
"Oh, jadi seperti itu ya? Hm, apakah yang memberiku baju ini tadi juga peri Bayangan?" tanya Alaric bingung.
"Siapa yang memberimu baju?" tanya Bana-phrionnsa Tara, ia merasa aneh dan bingung.
Alaric menceritakan banyak hal, "Oh, kamu beruntung itu adalah Peri penunggu Sgàil Shìthiche, dialah pemilik dan pendiri Sgàil Shìthiche ini Aleric.
"Kamu beruntung jarang orang yang diberi hak istimewa tersebut. Baju itu akan awet seumur hidupmu, jika kau masih menginginkannya. Baju itu dipenuhi sihir inti elf, jadi dia akan melindungimu seperti jubah ayahmu yang didapatkannya dari Peri Penunggu Sgàil Shìthiche juga.
"Hanya orang-orang terpilihlah yang berhak mendapatkan itu. Kau sangat beruntung," ucap Bana-phrionnsa Tara tersenyum.
Keduanya melihat semua orang berpesta dan menari indah, keduanya hanya diam. Bana-phrionnsa Tara pun tak tahu harus bagaimana, ia melirik ke arah Alaric yang diam dan tidak mengajaknya berdansa.
"Hm, mereka begitu bahagia!" lirih Alaric, ia ingin menari tapi tidak tahu bagaimana caranya.
"Ya, setiap 6 bulan sekali ada festival mencari pasangan, yaitu : Festival Cinta itu artinya … para elf, binatang dan tumbuhan akan mencari pasangannya dan menikah bagi Elf untuk berkembang biak," ujar Bana-phrionnsa Tara, ia bersemu merah.
"Oh, lalu … apakah Bana-phrionnsa pernah melakukannya? Maksudku ikut di dalam Festival Cinta ini?" selidik Alaric.
"Tidak pernah, aku … aku hanya ingin menjadi seorang Bana-phrionnsa yaitu : pelindung Sgàil Shìthiche," ujarnya, ia mengingat semua impiannya yang tak akan mungkin lagi tergapai.
"Oh, jadi jika pelindung dari Sgàil Shìthiche tidak boleh menikah ya?" tanya Alaric, ia merasa bunga di hatinya langsung luruh, kelopak mawar merah dihatinya berguguran satu per satu.
"Aku tidak akan pernah memiliki kesempatan …," batin Alaric perih menganga di jiwanya yang kembali gersang.
"Apakah kau ingin menari Alaric?" tanya Bana-phrionnsa Tara.
"Oh, bukankah dirimu ingin menjadi seorang Bana-phrionnsa, aku tidak ingin menghancurkan impianmu, Tara.
"Walaupun aku sangat ingin menari denganmu. Tapi …," lirih Alaric.
"Baik juga nih, anak kecil!" batin Bana-phrionnsa Tara tersenyum.
__ADS_1
"Ayo, ikut denganku!" ajak Bana-phrionnsa Tara, ia menarik tangan Alaric berlari kecil dengan kekuatan sihir menuju ke sebuah bukit datar yang indah.
"Wah, cantik sekali!" puji Alaric, ia tak menyangka jika di Sgàil Shìthiche memiliki banyak tempat indah.
"Seall dhuinn uile bòidhchead Sgàil Shìthiche! (Perlihatkanlah semua keindahan dari Sgàil Shìthiche pada kami!)" ucap Bana-phrionnsa Tara dengan mengibaskan tangan putih mulusnya di balik gaun panjang maroonnya yang indah memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Perlahan sebuah taman indah terbentang di sana, dipenuhi bunga-bunga indah dan kolam ikan juga keindahannya seakan berada di sebuah taman istana.
"Cantik sekali!" ujar Alaric terpesona.
"Ya, ini adalah taman rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat dan memasukinya," ucap Bana-phrionnsa Tara, "termasuk Ratu Zumaris yang menikahi ras manusia dan kini aku," lirih batin Tara.
"Ayo!" ajak Tara, ia kembali mengambil tangan Alaric, ia mengajak Alaric berdansa di sana di tengah hamparan taman bunga di bawah pepohonan apel dan plum juga bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Setiap mereka menari maka bunga-bunga semakin bermekaran dan di bawah tapak kaki mereka tumbuh sulur-sulur tumbuhan yang ikut bergoyang mengikuti irama musik yang mengalun entah dari mana.
