
Bab 48
Setelah itu beberapa pasukan turun dari kudanya dan mendekat kepada semua yang telah tepar dan kemudian mereka mengangkatnya dan memeasukannya ke dalam gerobak kuda.
Untungnya mereka semua datang dengan membawa gerobak yang ditarik oleh 4 kuda itu. Jadi untuk mengangkat Raja Aftur dan para bawahannya yang tak sadarkan diri, untuk kembali ke kerajaan menjadi tidak sulit.
Lalu Agung melihat ke arah Juna kemudian Komandan Adri yang diangkat dengan keadaan yang sudah tak bernyawa, sehingga muncul rasa bersalah di dalam benak Agung.
Setelah semuanya sudah dinaikkan ke dalam gerobak lalu Clara masuk ke dalam juga, untuk menjaga semuanya korban yang ada di dalamnya.
Saat semuanya sudah siap untuk menjalankan kudanya, tapi Agung malah tidak ikut naik dan dia hanya diam saja menatap langit tempat Raja Dika yang menghilang dalam wujud naganya itu.
Clara sudah menunggu Agung, untuk masuk ke dalam gerobak baru dia akan menyuruh prajurit yang mengendarai kuda itu.
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya prajurit yang bertugas untuk mengendalikan kuda dengan berteriak.
"Tunggu sebentar!" Lalu Clara mengeluarkan kepalanya dari gerobak dan menoleh ke arah Agung yang hanya diam saja menatap langit.
"Woi Gung! Ayo pulang!" Teriak Clara dari dalam gerobak.
Lalu Agung menoleh ke arah Clara yang ada di dalam Gerobak dan berkata dengan tersenyum. "Pergi lah dulu, aku ingin menenangkan diri ku, di sini!"
"Tapi--" Clara berkata cemas, tapi Agung langsung memotong pembicaraannya. Kau tidak usah mencemaskan ku Rawat lah mereka yang terluka dan makam kan yang sudah tiada!" Ujar Agung sambil melambaikan tangannya.
"Baiklah!" Lalu Clara masuk kembali ke dalam dan kemudian dia berteriak kepada prajurit yang ada di depan. "Ayo Jalan pak!"
Ke 4 kuda itu lalu berjalan dan menarik gerobak besar yang sangat mewah itu dengan atap yang melindungi dari panas sinar matahari, sehingga mereka yang ada di dalamnya tidak akan merasakan panas.
Lalu 100 prajurit penunggang kuda itu ikut pergi mengiringi gerobak kuda itu, mereka semua berjalan menuruni bukit.
Setelah mereka pergi meninggalkannya, Agung kemudian naik ke atas batu besar tempat pedang itu berada dan tempat Agung tepar tadi.
Saat hendak naik Agung menemukan sarung pedang yang tidak terlalu bagus, lalu dia memungutnya, sarung pedang itu adalah bekas kepemilikan dari Komandan Adri.
Lalu Agung mencabut pedang legenda kutukan yang di tancapkan ya di tanah, dan kemudian dia memasukan pedang legenda kutukan yang tidak memiliki sarung itu kedalam sarung pedang milik Komandan Adri.
__ADS_1
Ternyata sarung pedang milik Komandan Adri itu sangata pas dan cocok untuk pedang legenda kutukannya.
Saat setelah sampai di atas batu Agung memandangi pedang yang di letakkan di depannya.
"Aku akan merawat sarung pedang sepeninggalan dari Komandan Adri, karena ini lah cara agar aku tidak melupakan perjuangannya." Ujar Agung dengan mengelus-elus sarung pedang tersebut.
Lalu Agung meraih pedang itu dan mengangkatnya, kemudian dia berkata. "Aku akan menamaimu pedang Black Shadow!"
"Woi jangan seenaknya memberikan nama pada pedang ku!" Ujar Roh pedang legenda kutukan dengan ketus.
"Kau diam saja, kau hanya tahanan yang berada di dalam tubuh ku, jadi kau harus menuruti perintah ku... monster!"
