
"Mas, kamu gak capek ya?" tanya Kei yang terlihat lesu saat berada di hotel. Tuan Muda Lee menggeleng. "Tidak Honey. Kenapa emang?" tanya Tuan Muda Lee. Ia tidak capek, malahan ia sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Kei.
"Aku mau istirahat dulu deh, Mas. Aku capek banget. Entah kenapa," ungkap Kei. Ia sebelumnya juga berganti pakaian dulu. "Iya Honey, istirahatlah. Nanti malam ya," ujar Tuan Muda Lee sembari mengerlingkan sebelah matanya. Kei menghela nafas kasar. "Apa? Mau ninu-ninu lagi?" tanya Kei sewot. Tuan Muda Lee malah terkekeh melihat ekspresi Kei yang jengkel ketika ditagih jatah. "Iya, iya enggak kok. Duh mukanya dikondisikan dong, Honey. Aku takut lho lihatnya," ucap Tuan Muda Lee meledek istrinya. Kei makin mengerucutkan bibirnya.
Kei yang terlalu capek langsung tidur. Sedangkan Tuan Muda Lee memantau perkembangan perusahaannya yang kian hari kian melejit.
Perkembangan perusahaannya makin menunjukkan progres yang baik dan pesat. Tentu Tuan Muda tidak bisa seperti sekarang jika tidak ada sekretaris handalnya yaitu Arsa. Arsa memang bisa diandalkan sampai sekarang. Selama honeymoon, Tuan Muda Lee melimpahkan semua pekerjaannya ke Arsa.
Arsa memang profesional. Ia tidak ingin mengecewakan bosnya. Kerjaan yang ia kerjakan selalu memuaskan. Hanya saja ada fase dimana Arsa juga capek dan lengah. Sewaktu Tuan Muda Lee lumpuh. Jadi itu berimbas pada perusahaannya yang terbobol oleh hacker. Entah siapa yang melakukan, pelakunya belum terendus hingga sekarang.
Ia berniat untuk menyusul Kei untuk tidur. Tapi notifikasi berita di ponselnya membuatnya penasaran. Headline tentang dirinya terus bermunculan. Ia ditetapkan sebagai 30 orang paling berpengaruh se Asia. Tuan Muda Lee tahu dari web yang menyebarkan berita itu.
Senyum manis terukir di wajah Tuan Muda Lee. Ini semua juga berkat Tuhan Yang Maha Esa. Tidak lupa juga ini berkat Kei dan orang yang mensupport dirinya. Tuan Muda lantas memandang Kei yang terlelap tidur. Ia mengecup pelipis Kei dengan lembut.
"Terimakasih, Honey. Kamu adalah segalanya buatku," ucap Tuan Muda Lee lirih.
******
Di Indonesia, Akash juga terlihat sibuk dengan berkas-berkas yang harus ia tinjau lagi sebelum ditandatangani. Sekretarisnya yang bernama Jane pun juga cekatan.
__ADS_1
Jadi, Akash lebih mudah jika mengerjakan semua berkas itu dalam waktu yang dekat. "Jane, kamu atur semua ini ya. Segera revisi apa yang saya bilang tadi," ucap Akash serius. Jane pun mengangguk. "Baik Tuan. Oh iya Tuan, nanti ada meeting di puncak Bogor. Klien kita memutuskan tempatnya. Mungkin nanti sekitar jam 2 siang," ucap Jane sembari membawa dokumen yang harus ia revisi. Akash pun mengernyit. "Harus di Bogor banget ya, Jane? Siapa klien itu?" tanya Akash keheranan. Kenapa meeting harus di Bogor?
"Dari Wijaya Group, Tuan. Beliau maunya ke Bogor karena mereka memang sedang di Bogor, Tuan." Jane menjelaskan alasannya. Akash pun mengangguk. "Oke nanti kabari ya kalau mau berangkat. Ini masih jam 9 pagi. Nanti kita akan berangkat bareng," ucap Akash. Sekretaris mudanya itu mengangguk.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang. Mereka pun berangkat ke Bogor. Jarak antara Jakarta ke Bogor memakan waktu 2 jam. Jadi mereka berangkat lebih awal.
"Jane, kamu sudah cek semuanya?" tanya Akash memastikan. Mereka sudah berada di mobil. "Sudah, Tuan. Saya sudah cek semua. File yang akan dipresentasikan juga sudah saya siapkan." Akash pun langsung melajukan mobil mewahnya ke Bogor.
