
Bab 27
"Siapa kau sebenarnya," ujar Juna dengan terus mengayunkan pedang ke arah Aidan yang bermata biru.
"Aku adalah Aidan...bodoh." Aidan menepis serangan Juna.
Aidan jarang melancarkan serangan ke Juna, dia hanya sering menepis serangan Juna, tapi Juna terus menyerang Aidan dengan kekuatan penuh, dari pedang soru milik nenek moyang siluman macan putih.
"Aidan tidak mungkin memiliki kekuatan sebesar ini."
"Dia nggak mungkin bisa menandingi kekuatan dari pedang Soru ku." Juna mencibir bahwa kekuatan Aidan lebih lemah dari dirinya.
"Oooh jadi itu yang membuat mu ragu!" Aidan mengeluarkan kekuatan mata iblisnya dan melapisi pedangnya dengan aura biru terang.
Juna mengangguk sambil terus menyabitkan pedang, yang tidak mengenai Aidan sedikit pun..
"Baiklah, Flash shoot tikle." Aidan mengeluarkan jurus hunusan pedangnya dengan cepat dan kuat.
Juna tidak bisa menahan serangan Aidan dengan pedangnya, sehingga Juna terpental Jauh.
Juna bangkit dan menatap Aidan, sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Juna...." Aidan menonaktifkan kekutan mata iblisnya, lalu berlari menuju Juna dalam mode manusia seperti biasanya.
Lalu Aidan mengacungkan tangan kepada Juna.
Juna memandangi Aidan yang ada dihadapannya dan berkata sambil menerima jabat tangan Aidan. "Ternyata kau benar Aidan, aku senang melihatmu ada di sini, dengan kekuatan mu yang sekarang, pasti kita akan berhasil mengalahkan Raja iblis naga."
Aidan tertegun sejenak lalu tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Lalu mereka membawa Agung kembali ke markas raja reptil dan membaringkan Agung di sana.
Tak lama setelah itu Agung sadar, dan menyipitkan mata melihat di sekelilingnya, sudah ada dua sahabat yang membantunya.
Aidan langsung menghampiri Agung dan mengeluarkan semua bekal yang dibawanya dari rumahnya.
Agung melahap semua makanan yang ada di dalam tas, Aidan hanya bisa melihat Agung memakan semua bekalnya sambil menelan ludah.
Karena selama perjalanan Aidan belum ada memakan bekalnya sedikitpun, dia hanya makan sedikit saat berada di kerajaan.
Juna mengamati wajah Aidan dan melihat pergerakan liur di leher pada jakunnya.
"Kamu lapar juga ya Ndan?" Tanya Juna.
"Nggak kok lagian sebelum kesini aku udah makan di rumah." Ujar Aidan dengan tersenyum.
__ADS_1
"Itu 'kan udah sangat lama."
"Tidak apa-apa aku 'kan kuat, kamu aja kalah tadi." Aidan terkekeh.
Setelah makan, tubuh Agung sudah kembali fit, lalu dia bangkit berdiri.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan." Agung mengepalkan tangan lalu mengangkatnya tinggi.
Aidan dan Juna saling pandang, melihat Agung yang baru saja kembali sehat, tapi udah sangat semangat sekali, membuat mereka tertawa.
"Ayo... Kalian keluar dulu aku mau merapikan tas ku dulu." Lalu Aidan menghampiri tasnya yang berantakan, dengan serpihan-serpihan makanan bekas Agung.
Aidan mendapati potongan roti sisa Agung, lalu memakannya untuk mengganjal agar perutnya tidak lapar.
****
Di kerajaan bogata seorang prajurit menyebarkan browsur, tentang kepergian Raja Aftur untuk menjemput Aidan kembali.
Clara yang sedang jalan-jalan di pasar mendapatkan selembaran brosur lalu membacanya.
"Raja Aftur, mencari Prajurit Aidan yang kabur," Clara mengerutkan dahinya. "Aidan kabur."
Clara jadi cemas dengan berita kaburnya Aidan, dia takut untuk kehilangan Aidan.
Pikiran Clara saat ini sedang kacau, yang tadinya dia hanya ingin jalan-jalan untuk menenangkan pikiran malah membuatnya tambah banyak pikiran.
