
Gio diajak sahabatnya William untuk makan di restoran jepang, mereka segera mengambil meja disudut supaya tak terlalu terganggu dengan lalu lalang orang yang lewat
"Cia.. rachel.. kalian disini?" sapa william antusias saat menghampiri dua wanita cantik diseberang mejanya, dua gadis itu berdiri. mereka bergantian berpelukan sambil tertawa. melihat cia dipeluk william dan tertawa lepas seperti itu, hati gio kesal sekali. cia tak dapat melihat gio karena terhalang tubuh besar william. mereka berbincang sambil berdiri
"ehemmm" sindir gio dari belakang punggung william. tiga mata memandang gio, cia langsung memasang wajah dingin
"Ah kenalkan ini brandon, sahabat masa kecilku.. brandon ini cia dan rachel sahabat masa kuliahku, apartemen kami bersebelahan di LA dulu" william mengenalkan mereka , mereka segera bersalaman . cia seolah tak mengenal gio. membuat gio makin kesal
"kalian sudah memesan makanan? kami belum. bagaimana kalau kita bergabung? aku akan mentraktir kalian dalam rangka kepulangan brandon dan cia" rachel mengangguk setuju sebelum cia sempat menolak
"Baiklah .. ayo kita makan bersama" ajak rachel gembira, matanya tak berhenti menatap gio yang kelihatan sangat tampan itu
william duduk mau duduk disamping cia, tapi gio menarik lengannya, gio duduk disamping cia. ia tak nyaman duduk bersama wanita yang mengidolakannya dengan tatapan berlebihan seperti rachel. sementara cia tak nyaman duduk bersama gio . william memilih duduk dihadapan cia
william memesan dua steak ayam untuknya sendiri dan rachel karena itu kesukaan mereka sejak dulu. william juga memesankan steak sapi kesukaan cia dan gio.
saat pesanan tiba, william meminta pelayan meletakkan steak cia dihadapannya. setelah memotong kecil kecil buat cia, ia mendorong hotplate itu kehadapan cia. baru mengambil steak ayamnya sendiri
gio melihat semua pergerakan william. padahal dia sendiri sedang memotong kecil kecil steaknya untuk ditukar dengan hotplate cia. akhirnya gio makan dengan kesal. mereka makan tanpa suara .
"Maaf kami harus segera kembali, orangtuaku menunggu, papiku sedang sakit" kata cia pada william setelah mereka selesai makan. william merangkul bahu cia menuju parkiran. saat cia mau masuk ke mobil, william mengusap puncak kepalanya. "semoga papimu lekas sembuh" katanya tulus, cia mengangguk. mereka kembali berpelukan. Gio mendengus melihat reaksi mereka
lalu mereka berpisah di parkiran restoran.
"Kau mau diantar kemana bro?" tanya william
"Kantor Martz, aku harus menemui papaku dulu" jawab gio, will mengangguk
"Kau sudah lama mengenal kedua gadis itu?" tanya gio
"sembilan tahun lalu apartemenku bersebelahan dengan mereka, jadi kami sering hang out bersama saat weekend, hubungan kami akrab sekali setelah tau berasal dari kota K ini. Dulu banyak pria LA yang mendekati kedua gadis itu, rachel beberapa kali menjalin hubungan selama di LA"
" Cia bahkan sangat dingin pada pria manapun kecuali kepadaku. Banyak pria mengejarnya dan ditolak mentah mentah. Aku tanyakan alasannya. Katanya ayahnya sudah menjodohkannya sejak kecil, aku sempat menyukainya bahkan sampai sekarang perasaan itu tetap sama. cuma mendengar ia sudah dijodohkan aku memilih menyimpan perasaanku daripada merusak persahabatan kami"
"dijodohkan?.. jaman apa ini?" tanya gio
dia heran dengan pikiran orangtua karena dia juga dijodohkan ayahnya cuma ia tak keberatan sebab dijodohkan dengan kekasih masa kecilnya, satu satunya wanita yang akan dia nimahi
"biarlah.. itu urusan keluarganya" kata william. Gio segera turun di depan perusahaan papanya. petugas keamanan membawa dan menyimpan koper gio. mereka pun segera berpisah
Gio naik ke lift CEO menuju ruangan papanya , zevron langsung memeluk putranya erat "Kau sudah pulang anak nakal, kau semakin tampan" kata zevron
__ADS_1
"ya papa sudah kalah tampan dariku" ledek gio. mereka tertawa bersama
"Papa mau memberitaumu, waktumu menikah sudah tiba, kekasih masa kecilmu sudah kembali, malam ini kalian akan bertemu, kau bisa menolak kalau kau keberatan atau sudah memiliki kekasih, papa tak akan memaksamu bila kau tak cocok" gio mengangguk
"papa ada sedikit pekerjaan kau tunggu sesaat papa akan segera selesai, kita pulang bersama setelah kerjaan papa beres" kata zev. gio mengangguk
***
Rachel menjalankan mobilnya menuju villa keluarga cia, rachel memulai pembicaraan
"kau lihat teman william tadi? ia sangat tampan" puji rachel, Cia memasang muka datar
"ah kau tak seru, sejak dulu membahas pria tampan wajahmu selalu sedatar ini, ayolah nikmati dunia ini, jangan bilang kau masih suci" tanya rachel
"aku sudah dijodohkan jadi tak minat menjalin hubungan dengan pria manapun baik dulu maupun sekarang" potong cia
"baiklah baiklah.. kita sudah tiba, semoga papimu cepat sembuh"
"terima kasih rachel" cia memeluk rachel dan membawa koper & tas laptopnya masuk ke rumah
"mami mana papi mi? papi baik baik saja?" tanya cia saat memasuki rumahnya, ia memeluk ibunya. sambil menangis
"ayo kekamar, papi menunggumu" kata mami pattie, cia segera kekamar dan memeluk ayahnya yang duduk di sofa. wajahnya pucat tapi masih sangat tampan dengan tubuh tegapnya itu
"sayang. waktumu menikah sudah tiba, sesuai kesepakatan kita dulu , malam ini kita akan menemui keluarga calon suamimu" tegas gabriel, cia melotot
"pi kapan kapan saja, cia masih berkarir pi" katanya memelas memeluk ayahnya dengan manja.
