Pedang Legenda Kutukan

Pedang Legenda Kutukan
Pilihan Sulit


__ADS_3

Bab 41


Saat memegang pedang legenda kutukan itu, tubuh Agung serasa seperti di sambar petir yang kuat, yang menusuk tembus di jantungnya.


Setelah mendapatkan Sambaran itu, Agung melemparkan pedang yang dipegangnya, sehingga pedang tersebut jatuh dari atas batu.


Lalu Agung berbalik badan dan menghantam bayangan seperti tangan yang memegang erat Aidan.


Aidan terbebas dari cengkraman kuat bayangan itu, lalu dia terjatuh berbaring di atas batu, karena kedua kakinya sudah tidak kuat, untuk menopang tubuhnya yang memiliki luka tusukan.


Raja Dika mendekat ke arah Agung dan Aidan yang ada di atas batu, dengan melangkahkan kaki yang tidak terlalu capat.


Saat Raja Dika sedang berjalan, Komandan Adri dan komandan Aleksander menyerang Raja Dika, dengan melompat ke arahnya.


Komandan Aleksander menyerang dari sebelah kiri Raja Dika dan Komandan Adri menyerang dari sebelah kanannya.


Lalu Raja Dika mendongakkan kepala, kemudian merentangkan tangannya dengan membuka telapak tangan dan menghadapkannya ke arah Komandan Adri dan Komandan Aleksander yang berada di samping kiri dan kanannya.


Dan dari telapak Raja Dika keluar tombak bayangan yang panjang. Lalu tombak bayangan itu menusuk tembus perut Komandan Adri dan Komandan Aleksander.


Sontak Komandan Adri dan Komandan Aleksander langsung terjatuh setelah mendapatkan tusukan di perutnya.


Di antara mereka berdua yang masih bisa bergerak adalah Komandan Adri dan komandan Aleksander sudah tak sadarkan diri, setelah menerima serangan itu.


Raja Dika kembali melangkahkan kaki, meninggalkan Komandan Adri dan Komandan Aleksander, lalu dia menuju Agung dan Aidan yang berada di atas batu.


Komandan Adri menatap Komandan Aleksander yang tak sadarkan diri di hadapannya.


"Aleksander," ucap lirih Komandan Adri sambil memegang perutnya yang tertusuk tombak bayangan Raja Dika.


Komandan Adri menggertakkan giginya melihat ke punggung Raja Dika yang berjalan mendekati Agung. "Kenapa aku tidak berguna di saat-saat seperti ini?"

__ADS_1


Lalu mata Komandan Adri terkena cahaya kilatan, kemudian dia menoleh ke arah kilatan cahaya itu, dia melihat pedang legenda kutukan yang telah dijatuhkan oleh Agung dari atas batu.


Dan Komandan Adri menunggu Raja Dika untuk melewati pedang itu dahulu, baru dia akan bangkit mengambilnya, karena posisi pedang itu tidak jauh dari batu tempat Agung dan Aidan berada.


Raja Dika menoleh ke arah pedang Legenda kutukan yang tergeletak di bawah sambil melangkahkan kaki menuju batu di depannya.


Setelah Raja Dika melewati pedang itu, Komandan Adri bangkit dan berlari dengan capat untuk mengambil pedang itu.


"Semoga aku bisa membantu kalian semua." Lalu Komandan Adri melihat ke arah semua temannya yang tergeletak, dia menoleh ke Raja Aftur yang tergeletak tak sadarkan diri juga. Dan terakhir dia mendongakkan kepala melihat Agung yang berada di atas batu.


Setelah itu Komandan Adri meraih pedang yang sudah berada di kakinya. Sontak tubuh Komandan Adri merasakan, seperti yang dirasakan oleh Agung tadi.


Tapi Komandan Adri tidak melepaskan pedang itu, karena dia berniat untuk menggunakan pedang itu untuk melawan Raja Dika, agar semua teman-temannya dapat selamat.


Kekuatan Roh yang sudah dikutuk itu masuk ke dalam tubuh Komandan Adri, Sontak Komandan Adri berubah penampilan dengan menggunakan pakaian yang terbuat dari aura hitam yang agak kemerahan.