Karena Aidan pernah cerita tentang Agung, yang masih berada di hutan larangan, jadi dia yakin bahwa Aidan pasti pergi ke hutan larangan untuk mencari Agung.
Setelah semua persiapan selesai Clara keluar dari rumahnya diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya.
Walau Clara seorang wanita tapi dia sangat tangguh, saat masih kecil Clara pernah mengikuti pendidikan berpedang di istana di saat itulah awal Clara bertemu dengan Aidan.
Saat di perjalanan, Clara melihat prajurit penunggang kuda yang menyebarkan browsur.
Lalu Clara menghadang kuda itu di depannya, dan membuat prajurit itu harus membuat kudanya berhenti mendadak.
"Sudah gila ya kau... Minggir dari sana, aku mau lewat." Prajurit itu membentak Clara.
Lalu Clara pura-pura pingsan di depan kuda dan memalang seluruh jalan oleh tubuhnya.
"Wanita edan." Umpat prajurit itu kesal, kemudian dia turun dari kudanya, untuk meminggirkan tubuh ramping dari wanita itu.
Sebenarnya prajurit itu bisa saja lewat dengan melangkahi wanita itu, tapi dia tidak mau seperti itu, karena melangkahi manusia itu adalah tindakan yang tidak sopan.
Saat tubuh ramping Clara hendak diangangkat oleh prajurit itu, Clara langsung meraih lengan prajurit itu dan membantingnya.
__ADS_1
Kemudian Clara melakukan kuncian leher, menggunakan kakinya agar prajurit itu lemas dan pingsan.
Saat prajurit sudah pingsan Clara melucuti semua pakaian perang dan senjata milik prajurit itu.
Dan Clara menggunakan semua alat pelindung itu pada badannya yang ramping, jadi baju tempur itu terlihat kebesaran di badan Clara.
Setelah itu Clara pergi menggunakan kuda, setelah mengikat prajurit itu dan meninggalkannya di tengah jalan.
Di perjalanan kabur Clara bertemu penunggang kuda lainnya dan Clara terus melaju sambil menundukkan kepalanya.
Setelah itu Clara mendengar suara prajurit yang ribut, di tempat Clara mengikat prajurit kerajaan tadi.
Lalu Clara menambah kecepatan kudanya agar dapat lolos dari jangkauan kejaran dari para prajurit lainnya.
Setelah jauh Clara membuang napas lega sambil tertawa.
"Sepertinya siap ini aku bakalan dimasukkan ke dalam penjara." Clara tertawa semakin keras di atas kuda yang ditungganginya.
****
Raja Aftur dan dua komandanya sedang istirahat di pinggir sungai, tempat Agung, Aidan dan Juna pernah istirahat saat berhadapan dengan raja reptil.
"Aku tadi seperti mendengar suara pertarungan dari dalam hutan," ucap Komandan Aleksander sambil menjejalkan apel ke dalam mulutnya.
"Pasti itu suara macan atau harimau yang bertarung." Ujar Raja Aftur.
Raja Aftur kemudian teringat dengan hubungannya dengan kerajaan Togayo.
"Apa kau takut dengan Raja, di kerajaan Togayo, Aleksan?" Tanya Raja Aftur dengan menatap Komandan Aleksander.
"Tidak yang mulia." Ucap Komandan Aleksander sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana jika kita berperang dengan kerajaan Togayo? soalnya dia sudah memutuskan hubungan dengan kita, apakah kalian siap untuk berperang dengan kerajaan Togayo?" Tanya Raja Aftur dengan menatap keduanya secara bergantian.
"Kami akan selalu siap untuk apapun, kepentingan Kerajaan yang mulia," Komandan Adri tertawa.
"Iya yang mulia kami sudah siap untuk mati, sejak kami jadi seorang prajurit," Komandan Aleksander juga ikut tertawa.
"Aku sangat senang melihat kalian yang mendukungku selalu." Raja Aftur tersenyum.
Kemudian Raja Aftur ikut tertawa bersama kedua komandan kerajaan yang paling disukainya.
****
Setelah semua beres Aidan keluar menuju ke teman-temanya, yang sudah menunggunya di luar pohon.
__ADS_1
"Ayo, kita lanjut berjalanan." Ucap Aidan sambil merangkul kedua bahu temannya.