Alaric menatap Tara Dale dengan penuh cinta, entah keberanian dari mana ia pun mencium Tara, yang membalasnya dengan ciuman hingga ledakan bunga api di angkasa bergema.
"Aku mencintaimu, Bana-phrionnsa Tara Dale!" tegas Alaric, ia ingin Tara mengetahui semua rasa dari segenap rasa cinta miliknya.
"Aku … aku …," Bana-phrionnsa Tara bingung, "Alaric … aku sudah terlalu tua untukmu, rasanya … aku tidak pantas!" lirih Tara, ia menatap kembang api yang masih bergema di angkasa dengan indahnya.
"Aku tidak peduli! Apakah kamu terlalu tua untukku atau tidak? Bagiku … aku hanya menyukai dan mencintaimu Tara Dale!" lirih Alaric, ia merasa untuk pertama kalinya ia begitu menyukai dan mencintai seorang wanita.
"Alaric … aku … aku butuh waktu, aku pun menyukaimu. Tapi," ujar Tara bingung, ia masih bingung.
Bana-phrionnsa Tara masih belum yakin jika Alaric akan mencintainya seperti dirinya yang mencintai Alaric sepenuh jiwa raga.
"Aku akan menunggumu, Bana-phrionnsa Tara! Hingga engkau siap menerimaku menjadi suamimu," balas Alaric, ia menangkup wajah Tara yang cantik dengan kedua belah tangannya.
Keduanya saling pandang dan kembali berciuman. Keduanya tidak menyadari jika seseorang sedang mengawasinya dan mengepalkan tinju.
__ADS_1
"Bana-phrionnsa Tara Dale! Kau sangat mencintai Alaric, aku tidak akan membiarkannya!" umpat Vladimir murka, ia melesat menghilang meninggalkan Tara dan Alaric di taman rahasia cinta.
Semalaman Tara dan Alaric bermain-main dan saling berkejaran di taman rahasia, keduanya saling tertawa dan berlatih pedang. Akan tetapi, di sela-sela semua itu keduanya kerap berciuman kembali dan bergulingan di rerumputan saling memandang dan tersenyum bahagia.
Hingga Alaric tidur di pangkuan Tara yang membelai rambutnya menatap rembulan yang sudah mulai masuk ke peraduan karena fajar telah datang.
"Alaric, mari kita pulang!" ajak Tara.
"Ya, Sayang …," bisik Alaric, ia merasa enggan untuk meninggalkan Tara seorang diri.
Keduanya kembali ke istana Sgàil Shìthiche sambil bergandengan tangan dan Alaric memberi Tara bunga dari taman rahasia cinta.
"Alaric, Bana-phrionnsa Tara! Ratu Zarina memanggil kita!" ujar Altaf mendekat ke arah keduanya.
"Oh, baiklah! Mari, kita temui Ratu," ujar Tara.
Mereka langsung pergi menemui Ratu yang duduk di singgasananya yang indah. Setelah melakukan penghormatan kelimanya duduk di kursi termasuk Zerrin yang duduk di kursi yang telah disihir untuk para naga bisa nyaman meringkuk di sana.
"Bana-phrionnsa Tara telah kembali dari Kerajaan Jola, Raja Emur Pascal meminta Altaf ke sana, Altaf, mulai besok kamu harus pergi ke Jola bersama Zion dari Calvala.
"Bana-phrionnsa Tara akan kembali ke luar Sgàil Shìthiche bersama dengan Alaric dan Zerrin ke Gunung Romondur ke kerajaan para Goblin.
"Kerajaan Golden adalah kerajaan para Goblin yang dikepalai oleh Gorra, aku berharap kalian pandai membawa diri dan meminta ajari kepada Gorra cara menyepuh pedang mata delima milikmu Alaric.
"Sebagai rangkaian terakhir dari semua ras untuk menyatukan kekuatan bersama denganmu." Ratu Zarina menatap ke arah Alaric dan Zerrin.
"Baik, Yang Mulia Ratu!" balas keempatnya.
Setelah sarapan, Altaf dan Zion pergi dengan berkuda ke Jola sedangkan Alaric, Tara, dan Zerrin pergi ke gunung Romundur melewati bukit-bukit tandus dan hutan lebat juga bebatuan cadar serta gurun.
"Aku baru tahu jika Gunung Romundur ini sangat jauh dari Sgàil Shìthiche," ujar Alaric, ia menyadari jika selama ini ia sama sekali tak pernah pergi dari Jarome.
__ADS_1