
Bab 40
Raja Aftur kembali bangkit setelah menerima hantaman kuat di perutnya. Dan dia kembali mengayunkan pedang ke arah bayangan Raja Dika yang mengarah padanya.
Lalu Raja Dika merubah bayangan yang muncul menjadi tajam seperti tombak. Tombak bayangan ini muncul dalam jumlah yang banyak seperti tinjuan bayangan sebelumnya.
Raja Aftur menebas semua tombak bayangan itu sambil berlari mendekat ke Raja Dika. Saat Raja Aftur sudah dekat Raja Dika mengeluarkan tombak bayangan dari belakang Raja Aftur. Dan bayangan itu menusuk dari belakang Raja Aftur hingga tembus ke perut depan.
"Aggkhhh!" Raja Aftur mendesah kesakitan, dan pedang yang dipegangnya terjatuh ke tanah.
"Sepertinya ini akhir dari hidup mu," ujar Raja Dika melihat Raja Aftur yang kesakitan, setelah menerima tusukan tombak bayangannya.
Lalu Raja Dika mengeluarkan tombak bayangan yang banyak dan kembali mengarahkan ke Raja Aftur yang sedang tak sadarkan diri dengan berdiri itu.
"Ayah!" Aidan melesat ke arah Raja Aftur dengan sangat cepat dan menepis semua tombak bayangan yang menyerang Raja Aftur.
Sehingga Aidan tidak dapat mendekati Raja Dika. Jika dia mendekati Raja Dika maka tidak ada yang melindungi Raja Aftur dari serangan tombak bayangan itu.
Aidan menebas semua tombak bayangan dengan gerakan memutari Raja Aftur. Gerakan Aidan sangatlah cepat sehingga tidak ada satu pun tombak bayangan yang dikeluarkan oleh Raja Dika mengenai Raja Aftur dan dirinya.
Lalu Raja Dika mengeluarkan tombak bayangan di sekeliling Raja Aftur secara bersamaan.
Melihat itu Aidan pun ketat ketir dengan wajah panik saat tombak bayangan yang muncul menyerang secara bersamaan.
Tanpa sadar aidan mengeluarkan perisai berwarna biru dan perisai itu mengelilingi Raja Aftur, sehingga tombak bayangan Raja Dika tidak dapat mengenai Raja Aftur.
Setelah itu Aidan langsung menoleh ke arah Raja Dika. Dan dia melesat ke Raja Dika yang hanya berdiri di atas batu sambil menyaksikan mereka semua.
Saking cepatnya Aidan. Raja Dika tidak dapat menyentuh Aidan yang melesat di udara, dengan menggunakan tombak bayangan, yang sudah sangat banyak di keluarkan nya.
Aidan langsung menyabitkan pedangnya ke kepala Raja Dika. Dan kepala Raja Dika langsung lepas dan menggelinding dari atas batu.
Lalu tombak bayangan yang menyerang mereka semua menghilang.
__ADS_1
Komandan Adri dan komandan Aleksander terkagum-kagum melihat Aidan mantan muridnya yang dulu lemah, kini telah menjadi seorang pangeran kuat yang sesungguhnya.
Juna dan Agung tersenyum menatap Aidan yang berada di atas batu.
"Aidan kau sangat hebat, aku kagum padamu," teriak Agung dari bawah batu.
Aidan tertawa, tetapi tiba-tiba tombak bayangan muncul dari batu yang berada di bawah Aidan. Dan tombak bayangan itu menusuk lengan Aidan.
Lalu muncul kembali bayangan yang berbentuk tangan dan langsung mencengkram Aidan dengan sangat kuat, sehingga Aidan tidak dapat bergerak. Dan dia hanya bisa menggerakkan kepala kiri dan kanan.
Saat bayangan itu mencengkram Aidan. Mereka semua yang ada di bawah melihat ke arah kepala Raja Dika yang telah putus. Lalu kepala itu berubah menjadi bayangan.
Sontak membuat semuanya kaget termasuk Aidan.
Lalu muncul bayangan hitam yang berasal dari dalam batu sambil tertawa. "Aku tidak mungkin, kalah semudah itu!"
Lalu Raja Dika menatap mata biru Aidan dari jarak yang dekat. "Aku akan mengambil mu, kembali tenang saja!"