Dan mata Komandan Adri berubah menjadi warna merah menyala. Tubuh Komandan Adri telah dikendalikan oleh Roh terkutuk yang berada di dalam pedang itu.


Pedang tersebut di beri nama pedang legenda kutukan karena, di dalam nya ada Roh yang sangat kuat dan memiliki kekuatan yang sangat besar.


Sehingga siapa pun yang menggunakannya akan menjadi sangat kuat. Tapi di samping kekuatan yang besar juga ada bayaran yang harus diberikan.


karena siapa pun yang telah mengaktifkan kekuatan pedang legenda kutukan, maka tubuhnya tidak akan kembali lagi kepada pengguna sebelumnya, sampai pengguna itu mati, baru Roh itu akan kembali ke pedang legenda kutukan.


Lalu Komandan Adri yang telah dirasuki Roh pedang legenda kutukan, melesat ke arah Raja Dika dengan membawa pedangnya.


Di atas batu Agung sudah bersiap-siap, dengan apapun yang akan dilakukan oleh Raja Dika yang sudah melompat ke arahnya.


Agung tidak dapat meninggalkan Aidan sendiri di atas batu, karena dia tahu bahwa Raja Dika dapat mengeluarkan bayangan dari mana saja, jadi dia memilih untuk berada di samping Aidan, agar dapat melindunginya selalu.


Saat Raja Dika berada di udara, Juna kembali menghadang Raja Dika dengan lompat melayang dihadapannya sambil mengayunkan pedang soru yang tajam.

__ADS_1


Saat melayang, di belakang tubuh Juna seperti ada aura bayangan kepala macan putih yang membuka mulut, menampakan taringnya yang tajam.


Raja Dika menahan tebasan kuat Juna hanya dengan tangan yang telah di lapisi bayangan hitam.


Bilah tajam Pedang soru Juna dapat dengan mudah dipegang oleh Raja Dika hanya dengan tangan yang dilapisi bayangan hitam.


Lalu Raja Dika melemparkan pedang Juna yang dipegangnya ke arah belakang, sehingga Juna ikut terlempar bersama pedangnya.


Juna terjatuh di tanah, lalu dia bangkit dan manatap tajam ke arah Raja Dika yang melayang di udara.


Dan Juna akan kembali melompat menuju Raja Dika, tapi saat sudah sedikit melompat, bayangan  Raja Dika muncul dari tanah dan mengikat kaki Juna.


Setelah itu  Juna dibanting oleh bayangan yang mengikat kakinya.


Juna kembali terbaring menghantam jatuh di tanah dengan sangat kuat. Kemudian dia menyabitkan pedang ke bayangan yang mengikat kakinya, saat bayangan putus, muncul kembali bayangan yang mengikat kedua tangan Juna, lalu kedua kaki Juna juga kembali di ikat oleh bayangan itu.


Saat ini Juna sudah tidak berdaya dengan terbaring di tanah, setelah semua tangan dan kakinya berhasil dilumpuhkan oleh Raja Dika.


"Sepertinya kau akan terus bangkit, kalo jantungmu tidak ku hancurkan," Raja Dika mengeluarkan bayangan dari sebelah tubuh Juna dan siap untuk menusuk jantungnya.


Agung yang melihat bayangan itu muncul, dia hendak melompat dan menyerang Raja Dika dengan pukulannya, tapi pada saat itu juga muncul bayangan hitam di sebelah Aidan juga, jadi Agung tidak bisa menyelamatkan Juna.


Agung menepis semua bayangan yang menyerang Aidan dengan mengeluarkan butiran air dari matanya. "Maaf kan aku Juna."


Raja Dika menusukkan bayangan hitam itu di dada Juna, sontak Juna langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Aghhh!" Teriak lirih Juna kesakitan.


Sontak air mata mengalir di pipi Agung, setelah mendengar teriakan terakhir dari Juna sahabat baik, yang baru saja dikenalnya saat berada di hutan larangan.


Dan Agung teringat semua kenangan yang pernah dilakukan bersama Juna, sambil menepis semua tombak bayangan yang mengincar Aidan.

__ADS_1


__ADS_2