
"Sepuh Tarnak, ayah dari Bana-phrionnsa Tara Dale?" tanya Alaric, ia tak mengetahui banyak hal mengenai sepuh Tarnak dan keluarga Bana-phrionnsa Tara.
"Iya, kamu benar. Hm, matahari sudah terbit, apakah kau ingin berjalan-jalan di sekitar Lùchairt Dragon?" tanya Crùbagan Teine, ia ingin mengajak Alaric dan Zerrin berjalan-jalan di wilayah Lùchairt Dragon.
"Tentu saja, Yang Mulia. Jika Yang Mulia tidak keberatan. Saya sangat ingin Yang Mulia," balas Alaric, ia sangat ingin mengunjungi Lùchairt Dragon begitu juga dengan Zerrin.
Zerrin mengikuti keduanya berjalan di bagian belakang, "Zerrin, bawalah Alaric! Kita terbang sejenak," ajak Crùbagan Teine.
"Baik, Yang Mulia!" balas Zerrin.
Mereka mengitari Lùchairt Dragon dengan wilayah gurun yang sangat luas dan hanya ada satu oase di tengah gurun bagi para pengunjung dan pedagang. Seluruh gurun ditumbuhi dengan semak kaktus yang sedang berbunga dan penuh duri.
"Sepuh Tarnak adalah sepuh paling hebat di masanya hingga kini. Tapi, ia hanya bisa dihubungi oleh ratu elf atau keluarganya maupun ada hal yang penting yang terjadi di Sgàil Shìthiche.
"Jika tidak jangan berharap bertemu dengannya," ujar Crùbagan Teine.
"Oh, benarkah?" tanya Alaric, "aku tidak menyangka jika calon mertuaku begitu luar biasa hebat," batinnya.
Alaric mengamati sekitarnya.
"Bagaimana penduduk mendapatkan air Yang Mulia?" tanya Alaric bingung dengan keadaan masyarakat di Lùchairt Dragon.
"Penduduk memiliki aliran air sendiri dari dalam gurun yang dialirkan dari oase ini. Oase ini tidak pernah kering," ucap Crùbagan Teine, ia menjulurkan moncong untuk meminum air.
"Aku tahu, Raja Jolla dan yang lainnya pasti kecewa denganku. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan penduduk yang sedang berjuang di tengah kekacauan atas serangan Bagshot.
"Serangan demi serangan dari pihak Gorian dengan menggunakan Bagshot, membuat kami kewalahan. Jika hanya dengan menggunakan kekuatan mereka kami para klan naga masih bisa melindungi ras manusia di sini.
"Tapi, jika mereka menggunakan Bagshot itu sangat menyulitkan," ucap Crùbagan Teine.
"Apakah pasukan Gorian selalu menyerang kemari?" tanya Alaric, ia pun mengambil air dengan kedua tangan dan meminumnya.
"Air ini sangat segar sekali!" lirih Alaric tidak menyangka.
"Zerrin, kamu ingin melihat ras kamu bukan? Pergilah dengan Crock," ujar Crùbagan Teine.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia! Alaric, aku pergi dulu," ucap Zerrin mengedipkan mata.
Alaric langsung ingin membuka mulutnya akan tetapi, ia mengurungkannya, Alaric merasa sedikit malu kepada Crock dan Crùbagan Teine yang menatapnya. Alaric malu karena dirinya terlalu posesif terhadap Zerrin.
"Zerrin, jangan macam-macam. Aku tahu Crock sangat tampan dan masih muda. Ingat, kamu masih anak-anak!" ujarnya di dalam telepati.
"Hm, iya!" balas Zerrin, ia menyentuh dan mencium pipi Alaric.
Alaric hanya tersenyum membelai lembut kepala Zerrin, "Hati-hatilah, jangan terlalu jauh Zerrin. Aku tak ingin kalian pulang terlalu malam. Bagaimana jika ada bagshot," pesan Alaric.
"Baiklah …," balas Zerrin, ia masih menatap wajah Alaric dengan wajah besarnya.
"Tuan Crock. Saya titip putriku, dia sedikit nakal dan sembrono. Tolong, awasi dia!" ucap Alaric pada Crock.
"Jangan khawatir, Tuan!" balas Crock.
Keduanya melesat terbang ke angkasa, meninggalkan Alaric dan Crùbagan Teine yang masih menatap ke arah Alaric.
"Pemuda ini begitu menyayangi naga muda itu," batinnya, ia terenyuh akan kasih sayang yang terlihat di antara keduanya bak seorang ayah dan anaknya.
"Kamu sangat menyayangi Zerrin," ucapnya pelan.
"Ya, hanya dia keluargaku selain Altaf dan Bana-phrionnsa Tara. Aku dan Zerrin meninggalkan Jarome saat penyerangan pasukan naga Gorian ke desa West dan membunuh ayah juga seluruh penduduk desa yang sangat baik.
