
"Tara … ada apa? Apakah semua warga tewas?" tanya Alaric yang sudah tersadar dari bangun panjangnya selama 2 hari.
Alaric semakin cemas jika dia tak berhasil menolong semua orang, bayangan Desa West kembali terbayang di benaknya.
"Apa? Tidak! Syukurlah kau sudah bangun!" umpat Tara kesal, "semua ini, gara-gara, kamu!" umpat batin Tara kesal.
"Oh, syukurlah! Terima kasih Dewa Zeus!" ucap Alaric, ia turun dan mendekati Tara yang masih duduk bersimpuh di lantai tepat di samping bale Alaric.
"Tara," lirih Alaric, ia menyentuh bahu Tara, "ada apa? Apakah kamu terluka?" tanya Alaric.
Alaric mengamati Tara, ia tak menemukan luka sedikit pun di tubuh Tara, Alaric sedikit bernapas lega.
Deg! Jantung Tara dan Alaric bergetar, Alaric langsung menarik tangannya. Ia tak mengerti dengan apa yang sudah terjadi, keduanya diam.
"Mengapa jadi begini? Aku tidak ingin mengikat diriku dengan seorang pria mana pun! Apalagi, manusia. Aku hanya ingin melindungi Sgàil Shìthiche." Tara membatin.
Tara tidak menyangka selama 150 tahun kehidupannya yang damai harus kacau karena seorang Alaric ras manusia. Tetapi, Tara tidak bisa menyesali semua keputusannya. Dia sudah menyelamatkan Alaric dan itu sudah ketentuan dari Yang Maha Kuasa.
"Aku tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan Ratu Zumaris, yang bodoh! Nyatanya, aku lebih bodoh darinya, anak yang seharusnya aku awasi, tumbuh kembangnya malah menjadi belahan jiwaku," batin Tara.
"Tara, aku lapar! Di manakah mencari makanan di sini? Apakah ini Calvala?" tanya Alaric, ia seakan menjadi manja kepada Tara.
Alaric mengamati wajah Tara, jantungnya terus berdegup dengan kencang. Alaric merasa Tara lebih menawan dan luar biasa cantik. Ia terus saja memandangi wajah Tara, Alaric terpesona akan kecantikan seorang Tara Dale.
"Kau bisa mencarinya sendiri!" umpat Tara, ia masih kesal dan mengutuk kebodohannya.
"Oh, baiklah! Apakah kamu sudah makan? Ayo, makanlah! Zerrin, apakah kamu sudah makan? Kau sangat besar sekali sekarang? Apakah aku lama tertidur?" tanya Alaric bingung.
"Aku juga belum makan Alaric," keluh Zerrin.
Kini, Zerrin menyadari jika perutnya pun keroncongan. Keduanya ingin pergi meninggalkan Tara yang masih duduk bersimpuh.
"Tara, apakah kamu tidak ingin berbaring? Jika kamu lelah, tidurlah!" usul Alaric.
"Cih! Memang aku manusia lemah sepertimu!" ketus Tara, "kalian tidak boleh, memakan dan menangkap binatang di Calvala! Kalian hanya boleh makan ikan dan sayuran saja," ujar Tara.
"Apa?" teriak Zerrin dan Alaric berbarengan.
"Ya, ini Calvala, desa sihir dan para elf yang suci. Jika kalian melanggar maka Calvala sendiri yang akan menyihir kalian menjadi kodok dan kadal!" ancam Tara menakuti keudanya.
__ADS_1
Glek!
Keduanya hanya menelan ludah, tidak bisa membayangkan akan semua itu. "Baiklah, kalau begitu! Zerrin mari, kita menangkap ikan saja! Tara, tidurlah dulu!" ucap Alaric, ia langsung membopong tubuh Tara yang terkejut akan perlakukan Alaric.
"Apa yang kau lakukan, Alaric!" teriak Tara.
"Aku hanya ingin kamu istirahat sejenak! Kamu terlalu lelah," balas Alaric santai, ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Tara.
Tara terdiam, untuk sesaat ia hanya bisa diam membeku, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya merasa terkejut kala Alaric menyelimuti tubuh dan mengecup keningnya.
Alaric dan Zerrin pergi meninggalkan Tara yang masih terbengong, ia menyentuh keningnya.
"Dasar bajingan! Mengapa aku bisa diam saja tadi? Aduh, si Kampret itu! Benar-benar telah kurang ajar. Mengapa perisai pelindungku tidak berarti pada Alaric?" batin Tara, ia menggigit ujung selimut dan bergulingan ke sana kemari.
Tara marah sekaligus bahagia, "Perasaan apa ini? Dasar, gila! Aku tidak mau jatuh cinta! Oh, api suci dan janggut Merlin! Aku tidak mau jadi gila!" umpat batin Tara.
