
"Ya, ada apa Tuan Dragon Rider?" tanya Zork sedikit manis, ia menatap ke arah Alaric.
"Hm, aku mendengar tawa yang mengerikan. Apakah itu benar-benar biasa di sini?" tanya Alaric penasaran, ia tak pernah menduga akan hal itu.
Alaric merasa jika dia mengenal tawa itu begitu akrab di telinganya seakan ia sudah bertahun-tahun mendengarnya.
"Entahlah, soperinya kami tidak ada mendengarnya, khususnya diriku. Mungkin karena Anda baru pertama kalinya di sini, sehingga mendengar semua itu, Tuan," balas Zork.
"Oh, Anda benar! Mungkin saja!" balas Alaric, ia memandang ke arah dinding emas yang berkilau tertimpa cahaya obor.
"Mungkin hanya aku yang berhalusinasi, karena bukankah kita berbicara pun gaung suara kita memantul?" tanya Alaric, ia masih terus memperhatikan seluruh ruangan.
"Ya, Anda benar, Tuan!" balas Zork, "cih, bodoh sekali! Hm, kau memandang semua emas ini … hatimu pasti sangat kotor ingin memiliki semua ini bukan?" batin Zork, ia masih mengawasi Alaric memandang ke arah dinding.
"Kalian sangat kuat biasa hebat!" puji Alaric, ia mengagumi semua design dari pintarnya Goblin membuat semua ruangan indah itu terbuat dari emas dan ornamen perak juga bebatuan berkilau berwarna warni.
"Tentu saja!" balas Zork, ia menatap dengan mata besar dan hidung bengkoknya.
"Maaf, Tuan Dragon Rider … saya ingin kembali ke ruangan saya. Permisi!" balas Zork.
"Ya, Anda benar! Saya juga akan tidur," balas Alaric, ia masuk ke dalam kamar merebahkan dirinya di sana, ia masih saja membolak-balikkan tubuhnya.
"Bana-phrionnsa Tara …,"lirihnya memanggil Tara Dale.
"Ya, ada apa Alaric?" balas Tara dengan batin yang sama di sebelah dindingnya.
"Apa?! Anda bisa mendengarkan kata hatiku, Bana-phrionnsa?" tanya Alaric cemas, ia tercengang.
Alaric tak menyangka jika hanya dengan membatin dan memanggil nama saja, maka Tara Dale bisa mendengar semua keluh kerinduannya.
"Wah, untung aku tidak bilang jika aku merindukannya?" batin Alaric, ia semakin cemas dan mengelus dadanya.
"Aku mendengar apa yang kamu pikirkan!" balas Bana-phrionnsa Tara.
__ADS_1
Deg!
"A-apa? Yang benar saja? Bagaimana ini?" batin Alaric semakin kacau.
"Hahaha, sudahlah Alaric. Hm, apa yang membuatmu tak bisa tidur? Besok kamu dan Zerrin akan latihan," balas Bana-phrionnsa Tara dari kamar sebelah melalui mata batin.
"Aku … aku … hm, apakah kamu mendengarkan tawa mengerikan itu Bana-phrionnsa?" tanya Alaric, ia takut dikatakan jika itu hanyalah halusinasinya saja.
"Ya, aku mendengarnya. Mengapa?" tanya Bana-phrionnsa Tara, ia memiringkan posisinya menghadap dinding di mana Alaric pun melakukan yang sama.
Keduanya saling menempelkan telapak tangan di dinding dengan sejuta rasa rindu yang luar biasa memuncak.
"Hm, tadi aku keluar dan Tuan Zork, mengatakan, jika hanya aku yang mendengarnya," balas Alaric, ia merasa tak ada lagi yang perlu dibohongi
"Hm, aneh! Semua orang pasti mendengarkan tawa dari Calder Hall. Mengapa dia mengatakan demikian? Hm, Alaric … berhati-hatilah! Kau tahu, para Goblin memiliki sifat ya g sulit untuk ditebak.
"Sejak raja Gorralah yang mau membuka kerja sama dan koneksi pada dunia luar dan bekerja sama dengan para Elf, manusia, dan naga.
"Biasanya mereka selalu saja menutup diri dan tak pernah ingin diketahui oleh dunia luar, mengenai kehidupan mereka. Aku takut, jika keterbukaan raja Gorra membaut sebagian rakyatnya tidak menyukainya," ucap Bana-phrionnsa Tara.
