Pedang Legenda Kutukan

Pedang Legenda Kutukan
Kembali Bertarung


__ADS_3

Bab 39


Saat semuanya sedang panik ketika melihat Raja Dika si Raja iblis naga yang berdiri di sebelah pedang legenda kutukan yang tertancap di atas batu.


Sedangkan Agung dari tadi masih tidur sejak berada disana. Dan kini dia bangun dengan raut wajah kusut sepeti orang baru bangun tidur.


"Dimana aku?" Ucap Agung sambil menguap dengan menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan.


Lalu Agung mengamati ke sekitarnya dan dia melihat semua orang-orang kerajaan dan temannya yang berdiri dengan tatapan kosong dan keringat dingin.


"Kalian ngerjain aku ya," lalu Agung bangun dari tidurnya dan berdiri sambil mengibaskan celananya yang kotor karena tiduran di tanah.


"Woi bodoh, ngapain Lo," suara sangar itu berasal dari Raja Dika yang berdiri di atas batu.


Agung menoleh ke arah batu dan melihat seorang pria tinggi, kekar dengan pakaian serba hitam itu.


Dan dia menatap Raja Dika sang penguasa dari para iblis, dengan santai, karena di mata Agung dia hanya manusia pria biasa.


"Siapa kau pak tua? Kenapa kau manjat-manjat, nanti jatuh nangis," ucap Agung dengan santainya.


Raja Dika menggertakan giginya setelah dihina oleh Agung. "Pak tua! ternyata kau cukup berani juga berkata seperti itu padaku!"


"Emangnya siapa kau?" Tanya Agung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku adalah Raja Dika," Raja Dika tertawa lepas.


"Raja Dika? Setau ku Dika itu tetangga rumah ku dulu, ternyata ada juga ya di sini pak Dika," Agung terkekeh.


"Ckk," decak Raja Dika dan menatap geram Agung. "Aku adalah Raja iblis naga, yang akan membunuh mu!"


"Raja Iblis naga? Iblis kera seperti kera, iblis beruang seperti beruang, iblis kuda seperti kuda! Ahh... Kau bercanda, jelas-jelas kau tidak seperti naga, kau seperti pak tua yang lemah." Agung kembali terkekeh.


Raja Dika semakin geram melihat Agung yang terus menghinanya sebagai pak tua. Kemudian Raja Dika mengeluarkan sayap dari punggungnya dan lalu dia melebarkan sayapnya.


Setelah melihat itu Agung terdiam dan membeku menatap ke Raja Dika seperti teman-temannya yang lain.


Aura kekuatan yang keluar dari Raja Dika membuat siapapun yang melihatnya akan terdiam membeku, dikarenakan perbedaan kekuatan yang jauh akan membuat mereka takut. Dan menyerah sebelum mencoba.


Raja Dika tertawa setelah melihat Agung yang ternyata juga takut, melihat aura dari kekuatannya, sehingga membuatnya tak bisa bergerak juga.


"Kau sangat niat sekali ya, sampai susah-susah membuat sayap mainan, agar dikira orang Raja iblis naga,"


Suara itu berasal dari Agung yang membeku bukan karena takut, melainkan membeku karena memikirkan cara membuat sayap yang besar pada Raja Dika.


Raja Dika terkejut melihat Agung yang masih bisa berbicara kepadanya. "Apa!"


Kurang ajar kau. "black Shadow."

__ADS_1


Dari batu yang dipijak oleh Raja Dika keluar bayangan yang menjari dan sangat banyak mengarah ke arah mereka semua.


"Woi sadar!" Teriak Agung kepada teman-teman yang tak bisa bergerak.


Sontak semua teman-teman Agung kembali mendapatkan kesadarannya setelah mendengar teriakan Agung.


Tapi walau mereka sadar, tetap tidak dapat menghindar dari serangan bayangan Raja Dika.


Dan serangan dari Raja Dika mengenai perut mereka semua, dengan sangat keras kecuali


Agung yang berhasil menghindarinya.


Aidan, Juna, Raja Aftur, Komandan Adri, dan komandan Aleksander mereka semua terpental dan mendarat jatuh ditanah.


"Ini bukan saat nya untuk diam, kita sekarang sedang berhadapan dengan Raja iblis naga!" Teriak Agung kepada temannya yang terbaring di tanah atas bukit.


Lalu mereka semua kembali berdiri dan sudah bersiap siaga, dengan Raja Aftur, Dan kedua Komandanya yang sudah melapisi senjata  dengan sihir aliran Listrik.


