
Bab 43
Raja Aftur mendapatkan kesadarannya kembali, lalu dia menyipitkan matanya melihat ke arah Komandan Adri dengan penampilan yang ditutupi oleh bayangan hitam sambil telungkup di tanah.
Sontak Raja Aftur kaget dan bingung dengan perubahan pada Komandan Adri.
Apa yang terjadi pada Adri?
Kenapa dia bisa menyudutkan Raja iblis naga?
Bagaimana mungkin Adri sekuat ini?
Beberapa pertanyaan muncul dibenak Raja Aftur.
Lalu Raja Aftur mendongakkan kepala ke atas, dia melihat Agung yang sedang berdiri dan Aidan yang sedang terbaring di sebelah Agung.
Dan Raja Aftur mencari pedang legenda kutukan yang tidak ada di atas batu.
Sontak wajah dari Raja Aftur berubah menjadi panik lalu dia beranjak berdiri dan membalik badan ke arah pertarungan Komandan Adri dan Raja Dika.
Lalu Raja Aftur mengamati Komandan Adri, setelah melihat pedang yang dipegang Komandan Adri, Raja Aftur menjadi lemas.
"Adri!" Raja Aftur jatuh berlutut. "Kenapa kau mengambil pedang itu, pedang itu akan membunuh mu, aku tidak ingin kehilangan Komandan prajurit hebat sepertimu! Kenapa kau melakukan itu?"
Tanpa disadari air bercucuran jatuh dari mata Raja Aftur.
Tiba-tiba Rasa sakit di perut Raja Aftur kembali lagi, lalu Raja Aftur meringis kesakitan dan kembali tumbang.
Melihat posisi Raja Aftur yang berubah dari posisi sebelumnya Agung teriak dari atas batu dan dia yakin bahwa barusan Raja Aftur telah sadarkan diri. "Raja Aftur!"
Teriakan Agung tidak mendapat respon karena Raja Aftur, telah kembali tak sadarkan diri, sejak perutnya tertusuk bayangan hitam Raja Dika, dia sudah tidak dapat bangkit seperti sedia kala.
Dan Agung tidak dapat turun dari batu, untuk mengecek keadaan Raja Aftur, karena dia akan terus berada di atas batu agar Aidan tidak di apa-apakan. Mata iblis milik Aidan, membuat dirinya akan menjadi pusat sasaran dari Raja Dika dan Komandan Adri yang dirasuki.
Kekuatan Raja Dika sudah tidak ada apa-apanya jika berada dihadapan kekuatan yang ada di dalam pedang legenda kutukan.
Saat ini Raja Dika telah dipojokkan oleh komandan Adri.
__ADS_1
"Ternyata kekuatan mu lebih lemah, dari ayahmu, aku sangat kecewa, karena awalnya aku mengira kekuatan mu sama dengan Raja iblis naga pertama atau bahkan melebihinya!" Ujar Komandan Adri sambil terus mengayunkan, ayunan pedang biasa kepada Raja Dika.
Raja Dika hanya bisa mengelakkan bagian tubuhnya agar tidak terkena serangan dari pedang yang diayunkan kepadanya.
Lalu Komandan Adri menggunakan tangan satunya yang tidak memegang pedang, dia mengarahkan tangannya ke arah Raja Dika, lalu aura warna merah menyala muncul dari tangan Komandan Adri.
Sehingga Raja Dika terpental kebelakang, dengan berguling-guling di tanah.
Saat Raja Dika sudah berhenti berguling Komandan Adri Yang dirasuki berjalan ke arah Raja Dika, dengan mengangkat pedang, siap untuk mengakhiri pertarungan ini.
Tiba-tiba tubuh dari Komandan Adri berhenti bergerak. "Apa sudah selesai? tubuhmu sangat lemah sekali anak muda."
Kemudian Roh itu keluar dari tubuh Komandan Adri dan kembali masuk ke dalam pedang legenda kutukan.
Semua bayangan hitam kemerahan yang menutupi Komandan Adri menghilang.
Saat bayangan hitam yang menutupi hilang tubuh Komandan Adri berubah menjadi kurus kering dan seperti tulang kerangka yang hidup.
