Penunggang Naga Terakhir

Penunggang Naga Terakhir
Darah Campuran


__ADS_3

"Baiklah, Ratu Zain!" ucap Vladimir, ia sedikit enggan untuk mengajari Alaric. 


Vladimir maju mengangkat pedangnya, baju zirahnya yang indah berkilau tertimpa cahaya matahari yang redup di Sgàil Shìthiche. Vladimir enggan tetapi ia tak bisa menolak karena sumpahnya.


"Cih! Darah campuran yang menjijikkan!" batin Vladimir sinis, "dia tak akan mampu menjadi Dragon Rider sejati!" keluh batinnya.


Namun, karena membawa nama ras Elf sehingga Vladimir pun mau tak mau harus mengajari Alaric dengan kemampuannya, walaupun ia tak rela jika anak campuran itu menguasai semua kepintarannya.


"Ayo, mulai berlatih Dragon Rider!" ajaknya, ia mulai memasang kuda-kuda.


"Baik, Tuan!" Alaric langsung mempersiapkan pedangnya.


Vladimir yang semula enggan serius mengajari Alaric akhirnya mau tak mau serius karena Alaric benar-benar luar biasa.


"Darah campuran ini memiliki kekuatan yang berbeda! Dia … tenaga dalamnya di atas rata-rata dan kepintarannya pun melebihi manusia biasa," batin Vladimir, ia terus melesat untuk menjatuhkan Alaric dengan pedang dan ilmu sihirnya.


Namun, demikian Vladimir tetap enggan untuk mengakui semua kekuatan milik Alaric ia benci karena ras manusia telah mengambil ratu Zumaris dan kini darah campuran itu telah mengambil Bana-phrionnsa Tara darinya.


Akan tetapi, Alaric semakin lihai. Kemarahannya akan penghinaan sebagai manusia dari ras yang paling bodoh membuatnya maju dan memperlihatkan semua kepintarannya.


"Aku rasa cukup, Tuan Dragon Rider! Anda sudah memiliki kemajuan. Sekarang Anda dan Zerrin harus bekerja sama untuk menaklukkan musuh." Ratu Zain langsung memanggil Zerrin dari kejauhan.


Alaric mengernyitkan kening, "Bagaimana cara Ratu Zain memanggil Zerrin?" batin Alaric, ia melihat di belakang Zerrin naga bersisik biru terbang dengan anggun.


"Zerrin, kau dan Alaric harus berkerja sama. Alaric naiklah ke punggungnya. Zola dan Zubair (naga bersisik biru) akan bekerja sama. Ayo, mulailah latihan!" perintah Ratu Zain.


Zola melesat dengan mudah ke atas punggung Zubair, Alaric berusaha untuk mengikutinya. Akan tetapi, berulang kali dirinya terjatuh.


"Hahaha! Dragon Rider kali ini, benar-benar begitu, bodoh sekali! Masa naik ke punggung Zerrin tidak bisa?" ucap semua orang, mereka menertawakan Alaric.


"DARAH CAMPURAN yang hina!" umpat semua orang.

__ADS_1


Walaupun begitu Alaric berusaha untuk tidak mempedulikan semua olok-olokan para elf. Alaric berusaha untuk terus naik ke punggung Zerrin sekuat tenaganya. Zerrin merasa kasihan melihat penunggang dirinya harus diolok-olok sedemikian rupa.


"Alaric, gunakan bahasa Gaelik!" ucap Zerrin, ia mengerang dengan kesal membuat semua ras Elf sebagai penonton langsung diam.


"Oh, maaf!" Alaric langsung mengucapkan bahasa Gaelik melesat dan langsung naik ke punggung Zerrin.


"Apakah Anda sudah siap, Dragon Rider?" tanya Zola sopan, ia sedikit sinis dan mencebikkan bibirnya.


"Saya siap, Tuan Zola!" balas Alaric, ia pun mengeluarkan sebilah pedang bermata batu delima dan langsung menumpulkan mata pedang di kedua sisi.


"Ah, mengalahkannya pasti sangat mudah, Zubair! Aku ingin sekali pukulan Darah Campuran ini akan lumpuh dan terluka seumur hidupnya!" ujar Zola pada Zubair.


"Apakah itu tidak menyalahi aturan, Tuan Zola?" balas Zubair sedih, ia sudah mendengar kisah kehebatan Alaric dari Zerrin melihat slide demi slide perjuangan seorang darah campuran yang hina tersebut.


"Jangan sampai ketahuan! Jika ketahuan aku yakin Ratu Zain dan Yang Mulia Ratu Zarina pasti murka!" ujar Zola.


Zubair hanya diam tak lagi bicara, ia tak bisa melawan keinginan penunggangnya mereka sudah terikat sumpah.