***
Alaric dan Zerrin ke luar dari rumah biru tersebut, mencari sungai kecil. Ia dan Zerrin langsung menangkap ikan dan memanggang.
"Aku rasa sudah cukup! Aku tidak ingin jika Calvala akan menghukum kita," bisik Alaric.
Zerrin melihat burung yang terbang tinggi dengan angkuh seakan mengejek dirinya yang lemah, Zerrin mendengus kesal.
"Alaric, kekuatan apa yang kau minta saat terjadi pertempuran menghadapi ksatria sihir Gorian yang mirip manusia tengkorak itu?" tanya Zerrin penasaran.
"Aku …," Alaric mencoba untuk mengingat, apa yang dimintanya.
"Aku meminta sebuah kekuatan yang tak ada tandingannya. Memang ada apa, Zerrin?" tanya Alaric, ia memakan ikan bakar dan Zerrin memakan ikan mentah.
"Kau tahu, kemungkinan … kau akan menderita Alaric. Sepuh Thornhill tidak bisa menyembuhkanmu," ucap Zerrin.
"Apa? Siapa sepuh Thornhill? Zerrin, ceritakan keseluruhannya aku ingin tahu," lirih Alaric penasaran, ia menghentikan makannya.
Zerrin menatap Alaric, mendekatkan kepalanya di kepala Alaric membuat Alaric memeluk kepala Zerrin. Kini, Alaric menyadari jika Zerrin sudah sangat besar.
Zerrin menceritakan segalanya membuat Alaric terperanjat, ia tak menyangka apa yang dimintanya menjadi kutukan untuknya dan Zerrin.
Namun, Zerrin tidak mengatakan soal hubungan keterikatan batin antara Tara dan Alaric. Keduanya hanya diam, menikmati semilir angin di Calvala dan langit biru juga hijaunya tumbuhan dan warna-warni bunga indah.
__ADS_1
"Aaa!" teriak Alaric, ia merasa sekujur tubuhnya kembali memanas.
"Alaric!" teriak Zerrin, ia langsung mendekatkan kepla untuk menyentuh kepala Alaric yang bergulingan kesakitan karena kabut merah dan perak kembali menyelimutinya.
Zerrin melantunkan kidung yang diajarkan oleh Sepuh Thornhill dan Tara, ia mengambil kekuatan Alaric setengahnya.
Alaric kembali terkulai lemas, "Alaric …," lirih Zerrin, mencengkram tubuh Alaric dengan cakarnya langsung terbang membawa kembali ke rumah biru.
"Alaric?!" teriak semua warga Cornhill dan calvala.
"Apa yang terjadi, Zerrin?" tanya Tara khawatir.
Zerrin hanya membagi benaknya pada Tara, "Aku rasa kau harus membawanya Tara, seperti yang kita bicarakan tadi. Altaf sudah sedikit mahir mempelajari dasar dari taktik perang," ujar Sepuh Thornhill.
"Baik, Sepuh! Besok pagi, kami akan berangkat!" jawab Tara.
Semua diam, Altaf kembali membawa Alaric untuk berbaring di bale. Semua orang bersedih dengan apa yang menimpa Alaric.
Kesokan pagi ….
"Altaf, berhati-hatilah di jalan! Kami akan menunggumu!" ujar Bastian, ia membawa busur dan anak panah milik Altaf dan memberikannya.
"Ya, aku berjanji akan cepat pulang! Ingat, Bastian … kau harus belajar yang giat di sini. Jagalah, kaum kita, jangan membuat kegaduhan di Calval! Buatlah aku bangga," pesan Altaf, sambil membelai kepala Bastian.
"Ya, aku pasti berjanji akan menjaga semua keluarga kita! Kau berhati-hatilah, cepatlah pulang jika kalian sudah membunuh Calder," ujar Bastian.
"Ya, doakan saja!" balas Altaf.
"Tuan Alaric, terima kasih telah menolong kami. Aku ingin titip Altaf kami. Nona Tara dan Nona Zerrin, terima kasih sekali lagi telah menolong kami dari Calder dan antek-anteknya," ucap Sepuh Zarock.
"Jangan khawatir, Tuan Zarock, selama aku hidup. Aku akan menolong dan melindungi Altaf," bisik Alaric, ia mencoba untuk tersenyum.
Walaupun dirinya tahu jika dirinya sendiri pun saat ini tidak baik-baik saja. Suhu tubuhnya terkadang bisa sepanas api yang membara dan ingin meledak.
"Berhati-hatilah kalian di perjalanan! Selamat jalan, semoga Api suci dan tongkat Merlin melindungi kalian!" ucap Sepuh Thornhill, ia melantunkan kidung suci membuat pintu gerbang terbuka.
Semua ras Elf langsung melantunkan kidung secara bersamaan melepas semua orang meninggalkan Calvala.
Altaf, Zerrin, Tara, dan Alaric langsung meninggalkan Calvala menuju ke Barat.
__ADS_1