
Mereka semua melihat kembali kota Golden yang hancur kembali utuh tanpa bekas sisa pertempuran. Bahkan mayat dari naga Gorian yang jatuh di lantai pun sudah lenyap.
"Oh, indah sekali! Sangat indah," bisik para goblin, semua orang merasa jika apa yang dilakukan oleh Ratu Zarina dan para elf begitu luar biasa.
"Sihir para elf luar biasa hebat. Jika kita kembali membangun golden mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun," bisik Zule, ia menatap ke arah dinding dan semua hal.
Kota Golden kembali bercahaya dengan indah, mereka tidak melihat adanya pertempuran sedikit pun yang telah terjadi di sana. Bahkan goresan tidak ada di dinding, mereka mengingat begitu dahsyatnya pertempuran yang sudah terjadi.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Aku ingin Anda pun membubuhkan ornamen dari elf sebagai tanda jika kalian pernah berada di sini," lirih Gorra, ia menyeka air mata dengan tangan kurus dan kuku panjangnya.
Kupingnya yang lancip seakan bergetar kala ia menyeka ingus. Semua orang begitu takjub dengan Kilauan emas dan perak yang berpendar.
"Aku bersyukur kalian datang tepat waktu," lirihnya.
"Maafkan kami, Yang Mulia Raja Gorra. Kami tidak menyangka akan ada pertempuran. Selama ini, klan Goblin adalah klan yang hebat membuat pertahanan dan persembunyian, untung saja Peri Bayangan mengabari kami," bisik pelan dan penyesalan dari Ratu Zarina.
Ratu Zarina sama sekali tidak mengetahui semua malapetaka tersebut dan mereka tiba pertempuran telah usai. Di saat dirinya membuka koneksi pada Bana-phrionnsa Tara. Ratu Zarina merasa malu sebagai tetangga tidak mengetahui hal tersebut.
Ratu Zarina membuat sihir sebuah ornamen bunga indah sebagai lambang dari Elf di sisi gambar Zerrin, Alaric, dan Goblin yaitu : Raja Gorra dan para goblin lain yang tersenyum bahagia bagaikan sebuah pigura indah di sana.
Semua goblin yang terluka disembuhkan, mereka bersyukur tidak ada yang tewas karena Zerrin, Tara, Alaric, juga Gorra menyelamatkan mereka.
"Sangat indah …," lirih semua orang berdecak kagum dengan semua itu.
"Mari, kita istirahat di aula kerajaan. Rasanya aku semakin tua jika tidak bisa menjamu kalian! Maaf, jika kami tidak bisa menyediakan sayuran dan buah-buahan yang segar," ucap Gorra, ia selalu saja malu dan rendah diri.
"Yang Mulia, Anda terlalu merendah. Aku tahu, hasil bumi kalian di Romundur ini sangat luar biasa. Bahkan, kami pun banyak membelinya dari goblin lain di sepanjang Romundur," ujar Ratu Zarina.
"Anda terlalu memuji Ratu, mari … Sepuh Tarnak, aku bahagia masih bisa melihat Anda lagi," ujar Gorra, ia mengingat terakhir kali bertemu Tarnak.
Kala Gorra masih muda dan berjalan ke luar dari Romundur untuk mengetahui keadaan luar klannya, ia terpesona dengan kepintaran juga sihir Tarnak di dalam membantu pertempuran elf melawan Calder Hall di pintu masuk Sgàil Shìthiche.
Walaupun kematian banyak merenggut nyawa para elf termasuk ratu Zumaris yang agung nan cantik beserta suaminya Filain West dan Gorra dengan martilnya membantu perang tersebut dengan seorang diri, membuat ia dielu-elukan di Sgàil Shìthiche sebagai goblin pejuang hebat dicatat di buku sejarah Sgàil Shìthiche yang berjudul : Tewasnya Ratu dan Penunggang naga serta Goblin si pejuang Hebat.
"Putri Anda sangat luar biasa hebat! Saya sangat bahagia mendapatkan kunjungan kalian semua," lanjut Gorra, mata bulat sebesar bola kasti tersenyum berbinar indah.
Gorra dan semua orang menaiki roli menuju ke aula istana di atas, di dekat puncak gunung Romundur yang selalu berkabut, hingga udara begitu sejuk dari celah-celah ventilasi kecil yang sengaja mereka buat untuk sirkulasi udara.
Mereka menggunakan roli dengan kapasitas yang berbeda khusus untuk para raja dan ratu juga para tamu kerajaan yang dianggap sangat mulia.
