
Sandra keluar dari kamar mandi menuju meja rias, ia melihat sang kakak duduk di atas ranjang yang memainkan ponselnya.
"Kak, apa kakak sudah menghubungi kak Kevin?" tanya Sandra.
"Belum" jawab Sindri.
"Kak Kevin datang jam berapa kak?" Tanya Sandra lagi.
"Sepertinya dia sudah sampai sejak kamu di kamar mandi" jawab Sindri.
"Ok, baiklah, aku sudah rapi, kita memakai pakaian yang sama, hiasan rambut yang sama, dan setiap inci tubuh kita sama dari rambut sampai kaki" ujar Sandra.
"Kamu sudah siap, maka kamu keluar duluan dek" pinta Sindri.
"Baiklah" jawab Sandra.
Sandra keluar dari kamar dan menuruni tangga, beberapa sepasang mata menatapnya.
'Itu Sindri atau Sandra?' tanya Kevin dalam hati.
'Sungguh cantik' ungkap Sean.
'Bagaimana jika tertukar?' tanya bunda dan ayah dalam hati.
Sandra bingung harus menyapa siapa dulu. Akhirnya ia duduk di sebelah orang tuanya.
'Apa aku biarkan dia pergi dengan Sean? Bagaimana jika tertukar? Aku tidak bisa membedakan keduanya' batin Kevin berkata.
__ADS_1
"Nak, kamu ingin pergi dengan siapa hari ini? Kevin atau Sean?" tanya Ayah.
"Aku pergi dengan Kak Sean ayah" ucap Sandra.
'Dia adalah Sandra' ujar Kevin dalam hatinya lega.
'Tidak mengajak Kevin?' tanya Sean dalam hati.
"Ayo kak Sean,bisa kita jalan sekarang kak?" tanya Sandra pada Sean.
"Bisaa, tapi Kevin bagaimana?" tanya Sean menatap Kevin.
"Apa kak Kevin ingin ikut?" tanya Sandra yang berpura pura.
"Ee, tidak. Kamu pergi saja berdua, aku akan tetap disini untuk menunggu kalian kembali" ujar Kevin.
"Baiklah kak" jawab Sandra dengan senyuman manisnya karena mengetahui jika Kevin akan bersenang senang dengan kakaknya.
"Ayah, Bunda. Sandra pergi dulu ya, daaa, muach" ucap Sandra yang berpamitan dengan menyalami tangan kedua orang tuanya dan di ikuti Sean.
Sean dan Sandra sudah keluar dari rumah. Membuat Kevin merasa tenang begitu pula dengan calon mertuanya.
"Biar bunda panggilkan Sindri" ucap Bunda sambil menepuk pundak Kevin.
Bunda meninggalkan ruang keluarga dan menuju kamar anak kembarnya.
"Sin, di bawah Kevin sudah menunggu sayang" panggil bunda yang membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Baik bun, aku akan turun" ucap Sindri dengan senang hati.
Bunda dan Sindri turun bersama ke ruang keluarga. Kevin menatap Sindri dengan tatapan mencurigai.
'Apa dia Sindri? Kenapa dia menggunakan pakaian,hiasan, model rambut yang sama? Apa ini tipu daya mereka berdua untuk mengelabui aku?' pertanyaan Kevin dalam hati.
"Hai, Biasa saja menatapku. Aku tau, jika kamu merasa tegang karena bingung melihat kembaran ku turun tadi ya kan?" tanya Sindri dengan menggoda Kevin.
Ayah dan Bunda hanya tersenyum melihat wajah Kevin yang dibuat heran dengan anaknya.
"Tidak" jawab singkat Kevin karena ia takut keliru dalam mengatakan hal yang membuat Sindri menjebaknya.
"Yakin kah?" tanya Sindri.
"Tidak juga" jawab Kevin.
Sindri melihat raut wajah Kevin yang berubah ia langsung tertawa manis sambil menggelengkan kepalanya.
Bunda melihat kemesraan anaknya pun, mengajak ayah pergi meninggalkan mereka untuk melepas rindunya.
"Apa rencana mu?" tanya Kevin.
"Hai, apakah kamu lupa sayang?" tanya Sindri menggoda Kevin.
"Baiklah, tapi... Apa kamu ingin keluar dengan seperti ini sayang?" tanya Kevin.
"Memangnya ada yang salah dengan penampilan ku sayang?" tanya Sindri.
__ADS_1
"Tidak sama sekali, tapi kamu hanya butuh topi dan kaca mata agar tidak ketahuan pada calon adik ipar mu itu sayang" ujar Kevin sambil mengambil topi dan kaca mata dari tas kecil yang ia bawa.