Penunggang Naga Terakhir

Penunggang Naga Terakhir
Terasing dan tersisih


__ADS_3

"Sial! Mengapa aku bisa jatuh lagi?" batin Alaric, ia merasa perutnya keroncongan karena sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk membunuh kawanan serigala.


Semua elf menatap dari celah pintu kala melihat jika penunggang naga mereka sungguh luar biasa memiliki kekuatan yang aneh.


Namun, kala Alaric menatap ke arah mereka semua pintu langsung ditutup di depan matanya seakan mereka tak menyukai dirinya.


"Dasar! Memang aku sampah apa? Sopan dari mananya?" batin Alaric kesal.


Kriuuuk!


Kembali cacing di kampung tengah tubuhnya bergemuruh sudah demonstrasi ingin makan. 


"Hadeh! Dasar, cacing tidak memiliki perikemanusiaan! Apakah tidak tahu, jika aku saja pun sulit untuk naik?" benaknya kesal.


Alaric duduk di tanah dengan buku di tangan di selipan pinggang. Alaric memperhatikan rumah mengambang dan tanah ia mulai mengukur dan mereka-reka.


"Tidak mungkin pakai sayap, tidak mungkin juga aku terbang? Bagaimana jika sayapnya tidak hilang? Para elf akan menghinaku! Hm," Alaric mulai berpikir bahasa Gaelik dan kata yang tepat dan efisien tanpa mengundang bencana.


"Fleòdradh agus èirich (melayang dan naiklah)!" umpat Alaric kesal.


Seketika sebuah kekuatan membawanya naik ke udara, Alaric langsung berlari secepatnya hingga masuk ke dalam sebuah pintu tanpa daun pintu.


"Hah! Ini mirip seperti sarang?" ujar Alaric, "jadi, ini namanya Zadin?" ujarnya lirih.


"Ya, um, itu makananmu Alaric. Di sini tidak boleh makan yang berdarah! Jika kau mau besok ikutlah denganku ke luar dari sini," ujar Zerrin memberikan usul.


"Baiklah, kalau begitu! Um, yang penting makanlah!" ujar Alaric, ia langsung menyantap buah-buahan dan sayuran mirip salad.


Ehek! 


Alaric bersendawa, ia kembali membuka bukunya dan semua kosong, ia berulang kali membolak-balikkan dan menunggingkan buku. Berharap suatu keajaiban datang. 


Namun, sudah setengah jam tak ada satu huruf pun di sana. Alaric hampir putus asa ingin membuang semua buku ke luar sarang. Apalagi, angin kencang sudah mengayun-ayunkan sarang laksana kapal di tengah lautan.


Alaric sudah bergulingan ke sana kemari sambil menyelamatkan buku-bukunya agar tak jatuh.

__ADS_1


Duar! Duar! 


Kilat di angkasa menyambar hujan datang dengan deras, Alaric kembali mencoba untuk membuka bukunya.


"Sial!" umpat Alaric, ia sudah tak melihat Bana-phrionnsa Tara, ia begitu merindukan Tara hingga segalanya menjadi salah baginya.


"Hm, Raff benar, jika ras manusia sangat-"


"Bodoh! Sepeti itu bukan? Kau ingin mengatakan jika ras manusia bodoh! Kau sama saja dengan semua elf!" sela Alaric marah, ia merasa kehadirannya di Sgàil Shìthiche sebagai sesuatu yang tidak diharapkan.


"Maafkan aku Alaric! Aku hanya bicara fakta! Jika kamu ingin membaca buku itu, fokuslah dan ucapkan bahasa Gaelik apa yang ingin engkau ketahui?" ujar Zerrin.


Zerrin melingkarkan kepala masuk ke dalam kedua sayapnya bak trenggiling, Alaric mendengus kesal. Alaric merasakan kedinginan yang sangat luar biasa.


Alaric menatap lampu di rumah-rumah di depannya yang jauh berbeda dengan Zadin yang terisolasi dari rumah para penduduk elf. Curah hujan semakin deras ia merasa jika cipratannya sudah mulai masuk ke sarang.


"Blàth agus neartaich an nead bho rud sam bith (Hangat dan kokohkan sarang dari apa pun)?" lirihnya.


Seketika sarang tak lagi terombang-ambing dan diam, hujan tak lagi masuk dan keadaan sarang sedikit hangat.


Alaric diam, ia memperhatikan tumpukan buku. Alaric berusaha untuk mencari dan mencoba untuk mendengarkan benaknya.


Keajaiban terjadi, semua buku satu demi satu huruf bermunculan di sana, menuntun Alaric untuk belajar mencerna semua apa yang dibutuhkannya.