Para dayang goblin langsung menyuguhkan madu dan buah-buahan dan sayuran bagi klan elf, mereka menyanyikan yel-yel yang merdu walaupun terlihat sungguh aneh.
__ADS_1
Namun, nyanyian itu begitu mengundang semangat yang membara bagi semua orang untuk bekerja dan bekerja. Alaric di sisi Zerrin. Alaric masih mengelus bekas luka Zerrin yang sudah sembuh atas pertolongan Zule, Bana-phrionnsa Tara, dan sepuh berjenggot putih (Tarnak).
"Zerrin … bagaimana lukamu?" tanya Alaric, "maaf, aku belum lagi bisa membuat baju zirah untukmu. Tapi, aku akan belajar membuat baju zirah yang luar biasa hebat buatmu," bisik Alaric, ia bertekad untuk itu.
Alaric tak ingin jika Zerrin akan terluka lagi, ia sudah membayangkan baju zirah yang indah buat putri naganya yang hebat.
"Jangan khawatir! Tuan Zule, Tara, dan Sepuh berjenggot itu sudah menyembuhkannya. Aku beruntung sekali, Alaric. Hm, buatlah baju zirah yang luar biasa untukku, agar aku bisa membantumu di medan perang nantinya," bisik Zerrin menyeringai.
Keduanya masih duduk berdekatan, Alaric membelai kepala Zerrin yang menyandarkan pada pangkuannya menikmati alunan lagu dan tarian klan Goblin yang penuh semangat juga lagu-lagu indah.
"Apakah mereka menggunakan bahasa goblin? Aku baru tahu, bahasa mereka begitu unik. Mereka hebat bisa menggunakan bahasa manusia," ujar Alaric, ia kagum akan kepintaran para klan yang sudah ditemuinya.
"Alaric, bahasa klan manusia lebih mudah dipahami daripada bahasa klan Naga, elf, raksasa, dan goblin. Dari yang aku baca, 17 tahun lalu mereka bertemu di Bukit Torak, untuk mendeklarasikan kerja sama antar klan.
"Mereka memutuskan menggunakan bahasa manusia, yang diwakili oleh raja Emur Pascal dari Kerajaan Jola dari klan manusia, Ratu Zarina dari klan Elf, Raja Gorra dari goblin, Raja Crùbagan teine (cakar api) dari klan naga, Raja Dorba dari klan Raksasa.
"Dan satu lagi adalah penyihir hebat saudara seperguruan Caldar Hall yaitu : Penyihir putih yang bernama Humaric.
"Semua klan berjanji untuk mendidik penunggang terakhir dan naga terakhir yang akan muncul," ujar Zerrin, ia sudah membaca semua kisah dan perjanjian tersebut.
"Wah, kau hebat sekali Zerrin! Kau luar biasa hebat! Aku rasa … hanya klanku yang harus jungkir balik untuk mencari ilmu pengetahuan dan kepintaran juga kesaktian. Berbeda dengan kalian semua," lirih Alaric berdecak kagum.
"Ya, kamu benar. Klan manusia adalah klan yang sangat lemah dan berumur pendek. Tapi, kamu jangan salah, kalian para manusia memiliki hati nurani dan kebaikan juga cinta kasih yang luar biasa Alaric," bisik Zerrin, ia sudah merasakan semua itu di diri Alaric, Altaf, dan penduduk Calvala.
"Andaikan Alaric tahu, jika Calder Hall bukan sepenuhnya manusia dia adalah setengah Elf dan manusia, seperti dirimu …," batin Zerrin, ia menutup koneksinya.
"Aku tidak boleh mengatakan hal ini, aku sudah berjanji pada Ratu Zain dan Zarina. Mereka dan aku pun tak ingin, jika Alaric terpengaruh akan kehebatan dirinya dan akan menjadi seperti Calder Hall," batin Zerrin, ia sedikit termenung.
"Alaric masih polos dan tidak pernah mengetahui dan menganggap jika dirinya hebat!" batin Zerrin.
Musik dan tarian sudah berganti dengan makanan dan minuman juga cerita akan banyaknya kejahatan yang sering dilakukan oleh Calder di dunia manusia.
Tarnak tersenyum dan bertepuk tangan, Alaric dan Zerrin hanya duduk diam mereka tidak tahu harus bagaimana.
Tarnak menatap ke arah Alaric, ia sudah mengetahui jika putrinya Tara Dale sebagai Bana-phrionnsa telah mengikat sumpah darah dengan pemuda berdarah campuran tersebut.
Tarnak Dale hanya diam, ia sendiri ingin marah tetapi, ia pun tak bisa melakukannya karena semua itu diluar kendali dan takdir yang harus dijalani oleh Tara dan Alaric.