"Bisa kah kau tidak memanggilku dengan sebutan monster, karena aku juga memiliki nama, kau boleh memanggilku dengan sebutan 'Rena'." Bantah Roh Pedang Legenda kutukan dengan nada kesal.
"Rena!" Agung terkekeh mendengar itu.
"Berani kau mentertawai ku!"
"Maaf aku tidak bermaksud, tapi bagaimana bagus nggak jika pedang mu ku beri nama Black Shadow!" Agung mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan saat setelah mendengar nada marah dari Rena.
"Rena... Sepertinya kau adalah sosok yang baik, aku akan sangat senang jika kau mau membantuku selama aku hidup di sini!" Lalu Agung tersenyum menatap Langit sore berwarna jingga.
Rena yang berada di dalam tubuh Agung tidak mengatakan sepatah kata lagi dan dia hanya tersenyum.
"Seperti ini ya rasanya kehilangan, padahal mereka hanya teman baru, tapi sakit nya hati ini saat mereka mati!"
Lalu Agung memikirkan semuanya sambil menatap matahari tenggelam dari atas batu besar itu.
Apakah ini yang dirasakan oleh ibu ku saat aku mati ya?
Apakah dia merasa kehilangan saat kepergian ku?
Kira-kira bagaimana keadaan ibu saat ini ya?
"Seandainya aku bisa kembali, untuk menebus semua kesalahan ku secara langsung pada ibu!"
__ADS_1
Saat di situasi seperti ini Agung malah jadi teringat dengan ibunya dan tanpa di sadari air mengalir di pipi Agung.
"Aku harus kuat, aku berada di sini kan juga untuk menebus kesalahan ku." Gumam Agung sambil mengelap air matanya.
Lalu Agung bangkit berdiri, dia melompat dari atas batu kemudian dia berjalan untuk kembali pulang ke kerajaan bogata, dan melihat keadaan temanya Aidan.
Karena pada saat ini hanya Aidan lah yang masih bisa di selamatkan oleh tabib kerajaan yang memiliki berbagai ilmu pengobatan itu.
Agung kemudian berjalan menuruni bukit dengan memegang pedang legenda kutukan yang telah diganti namanya menjadi pedang Black Shadow.
Clara dan para rombongan baru saja memasuki gerbang kerajaan dan langsung menuju ke istana.
Tak lama setelah itu mereka sampai ke istana dan mereka semua memarkirkan kuda di depan istana.
Lalu para prajurit mengangkat para korban masuk ke dalam istana dan langsung membawanya untuk menuju ke ruangan perawatan milik tabib.
Dan kini ruang perawatan tabib telah di penuhi oleh para Ksatria yang menjadi korban saat berperang melawan Raja Iblis Naga dan bawahannya.
Setelah mengantar Aidan Clara keluar dari ruang perawatan, karena dia tidak di perbolehkan berada di dalam.
Bukan hanya Clara tapi siapapun tidak diperbolehkan masuk, saat sang Tabib mengobati para korban.
Jadi saat ini Clara hanya bisa menunggu di luar ruangan itu, sambil terus memikirkan Aidan yang tidak bisa pergi dari pikirannya.
****
Di lereng bukit Agung masih berjalan menuruni bukit dengan suasana hati yang kacau karena sepanjang perjalanannya Agung hanya memikirkan keadaan dari teman-temannya tanpa memikirkan keadaannya sendiri.
Melihat Agung yang terus murung saja membuat Rena merasa iba. "Kalau kau ingin bergegas untuk melihat keadaan teman mu, maka aku akan membantu mu agar cepat sampai ke sana."
"Sungguh kau mau membantu ku," ujar Agung dengan sedikit semeringah.
"Bener." Kemudia Rena mengalirkan kekuatannya kepada Agung.
Lalu pada punggung Agung keluar sayap yang terbuat dari bayangan hitam, dan dia kemudian melebarkan sayap tersebut.
__ADS_1
Dan Agung pun langsung melesat ke udara dan menuju ke arah kerajaan dengan menggunakan sayap bayangan itu.