Tiba-tiba Agung muncul dari samping Raja Dika dan ingin menghantamnya dengan pukulan yang telah dialiri api biru abadi.
Dan mengadu pukulan kuat Agung dengan Pukulan bayangan yang kuat, sehingga membuat Agung beradu pukulan.
Kekuatan Api biru abadi milik Agung adalah kekuatan langka yang hanya dimiliki oleh orang tertentu saja. Dan di kerajaan sudah banyak prajurit yang mempelajarinya namun gagal.
Dan di bukit pedang legenda kutukan ini Agung kembali menggunakan kekuatan sihir aliran api biru abadinya, sehingga membuat orang-orang kerajaan terkejut dengan penampakan langka ini.
"Apa!" Ucap kaget Komandan Aleksander dan Komandan Adri secara bersamaan.
"Agung bisa menggunakan kekuatan sihir aliran api biru abadi!" Sambung Komandan Adri.
"Aku telah belajar sihir aliran itu selama 20 tahun lebih, tapi aku tetap tidak bisa menggunakannya, tapi kenapa Agung yang baru saja pemula bisa menggunakannya?" Ujar Komandan Aleksander dengan bingung.
Lalu Raja Aftur melihat dengan menyipitkan matanya sambil berlutut menahan Rasa sakit. "Sepertinya kau memang lah orang yang diramalkan, dan kini aku tidak salah memilih!"
__ADS_1
Sebelum kedatangan Agung, Raja Aftur telah banyak mengirimkan para pemuda untuk mencari pedang Legenda kutukan, tapi setelah mereka pergi dan mereka tidak pernah kembali lagi.
"Api biru abadi, kekuatan yang sangat bahaya! Karena telah berhasil merenggut nyawa dari Ayah ku," ucap Raja Dika sambil melirik ke arah Agung yang beradu kekuatan dengan pukulan bayangannya.
Agung berhasil mengalahkan pukulan bayangan hitam itu dengan menghancurkannya.
Lalu Agung menambahkan pukulannya untuk Raja Dika yang sedang bersama Aidan yang ditahannya.
Agung berhasil mengenai kepala dari Raja Dika, sehingga membuatnya terpental kuat dari atas batu.
Dan Raja Aftur bangkit kembali dengan tubuh yang terbakar oleh api biru abadi milik Agung.
Lalu Raja Dika melepas api biru abadi itu dengan cara melepaskan bayangan dari bagian tubuh yang terbakar api, sehingga api biru abadi itu ikut terlepas dari kulitnya.
Setelah itu Raja Dika berjalan mendekati Agung dan Aidan yang ada di atas batu.
Dan Juna mulai bergerak menghalangi Raja Dika, dengan menghadangnya untuk lewat menuju Agung dan Aidan.
Juna berada dihadapan Raja Dika, dengan posisi siap siaga dan menempatkan pedang sorunya di depan dada.
Lalu Raja Dika mengeluarkan tombak bayangan dari tanah dekat Juna dan mengarahkannya ke pedang yang dipegang Juna.
Tombak bayangan itu menghantam pedang soru Juna dengan kuat, tapi karena instruksi Raja Aftur tentang cara memegang pedang yang benar, membuat pedang Juna tidak terpental.
Dan tujuan Raja Dika untuk menjatuhkan pedang Juna gagal, karena dengan jatuhnya pedang Juna akan dapat membuat Raja Dika membunuh Juna dengan mudah.
Karena pedang Juna yang tidak terlepas, lalu Raja Dika mengibaskan tangannya ke arah Juna, sehingga membuat Juna terpental ke belakang, karena kibasan tangan Raja Dika mengeluarkan bayangan seperti angin.
Lalu Raja Dika kembali berjalan untuk mendekat ke arah Agung dan Juna yang berada di atas batu.
Agung sudah sangat lelah sehingga dia tidak dapat mengeluarkan sihir api birunya lagi.
Lalu Agung teringat perintah Raja Aftur pertama kali yaitu untuk mendapatkan pedang legenda kutukan.
__ADS_1
Dan Agung kemudian melirik pedang yang berada di sampingnya lalu menariknya, sontak Agung langsung merasa, di sekujur tubuhnya seperti dialiri oleh kekuatan yang sangat kuat dan besar.