syukur aku datang tepat datang waktu, coba aku pergi bareng Aidan, mungkin Agung akan mati!" Juna bergumam sambil membuang napas lega.


Juna membalikan badan lalu pergi keluar dari markas pohon besar itu, untuk mencari makanan dan minuman untuk Agung.

__ADS_1


Agung ditinggalkan oleh Juna dalam keadaan berbaring tak sadarkan diri.


****


Di pagi hari yang cerah komandan Adri dan komandan Aleksander baru saja sadarkan diri, dari malam hari komandan Adri dan komandan Aleksander dan para prajuritnya tidak sadarkan diri akibat ulah dari Aidan.


Melihat prajuritnya yang belum juga sadar, jadi komandan Adri dan komandan Aleksander duduk selonjoran mengobrol, sambil menunggu para prajuritnya sadar.


Raja Aftur yang mendengar ke Kalahan para prajuritnya, dalam menghalau Aidan untuk pergi.


Jadi Dia berangkat dari pagi, menuju tempat para pasukannya di kalahkan oleh Aidan.


Saat tiba disana raja Aftur menemukan komandan Adri dan Komandan Aleksander duduk selonjoran sambil bercakap cakap.


Sedangkan prajuritnya yang lain masih tepar, entah karena dampak dari kekuatan Aidan atau memang prajuritnya yang masih ngantuk, sehingga memanfaatkan untuk tidur.


Lalu Raja Aftur menghampiri komandan Adri dan komandan Aleksander.


Komandan Adri dan komandan Aleksander menyadari kedatangan dari raja aftur, kemudian mereka berdiri dan memberikan salam hormat kepada raja Aftur.


"Selamat pagi yang mulia." ucap serempak komandan Adri dan komandan Aleksander sambil menganggukan kepalanya.


Raja Aftur menganggukan kepala nya juga.


"Bagaimana dengan Aidan?" Raja Aftur bertanya, pertanyaan yang dia sudah tahu jawabanya, bahwa Aidan telah berhasil meloloskan diri.


"Maaf yang mulia! Aidan telah meloloskan diri! kami telah gagal untuk mencegatnya pergi! dan kami siap menerima konsekuensi dari yang mulia raja." ucap lirih komandan Aleksander.


"Iya yang mulia! kami bukan tandingan dari Aidan yang telah membangkitkan kekuatan mutiara biru itu yang mulia!" Sambung komandan Adri yang berada di samping komandan Aleksander.


"Baik lah, apakah kalian berdua bersedia untuk ikut aku menyusul Aidan? aku tidak ingin mutiara biru yang didapatkan ayahku, kembali lagi ke tangan raja iblis naga!" ujar raja Aftur sambil memandangi kedua nya bergantian.


Komandan Adri dan komandan Aleksander saling menoleh dan tatap-tatapan.


"Baik yang mulia, kami akan mengikuti perintah dari mu!" ucap komandan Adri dan komandan Aleksander sambil menganggukan kepala.


"Sekarang kita kembali ke istana dulu dan mempersiapkan semua persiapan yang di perlukan untuk perang"


"Bagaimana dengan prajurit yang belum sadar yang mulia?" ucap komandan Adri dengan nada rendah sambil menunjuk semua prajurit yang tepar.


"Biar kan saja mereka semua!" ujar raja Aftur sambil melihat ke seluruh prajurit nya.


Kemudian mereka bertiga pergi kembali ke istana dan meninggalkan semua prajurit yang tertidur.


Setelah semuanya siap mereka berangkat dengan menunggangi kudanya masing-masing.

__ADS_1


Ketiga Kuda yang ditunggangi melaju dengan sangat cepat.


__ADS_2