"papi selalu memikirkanmu, sampai jatuh sakit, kau ingin papi tiada baru bersedia menikah?" tanya gabriel. cia menggeleng
cia merasa dia dijebak pulang untuk menikah, sementara menikah tak ada dalam list hidupnya saat ini. tapi kondisi kesehatan papinya membuat dia tak bisa menolak . entah pria seperti apa yang dijodohkan dengannya nanti. dia pasrah menerima takdirnya
"bersiaplah, malam ini jam 18 kita bertemu calon suamimu di restoran raflesia" tegas gabriel. cia hanya mengangguk dengan wajah dingin
"gaunmu sudah mami sediakan di kamarmu" sambung pattie, cia mengangguk dingin dan naik kekamarnya
***
"Ayo kita pulang, kerjaan papa sudah selesai, mama pasti merindukanmu" ajak zevron, gio mengangguk
supir mengantar mereka kembali ke vila keluarga zevron, sampai dirumah audi langsung memeluk putranya sambil meneteskan airmata. ia merindukan putranya
__ADS_1
"Mandi dan istirahatlah, nanti kita akan bertemu calon istrimu jam 18:00 di restoran raflesia" kata zev, gio mengangguk setelah mengecup pipi audi
"pah brandon akan berangkat awal karena ada pertemuan di hotel raflesia, selesai pertemuan brandon turun ke restoran raflesia ya" ijin gio, zevron mengangguk
"ini kunci mobilmu, papa memesannya minggu lalu untukmu, tadi malam baru tiba disini" zev menyerahkan kunci buggati la voiture noire pada putranya. "Terima kasih pa" gio memeluk papanya lalu naik kekamarnya
Setelah membersihkan diri, ia turun pamitan pada orangtuanya, sebenernya dia datang awal untuk memesan hidangan kesukaan calon istrinya yang sudah dia selidiki dari abang ipar nya. jam 16:30 ia segera ke raflesia hotel milik ayahnya untuk memesan menu buat makan malam nanti
***
Jam 17:45
villa graham
TOK TOK TOK
"Cia. apakah kau sudah selesai? papi sudah menunggu dibawah" panggil pattie
KREKKKK
cia membuka pintu kamarnya , pattie takjub dengan gaun sabrina yang dikenakan putrinya "kau benar cantik sekali nak" pujinya "ayo turun"
cia turun kebawah dengan wajah dingin, ayahnya sudah menunggu lama
"Kau cantik nak, ayo kita berangkat .. sudah puk 17:50" ajak gabriel. cia hanya diam dengan wajah dinginnya
tiga puluh menit mereka tiba di hotel raflesia, mereka segera menuju ke restoran
"maaf kami terlambat" ucap gabriel.
"tak apa kami baru saja tiba, masuk dan duduklah gab" ajak zevron setelah keempat orangtua itu saling berpelukan
diruangan terlihat Alvin, Aldrick, Brenda , Brilliana, Brandon , mereka segera nenyapa gabriel dan pattie dan berpelukan
"mana calon menantuku" tanya audi pada pattie
"Dia tadi ke toilet sebentar.. mungkin sebentar..."
"maaf uncle onty kakak kakak ipar saya terlambat" cia masuk dengan ucapan maaf
__ADS_1
"wah kau cantik sekali nak" puji audi sambil memeluk cia. cia memeluk mertuanya dengan wajah dingin yang dipaksa senyum
gio terpana melihat penampilan cia, ia sampai membeku "menarik, ternyata dia gadis kecilku dulu.. kau milikku sayang" batin gio