
Bab 37
"Kita mau kemana yang?" Tanya Clara yang rambutnya kebelakang semua terkena angin, karena laju dari kuda yang cepat.
"Aku mau mengajak kamu ke taman bunga istana!" Jawab Aidan sambil menolehkan kepala kebelakang.
Clara tertegun sejenak dan muncul beberapa pertanyaan dalam benaknya yang nantinya belum bisa untuk dijawab.
Apakah dia akan menanyakan ku alasan kehutan?
Apakah dia mau melamar ku?
Bagaimana jika dia minta putus, karena aku mengganggu tugasnya?
Lalu Clara menjawabnya dengan suara lirih. "Aku mau pulang aja yang! Takut ibu sama bapak cemas! Pasti mereka selama ini mencari ku."
Aidan menoleh kebelakang dengan senyum dan menganggukan kepalanya. "Baik kalo gitu aku akan mengantarkan kamu pulang aja! boleh 'kan?"
Clara menganggukan kepala sambil tersenyum.
Lalu Aidan merubah haluan kuda, untuk mengantarkan Clara pulang ke rumah.
Setelah sampai, Aidan menurunkan Clara di depan rumahnya.
"Gak mau mampir dulu yang?" Tanya Clara dengan menatap Aidan yang berada di atas kuda.
"Aku mau langsung pulang aja, mau lihat keadaan Agung dan Juna! Titip salam sama ibu dan bapak ya!" Setelah mengatakan itu Aidan melaju kembali ke istana.
Aidan memasukkan kuda ke dalam kandang, dan berjalan dengan langkah yang cepat ke pintu istana.
Lalu Aidan membuka pintu istana dan langsung menuju ke ruang perawatan tabib kerajaan, yang sedang mengobati Agung dan Juna.
"Gimana keadaan Agung dan Juna, Bib?" Tanya Aidan kepada tabib kerajaan yang sedang meracik obat untuk Agung dan Juna.
Lalu sang tabib menoleh ke arah Aidan saat sedang meracik obat, kemudian berjalan mendekati Agung. "Kondisi Agung masih sangat parah, di tubuhnya ada 1 luka bekas tusukan yang parah, sehingga butuh waktu yang lama untuk mempulihkan keadaannya! tapi dengan beberapa obat yang telah kuracik maka Agung pasti akan segera pulih kembali."
Setelah menjelaskan keadaan Agung, sang tabib pindah ke ranjang sebelah, tempat Juna dirawat. "Kalo si Juna, tadinya memiliki 3 luka bekas tusukan, tapi tubuhnya aneh saat aku sedang meracik obat, luka tusukan di tubuhnya tertutup sedikit demi sedikit dan sekarang hanya meninggalkan bekasnya saja. Mungkin sebentar lagi Juna akan segera siuman!"
"Syukurlah kalo mereka akan baik-baik saja," ujar Aidan sambil mengelus dada.
__ADS_1
****
"Apa kerajaan Togayo mendeklarasikan perang, karena merasa dipermainkan." Ucap Raja Aftur setelah mendengar penjelasan dari penasihatnya.
Saat kerajaan di tanggung jawabkan kepada penasihat kerajaan, Raja Deken datang ke istana dan mengajak ribut.
Untungnya Penasihat kerajaan pandai bernegosiasi, sehingga Raja Deken yang berasal dari kerajaan Togayo dapat diusir
pergi.
Saat suasana hati Raja Aftur sedang buruk, Aidan masuk ke ruangan singgasana, setelah dari ruang perawatan.
"Apa yang terjadi, kenapa ayahanda marah-marah," Tanya Aidan dengan menatap Raja Aftur yang ternyata adalah ayah dari Aidan.
Sedari kecil Aidan sudah disuruh untuk mengikuti segala pelatihan pedang dan merahasiakan identitas dari Aidan yang sebenarnya. Raja Aftur melakukan ini agar Aidan tidak manja, karena posisinya sebagai pangeran.
Tapi sejak saat itu pencapaian apapun yang didapatkan oleh Aidan, tetap saja tidak disukai oleh Raja Aftur.
Karena di diri Agung masih terdapat sifat manja, tapi semenjak ibunya meninggal sifat manja itu perlahan menghilang dari dirinya.
Tapi Aidan tetap saja masih lemah, dan Raja Aftur tetap tidak bisa menerima seorang anak lemah, Yang akan meneruskan tahtanya.