Alaric sedikit bernapas lega, ia mulai membaca tapi cahaya terlalu gelap, "Solais lampa (cahaya lampu)! " ucapnya pelan.


Sebuah cahaya menerangi Alaric, ia langsung membaca semua buku dengan cepat dan mempelajari semua hal. Hingga Alaric tertidur dengan bertumpukan pada buku dan cahaya lampu yang berkedip di atas kepalanya.


Setiap hari Alaric harus naik turun dan belajar terbang bersama dengan Zerrin hingga kedua pahanya terluka akibat sisik Zerrin yang mengerikan.


Alaric belajar pedang bersama Vladimir di lapangan terbuka, "Salam, Tuan Vladimir! Saya mohon bimbingannya," ujar Alaric sopan, ia mulai mengetahui jika ras Elf selalu sopan satu dan yang lain.


"Mereka sangat munafik!" batin Alaric, ia melihat ras Elf selalu terlihat baik dan sopan.


Pada kenyataannya, meraka selalu saja menggunakan sindiran ironis pada semua orang yang tidak mereka sukai. Zerrin begitu bahagia karena semua ras Elf mengelu-elukan dirinya bak seorang ratu.

__ADS_1


"Apakah Altaf, baik-baik saja?" batin Alaric, ia ingin bicara dan berkata banyak hal pada Altaf.


Namun, mereka tidak pernah bertemu. Alaric dan Vladimir langsung menumpulkan pedang masing-masing.


Trang! Tring!


Suara pedang berlaga, buk! Vladimir menendang dada Alaric hingga dirinya terjungkal. Vladimir sengaja melakukan semua itu, ia sudah mendengar jika Bana-phrionnsa Tara telah mengikat batin dengan Alaric. Vladimir merasa murka dan marah.


"Hanya manusia setengah elf! Mengapa bisa Bana-phrionnsa Tara menyukainya? Bodoh, sekali!" umpat Vladimir kesal, ia tak bisa membayangkan hal itu.


"Apa yang kau lakukan, Tuan? Sudah jelas di peraturan tidak ada hal itu?" umpat Alaric.


"Hahaha, dasar, manusia lemah! Memang jika perang terjadi, apakah peraturan ada demikian? Apa musuhmu akan berbaik hati padamu?" ejek Vladimir sinis.


Glek!


Alaric hanya diam, ia mengusap dadanya sambil membatin, "Faigh gu math (Sembuhlah)!".


Keajaiban terjadi luka dalam akibat tendangan sihir yang dilakukan Vladimir langsung sembuh. Mereka kembali berlaga pedang kali ini Alaric mengucapkan mantra untuk melindungi dirinya. Alaric berhasil menyeimbangkan dirinya dan buk! Alaric menendang Vladimir.


"Dasar manusia! Kau curang sekali!" hina elf lain seakan mereka tak mengizinkan jika Alaric berbuat demikian hanya Vladimir yang boleh berbuat curang.


"Bukankah guru kencing berdiri dan murid kencing berlari? Apakah para elf tidak pernah mendengar falsafah itu?" sindir Alaric, ia sudah kesal setengah mati.


Para elf diam, mereka membenarkan apa yang diucapkan oleh Alaric, "The Dragon Rider, seorang penunggang sangat hina jika berlaku curang!" ujar sepuh Ratu Zain.


Alaric terdiam, ia memberikan penghormatan. Ia menyadari jika dia pun terpancing emosi karena perlakuan Vladimir.


"Maafkan saya, Ratu Mulia Zain. Maafkan aku, Tuan Vladimir!" ujar Alaric.


Vladimir hanya mendengus, "Aku tidak menyukai pekerjaan ini, Ratu Mulia Zain! Lebih baik Anda memberiku pekerjaan lain saja! Aku tidak menyukai darah campuran!" umpat Vladimir marah.


"Apa?! Darah Campuran?" batin Alaric, ia mendengarkan obrolan Vladimir dengan Ratu Zain di dalam dialek Gaelik yang cepat.


"Vladimir! Dia adalah Penunggang naga terakhir! Suka atau tidaknya dirimu padanya, itu bukanlah ciri khas dari seorang elf. Kau harus memahami semua itu, Vladimir!" ketus Ratu Zain marah.

__ADS_1


Walaupun suaranya tetap datar dan seperti lonceng yang bergema. Vladimir hanya diam, Alaric kasih berpikir, "Siapa yang darah campuran? Enak saja! Ayah dan ibuku manusia!" umpat batinnya.


Alaric mengingat Haiden dan Daisy yang benar-benar seorang manusia yang bermartabat dan berhati dermawan juga disegani semua orang di gunung Jarome.


__ADS_2