Sepanjang perjalanan, Akash sangat fokus menyetir jadi ia tidak sempat berbasa-basi dengan Jane. Jadi mereka sama diamnya. Akash tidak lagi bermain wanita. Ia sudah capek berhubungan dengan wanita. Karena bagi Akash wanita yang ia cintai sudah hilang.
Akash dan Jane pun langsung bertemu dengan klien. "Halo Pak Wijaya, senang bertemu dengan Anda," ucap Akash seraya menjabat pemilik perusahaan Wijaya Group itu.
Pak Wijaya adalah orang yang cukup berpengaruh di negerinya. Ia memegang perusahaan terbesar ke 4 setelah perusahaan Aditama Jaya. Memang seusia pak Wijaya sudah matang untuk meng-handle perusahaan. Usiany sekitar 46 tahun.
Walaupun perusahaan Akash lebih bagus daripada milik Wijaya, tapi Akash menunjukkan sikap ramah dan sopannya. "Senang juga bertemu dengan Anda, Tuan Akash Anderson. Tidak salah Tuan Aaron memilih Anda sebagai penerus perusahaan beliau. Anda sangat profesional," puji Wijaya. Akash hanya tersenyum.
Langsung saja setelah pertemuan ini, mereka langsung melakukan meeting. Akash menyampaikan dengan bahasa yang sangat rapi dan mudah dimengerti. Dirinya pandai meraih hati klien. Setelah beberapa pertimbangan akhirnya perusahaan milik Wijaya pun mau bekerja sama dengan perusahaan Akash.
__ADS_1
"Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda, Tuan Akash Anderson. Saya harap dengan kerja sama ini, perusahaan kita masing-masing akan menjadi lebih maju," ucap Wijaya seraya menjabat tangan Akash.
Setelah meeting selesai. Mereka pun langsung bersantai. Akash belum menandatangani berkas itu. Ia harus pastikan lagi.
"Mohon maaf Tuan. Saya izin ke toilet sebentar," izin Jane diangguki oleh Akash. Kebetulan jarak antara mejanya mereka dan toilet tidak jauh. Jane akan masuk ke toilet perempuan. Ternyata harus berpapasan dengan Pak Wijaya keluar dari toilet pria.
Jane yang notabene orang ramah, ia pun tersenyum ke arah Pak Wijaya sebagai ungkapan rasa hormat dan segan. Namun, cara menatap dan membalas senyum dari Pak Wijaya pantas dicurigai. Ia memandang Jane seperti memandang mangsa. Jane yang mau berpikiran negatif pun langsung menuju ke toilet itu. Ia sudah kebelet sekali.
Setelah beberapa menit, akhirnya Jane keluar. Ia langsung menuju ke kaca toilet yang lumayan besar. Ia merapikan penampilannya. Tiba-tiba saja, Pak Wijaya mendekat ke arahnya.
kebetulan toilet juga sepi. Jadi, pak Wijaya mengambil kesempatan itu. "Hai Jane cantik. Kamu mau tambahan uang gak?" tanya pak Wijaya genit sembari mendekatkan diri ke Jane. Jane pun panik, tapi ia berusaha menetralisir rasa takutnya.
"Maaf Pak Wijaya, sebaiknya Anda keluar dari toilet perempuan karena ini sudah melanggar batas," ucap Jane yang hendak keluar. Tetapi tangannya dicekal oleh Pak Wijaya. "Tunggu, kenapa harus buru-buru, cantik. Aku bisa kasih apa yang kamu mau asalkan kamu turuti apa yang aku mau, deal?" tanya Pak Wijaya membuat Jane semakin ketakutan. Ia mencoba menggertak kliennya itu.
"Jangan kurang ajar, Pak Wijaya! Atau saya akan teriak!" seru Jane karena ia merasa dilecehkan. Pantatnya sudah di rem*s oleh kliennya itu.
"Jangan buru-buru, Sayang." Karena Pak Wijaya lebih berbuat nekat, akhirnya Jane pub langsung berteriak.
"TOLONG, TUAN AKASH!" seru Jane sembari menangis tersedu-sedu karena Jane sudah dilecehkan oleh Pak Wijaya dengan mencium lehernya.
__ADS_1