"Kerajaan kita ditantang oleh kerajaan Togayo untuk perang, pangeran." jelas penasihat kepada Aidan yang baru saja masuk.
Lalu Raja Aftur menoleh ke arah Aidan yang membantah panggilan pangeran. "Kamu tidak perlu menjadi prajurit lagi Aidan, karena kamu akan segera menggantikan posisi ku sebagai Raja."
"Bukan kah ayah yang selalu memaksaku untuk menjadi prajurit dan ditugaskan di tempat-tempat berbahaya! Tapi kini kenapa ayah menyuruhku menjadi penerusmu?" Bantah Aidan.
Semenjak Aidan memiliki kekuatan dari mutiara biru, Raja Aftur sudah tidak meragukan Aidan, Untuk menjadi seorang Raja, karena kekuatannya sudah melebihinya.
"Sekarang kondisinya beda, kau harus segera dilantik menjadi Raja dan identitas asli mu akan segera dipublikasikan," ujar Raja Aftur dengan menepuk pundak Aidan.
Selama ini yang mengetahui identitas Aidan yang sebenarnya, hanya Raja Aftur dan penasihatnya.
Dan Aidan berani memanggilnya Raja Aftur dengan sebutan ayah, ketika tidak ada orang yang melihatnya kecuali penasihat kerajaan.
"Maaf untuk saat ini, aku tidak bisa mengikuti aturan dari ayah," Aidan membalikan badan dan pergi meninggalkan Raja Aftur yang berada di ruangan singgasananya.
"Aidan," teriak Raja Aftur sambil melihat punggung Aidan yang meninggalkannya.
__ADS_1
****
Saat ini di ruang perawatan Juna baru saja sadar dan melihat sekelilingnya. "Dimana aku?"
Tabib mendengar suara Juna, kemudian menoleh dan melihat Juna yang sudah duduk di atas ranjangnya seraya berkata sambil meracik obat. "Kamu kembali lagi ke kerajaan bogata Juna, apakah kau masih mengenalku?"
Juna mencoba mengingat wajah dari pria tua dengan rambut putih, mengenakan kacamata Dan menggunakan pakaian berwarna putih.
Juna mengingatnya. Lalu menunjuk Tabib dengan menaik turunkan jari telunjuknya. "Oooh... Kamu tabib yang merawatku saat insiden dengan Raja iblis naga kan?"
Lalu Tabib menganggukan kepala dan berseru. "Tepat sekali!"
"Ya... Ya... Ya... aku mengingatnya. "Lalu Juna mengamati wajah pria yang terbaring di sebelah ranjangnya. "Bukankah dia Agung?"
Tabib langsung membenarkan pernyataan Juna. "Ya benar sekali dia Agung."
Juna beranjak dari ranjangnya, untuk melihat luka pada tubuh Agung.
Sontak Juna kaget melihat 1 luka tusukan di perutnya. "Tidak mungkin, ini sangat berbahaya, lukanya sangat dalam, aku tidak nyangka Agung bisa terkena serangan dari Tombak milik raja reptil sedalam ini."
"Padahal dia yang lebih parah." Tabib membatin, setelah mendengan perkataan Juna.
Tabib pergi membelakangi Juna dan kembali meracik obat.
Lalu Juna menggunakan sihir menyembuhkan luka, milik leluhurnya.
Setelah berhasil menutup sedikit luka milik Agung. Juna kembali pingsan karena tenaganya tidak cukup, untuk menyembuhkan luka Agung sepenuhnya.
Buggh....
Tabib menoleh kebelakang sontak kaget. "Juna... "
Lalu tabib keluar dari ruangan perawatan, mencari pertolongan. Untuk menaikkan Juna kembali ke atas ranjangnya.
Saat tabib keluar, dia berpapasan dengan Aidan yang baru saja dari ruang singgasana raja.
"Juna--" belum selesai ngomong Aidan langsung masuk menerobos.
Lalu dia mengangkat Juna kembali di ranjangnya.
__ADS_1
Karena tertutup oleh selimut jadi Aidan dan tabib tidak dapat melihat luka Agung yang sudah mulai sembuh, disebabkan sihir penyembuhan milik Juna.
Aidan lalu duduk di bangku yang ada di dalam ruang perawatan untuk menunggu kesadaran dari teman-temannya.