"Andaikan aku memisahkan mereka, itu artinya aku membunuh kedua anak itu," batin Tarnak, ia mengelus jangkit putih yang sudah sedadanya dengan tongkat kayu berada di tangannya yang keriput.
Ternak termasuk sepuh dari beberapa generasi elf yang ikut membangun kerajaan Sgàil Shìthiche. Usianya pun sudah hampir 10 ribu tahun, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya masih hidup.
__ADS_1
Tarnak Dale tidak tinggal di Sgàil Shìthiche kota melainkan di sebuah desa sepi di lembah Sgàil Shìthiche sebagai sepuh untuk menjaga kelestarian alam bersama Peri Bayangan.
"Pemuda yang baik," gumam Tarnak, ia bisa melihat masa depan Alaric dan putrinya, ia harus lapang hati menerima semua takdir yang diberikan alam.
"Ayah …," lirih Bana-phrionnsa Tara, ia sedikit membungkuk memberi hormat ada ayahnya. Selama 17 tahun di dalam hitungan klan manusia, mereka berdua tidak pernah bertemu.
"Apa kabarmu putriku?" balas Tarnak lembut, "aku berharap kamu cukup makan dan istirahat," lirih Tarnak, ia merasa banyak cobaan di dalam pernikahan putrinya nantinya.
"Aku cukup makan, Ayah …," lirih Tara, ia tahu maksud ayahnya.
Tara menggigit bibirnya, ia tidak bisa memaksa Alaric untuk mendekat selain keinginannya sendiri.
"Alaric," bisik batin Tara.
"Ya, Bana-phrionnsa Tara," jawab Alaric.
"Ini ayahku …," lirih Tara, ia ingin memberitahukan hal itu.
Alaric terkesiap ia sama sekali tidak pernah bertanya di mana keluarga Tara Dale.
Alaric beringsut mendekati Tarnak dan Ratu Zarina, "Salam Yang Mulia Ratu! Salam Yang Mulia Sepuh," ujar Alaric takzim, ia tak ingin dikatakan manusia yang tidak tahu balas budi.
"Ah, Dragon Rider …Anda hebat sekali menyelamatkan semua klan goblin. Jika tidak, kita akan kehilangan Golden yang indah ini," lirih Ratu Zarina mengagumi semua hasil kerja dari goblin.
"Semua ini, berkat Raja Goblin, Bana-phrionnsa Tara, Zerrin, dan seluruh rakyat Goblin yang hebat. Saya tidak ada membantu apa pun, Ratu," bisik Alaric, ia sedikit malu.
"Dragon Rider, perkenalkan ini adalah Sepuh Tarnak Dale ayah dari Bana-phrionnsa Tara Dale," ujar Ratu Zarina.
"Salam sepuh! Maaf saya tidak tahu," lirih Alaric malu, ia semakin ingin menghilang di telan dinding emas milik Goblin.
"Tidak apa-apa, Nak! Jangan terlalu sungkan! Bagaimana dengan pelatihanmu? Aku harap kamu benar-benar belajar pada goblin yang hebat ini," tukas Tarnak.
"Ya, Sepuh! Saya akan berusaha untuk menerima semua bimbingan dari Raja Gorra dan Tuan Garay Yang Agung," jawab Alaric.
Tarnak hanya tersenyum bahagia melihat Alaric, "Pemuda ini … memiliki kehebatan dan jiwa setengah manusia dan setengah elf. Kekuatannya pun di atas kedua klan tersebut," batin Tarnak.
Tarnak merasa jika Alaric adalah pemuda yang sangat luar biasa, ia hanya menghela napas. Tarnak menyadari sesuatu, ia terdiam di dalam benaknya.
"Mungkin tiga tahun lagi mereka baru bisa menikah, pemuda ini … masih terlalu muda bahkan, ia sama sekali belum berpikir untuk menikah, dia hanya ingin menyelamatkan semua orang dari kekejaman dan tirani Calder Hall," batin Tarnak, ia m baca semua keinginan dan amarah juga gairah dari diri dan benak Alaric
Seharian para elf membantu para goblin untuk memperkuat keamanan dan menanam sihir di sekitar Romundur agar tidak dimasuki musuh khususnya Calder Hall yang ingin mencuri gulungan-gulungan kepintaran dari goblin.
__ADS_1
Malam hari para elf pulang, Gorra, Alaric, Zerrin, dan semua orang mengantarkan para elf di pintu tingkap untuk mereka kembali ke Sgàil Shìthiche dengan menaiki kuda terbang hitam.