"Ayahku hanya menyuruhku pergi bersama dengan storm kudaku dengan membawa sebutir telur. Aku tidak tahu itu telur apa?" balas Alaric, ia terdiam dan memandang oase di mana para penduduk mulai berdatangan dengan unta dan kuda.
Semua orang menatap ke arah keduanya dan melambaikan tangan dari seberang, Alaric membalasnya sedangkan Crùbagan Teine hanya menganggukan kepala memamerkan deretan gigi tajamnya.
"Pasukan Gorian memang mengerikan banyak sudah korbannya. Aku mengusulkan untuk membuat perjanjian dengan beberapa penguasa di Gorian ini. Namun, aku malah yang mengingkarinya," ucap Crùbagan Teine terdiam.
"Yang Mulia, apakah tidak ada cara untuk menghancurkan Bagshot?" tanya Alaric, ia ingin membantu.
"Aku tidak tahu, karena aku pun tak bisa melihatnya. Bagaimana kami bisa membunuhnya?" tanya Crùbagan Teine.
"Sebenarnya, para Bagshot begitu mudah dibunuh jika kita bisa melihatnya apalagi kelemahannya adalah api dan air.
__ADS_1
"Hm, aku masih bingung bagaimana agar klan manusia, naga, dan raksasa bisa melihat para Bagshot," balas Alaric, ia terdiam.
"Ya, kami pun sudah berusaha dengan berbagai ragam cara tapi tidak bisa," bisik Crùbagan Teine, ia sudah melakukan banyak hal tai tetap saja gagal.
"Bajingan!" umpat Crùbagan Teine, ia mendengar dari kejauhan jika para pasukan Gorian sedang menuju ke arah mereka.
Crùbagan Teine langsung memanggil pasukan naga, "Para penduduk cepat menyingkir! Pasukan Gorian sedang mendekat!" teriak Crùbagan Teine.
"Apa?" teriak semua orang mereka langsung menghilang masuk ke dalam gurun dengan secepat kilat membuat Alaric takjub dengan semua itu.
Alaric tidak menyangka jika di balik pasir gurun terdapat jalanan yang bisa dilalui hanya oleh para penduduk Crùbagan Teine. Semua orang melesat dengan cepat berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing.
"Alaric, berhati-hatilah! Mereka sedang menuju ke arah kita," ucap Crùbagan Teine.
"Baik Yang Mulia!" balas Alaric ia berdiri dan melesat ke seberang oase dan berlari menyongsong ke arah pasukan Gorian.
"Aku tidak ingin darah mengotori oase yang digunakan oleh penduduk dan klan naga!" batinnya.
"Apa yang kamu lakukan Alaric?" tanya Crùbagan Teine terbang mengikuti Alaric.
"Aku tidak ingin pertempuran dan ada darah yang akan mengotori oase Yang Mulia. Bukankah para penduduk Crùbagan Teine mengandalkan oase?" ujar Alaric.
"Ya, kamu benar!" balas Crùbagan Teine, "mulia sekali hati pemuda ini," batin Crùbagan Teine.
Ia tak menyangka jika Alaric memiliki hati yang luar biasa baik dan murni, "Biasanya jika penunggang kebanyakan arogan. Mereka pun tak menyayangi naganya yang hanya digunakan sebagai alat saja.
"Berbeda dengan anak ini, dia sangat dewasa dan baik hati. Tidak hanya pada klannya tapi pada semua orang," batin Crùbagan Teine.
Ia terus mengamati apa yang dilakukan oleh Alaric yang langsung menarik pedangnya, ia mengambang di udara. Crùbagan Teine terperanjat ia tak menyangka jika Alaric, begitu hebat, ia sudah mengambang di udara dengan cepat dan berusaha untuk menghadapi musuh.
"Hahaha, aku tidak menyangka jika penunggang baru sudah berada di sini! Jangan-jangan kamu berharap bisa membawa klan naga untuk menjadi pengikut persekutuan kalian?
"Hahaha, jangan-jangan raja Crùbagan Teine sudah mulai pikun dan ingin ditunggangi oleh klan manusia? Dasar bodoh! Saat Kaisar Calder Hall memintamu untuk menjadi tunggangannya kamu menolak!" umpat seorang penunggang naga Gorian yang murka.
"Apa?! Kalau kau bicara yang sopan! Kau sana sekali tidak menghormati orang yang lebih tua darimu. Kau tidak pantas disebut sebagai seorang penunggang sejati!" ketus Alaric.
__ADS_1
Raja Crùbagan Teine hanya tersenyum dengan arif, "Sampai mati pun, aku tidak akan pernah mau menjadi tunggangan Calder Hall!" tegas Crùbagan Teine.