Juna mengeluarkan aura macan putih dari pedangnya, sehingga seluruh tubuhnya di selimuti oleh aura putih.


Aidan hanya mengaktifkan kekuatan mata iblisnya dan mengaliri pedangnya dengan Aura terang berwarna biru.


Dan Agung hanya berdiri dengan kedua tangan mengepal di depan dada. Dan Agung mengaliri kepalannya dengan sihir api merah.


Raja Aftur menghentakan giginya menatap Raja Dika yang berdiri di atas batu. "Ternyata dia Raja iblis naga, yang kekuatannya berhasil diambil oleh kakek ku!"


Mereka semua berlari maju untuk menyerang Raja Dika yang ada di atas batu.


Raja Dika tertawa keras dan kembali menyerang menggunakan bayangan yang keluar  dari dalam tanah.


Bayangan dari Raja Dika terus muncul dari dalam tanah, sehingga sulit untuk mereka mendekat.


Raja Dika bebas untuk menggunakan bayangan yang muncul menjadi apa saja, dan di pertarungan kali ini dia memunculkan bayangan seperti tangan dari dalam tanah.


"Aggggh!" Raja Aftur memotong bayangan hitam seperti kepalan yang besar.


Setelah memotong itu tidak membuat Raja Aftur lolos, karena serangan kembali muncul tepat di bawahnya dan menghantam perutnya dengan sangat keras, sehingga dia memuntahkan darah dari mulutnya.


"Yang mulia!"


"Yang mulia!"


"Raja Aftur!"


"Ayah!"


"Guru!"

__ADS_1


Ucap mereka berbarengan ketika melihat Raja Aftur yang sudah tak berdaya, setelah terhantam pukulan bayangan Raja Dika.


Komandan Aleksander dan Komandan Adri hanya bisa menahan bayangan hitam yang sulit untuk ditebas, walau mereka sudah menggunakan sihir aliran listrik.


Juna dan Aidan melesat di udara dan menebas semua bayangan yang mengarah pada mereka.


"Sepertinya kau sudah bertambah kuat Jun!" Ujar Aidan sambil menebas semua bayangan.


Lalu Juna tertawa. "Aku sudah di ajari teknik berpedang oleh Raja Aftur saat berada di istana."


Lalu Aidan ikut tertawa. "Kau belajar pada orang yang tepat Jun!"


Pandangan Raja Dika tidak lepas dari Aidan yang menggunakan kekuatan mata batinnya untuk menebas semua bayangannya.


Lalu Raja Dika mengeluarkan bayangan seperti tangan yang mengepal, yang memiliki ukuran tiga kali lipat dari bayangan lainnya.


Dan dia akan mengarahkan pukulan bayangan itu untuk menyerang Aidan.


Saat Tinju bayangan itu mendekati Aidan dan Aidan hendak menahannya menggunakan pedangnya.


tapi Agung tiba-tiba muncul dan mengadu pukulan tangan bayangan yang besar itu, dengan pukulan biasa yang telah dialiri sihir api merah.


"Maju Ndan, sepertinya pak tua itu lebih mengincar mu!" Ujar Agung yang ada di samping Aidan sambil menahan bayangan menggunakan tinjunya.


"Cih, anak itu benar-benar menjengkelkan," cibir Raja Dika melihat tajam ke arah Agung.


Lalu Agung membalas tatapan Raja Dika menggunakan senyuman.


****


Di kerajaan bogata Clara sedang memohon kepada Penasihat kerajaan agar di berikan izin dan perlengkapan untuk melakukan misi penyelamatan.


"Aku sudah bilang kalau perjalanan kesana itu sangat bahaya, apalagi untuk wanita lemah sepertimu." Bantah penasihat.


Lalu Clara memikirkan cara agar dapat meluluhkan Penasihat kerajaan. "Kalo gitu kirim beberapa prajurit ikut bersama ku, maka aku akan menuntun mereka sampai ke sana, karna hanya aku yang pernah pergi ke sana!"


Penasihat kerajaan tetap menolak permintaan Clara.


"Kau penasihat kerajaan macam apa. Kau hanya diam dan menunggu saat Raja kalian sedang berjuang," ujar Clara dengan


senyuman licik di bibirnya.


Penasihat kerajaan tertegun sejenak lalu memutuskan. "Baik lah aku akan mengirimkan beberapa prajurit untuk menyelamatkan Raja Aftur"


Setelah itu 100 prajurit hebat kerajaan pergi bersama Clara, dengan menunggangi kuda.


Kuda berlari beriringan dengan langkah yang sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2