"Ah, kamu nakal sekali, Alaric!" desah Bana-phrionnsa Tara, ia merasa hatinya semakin berbunga-bunga.
"Alaric … ingatlah satu hal, jangan pernah berpikir untuk tergoda mengambil secuil emas ataupun harta milik Goblin, kau tahu … mereka tidak memiliki sihir seperti elf. Tapi, mereka memiliki sihir berbeda dengan kepintaran mereka.
"Aku juga tidak pernah tahu, sihir apa yang mereka lakukan? Tapi, mereka adalah orang-orang yang hebat!" pesan Bana-phrionnsa Tara, ia tak ingin jika para Goblin yang baru saja membuka pintu rumahnya untuk klan lain merasa harus menutup kembali kerja sama yang telah mereka upayakan bersmaa Gorra.
"Baiklah, jangan khawatir! Lagian, untuk apa bagiku emas? Aku tidak memahaminya. Aku hanya butuh makan dan kau tahu, aku bisa berburu dan bertani.
"Selain itu, aku hanya ingin membunuh Calder Hall dan membangun kembali Desa West yang hancur!" balas Alaric, ia mengingat semua masyarakatnya yang telah tiada.
Bayangan teman, tetangga, ayah, dan semua orang yang teramat baik di desa West kini telah sirna hanya tinggal sebuah kenangan masa lalu.
"Nah, sekarang tidurlah … aku akan memelukmu," bisik Bana-phrionnsa Tara.
__ADS_1
"Ah, nyaman sekali, Sayang! Selamat tidur … mimpi yang indah. Jangan lupa mimpikan aku di dalam tidur indahmu," bisik Alaric manis.
"Ah, Alaric … kamu semakin pintar menggombal diriku," batin Bana-phrionnsa Tara tersipu malu, ia tak menduga jika Alaric sudah mulai dewasa.
Tara sudah menutup koneksinya agar ia dengan mudah mendengarkan semua keluh kesah Alaric dan apa yang dipikirkan olehnya tidak terbaca oleh Alaric.
"Bayi, 17 tahun silam … yang aku gendong dengan tanganku ini, dia menangis sepanjang jalan dari Sgàil Shìthiche hingga desa West di bukit Jarome.
"Kini dirinya malah merayu diriku yang seharusnya pantas menjadi ibunya," batin Bana-phrionnsa Tara.
Bayangan masa silam menyeruak perlahan hingga dirinya pun tertidur di dalam buaian benak impian bersama dengan Alaric.
Pagi hari ….
Suara kokok ayam hutan jantan telah menari-nari di sekitar lembah dan bukit gunung Romundur dan hutan lebat di sekitar hutan.
Alaric langsung mengerjapkan mata dan menoleh ke sana kemari, "Pagi Sayangku! Aku ingin mandi, apakah kamu mau ikut?" ujar Alaric santai.
"Alaric!" terikat Bana-phrionnsa Tara, ia tak menyangka jika Alaric akan sekurang ajar itu.
"Hahaha, maaf! Aku hanya bercanda Bana-phrionnsa, kamu terlalu serius dan kaku. Padahal, kalau kamu tersenyum kamu begitu cantik," bisik Alaric, ia membayangkan wajah Bana-phrionnsa Tara.
"Sudahlah, pergilah mandi!" balas Tara Dale, ia menggelengkan kepala dan menutup koneksinya kepada Alaric.
"Bisa gila aku! Seorang Bana-phrionnsa? Mengintip dari dalam benaknya? Gila!" batin Tara,ia pun mulai mandi dengan santai.
***
Sementara Zerrin, ia sudah melonggokan kepala melihat udara lagi yang berkabut di luar gunung Romundur di puncak yang paling tinggi.
"Hm, aku merasa tawa mengerikan tadi malam berasal dari sini? Tapi, di mana ya?" batin Zerrin, ia mencari dengan melongokkan kepala dari dalam gua.
"Aku tidak melihat apa pun," batin Zerrin, ia ingin terbang ke luar dan memburu rusa yang dilihatnya dari ketinggian yang luar biasa.
__ADS_1
"Hm, rusa itu gemuk sekali!" lirihnya meneteskan liur, "tapi, aku tidak tahu bagaimana dengan aturan dari para Goblin ini," batin Zerrin, ia takut melanggar aturan.