Roh pedang legenda kutukan telah menghisap habis semua kekuatan dan kehidupan dari Komandan Adri.
"Akhirnya selesai, juga!" Raja Dika berjalan mendekati Komandan Adri, lalu dia menginjak kepala Komandan Adri.
Kepala Komandan Adri yang hanya seperti tengkorak kering, yang diselimuti kulit itu langsung hancur berkeping-keping.
Dan saat ini dapat dipastikan bahwa Komandan Adri sudah benar-benar selesai, dan perjuangannya untuk kerajaan pun telah sirna.
Agung menggertakkan giginya, melihat semua kejadian yang menimpa Komandan Adri. Yang mati dengan sadis sebagai seorang pahlawan.
Saat ini Agung juga sedang bimbang karena pada saat ini hanya dirinya lah yang masih bisa untuk bertarung.
Apa yang harus aku lakukan?
Tinggal akulah harapan yang tersisa!
Lalu Agung menoleh ke arah pedang legenda kutukan yang tertancap, setelah melihat pertarungan tadi, kekuatan dari pedang legenda kutukan tidak perlu diragukan lagi.
karena telah berhasil membuat Raja Dika yang kuat, tidak berdaya setelah berhadapan dengan kekuatan Roh yang ada di dalam pedang legenda kutukan.
__ADS_1
Raja Dika mendongakkan kepala menatap Agung yang sudah keringat dingin di atas batu bersama Aidan yang sedang tak sadarkan diri.
"Apa yang akan kau lakukan bocah, setelah melihat semua teman-teman mu tepat!" Raja Dika tertawa.
Agung memikirkan cara untuk bisa menggapai pedang legenda kutukan yang berada dekat dengan Raja Dika.
"Aku ingin di kehidupan terakhirku ini, berhadapan langsung dengan mu!" Ujar Agung dengan tersenyum.
"Apa maksudmu jadi kau ingin menantang ku?" Raja Dika kembali tertawa.
"Iya aku ingin melawan mu, tapi selama pertarungan kau tidak boleh menyentuh teman-teman ku dengan tombak bayangan mu sedikit pun, karena kau sangat licik tentulah kau dapat mengalahkan kami semua dengan mudah!"
"Baik aku akan menepati itu! Sekarang kita mulai pertarungan ini!" Raja Dika mengeluarkan beberapa tombak bayangan dari bawah kakinya dan tombak itu memanjang menuju Agung yang berada di atas batu.
Agung mengaliri kepalannya dengan sihir aliran api biru abadi, lalu melompat dari atas batu.
Agung terjun ke bawah sambil menepis dan menghantam beberapa tombak bayangan yang terus dikeluarkan oleh Raja Dika dari bawah.
Saat sudah mendarat di bawah Agung berlari menuju Raja Dika yang berdiri diam saja, sambil mengelak dan menepis tombak bayangan yang dikeluarkan Raja Dika.
Ketika Agung sudah dekat dia langsung melancarkan pukulan ke arah Raja Dika, lalu Raja Dika menepis pukulan Agung menggunakan bayangan yang keluar dari bawah.
Raja Dika mengaliri tangannya menggunakan bayangan hitam dan kemudian menghantam kepala Agung dengan pukulan yang sangat kencang.
Sehingga Agung mengeluarkan darah dari mulutnya. Dan Agung melancarkan serangan pukulan balasan namun Raja Dika tetap dapat menghindarinya dan kemudian memukul Agung kembali.
Dengan hanya tangan sebelah Raja Dika dapat menandingi Agung dalam pertarungan tangan kosong satu lawan satu.
Agung melompat mundur, kemudian mengelap darah yang keluar dari mulutnya.
Raja Dika tetap berdiri tenang dengan tangan mengepal di bawah dan kepalannya sudah dialiri bayangan hitam.
Agung melirik ke pedang yang menancap di belakang Raja Dika, lalu dia memikirkan cara bagaimana agar dia dapat lewat ke belakang Raja Dika.
"Bagaimana apa kau sudah mencapai batas mu?" Tanya Raja Dika dengan mencibir.
Agung hanya mendengus membuang napas menatap Raja Dika.
__ADS_1