"Anak yang baik …!" batin Ratu Zain tersenyum.


Zerrin dan Zubair langsung mengepakkan sayap untuk naik ke angkasa saling serang dan saling cakar dan menghembuskan api. 


Sementara Zola dan Alaric berusaha untuk bertempur menggunakan pedang mereka, dari punggung naga masing-masing bergelantungan di sayap maupun tubuh naga mereka.


Pertempuran semakin sengit kala Zola berhasil memukul dada Alaric dengan seberkas bola sihir juga pedangnya telah melukai tangan Alaric.


"Aaa!" teriak Alaric, "mengapa pedang Tuan Zola bisa melukaiku?" batin Alaric bertanya.


Alaric melihat dengan mata batin jika pedang tersebut tidak ditumpulkan. Seketika kepedihan dan amarah menyala.


"Tidak bisa dipercaya, jika mereka curang!" batin Alaric, ia berusaha untuk menekan dan memberhentikan darahnya yang merembes di balik baju zirahnya yang berwarna hitam.

__ADS_1


Alaric tak mengerti mengapa baju zirah miliknya hitam, sementara yang lain perak. Kini, disadarinya jika dirinya hanyalah, DARAH CAMPURAN yang hina dan kotor sehitam bajunya.


"Alaric! Kau tidak apa-apa?" tanya Zerrin khawatir.


"Tidak!" balas Alaric Lemah, ia merasa seluruh sendinya mau putus.


Zola hanya tersenyum sinis, menatap ke arah Alaric, yang mengeluh. Sorakan yang mengelu-elukan Zola dan Zubair semakin santer.


Zerrin mulai murka dan marah, "Alaric! Apakah kau baik-baik saja! Bagaimana jika kita balas!" umpat Zerrin yang masih muda, ia tersulut emosi.


"Aku muak melihat mereka selalu menghina kita! Aku juga tidak mau dan tidak bisa memilih takdirku. Siapa penunggang milikku!" umpat Zerrin.


Zerrin tak pernah mengatakan kepada Alaric jika semua naga mengejeknya dan mengatakan, "Kau sangat bodoh! Mau menjadi penunggang darah campuran yang hina! Dia bukan manusia ataupun Elf!".


Namun, Zerrin tak pernah mengatakan kepada Alaric. Ia melihat Alaric begitu berat menjalani kehidupannya dengan pelatihan yang mengerikan dari Ratu Zain dan Vladimir. 


Belum lagi hinaan dari para elf yang selalu pergi jika Alaric muncul di meja makan di bawah pohon mapel yang rindang tetapi, Alaric tak peduli ia terus makan dan menyelesaikan semua bacaannya dan kembali berlatih seorang diri hanya dengan menggunakan kayu yang bisa berjalan.


Semua ras Elf ngeri memandang Alaric yang menyihir kayu dengan pedang dan melawannya karena tak seorang elf yang mau berteman dengannya. Sehingga sebuah ide muncul di benak Alaric menggunakan sebuah kayu dan menyihirnya untuk berjalan.


Altaf entah di mana, tak seorang pun dari para elf yang mengatakan di mana Altaf, begitu juga Bana-phrionnsa Tara yang menghilang dan belum juga kembali.


Tubuh Alaric telah kurus kering, wajahnya dipenuhi dengan brewok. Akan tetapi Zerrin tahu, jika Alaric mati-matian belajar dan berlatih untuk menguasai bahasa Gaelik secepat dia bisa dan berperang juga menunggangi dirinya.


Belum lagi luka di sepanjang paha dalam Alaric membuatnya sering mengeluh demam sehingga Zerrin membubuhkan obat yang membuat luka tersebut tak parah kala malam.


Zerrin rela mengunyah tumbuhan yang membuat lidahnya Kelu dan terasa terbakar demi Alaric. Sepanjang malam Alaric selalu mengigau memanggil Daisy, Haiden, Altaf juga Tara serta memanggil namanya Zerrin.


Semua itu membuat Zerrin terenyuh ia tak menyangka kebaikan hati Alaric begitu dalam untuk mereka berlima. Kini, Zerrin muak melihat perbedaan antara dirinya dan Alaric yang diberikan oleh Kaum Elf.


"Apa bedanya aku dan Alaric? Jika aku adalah naganya dan dia Penunggang diriku. Seharusnya mereka menghargai kami berdua, bukan mengkotak-kotakkan kami!" dengus batin Zerrin kesal, ia menatap Alaric di punggungnya yang berusaha menekan dan menyembuhkan luka di tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Bajingan! Zola tidak menumpulkan pedangnya?" batin Zerrin marah, ia menatap ke arah oedang Zola yang berkilau.


__ADS_2